Di sebuah peradaban kuno yang megah sebelum datangnya Air Bah, ketika menara-menara kuil menjulang menantang langit dan para dewa dipuja dengan darah serta dupa, hiduplah seorang pemuda bernama Ur Enki. Seorang tukang kayu sederhana yang memilih mencari kebenaran daripada tunduk kepada kebohongan yang diwariskan turun-temurun.
Ia mencintai Innana Eti, gadis tercantik di Rawa Edin, putri bangsawan yang kecantikannya dipuji seluruh negeri. Namun cinta mereka dianggap sebuah penghinaan. Seorang tukang kayu miskin tak pantas memimpikan seorang gadis yang telah dipersiapkan untuk putra mahkota kerajaan.
Ketika cinta mereka mulai bersemi, fitnah yang kejam datang menghantam. Ur Enki dituduh menghamili seorang budak istana bernama Lilitu Shamhat, perempuan malang yang selama hidupnya hanya dijadikan alat oleh orang-orang berkuasa. Dalam sekejap, lelaki yang dahulu dihormati berubah menjadi musuh seluruh kota. Nama baiknya hancur. Sahabatnya berbalik menjadi lawan. Cintanya direnggut. Dan hukuman mati mulai menunggunya.
Tak seorang pun mau mendengar penjelasannya. Tak seorang pun percaya pada kebenaran. Bahkan Innana, perempuan yang paling dicintainya, perlahan tenggelam dalam luka dan keraguan.
Namun di balik fitnah itu tersembunyi konspirasi yang jauh lebih gelap. Para penguasa, imam-imam kuil, dan para penyembah dewa telah menenun jaring kebohongan yang bukan hanya hendak menghancurkan Ur Enki, tetapi juga membungkam suara kebenaran yang mulai tumbuh di tengah masyarakat.
Di saat dunia memusuhinya, Ur Enki hanya memiliki satu pegangan: keyakinannya kepada Tuhan Yang Maha Esa dan ajaran seorang nabi tua yang selama puluhan tahun ditertawakan manusia karena membangun sebuah bahtera raksasa di puncak bukit.