Fibozona
📖 BACA BAB

Baca Bab

Nikmati setiap bab dari karya penulis berbakat

🎉 GRATIS - Tanpa Koin

Jerit dan Penyelamatan

📅 01 July 2026 📚 Ketika Kota Mengutuk Cinta Kita ⏱️ 7 menit baca 📑 Bab 37

Di suatu tempat tersembunyi, yang mustahil bagi siapa pun dapat mengenali dan mengetahui, seorang perempuan renta tak henti-hentinya menangis, tak henti-hentinya berdoa. Kedalaman batin dan kesucian jiwanya, sesungguhnya sudah meramalkan bahwa peristiwa seram ini pasti akan terjadi.

Sesungguhnya, sejak matahari pagi merangkak ke langit dan lonceng kuil berdentang tanda hukuman akan dijalankan, Nin Edin telah menyaksikan segalanya. Ia tidak berani mendekat, tetapi ia tidak sanggup menjauh. Dari sebuah celah, ia menatap dengan dada bersimbah pedih.

Gubuk reyot tempat persembunyiannya itu telah lama ditinggalkan, berdiri miring di tepi Danau Nammu, separuh tenggelam dalam ilalang rawa. Dindingnya dari anyaman reed yang sudah koyak, atapnya berlubang, dipenuhi lumut hijau. Dari balik retakan dinding itu, Nin Edin bisa melihat ke arah tempat para penjagal menyeret Ur Enki dan Lilitu. Ia hanya bisa berjongkok di dalam kegelapan, napasnya tertahan, matanya berkaca-kaca, jantungnya berdegup seperti genderang perang yang tak kunjung berhenti.

Dan dari celah itu, ia menyaksikan tuannya—anak yang pernah digendongnya di tepian Purattu, yang pernah ia mandikan dengan air rawa ketika kanak—dipasung ke dalam balok kayu kurma. Ia menyaksikan tubuh Lilitu, gadis jelita yang hatinya telah diliputi kebenaran, diperlakukan serupa. Madu, susu, dan minyak disiramkan ke tubuh mereka, hingga kulit mereka lengket dan mengilap, seakan tubuh itu bukan lagi daging manusia, melainkan umpan untuk segala serangga.

Nin Edin menggigit tangannya sendiri agar tidak berteriak. Air matanya menetes tanpa bisa ia tahan. Ia seolah mendengar dengungan nyamuk yang dipanggil oleh manis madu, ia melihat lalat-lalat hinggap di bibir dan kelopak mata tuannya, ia mendengar rintih lirih Lilitu yang dipaksa menahan pedih. Dan ia hanya bisa menunggu, bisa berdoa, bisa pasrah.

Ya Ilu Elyon, jika angin menjadi saksi dan air menjadi palu-Mu, kuatkan tanganku yang kecil, agar aku mampu menegakkan papan-papan yang akan menampung rahasia-Mu.”

Ia terus menengadahkan kedua tangannya:

“Wahai Ilu. Jika Engkau berkehendak mengambil jiwa mereka, ambillah dengan cara yang lembut. Jangan biarkan mereka hancur dimakan serangga. Jangan biarkan tubuh yang suci ini dicabik dalam kesia-siaan.”

Doa itu hanya menembus dinding gubuk, melayang ke udara, lalu kembali sebagai luka. Sebab hukuman tetap berjalan, air danau tetap menelan, dan waktu tetap menyeret mereka ke tengah. Nin Edin gemetar, tubuhnya ingin menerjang, tetapi hatinya tahu: jika ia keluar dari persembunyian, ia hanya akan dilempar ke dalam siksaan yang sama. Maka ia bertahan—di tengah kegelapan, di tengah bau lumpur busuk dan anyaman reed yang lapuk—menyaksikan dengan pasrah penderitaan dua jiwa yang ia cintai.

Jiwa perempuan renta itu memang suci dan mulia. Sesungguhnya sudah sejak lama ia meramalkan peristiwa ini akan terjadi. Ia pun sudah membisikkan kata-kata itu pada Ur Enki:

“Dia…, dia tidak gila, Tuan. Demi jiwa yang akarnya tertambat pada Ilu, sungguh dia tidak gila. Badai akan benar-benar datang. Dan engkau, tuan, akan tertikam!”

Itulah yang ia ucapkan, dulu, ketika dia harus menerima beban mengantarkan dua tablet surat itu. Beban? Iya, sebab ia sudah merasa bahwa itu adalah pintalan benang takdir yang telah mengikat leher jiwanya: Ia tak bisa lepas, tetapi ia tahu ia akan terjerat. Pada ketika dua tablet itu diserahkan kepadanya agar diberikan pada Ur Enki, isak tangisnya meledak seketika.

“Tiba pula masanya,” ucap bibirnya ketika itu, “akhirnya datang juga.”

Ia pun melangkah dengan badan terhuyung-huyung, melewati jembatan yang licin karena embun di pagi hari. Ia memang tak tahu isi tulisan dalam kedua tablet itu, namun ia tahu bahwa masanya akan segera tiba.

Nin Edin menggeleng-geleng.

“Tidak, Tuan Ur,” ucapnya tegas. “Bukan dengan cara seperti ini Ilu memanggilmu. Tunggulah, aku akan menyelamatkanmu.”

***

Ketika malam benar-benar turun, ketika kabut mulai bergulung dan suara katak lebih nyaring daripada suara manusia, para prajurit yang menjaga Ur Enki dan Lilitu itu pergi. Mereka meninggalkan danau sebelum tengah malam, seperti sudah menjadi aturan tak tertulis. Entah karena takut pada roh-roh purba yang dipercaya berkeliaran di Danau Nammu, entah karena merasa tugas mereka cukup: tubuh-tubuh terhukum toh akan mati sendiri, digerogoti serangga, diseret arus, atau ditelan kabut.

Saat itulah Nin Edin bangkit dari persembunyian. Langkahnya tertatih, lututnya gemetar, namun hatinya berdegup seperti lonceng yang tak kunjung berhenti. Ia tahu inilah satu-satunya kesempatan.

Dari tepian ia melihat: balok kayu yang memasuk Ur Enki terapung jauh di tengah danau. Cahaya bintang dan rembulan memantul di permukaan air, memantulkan tubuh pucat tuannya yang hampir tak bernyawa. Lilitu pun tampak di sisi lain, terapung lebih jauh, kabut menutupinya.

Nin Edin menjerit lirih. “Tuan muda… bagaimana aku bisa mencapaimu?”

Dengan nekat, ia menceburkan diri dari pinggir. Air yang dingin langsung menggigit sendinya, tubuhnya berat, lumpur menyeret kakinya. Ia mencoba berenang, tapi tenaga tuanya tak sanggup. Setiap kayuhan hanya membuatnya semakin tenggelam. Air masuk ke mulutnya, dadanya sesak. Dalam sekejap ia sadar: mustahil ia bisa ke tengah.

Ia kembali ke tepian dengan tubuh menggigil. Berlutut, ia menengadah ke langit.

“Ya Ilu Rabbu… aku sudah mencoba dengan tenagaku. Tapi Engkau tahu tubuhku rapuh, aku tak bisa. Jika Engkau masih menghendaki ia hidup, bawalah ia kepadaku. Jika tidak, ambillah aku malam ini juga.”

Hening.

Hanya suara katak dan dengungan nyamuk. Namun di tengah hening itu, angin malam mendadak bertiup. Permukaan danau beriak pelan. Balok kayu yang memasuk Ur Enki, yang tadinya jauh di tengah, perlahan terdorong arus. Sedikit demi sedikit, ia bergerak mendekat ke tepian.

Mata Nin Edin membelalak. Air matanya meleleh. “Apakah ini Engkau, ya Ilahi? Apakah ini jawaban-Mu?”

Dengan tergesa ia mencari batang tamarisk panjang yang tumbuh miring di tepian rawa. Tangannya gemetar saat mematahkannya. Lalu ia ulurkan batang itu, mengait balok kayu. Beberapa kali hampir terlepas, beberapa kali tubuhnya hampir jatuh kembali ke air. Tapi dengan teriakan parau, ia berhasil mengait dan menariknya.

Balok kayu itu makin dekat, makin dekat, hingga akhirnya menabrak lumpur di tepian. Nin Edin meraih tubuh tuannya, menciumi dahinya yang dingin dan lengket oleh madu, lalu menubruknya dalam pelukan.

“Ya Ilu Elyon… Engkau mendengar… Engkau tidak menutup telinga bagi seorang tua rapuh seperti aku…”

Air mata Nin Edin tumpah bercampur dengan lumpur dan madu. Ia menatap tubuh tuannya, dan tahu: inilah awal dari pertarungan baru — untuk membebaskan, untuk menyelamatkan, meski dirinya sendiri mungkin hancur.

Dengan terengah-engah Nin Edin menyeret balok kurma ke tepian danau. Pelayan tua itu meraba pinggangnya. Dari balik ikatan kain kumal, ia mengeluarkan sebilah pisau kecil, pisau yang biasa ia gunakan untuk meraut ranting. Dengan tangan gemetar ia mulai mengiris tambang rami yang mengekang balok itu.

“Ya Ilaahi… biarlah tanganku patah, asal ia bebas…” desisnya.

Pisau tumpul, tambang basah oleh madu, kayu keras. Setiap sayatan membutuhkan tenaga yang tak lagi ia punya. Berkali-kali pisaunya terpeleset, melukai jemarinya. Darahnya sendiri menetes ke tubuh Ur Enki. Namun ia tak berhenti. Giginya bergemeletuk menahan dingin dan pedih, tetapi matanya tak lepas dari wajah pucat tuannya.

Satu demi satu ikatan terputus. Balok berderak, membuka sedikit demi sedikit. Serangga beterbangan, madu menetes ke tanah, darah semakin mengalir. Nin Edin merintih setiap kali serpihan kayu menusuk kulit tuannya, seakan tubuhnya sendiri yang disayat.

Akhirnya, ikatan terakhir pun putus. Balok kayu terbelah, dan tubuh Ur Enki jatuh ke pangkuannya. Pelayan tua itu menjerit lirih, setengah karena lega, setengah karena perih di seluruh tubuhnya. Ia rebahkan tuannya di tanah, menepuk-nepuk pipinya, menyeka wajahnya dari madu dan darah dengan lengan bajunya yang basah.

“Bangunlah, tuan muda… bukalah matamu… dengarkan suaraku…”

Ur Enki mengerang pelan. Bibirnya pecah, napasnya berat. Namun kelopak matanya bergetar, lalu perlahan terbuka. Pandangannya masih keruh, kabur, tapi ia sempat melihat wajah keriput Nin Edin yang berlinang air mata di atasnya.

“Bi… Nin…?” bisiknya parau, lirih bagai desir angin.

Tangis Nin Edin pecah kembali. Ia menciumi tangan tuannya, membasuhnya dengan air mata. “Iya, tuan muda… ini aku… Nin Edin. Aku datang… aku tidak akan meninggalkanmu…”

Untuk sejenak, malam terasa berhenti. Kabut menahan napasnya, danau mereda, seolah seluruh semesta ikut menyaksikan detik kecil itu: jiwa yang hampir terenggut kini kembali berdenyut.

***

← Kembali ke Daftar Bab