Nikmati setiap bab dari karya penulis berbakat
Mendadak Nin Edin teringat kepada Lilitu.
Nama itu muncul di dalam benaknya seperti kilatan petir yang membelah malam. Jantungnya yang sejak tadi dipenuhi kecemasan terhadap keselamatan Ur Enki tiba-tiba berdebar semakin keras. Dalam segala kekacauan yang baru saja terjadi, dalam kepanikan saat ia berusaha menyelamatkan tuannya dari hukuman yang nyaris merenggut nyawa, ia hampir melupakan satu jiwa lain yang juga sedang menunggu maut dengan cara yang tidak kalah mengerikan.
"Lilitu..." bisiknya lirih.
Tubuh renta itu segera bangkit. Lututnya gemetar hebat. Punggungnya terasa seperti hendak patah. Namun kecemasan yang mendadak membanjiri dadanya membuat segala rasa letih terlupakan. Dengan mata yang membelalak ia memandang ke arah danau yang diselimuti kabut. Pandangannya menyapu permukaan air yang hitam, bergerak ke kiri dan ke kanan, mencari sesuatu yang bahkan ia sendiri tidak yakin masih dapat ditemukan.
"Lilitu... anak malang..."
Suaranya tenggelam oleh desir angin.
Di hadapannya, Danau Kegelapan membentang bagai lembaran obsidian raksasa yang memantulkan cahaya bulan dengan warna keperakan yang muram. Kabut menggulung di atas permukaannya seperti arwah-arwah yang berjalan tanpa tujuan. Sesekali terdengar percikan air dari ikan yang meloncat, lalu semuanya kembali sunyi.
Nin Edin memicingkan mata.
Ia mencari balok kayu pasungan.
Mencari bayangan tubuh seorang gadis yang sejak awal hanyalah korban dari permainan orang-orang berkuasa.
Namun tidak ada.
Tidak ada apa-apa.
Yang terlihat hanyalah gelombang-gelombang kecil yang bergerak perlahan, lalu menghilang ditelan kabut.
"Lilitu..." panggilnya lagi.
Lebih keras.
Lebih putus asa.
Tetapi malam tidak memberikan jawaban.
Hanya desir gelagah.
Hanya dengung nyamuk.
Hanya suara air yang bergerak pelan di antara akar-akar rawa.
Nin Edin melangkah beberapa langkah ke depan. Lumpur segera menelan kakinya hingga mata kaki. Ia hampir tergelincir, namun tetap memaksa maju. Tangannya yang kurus terulur ke depan, seolah dengan cara itu ia dapat meraih sesuatu yang telah lenyap jauh ke tengah danau.
Ia masih berharap.
Mungkin balok itu hanyut ke sisi lain.
Mungkin Lilitu masih hidup.
Mungkin Tuhan masih menyisakan mukjizat.
Namun harapan-harapan itu perlahan mulai pecah satu demi satu.
Kabut semakin tebal.
Malam semakin pekat.
Dan danau itu tetap diam.
Diam seperti makam yang menelan rahasianya sendiri.
Perlahan-lahan tubuh tua itu berlutut di lumpur.
Tangannya mencengkeram tanah basah.
Kepalanya tertunduk.
Air mata mulai mengalir di wajahnya yang penuh keriput.
"Ya Ilaahi..."
Suaranya pecah.
"Engkau lebih mengetahui daripada hamba-Mu yang lemah ini."
Air mata jatuh ke lumpur.
Menyatu dengan tanah.
Menyatu dengan kesedihan.
"Aku tak mampu menyelamatkannya. Aku tak mampu membebaskannya. Aku hanya seorang tua yang bahkan tak sanggup menjaga diriku sendiri. Jika memang malam ini Engkau telah memanggilnya pulang, maka terimalah jiwanya dengan kasih sayang-Mu. Jika ia telah tenggelam ke dasar danau, maka jadikanlah air itu lebih lembut daripada buaian seorang ibu."
Dadanya berguncang oleh tangis.
Untuk pertama kalinya sejak bertahun-tahun, Nin Edin merasa begitu tidak berdaya.
Ia telah menyaksikan banyak kematian sepanjang hidupnya.
Ia pernah melihat perang.
Pernah melihat wabah.
Pernah melihat bayi meninggal di pelukan ibunya.
Pernah melihat orang tua mengembuskan napas terakhir di bawah pohon kurma.
Namun entah mengapa, memikirkan nasib Lilitu membuat dadanya terasa jauh lebih sesak.
Mungkin karena gadis itu tidak pernah benar-benar memiliki kesempatan.
Sejak kecil ia telah dijual.
Sejak remaja ia diperalat.
Dan ketika akhirnya ia mulai menemukan cahaya kebenaran, dunia justru menyeretnya menuju kematian.
"Betapa berat nasibmu, anakku..."
bisiknya.
"Betapa panjang jalan dukamu..."
Lama ia berlutut di sana.
Sampai akhirnya hawa dingin mulai menusuk tulang-tulangnya.
Sampai akhirnya tubuhnya mengingatkan bahwa masih ada satu jiwa lain yang belum aman.
Ur Enki.
Dengan langkah berat Nin Edin kembali menuju tempat pemuda itu terbaring.
Kabut masih bergulung.
Malam masih dingin.
Namun kini kesedihan tentang Lilitu bercampur dengan kecemasan baru.
Apa yang harus ia lakukan terhadap Ur Enki?
Bagaimana ia harus menyelamatkannya?
Bagaimana seorang lelaki tua yang hampir tak mampu berjalan dapat menantang seluruh kota?
Ketika ia tiba di dekat tuannya, Ur Enki masih terbaring di tanah.
Tubuh pemuda itu tampak mengenaskan.
Kulitnya dipenuhi bekas gigitan serangga.
Darah mengering di beberapa bagian wajahnya.
Bibirnya pecah.
Napasnya terdengar berat.
Seperti seseorang yang telah berjalan sangat jauh melewati padang kematian.
Nin Edin segera duduk di sampingnya.
Tangannya gemetar ketika mengusap rambut kusut yang menempel di dahi Ur Enki.
Beberapa saat kemudian mata pemuda itu bergerak perlahan.
Kelopak matanya terbuka sedikit.
Pandangan yang samar menemukan wajah tua yang sangat dikenalnya sejak kecil.
"Bi... Nin..."
Suara itu begitu lemah.
Nyaris seperti bisikan angin.
"Mengapa... kau kembali...?"
Air mata Nin Edin langsung jatuh.
Ia meraih tangan Ur Enki.
Menciuminya berulang kali.
Seperti seorang ayah yang menemukan kembali anaknya yang hampir hilang.
"Karena engkau tuanku..."
katanya terbata-bata.
"Karena sejak hari engkau lahir, aku telah bersumpah menjaga hidupmu."
Ia terisak.
"Aku menyuapimu ketika engkau masih bayi. Aku menggendongmu ketika engkau belum bisa berjalan. Aku menyaksikanmu tumbuh. Bagaimana mungkin aku membiarkanmu mati sendirian di tengah rawa seperti binatang buruan?"
Ur Enki memejamkan mata.
Air mata perlahan mengalir dari sudut matanya.
"Tetapi... mereka akan membunuhmu..."
"Biarlah."
"Mereka akan menghukummu..."
"Biarlah."
"Mereka akan mencarimu..."
"Biarlah."
Suara Nin Edin menjadi semakin tegas.
"Apa artinya hidup panjang bila harus menyaksikan engkau mati seperti ini?"
Ur Enki menggigit bibirnya yang pecah.
Sakit.
Bukan hanya pada tubuhnya.
Melainkan pada jiwanya.
"Lilitu..."
bisiknya kemudian.
"Di mana dia?"
Pertanyaan itu seperti pisau yang kembali mengoyak hati Nin Edin.
Ia terdiam cukup lama.
Lalu perlahan menundukkan kepala.
"Aku mencarinya."
Suara itu nyaris tak terdengar.
"Aku mencoba."
Air matanya kembali jatuh.
"Tetapi kabut menelan segalanya."
Ur Enki memejamkan mata.
Dadanya bergetar.
"Tidak..."
"Aku tak menemukan apa-apa."
"Ya Ilaahi..."
bisik Ur Enki.
Bukan sebagai keluhan.
Melainkan sebagai doa.
Ia teringat wajah Lilitu.
Tangisnya.
Pengakuannya.
Pertobatannya.
Perjalanan panjang yang telah mereka lalui bersama menuju cahaya kebenaran.
Dan kini mungkin semuanya telah berakhir.
Mungkin gadis itu telah pergi.
Mungkin ia sedang berada dalam pelukan Tuhan yang selama ini dicarinya.
Air mata mengalir tanpa suara.
Tidak ada ratapan.
Tidak ada jeritan.
Hanya kesedihan yang terlalu dalam untuk diungkapkan.
Malam semakin larut.
Kabut semakin tebal.
Nin Edin duduk memandangi wajah tuannya yang pucat.
Sementara pikirannya berputar tanpa henti.
Ia harus membawa Ur Enki pergi.
Tetapi ke mana?
Ke gubuknya?
Terlalu berbahaya.
Penduduk pasti akan mencarinya.
Para prajurit pasti akan menyisir rawa.
Dan bila mereka menemukan Ur Enki di sana, bukan hanya pemuda itu yang akan mati.
Dirinya juga akan dihukum.
Mungkin dipasung.
Mungkin dipancung.
Mungkin dilempar ke danau seperti para penjahat.
Namun bila tetap tinggal di sini, kematian juga hanya tinggal menunggu waktu.
Nin Edin menengadah ke langit.
Kabut menutupi bintang-bintang.
Tetapi di balik kabut itu ia tahu langit tetap ada.
Seperti Tuhan yang tetap ada meski tidak terlihat.
"Ya Ilaahi..."
bisiknya.
"Tunjukkan jalannya."
Lalu tiba-tiba sesuatu berkelebat di dalam ingatannya.
Sebuah bukit.
Sebuah lereng.
Suara palu yang menghantam kayu.
Dan seorang lelaki tua yang selama puluhan tahun menjadi bahan ejekan seluruh kota.
Ziusudra.
Atau sebagaimana sebagian orang menyebutnya:
Nuh.
Mata Nin Edin membelalak.
Jantungnya berdebar.
"Dul Gir..."
bisiknya.
"Ya..."
Tangannya gemetar.
"Hanya ke sana."
Tidak ada tempat lain.
Tidak ada pilihan lain.
Jika masih ada satu tempat di seluruh negeri yang mungkin memberi perlindungan bagi Ur Enki, maka tempat itu adalah bukit Dul Gir.
Tempat bahtera raksasa sedang dibangun.
Tempat seorang nabi tua menunggu datangnya janji Tuhan.
Tempat yang ditertawakan seluruh dunia.
Namun mungkin justru menjadi satu-satunya tempat keselamatan.
Nin Edin memandang tubuh Ur Enki.
Lalu memandang ke arah gelap tempat bukit itu berada.
Jaraknya jauh.
Sangat jauh.
Dan dirinya sudah tua.
Sangat tua.
Bagaimana mungkin ia bisa membawa Ur Enki ke sana?
Bagaimana mungkin punggung renta ini mampu memikul tubuh seorang pemuda?
Bagaimana mungkin kaki yang gemetar ini mampu menembus lumpur, rawa, dan semak-semak sepanjang malam?
Pertanyaan demi pertanyaan memenuhi pikirannya.
Tetapi di balik semua ketakutan itu, ada sesuatu yang lebih kuat.
Keyakinan.
Keyakinan bahwa Tuhan yang telah menunjukkan jalan itu tidak akan meninggalkannya sendirian.
Nin Edin membungkuk.
Mencium kening Ur Enki.
"Tuan muda..."
bisiknya.
"Aku tidak tahu bagaimana caranya."
Suaranya bergetar.
"Aku tidak tahu apakah kita akan sampai."
Air matanya jatuh.
"Aku bahkan tidak tahu apakah esok pagi aku masih hidup."
Ia menggenggam tangan Ur Enki erat-erat.
"Tetapi aku akan mencoba."
Lalu perlahan ia mengangkat tubuh pemuda itu.
Punggungnya langsung terasa nyeri.
Lututnya hampir roboh.
Namun ia bertahan.
Karena cinta yang setia sering kali lebih kuat daripada tubuh yang muda.
Dan malam itu, di bawah langit yang tertutup kabut, seorang lelaki tua mulai berjalan menuju Dul Gir.
Setiap langkahnya adalah doa.
Setiap napasnya adalah pengorbanan.
Setiap jejak yang tertinggal di lumpur adalah kesaksian tentang kesetiaan yang tak pernah menyerah.
Sementara jauh di kejauhan, nyaris tak terlihat di balik kabut malam, sebuah titik cahaya kecil berkedip di lereng bukit.
Entah obor.
Entah bintang.
Entah tanda dari Tuhan.
Namun bagi Nin Edin, cahaya itu cukup.
Karena kadang-kadang, seorang manusia tidak membutuhkan seluruh terang langit.
Ia hanya membutuhkan satu cahaya kecil untuk terus melangkah.