Nikmati setiap bab dari karya penulis berbakat
Ketika tubuh tua Nin Edin dengan sekuat tenaga memapah tubuh lunglai Ur Enki menembus kegelapan dan kabut, di bagian lain langit malam yang sama, di kediamannya yang megah, Innana Eti tak dapat memejamkan matanya.
Ia duduk di ranjang bertiang berkelambu, berlapis kain un-gu dan sulaman emas. Namun kemewahan itu tak mampu mene-nangkannya. Dadanya berdebar, jantungnya memukul-mukul, matanya menatap kosong ke langit-langit berlukiskan bintang-bintang. Tapi bintang itu hanya cat, bukan cahaya; bukan penun-tun, hanya tipuan keindahan.
Ia berbaring sejenak, lalu bangkit lagi. Kembali berbaring, kembali bangkit. Tubuhnya resah, seakan ranjang itu adalah duri. Nafasnya tersengal.
“Mengapa aku tak bisa tidur malam ini?” bisiknya lirih, sea-kan takut suaranya didengar dinding.
Kenangan perlahan datang, mengalir bagai arus bawah tanah. Ia ingat, pertama kali mengenal Ur Enki—anak muda yang tutur katanya lembut namun tajam, yang matanya menyimpan kesungguhan, yang langkahnya penuh hormat namun juga penuh keanggunan. Ia ingat senyum yang pernah dilemparkan padanya, sederhana namun membuat hatinya berguncang.
Ada saat-saat ketika ia percaya, mungkin lelaki itu adalah sosok yang akan setia. Ada detik-detik singkat di mana ia merasa diperhatikan. Ia bahkan ingat bagaimana jantungnya berdebar ka-la nama itu disebut di ruang kuil.
Jemari-jemari Ur Enki seakan kembali dirasakannya saat mereka saling menggenggam.
“Ur Enki…” desisnya, hampir seperti panggilan seorang kekasih.
Namun kenangan itu adalah pisau bermata dua. Sebab dari balik simpati itu lahirlah luka. Luka yang menganga ketika ia tahu Ur Enki lebih memilih Lilitu dengan cara mengkhianatinya.
Rasa itu berbalik menjadi bara. Api cemburu dan marah menggerogoti dadanya.
“Mengapa? Mengapa kau khianati aku?”
Ia berdiri, berjalan ke jendela. Dari sana ia menatap ke arah kelam, arah Danau Nammu yang terbungkus kabut.
“Lilitu…” bibirnya mengucap nama itu dengan getir. “Kau hanyalah budak istana. Kenapa kau rebut Ur Enki dari hatiku?”
Ia kembali ke ranjang bertiangnya, namun kini ia menutup wajah dengan kedua tangannya. Bayangan itu datang: Ur Enki dan Lilitu, terpasung dalam balok kurma, tubuh mereka disiram madu dan susu, terapung di Danau Nammu. Ia membayangkan serangga yang menggigiti kulit mereka, nyamuk yang menyedot darah, lalat yang hinggap di bibir.
Di benaknya, ia mendengar rintihan itu. Ia melihat tatapan mata Ur Enki yang penuh luka, ia mendengar jerit Lilitu yang tercekik. Tubuhnya menggigil. Antara ngeri dan puas, antara iba dan pedih, hatinya terombang-ambing seperti tubuh mereka di permukaan air.
“Beginikah nasib yang pantas kalian dapatkan?” ia berbisik pada dirinya sendiri.
“Beginikah cara dendamku terbayar? Atau ini justru terlalu kejam bahkan bagi musuh sekalipun?”
Ia bangkit, berjalan ke tengah ruangan. Tubuhnya gemetar. Air matanya hampir jatuh, tapi ia tahan.
Dan tiba-tiba, pertanyaan itu menyeruak, menghantam da-danya dengan kekuatan yang tak bisa ia tolak:
“Seandainya mereka berdua tak bersalah? Seandainya mere-ka hanya korban fitnah? Seandainya kata-kata Ur Enki benar adanya?”
Innana Eti terhuyung, kedua tangannya meraih tiang ran-jang untuk menopang tubuhnya yang melemah. Dadanya berde-tak lebih keras. Ia ingin menepis pertanyaan itu, tapi pertanyaan itu berputar-putar di kepalanya seperti burung hitam yang tak henti mengepakkan sayap.
Ia menutup telinga, tapi suara itu tetap ada. Ia menutup ma-ta, tapi bayangan wajah Ur Enki tetap hadir. Ia ingin mengusirn-ya, tapi hatinya justru terjerat semakin dalam.
“Oh, Ilu…” bisiknya dengan tubuh gemetar, “jangan biarkan hatiku bimbang. Jangan biarkan aku ragu pada dendamku sendiri…”
Innana Eti mencoba menutup matanya, namun justru se-makin jelas ia mendengar gema suara itu. Suara yang pernah ia abaikan, ia tolak mentah-mentah, suara Ur Enki ketika para prajurit istana hendak menangkapnya atas titah Enlil Bazi:
“Aku bukan pengkhianat! Aku tidak mengkhianatimu! Lilitu hanyalah siasat istana! Kan-dungannya bukan dariku! Itu bukan darahku!”
Kata-kata itu kini menusuknya kembali. Suara itu mengge-ma di telinganya, mengguncang dadanya, seakan malam sendiri mengulanginya tanpa henti.
Innana Eti terperanjat. Tubuhnya limbung, ia harus meraih tiang ranjang berkelambu agar tidak jatuh. Matanya membelalak, dadanya terengah.
“Jangan-jangan… jangan-jangan semua ini salah,” desisnya, nyaris tanpa suara.
Ia teringat tatapan mata Ur Enki malam itu—penuh luka, penuh kebenaran yang tidak didengar.
Air mata jatuh, membasahi pipinya yang dingin.
“Ya Ilaahi… jangan-jangan mereka berdua tak bersalah. Jangan-jangan keduanya hanya korban fitnah. Jangan-jangan aku pun, dengan dendamku, ikut menjerumuskan mereka…”
Pertanyaan itu membesar, menelan seluruh dadanya. Ia be-rusaha menepis, tapi semakin ditepis semakin kuat ia menekan dari dalam. Ia mencoba menutup telinga, tapi gema suara Ur Enki tetap menggedor, seolah keluar dari kabut yang menyelubungi malam.
***