Fibozona
📖 BACA BAB

Baca Bab

Nikmati setiap bab dari karya penulis berbakat

🎉 GRATIS - Tanpa Koin

Jiwa yang Pecah

📅 01 July 2026 📚 Ketika Kota Mengutuk Cinta Kita ⏱️ 9 menit baca 📑 Bab 40

Pertanyaan itu tak kunjung reda. Kata-kata Ur Enki bergema terus, menolak padam meski ia menutup telinga, meski ia membenamkan wajah dalam kain ungu beraroma kasturi. Setiap kali ia mencoba menyingkirkann-ya, gema itu justru semakin keras, merobek-robek dinding hatinya.

Ia bangkit dengan tubuh gemetar, berjalan ke jendela. Kabut malam menyelimuti halaman, dan jauh di sana, ia tahu, terbaring Danau Nammu—gelap, luas, dan penuh rahasia. Di situlah tubuh Ur Enki dan Lilitu kini tera-pung, terpasung dalam balok kayu kurma, menunggu ajal perlahan. Air mata menetes.

“Aku harus melihatnya dengan mataku sendiri. Aku harus tahu…”

Ia memanggil pengawal. Suaranya tegas meski tubuhnya bergetar.

“Bawa aku ke Danau Nammu. Malam ini juga.”

Para prajurit saling berpandangan, ragu. Salah seorang memberani-kan diri berkata, “Tuan putri… malam telah larut. Kabut pekat di sana. Roh-roh danau gentayangan. Tunggulah hingga fajar…”

Innana menoleh tajam, sorot matanya berkilat bagai pisau. “Aku tidak menunggu fajar. Aku memerintahkan kalian. Malam ini aku harus ke sana.”

“Tapi—bagaimana dengan Tuan Sulgi Ram. Kalau ayahanda tuan pu-tri tak mengijinkan?”

“Aku tak peduli!”

Hening sejenak. Para prajurit menunduk, tak berani membantah lebih jauh. Meski hati mereka diliputi gentar, mereka tahu: perintah tuan putri adalah titah. Maka obor pun dinyalakan, tombak-tombak digenggam erat, dan derap kaki mulai terdengar di halaman.

Innana Eti berjalan di depan, berbalut jubah tipis, wajahnya tegang, hatinya dilanda badai. Prajurit-prajuritnya mengiringi dari kanan dan kiri, bayangan mereka bergetar bersama cahaya obor. Mereka menuju arah kabut, menuju tepi danau yang pekat.

Kabut malam kian menebal. Suara binatang malam bersahutan: bu-rung hantu yang melolong dari pohon kering, serangga rawa berdengung bagai gendang perang, dan sesekali lolongan serigala jauh di bukit.

Prajurit-prajurit berjalan dengan wajah tegang, obor mereka bergo-yang, menyalakan bayangan panjang di ilalang. Satu-dua dari mereka ber-bisik, “Mengapa tuan putri ingin melihat terhukum itu malam-malam begini? Tidakkah cukup ia sudah menyaksikan hukuman pagi tadi?”

Namun bisikan itu segera ditegur rekannya. “Diamlah. Kau ingin kepalamu melayang? Jalankan saja titah.”

Innana Eti berjalan di depan, jubahnya menyapu tanah basah. Wajahnya pucat, namun sorot matanya keras. Ia tidak peduli pada kabut, tidak peduli pada nyamuk yang hinggap, tidak peduli pada rasa gentar yang merayap di dada. Ia hanya ingin melihat.

Akhirnya, mereka tiba di tepian Danau Nammu. Kabut menutup pan-dangan, riak air hanya terlihat ketika obor menyapunya. Serangga be-terbangan, suara katak bersahutan. Danau itu seakan bukan air, melainkan jubah hitam yang mengambang, menyimpan rahasia.

Innana mendekat ke tepian, matanya menajam, mencari. “Mana mereka? Mana balok kayu itu?”

Para prajurit mengangkat obor lebih tinggi, menyapukan cahaya ke arah kabut. Sebagian bahkan turun ke lumpur, menunduk, menajamkan ma-ta. Mereka mencari-cari, berputar-putar di tepian.

Namun yang mereka temukan hanya kabut tebal, riak air, dan dengungan serangga. Tak ada balok kayu, tak ada tubuh terapung.

Salah seorang prajurit bersuara dengan gugup, “Mungkin… mungkin mereka sudah tenggelam, tuan putri.”

Yang lain menimpali, “Atau… arus membawa mereka ke sisi lain da-nau…”

Innana menggigil. Dadanya berdebar semakin keras. Ia melangkah lebih jauh ke tepian, nyaris terperosok ke lumpur, matanya terus menyapu gelap. Tapi benar: tak ada yang bisa dilihat. Balok kayu itu hilang.

“Tidak mungkin…” desisnya. “Tidak mungkin lenyap begitu saja. Aku melihatnya dengan mataku sendiri… pagi tadi…”

Kabut semakin menutup, menelan segala sesuatu. Obor prajurit pun tampak kecil, seakan tertelan malam.

Tiba-tiba, dari sela kabut, sesuatu berkilat terkena cahaya obor. In-nana menajamkan mata, lalu menunjuk dengan cepat, “Lihat! Di sana! Itu baloknya!”

Para prajurit menoleh serentak. Di antara kabut yang bergulung, sa-mar-samar tampak sebuah balok kayu yang terdampar miring di salah satu tepi danau. Riak kecil memukulnya, membuatnya berderak pelan.

Innana tanpa pikir panjang berlari, jubahnya terhuyung, kakinya ter-benam lumpur. Para prajurit buru-buru mengikutinya, mengangkat obor tinggi agar tak padam.

Dan ketika mereka tiba di tepi itu, napas Innana tercekat.

Di dalam balok kurma itu, tubuh Lilitu masih terpasung. Kepalanya miring, bibirnya penuh darah dan busa, matanya setengah terpejam. Se-rangga masih mengerubungi wajahnya, nyamuk menancap di keningnya, semut rawa merayapi lehernya. Tubuhnya berlumur madu, susu, dan min-yak, bercampur peluh dan luka.

Lilitu masih hidup. Namun napasnya tersengal, lemah, seolah satu helaan lagi akan terputus. Suaranya parau, tercekik, nyaris tak terdengar, hanya berupa rintihan yang lebih mirip desis angin.

Innana menjerit lirih, menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Dadanya berdegup, tubuhnya gemetar menyaksikan penderitaan itu. Se-jahat-jahatnya hati manusia, tetap saja Innana tak tega menyaksikan pender-itaan itu.

Innana meraih tiang balok kurma itu, matanya menyala dengan ketegasan yang lahir dari keputusasaan. Ia menoleh pada para prajurit yang berkerumun, wajah mereka pucat dalam cahaya obor.

“Lepaskan dia,” suaranya bergetar namun tegas, seperti gemuruh dari dalam dada.

Para prajurit terperanjat. Salah seorang segera menunduk, suaranya lirih penuh gemetar, “T-tuan putri… kami tak berani. Itu titah raja. Kami han-ya menjalankan perintah…”

Yang lain menambahkan dengan suara parau, “Jika kami mem-bebaskannya… sama artinya kami mengkhianati istana. Nyawa kami akan melayang.”

Innana menatap mereka satu per satu, matanya berkilat bagai api. “Aku tidak peduli pada titah raja malam ini. Aku memerintahkan kalian. Dan aku adalah darah bangsawan, titahku tak bisa kalian tolak!”

Hening seketika. Obor berkedip, kabut bergulung, jantung setiap prajurit berdetak kencang. Mereka saling berpandangan, wajah mereka dili-puti ketakutan yang nyata.

Namun tiba-tiba, dari dalam balok kayu itu, terdengar suara serak, parau, hampir tak berbentuk kata. Lilitu membuka bibirnya yang pecah, suaranya pecah bagai bisikan roh yang sekarat.

“Jangan…”

Innana terperanjat, matanya membelalak. “Apa yang kau katakan, Lilitu?”

Lilitu memutar sedikit kepalanya, setiap gerakannya penuh sakit. Matanya yang setengah tertutup berusaha menatap Innana, samar tapi da-lam. Nafasnya terputus-putus, namun kata-kata berikutnya berhasil keluar dengan susah payah:

“Jangan… bebaskan aku… biarkan aku… tamat… di sini…”

Suaranya pecah menjadi batuk darah. Serangga beterbangan dari wajahnya, obor menyorot tubuhnya yang rapuh. Para prajurit menutup mulut, ngeri mendengar penolakan itu.

Innana tertegun. “Mengapa kau berkata begitu? Aku memerintahkan mereka untuk membebaskanmu!”

Lilitu menggeleng pelan, meski setiap gerakan membuatnya tersiksa. Matanya berkaca-kaca, menatap Innana dengan sisa-sisa tenaga. “Aku… pan-tas mendapatkannya. Aku menerima hukuman ini… sebab aku penuh dosa… aku berpaling dari Ilu yang sejati… aku berbuat aib, aku mengkhianati darahku sendiri.”

Para prajurit menunduk, ngeri mendengar kata-kata itu, seakan roh kesalahan sedang berbicara lewat mulut seorang yang sekarat.

Innana mematung. Kata-kata Lilitu menancap dalam dadanya. Ia tidak menolak karena takut… ia tidak menolak karena putus asa… ia menolak ka-rena merasa pantas dihukum.

Innana meraih balok itu dengan tangan gemetar. Matanya menyala, bukan dengan kebencian, melainkan dengan api penasaran yang tak bisa dibendung. “Katakan padaku, Lilitu. Demi darah yang masih mengalir di tubuhmu, demi napas yang masih tersisa… katakan kebenaranmu!”

Lilitu terdiam sebentar, napasnya memburu. Obor para prajurit ber-getar, bayangan mereka menari di kabut.

Innana mendesak, suaranya parau, penuh guncangan batin. “Apakah engkau menjalin hubungan dengan Ur Enki? Apakah kandunganmu itu benar-benar dari Ur Enki? Ataukah semuanya hanya fitnah?”

Hening menggantung, hanya riak danau yang menjawab, hanya nya-muk yang berdengung.

Lilitu memejamkan mata, air mata mengalir melewati wajahnya yang berlumur madu dan darah. Bibirnya bergetar, seakan hendak mengucapkan kebenaran yang telah lama terkubur.

Innana mencondongkan tubuh, menahan napas. Para prajurit pun tak bergerak, menunggu dengan dada yang ikut berdegup.

“Tidak… semua itu dusta… semua itu fitnah…”

Innana menahan napas, tubuhnya membeku. “Katakan padaku, Lilitu. Katakan semuanya. Aku harus tahu. Apakah… apakah Ur Enki benar-benar mengkhianatiku? Apakah ia benar-benar mencintaimu?”

Lilitu menutup matanya sejenak, menarik napas berat. Lalu bibirnya yang pecah-pecah bergerak, mengucap kebenaran yang lama ia pendam.

“Tidak, Putri… tidak pernah… Ur Enki tidak pernah… Ia tidak tersen-tuh rayuanku… tidak tergoda… meski aku diperintah oleh Enlil Bazi untuk merayunya, untuk mendekatinya, untuk menjebaknya….”

Innana ternganga, tubuhnya bergetar. “Apa… apa kau katakan? Ayah Namtar… yang menyuruhmu?”

Lilitu mengangguk pelan, tubuhnya makin lemah. “Iya… semua dari istana… aku hanyalah budak… aku tak punya kuasa menolak. Aku datang pada Ur Enki berkali-kali, membawa wajah manis, membawa siasat. Tapi ia… ia justru menatapku dengan mata jernih… membimbing jiwaku yang gelap. Ia berbicara tentang Tuhan yang suci… tentang hidup yang harus dijaga dari noda…”

Air mata Lilitu jatuh, bercampur dengan lumpur dan madu yang mel-ekat di tubuhnya. Suaranya pecah.

“Dialah yang membuatku sadar… betapa kotornya aku. Betapa hinan-ya aku. Karena aibku, Putri… bukan Ur Enki. Bukan dia…”

Innana memeluk wajahnya dengan tangan, dadanya berguncang he-bat. “Kalau begitu… siapa? Lilitu, siapa yang menanam buah itu di rahimmu?”

Senyum getir melintas di bibir Lilitu, senyum yang lebih mirip luka. Ia membuka matanya, menatap lurus pada Innana, seolah menancapkan kebenaran terakhir ke hati sang putri.

“Imam tertinggi… Nasaru Balet-ili… dialah… ia yang berkali-kali menarikku ke bilik suci zigurat. Ia yang menamakan perbuatan kotornya persembahan. Aku… aku hanyalah budak yang pasrah, yang buta, yang ter-tipu….”

Innana terdiam. Jiwanya terhempas bagai perahu kecil ditelan badai. Rahasia itu menghantamnya, lebih pedih daripada sembilu.

Lilitu kembali berbisik, semakin lemah, semakin jauh.

“Ur Enki… ia tidak bersalah… ia suci… ia tetap suci…”

Lilitu menggigil, suaranya makin serak, seperti nyala lampu minyak yang hampir padam. Ia menatap Innana dengan mata sayu, seolah menem-bus segala kabut keraguan yang selama ini menutup hati sang putri.

“Ur Enki…” bibir Lilitu bergerak pelan, “ia tak pernah berubah… cintanya yang tulus, yang suci… hanya untukmu, Tuan Putri…”

Kata-kata itu jatuh seperti tetes embun terakhir di tanah tandus, menghantam jantung Innana dengan getar yang tak terperi. Tangis Innana pecah, tubuhnya terhuyung ke depan, memeluk wajah Lilitu yang basah oleh air mata dan madu yang mengeras.

“Lilitu… jangan bicara lagi… simpan tenagamu…,” Innana terisak, “aku percaya padamu. Aku percaya… aku percaya!”

Senyum tipis—senyum paling tulus yang pernah singgah di wajah seorang budak—mengembang di bibir Lilitu. Namun senyum itu bukanlah tanda kebahagiaan, melainkan kelegaan: rahasia sudah terungkap, kebena-ran sudah disampaikan.

Ia menutup matanya perlahan, napasnya tersengal. Dan dalam pe-lukan Innana, tubuhnya bergetar terakhir kalinya, seperti daun terakhir yang jatuh dari pohon di musim gugur.

Jeritan hati Innana membuncah, tak terbendung lagi. Tubuhnya ber-getar hebat, air mata deras jatuh membasahi wajah Lilitu yang telah dingin. Rasa bersalah merambati seluruh nadinya. Ia merasa dadanya pecah, paru-parunya sesak oleh pedih yang tak terkatakan. Ia ingin menjerit lebih keras dari gemuruh langit, ingin menebus semua dosa dan ketidakyakinannya, ingin menghapus segala luka yang telah ia tanam sendiri. Namun tubuhnya tak lagi mampu menahan badai itu.

Dengan wajah masih menempel pada balok kurma yang menjerat tubuh Lilitu, Innana menutup matanya. Suaranya teredam menjadi rintihan yang patah. Lalu seketika gelap menyergapnya—gelap yang lahir bukan dari malam, melainkan dari remuk redam jiwa.

Innana roboh di tepian Danau Nammu, tubuhnya jatuh lunglai, tak sadarkan diri. Hanya angin rawa yang meratap lirih, membawa bersama bi-sikan rahasia terakhir yang kini menjadi beban paling berat di hatinya.

***

← Kembali ke Daftar Bab