Fibozona
📖 BACA BAB

Baca Bab

Nikmati setiap bab dari karya penulis berbakat

🎉 GRATIS - Tanpa Koin

Jeritan yang Mengguncang Keyakinan

📅 01 July 2026 📚 Ketika Kota Mengutuk Cinta Kita ⏱️ 5 menit baca 📑 Bab 41

Senja menuruni rumah megah Innana Eti dengan cahaya tembaga yang muram. Langit di atas Rawa Edin terbelah oleh awan-awan panjang, bagai sayap burung yang letih, sementara matahari merosot ke barat, me-mercikkan warna merah pias pada dinding-dinding batu dan tiang-tiang berukir. Angin senja masuk lewat jendela tinggi, membawa aroma tanah lembab bercampur dupa yang dibiarkan menyala oleh pelayan.

Di ranjang bertiang berkelambu, Innana berbaring lunglai. Wajahnya pucat, mata cekung, napasnya pendek. Peluh dingin membasahi keningnya. Bukan hanya tubuhnya yang sakit, melainkan jiwanya yang hancur, jiwa yang semalaman dirajam kebenaran.

Ia terjerat dalam penyesalan yang menggerogoti, ibarat api yang lambat-lambat membakar batang kering. Ur Enki—lelaki yang cintanya tulus, yang sepanjang hidupnya hanya menatap dirinya—telah dicampakkan, dihi-na, dan diseret ke lembah aib. Lilitu—budak jelita yang sejatinya hanyalah korban dari titah durjana—harus menutup mata dengan tubuh yang disiksa tanpa belas kasih. Dan semua itu bukan karena kehendak langit, bukan ka-rena murka para dewa, melainkan siasat seorang raja, Enlil Bazi, penguasa yang tega menukar cinta dengan fitnah, menukar kesetiaan dengan penghinaan.

Di ruangnya yang remang, Innana terbaring. Nafasnya tersengal, da-danya sesak, dan tubuhnya panas bagai terbakar. Tangannya kadang mere-mas kain di bawahnya, kadang terulur mencari sesuatu yang tak bisa ia gapai.

“Ue Enki—bagaimana aku harus menebus kesalahanku?”

Hatinya bertanya.

Hatinya merintih.

“Aku bukan pengkhianat! Aku tidak mengkhianatimu! Lilitu hanyalah siasat istana! Kandungannya bukan dariku! Itu bukan darahku!”

Terngiang kata-kata Ur Enki itu kembali, membuat seketika Innana menjerit. Menjerit tinggi. Menjerit sekeras-kerasnya.

Hari-hari berganti, namun sakit itu semakin menggerogoti. Tubuhnya semakin lemah, wajahnya semakin pucat, namun para pelayan dan orang tuanya hanya bisa berbisik lirih. Mereka tahu, waktu pernikahan semakin dekat. Hari ketika seluruh Rawa Edin akan dipaksa bersuka-cita atas per-satuan Innana Eti dan Namtar Sin—padahal hati putri itu kini tercerai-berai, penuh luka, dan penuh duka.

Sulgi Ram berdiri lama di ambang pintu, menatap tubuh putrinya yang tergolek tak berdaya. Di sebelahnya, Ninsabtu menggenggam erat jari-jarinya sendiri, seakan berusaha menahan air mata yang hendak pecah. Mereka berdua, yang dulu selalu membayangkan kehormatan besar akan menaungi rumah ini, kini hanya menyaksikan wajah putri mereka memucat bagai daun yang direbut layu oleh musim kemarau.

Mereka saling berpandangan. Di mata Sulgi Ram ada kebingungan yang getir, di mata Ninsabtu ada rasa bersalah yang menyesak. Betapapun, keduanya sadar: semua kebanggaan, semua kedudukan, semua kemewahan yang dijanjikan pesta agung—tak ada artinya dibanding tangisan dan jeritan seorang anak.

Sulgi Ram melangkah mendekat, lututnya ditekuk di sisi pembaringan. Ia membelai rambut Innana yang kusut, dengan suara serak ia berbisik:

“Anakku… apa yang menimpa jiwamu? Katakan pada ayahmu ini, pa-da ibumu—apa sebenarnya yang kau simpan di dadamu?”

Innana hanya menangis, pundaknya bergetar. Ninsabtu duduk di sisi lain, menggenggam tangan putrinya yang dingin. “Katakanlah, anakku. Jan-gan biarkan hatimu sendiri menanggung beban. Apakah ini tentang Ur En-ki?”

Nama itu—Ur Enki—membuat dada Innana bertambah sesak. Ber-tambah remuk. Air matanya semakin deras. Ia berusaha menahan, namun bibirnya akhirnya terbuka, keluarnya seperti desahan terakhir seorang yang kehabisan tenaga.

“Ibu… Ayah… semua yang kalian dengar itu… fitnah. Semua tuduhan itu dusta. Ur Enki tidak berkhianat. Ur Enki tidak menyentuh budak itu. Lilitu tak bersalah. Lilitu tak berdoa. Mereka kejam, ayah. Dunia ini kejam!”

“Apa maksudmu, nak?”

“Ibu… Ayah… semalam aku pergi ke Danau Nammu… aku melihat Lilitu dengan mataku sendiri… aku mendengar pengakuannya. Ia mati di hadapanku….”

Sulgi Ram dan Ninsabtu saling berpandangan. Wajah mereka ter-peranjat. Mereka tidak tahu putri mereka meninggalkan rumah, apalagi menuju tempat hukuman itu.

Innana menarik napas berat, lalu dengan suara parau ia melanjutkan:

“Semua yang kalian dengar… semua yang diumumkan istana… semuanya fitnah. Ur Enki tidak bersalah. Lilitu bukan miliknya. Ia hanyalah korban. Lilitu mengandung bukan karena Ur Enki. Ur Enki setia dengan cintanya padaku. Orang yang telah melakukan perbuatan terkutuk itu…Nasaru Ballet-ili…”

Ninsabtu menutup mulut dengan kedua tangannya, menahan jerit yang hampir pecah. Air matanya tumpah, tubuhnya bergetar hebat.

“Oh, Dewa Anu…” desisnya, “apa yang kau katakan ini, anakku…?”

Innana semakin tersedu. “Aku mendengar sendiri dari bibir Lilitu sebelum ia menutup mata. Ia mengatakan semuanya… ia ingin kubebaskan dari hukuman itu, tetapi ia rela menerimanya….”

Isak tangis Innana tersedu-sedu.

Sulgi Ram terdiam. Sorot matanya berubah, dari bingung menjadi muram, dari muram menjadi bara. Tangannya mengepal, urat-urat di pelipisnya menegang. Ia mendongak, matanya berkilat.

“Cukup sudah, anakku. Aku tidak akan lagi menyerahkanmu pada tangan yang kotor. Aku bersumpah di hadapanmu, di hadapan ibumu, dan di hadapan langit yang mendengar kita: pernikahanmu dengan Namtar Sin tak-kan pernah terjadi. Meski waktu yang ditentukan sudah dekat, meski pesta telah disiapkan, aku—ayahmu—tidak akan mengijinkannya.”

Ninsabtu menutup mulutnya, air matanya pecah, tetapi dari matanya terpancar secercah lega.

Sulgi Ram mengepalkan tangan, nadanya berubah keras bagai gemuruh:

“Dan lebih dari itu… aku akan menyalakan perhitungan. Nasaru Balet Ili, imam busuk yang menyelubungi nafsunya dengan kain suci, harus menerima hukuman yang pantas. Tidak ada altar, tidak ada mahkota, tidak ada kekuasaan yang bisa melindunginya lagi. Ia akan tahu… bahwa tipu da-yanya telah berakhir.”

Di ruang remang itu, dengan senja yang makin redup, tekad Sulgi Ram membara. Ia bukan hanya ayah yang membela putrinya—ia kini men-jelma bara yang akan mengobarkan badai perang di Rawa Edin.

***

← Kembali ke Daftar Bab