Fibozona
📖 BACA BAB

Baca Bab

Nikmati setiap bab dari karya penulis berbakat

🎉 GRATIS - Tanpa Koin

Sumpah Prajurit

📅 01 July 2026 📚 Ketika Kota Mengutuk Cinta Kita ⏱️ 4 menit baca 📑 Bab 42

Malam turun cepat di Rawa Edin, membawa hawa dingin yang men-usuk tulang. Namun di balai kediaman Sulgi Ram, api obor menyala terang, bayangan prajurit berderet di dinding batu. Mereka berkumpul, wajah mereka tegang, dada mereka berdebar. Mereka tahu, panggilan malam ini bukan panggilan biasa.

Sulgi Ram berdiri tegak di hadapan mereka. Bahunya yang kokoh tampak makin lebar, sorot matanya tajam bagai pedang yang baru diasah. Di sisinya, Ninsabtu berdiri dengan mata sembab, sementara dari dalam kamar terdengar suara lirih Innana yang masih merintih.

Ia mengangkat tangan, meminta hening. Suaranya kemudian berge-ma, berat dan bergetar oleh bara yang ia pendam:

“Saudara-saudaraku… prajurit setiaku… kalian sudah mengikutiku bertahun-tahun, membela rumah ini, membela nama keluargaku. Tetapi malam ini aku tidak memanggil kalian untuk rumahku, tidak pula untuk ke-hormatanku. Aku memanggil kalian untuk sesuatu yang lebih besar: kebena-ran yang telah diinjak-injak.”

Para prajurit saling berpandangan, peluh dingin menetes. Namun tak ada satu pun yang beranjak.

Sulgi Ram melanjutkan, suaranya kian meninggi.

“Kalian semua mendengar kabar yang diumumkan istana—bahwa Ur Enki pengkhianat, bahwa Lilitu budak kotor, bahwa darahnya aib bagi kita semua. Tetapi aku katakan pada kalian: semua itu dusta! Semua itu siasat Enlil Bazi dan imamnya, Nasaru Balet Ili. Aku mendengar langsung dari pu-triku, yang semalam melihat Lilitu di tepi Danau Nammu. Dari bibirnya sendiri, Lilitu mengaku: ia hanyalah korban. Korban dari tangan imam terku-tuk yang mencemarkan nama Ilu dengan nafsu bejatnya!”

“Apakah Innana berbohong?” tanya Sulgi Ram, “jiwaku menjadi saksi, putriku tak pernah berbohong. Di antara kalian pun—tanpa sepenge-tahuanku—telah ikut Innana menyaksikan apa yang dicapkan Lilitu di danau. Bahkan melihat bagaimana ia yang tak berdosa dan bersalah menghembus-kan nafasnya, selama-lamanya.”

Dada prajurit bergetar. Beberapa menunduk, beberapa lain membu-ka mata lebar-lebar, tak percaya pada yang mereka dengar.

Sulgi Ram maju selangkah, suaranya meledak bagai guntur:

“Sekarang aku bertanya pada kalian—prajurit yang selalu bersama-ku. Apakah kalian masih akan tunduk pada tipu daya? Masihkah kalian mau membungkuk pada imam busuk dan raja yang menukar cinta dengan fitnah? Ataukah kalian akan berdiri bersamaku, mematahkan belenggu ini, membela kebenaran meski darah harus tumpah?”

Ia mengangkat pedang, kilat api memantul di bilahnya. Sorot matanya menyapu seluruh barisan.

“Pilihlah malam ini! Aku tidak menuntut kepatuhan buta. Aku menuntut jiwa yang berani. Bersamaku, atau tinggalkan aku sekarang juga.”

Hening menggantung, hanya bunyi api yang berderak, hanya napas berat yang terdengar. Dari barisan prajurit yang berderet, seorang maju perlahan. Wajahnya keras oleh terik perang, namun sorot matanya kini ber-getar. Ia berlutut di hadapan Sulgi Ram, menundukkan kepala.

“Tuan…” suaranya parau, bergetar tapi lantang, “aku adalah salah sa-tu dari mereka yang malam itu mengiringi Tuan Putri ke Danau Nammu. Aku melihat dengan mataku sendiri, aku mendengar dengan telingaku sendiri—bahwa Lilitu, budak malang itu, berkata sebelum ajal menjemputnya: Ur Enki tidak bersalah. Ia tak pernah menodai siapa pun. Fitnah itu ditanamkan raja dan imam terkutuk itu yang telah menjadikan Lilitu budak nafsunya.”

Suara prajurit itu pecah, namun dadanya membusung. Ia menatap ke arah rekan-rekannya, sorot matanya berkilat.

“Sejak malam itu, jiwaku tidak tenang. Aku hampir gila menyimpan kebenaran sendirian. Aku tahu, jika aku berkata, aku akan dianggap mengkhianati raja. Jika aku diam, aku hidup sebagai pengecut. Maka malam ini aku memilih! Lebih baik aku mati membela kebenaran, daripada hidup menipu diriku sendiri!”

Tangannya menggenggam tombak dengan erat, suaranya meninggi.

“Demi Anu yang sejati, aku akan berdiri di sisi Sulgi Ram! Aku akan melawan imam busuk itu, meski darahku harus menetes di jalan-jalan Rawa Edin!”

Teriakan itu membelah udara. Obor bergetar. Barisan prajurit lain terguncang. Beberapa saling berpandangan, wajah mereka memerah oleh kobaran yang sama.

Satu demi satu, mereka maju, menepuk dada, menghunus pedang, berseru lantang:

“Aku pun demikian!”

“Lebih baik mati dalam kebenaran, daripada hidup dalam dusta!”

“Kami bersamamu, Sulgi Ram!”

Balai itu pun bergemuruh. Api obor membesar, seakan ikut berteriak bersama mereka. Hening yang tadinya menekan kini pecah menjadi ikrar yang membara.

Dan di tengah mereka, Sulgi Ram mengangkat pedangnya tinggi-tinggi, suaranya menggelegar bagai guntur di langit malam:

“Maka bersaksilah langit dan bumi—malam ini, kita memilih! Kita tid-ak lagi tunduk pada dusta, kita tidak lagi sujud pada imam terkutuk! Kita akan mengangkat pedang demi kebenaran, dan kita akan menebus darah Ur Enki dengan darah para pemfitnahnya!”

***

← Kembali ke Daftar Bab