Fibozona
📖 BACA BAB

Baca Bab

Nikmati setiap bab dari karya penulis berbakat

🎉 GRATIS - Tanpa Koin

Akhir Hidup Imam Tertinggi

📅 01 July 2026 📚 Ketika Kota Mengutuk Cinta Kita ⏱️ 6 menit baca 📑 Bab 43

Rawa Edin bersolek. Jalan-jalan dihiasi umbul-umbul ungu dan emas, bendera-bendera dipasang dari menara kuil hingga atap rumah. Para pe-rajin sibuk menyiapkan hiasan perunggu, dapur-dapur besar mengepulkan asap untuk pesta yang akan segera digelar. Meski belum tiba harinya, se-luruh kota sudah diarahkan untuk larut dalam suka cita, seakan-akan keba-hagiaan itu sebuah kewajiban.

Namun di balik segala hiruk pikuk itu, bara telah disulut di rumah Sulgi Ram. Malam itu, ia memimpin prajurit setianya, berbaris menuju Zigu-rat Esgal Ilu, tempat imam tertinggi Nasaru Balet Ili bersemayam.

Obor berderet di sepanjang jalan menuju tangga zigurat, api mereka bergetar dihembus angin malam. Derap kaki prajurit Sulgi Ram menghentak batu jalan, gema langkah mereka membuat rakyat yang masih bekerja me-nyiapkan pesta menoleh dengan heran. Beberapa berbisik, sebagian lain mundur ke dalam rumah, menutup pintu rapat-rapat.

Di pelataran zigurat, para prajurit penjaga istana dan kuil segera mengepung. Pedang dan tombak mereka terhunus, perisai mereka ter-angkat. Seorang dari mereka, berpakaian zirah perunggu dengan lambang zigurat di dada, melangkah maju menghadang.

“Berhenti, Tuan Sulgi Ram!” suaranya lantang, menggetarkan udara malam. “Mengapa engkau datang dengan pasukan bersenjata ke rumah suci ini? Apa tujuanmu?”

Sulgi Ram maju selangkah, menatap tajam ke arah tangga zigurat yang menjulang. Suaranya berat, penuh murka:

“Aku mencari Nasaru Balet Ili! Suruh ia keluar dari biliknya, hadapilah aku di depan rakyat! Biarkan ia menjawab tuduhan yang kusebut-kan: bahwa ia telah mencemarkan nama dewa, bahwa ia telah menodai seorang budak perempuan dan menutupinya dengan fitnah kepada Ur En-ki!”

Suara itu menggema, membuat rakyat yang bersembunyi di dekat pe-lataran merinding. Bisik-bisik segera menyebar.

Prajurit penjaga menegang, wajahnya merah padam. “Berani benar kau, Tuan Sulgi Ram! Imam tertinggi adalah pelindung kota ini, utusan para dewa! Tidak ada seorang pun yang boleh menghinanya, apalagi menuntut-nya keluar seperti seorang penjahat! Mundurlah, atau pedangku akan menuntut darahmu!”

Sulgi Ram mengangkat pedangnya tinggi-tinggi, bilahnya berkilat ter-timpa api obor. Sorot matanya menyapu seluruh barisan penjaga.

“Jika kalian masih menganggap imam busuk itu suci, maka kalian sa-ma saja menjadi tameng kebohongan! Aku datang bukan untuk mundur. Aku datang untuk menuntut darahnya! Jika kalian ingin melindunginya, maka kal-ian pun harus menanggung pedangku!”

Benturan dua kehendak itu membara di udara. Para penjaga zigurat semakin rapat membentuk barisan, sementara prajurit Sulgi Ram menyiap-kan tombak dan perisai. Suasana menegang, rakyat yang menonton dari ke-jauhan menahan napas.

Hening sesaat… lalu suara baja beradu pecah. Pedang bertemu pedang, tombak menghantam perisai. Api obor berterbangan, jeritan per-tama menggema.

Dan malam itu, di tangga Zigurat Esgal Ilu, di bawah bendera pesta yang belum sempat berkibar penuh, pertempuran pertama meletus—mengubah wajah kota dari jelang perayaan menjadi medan perang.

Di dalam bilik suci Zigurat Esgal Ilu, tempat dupa dan minyak mur menebar aroma pekat, Nasaru Balet Ili duduk bersila di atas tikar wol. Tan-gannya gemetar, wajahnya pucat, keringat dingin mengalir di pelipis. Suara senjata beradu dan jeritan perang di luar membuat bulu kuduknya berdiri.

Ia mencoba memanjatkan doa, namun lidahnya kelu. Bibirnya hanya bergetar tanpa suara, sebab di hatinya sendiri tak ada lagi yang ia imani selain ketakutan. Ia tahu, semua dusta yang ia tanam kini sedang menyeruak ke permukaan, menuntut balas.

“Jangan biarkan mereka masuk…” ia berbisik pada dirinya sendiri, suaranya pecah, “Aku imam tertinggi… tak seorang pun berhak menyentuh-ku… tak seorang pun…”

Namun teriakan prajuritnya yang roboh terdengar semakin dekat. Derap kaki, dentuman tombak, dan bentakan perang Sulgi Ram menggun-cang dinding-dinding bilik.

Di pelataran zigurat, perang berlangsung sengit. Prajurit-prajurit pen-jaga istana, meski gagah, mulai terdesak oleh amukan pasukan Sulgi Ram yang digerakkan bukan hanya oleh pedang, tetapi oleh bara kebenaran. Satu demi satu penjaga roboh, darah mereka mengalir membasahi batu putih tangga zigurat.

Teriakan penghabisan menggaung, dan akhirnya barisan penjaga itu pecah. Mereka berkalang tanah, tubuh mereka berserakan di bawah bayang zigurat yang megah namun ternoda.

Obor-obor kini diarahkan ke pintu bilik suci. Dengan dentuman keras, pintu kayu berat itu didobrak. Suara retakan kayu bercampur dengan jeritan Nasaru Balet Ili dari dalam.

Sulgi Ram melangkah masuk, pedangnya berlumur darah, sorot matanya menyala. Ia mengacungkan bilahnya, suaranya menggelegar:

“Keluar, Nasaru Balet Ili! Tidak ada lagi bilik suci untukmu bersembunyi! Malam ini, dustamu berakhir!”

Dua prajurit menyeret tubuh imam itu dari dalam. Jubah putihnya kusut, wajahnya pucat pasi, rambutnya acak-acakan. Ia meronta, memohon, suaranya serak:

“Ampun! Aku hamba Enlil! Aku suci! Aku—”

Tamparan keras dari salah seorang prajurit Sulgi Ram membuatnya terdiam. Rakyat yang mengintip dari kejauhan terperanjat melihat imam yang selama ini diagungkan diseret seperti seekor binatang.

Namun di tengah hiruk-pikuk itu, seorang prajurit penjaga zigurat yang masih hidup berhasil bangkit, meski tubuhnya penuh luka. Dengan sisa tenaga, ia berlari menembus kegelapan malam, meninggalkan medan penuh darah. Nafasnya tersengal, namun tekadnya hanya satu: melaporkan semuanya kepada raja.

“Enlil Bazi…” ia berbisik pada dirinya sendiri, darah menetes dari bibirnya, “raja harus tahu… raja harus tahu…”

Dua prajurit menyeret Nasaru Balet Ili hingga ke pelataran zigurat. Jubah putihnya ternodai tanah dan darah, wajahnya pucat laksana abu. Obor-obor mengitari, bayangan bergetar di dinding batu, seakan seluruh kota yang menahan napas ikut menyaksikan saat itu.

Sulgi Ram berdiri di hadapannya, pedangnya terhunus, sorot matan-ya menyala. Suaranya mengguntur, menggema hingga ke sudut-sudut mal-am:

“Nasaru Balet Ili! Imam tertinggi yang seharusnya menjaga kesucian, tetapi justru mengotori nama dewa! Kau menodai seorang budak tak berdaya, kau menutupi nafsu kejimu dengan dalih persembahan! Katakanlah di depan rakyatmu—akui dosamu, akui kebusukanmu!”

Nasaru gemetar, matanya liar mencari perlindungan. Ia meronta, berteriak serak:

“Dusta! Semua dusta! Aku imam! Aku suci! Aku tidak menyentuh siapa pun! Itu fitnah! Itu… itu tipu daya Sulgi Ram!”

Rakyat yang bersembunyi di kejauhan bergumam, sebagian ragu, se-bagian muak. Tetapi Sulgi Ram tidak memberi ruang. Ia melangkah maju, menempelkan ujung pedangnya di bawah dagu sang imam.

“Kalau benar kau suci, mengapa Lilitu menanggung aib itu sendirian? Mengapa bibirnya yang sekarat berani menyebut namamu, sementara tidak seorang pun membelanya?!”

Nasaru terdiam sejenak, wajahnya kaku, peluh dingin menetes deras. Namun mulutnya tetap terkunci dalam penyangkalan.

Sulgi Ram menarik napas dalam-dalam, lalu mengangkat pedangnya tinggi ke udara. Suaranya parau, namun bulat bagai palu keadilan:

“Kalau begitu, biarlah malam ini menjadi saksi: dusta dibalas dengan kebenaran, nafsu dibalas dengan pedang. Nasaru Balet Ili, terkutuklah engkau!”

Seketika pedang itu berayun. Kilatan baja memantul dari cahaya obor, suara mengiris udara, lalu kepala imam terkutuk itu terpisah dari tubuhnya. Darah muncrat, membasahi batu putih tangga zigurat. Tubuhnya ambruk bagai karung kosong, sementara kepalanya bergulir, berhenti di ka-ki prajurit yang terdiam dengan wajah pucat.

Hening mencekam menggantung. Hanya suara obor berderak dan desah napas para prajurit yang masih hidup.

Sulgi Ram menunduk, pedangnya masih meneteskan darah. Ia ber-bisik pelan, namun cukup keras untuk didengar oleh semua yang hadir:

“Beginilah akhir seorang imam yang menukar kesucian dengan dosa, yang menukar nama dewa dengan nafsu. Malam ini, Rawa Edin tahu siapa yang benar, siapa yang dusta.”

Dan di kejauhan, prajurit penjaga yang berhasil melarikan diri terus berlari, menembus kegelapan, membawa kabar buruk itu kepada Enlil Ba-zi—bahwa imam tertinggi telah jatuh oleh pedang Sulgi Ram.

***

← Kembali ke Daftar Bab