Nikmati setiap bab dari karya penulis berbakat
Istana Rawa Edin berdiri megah malam itu, bagaikan mahkota berki-lau di tengah kota yang bersiap menuju hari pesta. Balairung telah dipenuhi wewangian, tabuhan genderang percobaan terdengar dari kejauhan, dan Enlil Bazi duduk di singgasananya, menikmati angin kemenangan yang se-bentar lagi akan ia rayakan.
Namun langkah terburu seorang prajurit pengawal zigurat memecah segala keheningan. Pakaian zirahnya koyak, darah masih menempel di pelipisnya, wajahnya pucat bagai kain kafan. Ia jatuh tersungkur di hadapan raja, suaranya pecah antara sesenggukan dan ketakutan:
“Paduka… ampun… Zigurat Esgal Ilu… telah diserbu… Sulgi Ram… memimpin pasukannya… imam tertinggi… Nasaru Balet Ili… telah… telah di-penggal di pelataran zigurat…”
Suasana balairung seketika membeku. Para pembesar menutup mulut dengan tangan, beberapa menjatuhkan piala yang dipegangnya. Tak seorang pun berani bernapas terlalu keras.
Enlil Bazi memandang prajurit itu dengan sorot mata yang tak ter-baca. Seketika wajahnya memucat, lalu mengeras. Ia duduk diam sejenak, tangannya meremas lengan singgasana.
“Sulgi Ram?” suaranya pelan, hampir berbisik. “Sulgi Ram yang selalu bersujud di kakiku? Sulgi Ram yang akan kujadikan besan? Sulgi Ram yang selama ini mengangkat persembahan kepada dewa-dewa tanpa cacat?”
Prajurit itu gemetar, menundukkan kepalanya. “Ampun, Paduka… aku melihatnya sendiri… ia memimpin pasukannya… imam tertinggi dipenggal di depan zigurat… rakyat menyaksikan…”
Enlil Bazi berdiri perlahan. Wajahnya yang tadi pucat berubah men-jadi merah padam. Tangannya terangkat, menunjuk lurus ke arah pintu balairung.
“Pengkhianat…!” suaranya pecah, bergema ke seluruh aula. “Dia telah menusukku dari belakang! Aku memberinya kehormatan, aku menduduk-kannya di antara para bangsawan, bahkan hampir menyerahkan darahku sendiri untuk bergandeng dengan darahnya! Dan inilah balasannya?!”
Ia melangkah turun dari singgasana, jubahnya menjuntai, matanya berkilat bagai api.
“Bagi Sulgi Ram, tidak ada lagi pesta pernikahan. Bagi Sulgi Ram, tidak ada lagi kehormatan. Aku akan hancurkan rumahnya, aku akan kubur na-manya dari Rawa Edin! Jika ia ingin mengotori kota ini dengan darah, maka aku akan memberinya banjir darah! Tidak ada lagi pesta pernikahan—yang ada hanya pesta kematian!”
Genderang perang segera dipukul. Prajurit dipanggil dari segala pen-juru istana, senjata diturunkan, hewan-hewan tunggangan disiapkan.
Enlil Bazi berdiri di pelataran istana, diterangi obor yang berderet bagaikan barisan bintang. Di hadapannya, ribuan prajurit kerajaan telah berkumpul, perisai mereka berkilat, tombak-tombak mereka tegak bagai hu-tan besi. Genderang perang berdentum, mengguncang dada setiap orang yang mendengarnya.
Raja mengangkat tangannya, dan hening segera menyelimuti pasukan. Suaranya lalu menggelegar, melampaui deru malam:
“Dengarlah, prajurit-prajurit Rawa Edin! Dengarlah, rakyat yang se-tia! Malam ini aku, Enlil Bazi, turun sendiri memimpin kalian! Sebab seorang bangsawan—Sulgi Ram, yang dulu duduk di sisiku, yang hampir menjadi besanku—telah mengkhianati kita semua! Ia menyerbu Zigurat Esgal Ilu, menumpahkan darah imam tertinggi, mengotori rumah suci, dan menya-lakan api pemberontakan di tanah ini!”
Teriakan murka prajurit meledak, tombak-tombak mereka menghen-tak tanah.
Enlil Bazi mengangkat suaranya lebih tinggi, matanya menyala:
“Tidak ada lagi pesta pernikahan! Tidak ada lagi umbul-umbul dan syair cinta! Malam ini hanya ada satu pesta: pesta darah! Aku bersumpah di hadapan Enlil dan di hadapan bumi, bahwa sebelum fajar, aku akan menghancurkan Sulgi Ram dan menebas habis pengikutnya! Tidak seorang pun yang menodai kota ini akan hidup meninggalkan fajar!”
“Tidak seorang pun!” teriak pasukan, menggema bagai gelombang badai.
Raja kemudian melangkah naik ke kereta perangnya—kereta berat berlapis perunggu, ditarik oleh dua ekor onager yang meringkik dan menghentakkan kaki. Di sisi kirinya, Namtar Sin naik ke kereta lain, wajahnya pucat namun mata menyala dengan dendam.
Enlil Bazi berdiri tegak, tombak panjang di tangannya berkilau. Ia menunjuk ke arah timur, tempat bayangan Zigurat Esgal Ilu menjulang di kejauhan, samar dalam cahaya bulan.
“Ke sana kita pergi! Malam ini kita tidak kembali ke istana sebelum pemberontak itu berkalang tanah! Malam ini, Rawa Edin akan tahu: barang siapa mengkhianati Enlil Bazi, maka hidupnya akan dipangkas!”
Genderang kembali dipukul, pasukan bergerak. Derap langkah ribuan kaki memecah malam, obor panjang bergoyang bagaikan ular api melata di jalan-jalan kota. Rakyat yang menyaksikan dari balik jendela hanya bisa ber-bisik ngeri: pesta yang mereka persiapkan berubah menjadi arak-arakan menuju perang.
***