Nikmati setiap bab dari karya penulis berbakat
Di kediaman Sulgi Ram, angin malam masuk lewat jendela tinggi, membawa bau anyir darah dari jauh, bercampur dengan bunyi genderang perang yang semakin dekat. Obor-obor di jalanan berkelebat, bayangan prajurit beriringan tampak dari kejauhan, bagaikan arus sungai api yang menelan kota.
Di dalam kamar berkelambu, Innana duduk lunglai, tubuhnya masih lemah, wajahnya pucat, matanya sembab oleh tangis. Di sampingnya, Nins-abtu berdiri tegak, meski pelipisnya berdenyut oleh ketakutan yang tak mampu lagi ia sembunyikan. Para pelayan perempuan berkerumun di sudut ruangan, wajah mereka panik, tangan mereka saling menggenggam, menunggu perintah yang tak kunjung keluar.
Ninsabtu menatap putrinya lama sekali, lalu duduk di sisinya. Ia menggenggam tangan Innana, menggenggam dengan kekuatan yang hanya lahir dari seorang ibu yang tahu waktunya tak banyak. Suaranya lirih, na-mun tegas:
“Anakku… dengarkan aku baik-baik. Kita sudah berada di ujung. Ayahmu memang seorang ksatria, tapi pasukannya terlalu sedikit. Dia akan bertarung sampai darahnya kering, tapi kita… kita di rumah ini tidak akan bisa bertahan.”
Air mata Innana jatuh. “Ibu… jangan katakan itu… Ayah pasti kembali. Ia pasti menang.”
Ninsabtu menggeleng, bibirnya bergetar. “Tidak, anakku. Aku tidak akan membohongimu. Enlil Bazi membawa seluruh pasukan kerajaannya. Mereka datang dengan genderang perang, dengan kereta dan tombak. Tidak ada yang bisa menghentikan mereka. Hidup kita sudah tinggal seutas be-nang. Maka dengarlah pesan ibumu: kau harus kuat. Kau harus selamat.”
Innana menatap ibunya, terisak, kepalanya menggeleng. “Tidak… aku tidak bisa meninggalkanmu, Bu… aku tidak bisa—”
Ninsabtu menempelkan telunjuk ke bibir putrinya, menahan kata-kata itu. Matanya berkaca, namun nadanya tetap tegas:
“Dengar aku, Innana. Ibumu mungkin tidak akan melihat matahari es-ok, tapi kau harus. Kau adalah darah kami, darah yang harus tetap hidup un-tuk membawa kebenaran ini kelak. Jika kau hancur di sini, maka semua pen-gorbanan ayahmu sia-sia. Kau harus melarikan diri. Malam ini juga. Pergilah dengan para pelayan yang masih setia, tinggalkan rumah ini sebelum gelom-bang pasukan tiba.”
Innana menutup wajahnya dengan kedua tangan, tangisnya pecah. Tapi Ninsabtu meraih bahunya, mendekapnya erat, lalu berbisik di telin-ganya:
“Kuatlah, anakku. Jika hidup ini harus berakhir dengan darah, biarlah darahku yang tertumpah. Tapi engkau… engkau harus membawa nama ayahmu dan kebenaran yang ia bela. Itu lebih besar daripada hidupku, lebih besar daripada hidup kita semua.”
Para pelayan perempuan mendekat, sebagian berlutut, sebagian mengusap air mata. Mereka tahu kata-kata itu bukan sekadar pesan, melain-kan wasiat seorang ibu yang sudah membaca takdir.
Di luar, suara genderang semakin keras, seakan waktu terus berlari menjemput mereka. Dan malam itu, di dalam kamar yang temaram, Ninsabtu meletakkan seluruh harapan terakhirnya pada putrinya sendiri—agar api kebenaran tidak padam meski darah keluarga mereka akan dibasuh oleh fajar.
Tiba-tiba pintu rumah terbuka, angin malam berhembus masuk, membawa serta sosok perempuan tua dengan langkah tergesa namun man-tap. Rambutnya yang telah memutih digelung sederhana, wajahnya keriput namun sorot matanya menyala oleh iman yang kokoh. Ia adalah Nin Edin.
“Innana… Ninsabtu…” suaranya parau, namun di dalamnya ada geta-ran yang mengguncang ruang itu. “Aku datang dengan kabar… kabar dari Ilu yang hidup… Lelaki di atas bukit mengutusku untuk membawanya kepa-damu.”
Semua mata memandangnya, terperangah. Innana yang semula lunglai, pucat, dan hampir tak berdaya tiba-tiba mengangkat wajahnya, matanya berkilat bagai api yang menyala dari abu.
Nin Edin melangkah mendekat, tangannya gemetar, namun suaranya tegas:
“Anakku… Ur Enki tidak mati. Aku sendiri yang menyelamatkannya dari pasungan kayu di Danau Nammu. Aku merawatnya, aku mendengar na-pasnya, aku melihat matanya kembali terbuka. Kini ia berada di atas bukit Dul Gir… menunggumu.”
Tubuh Innana bergetar, dadanya naik-turun, matanya terbelalak. Seakan-akan seutas nyawa yang hampir putus tiba-tiba disambung kembali. Ia terbangun bagai dari kematian, suaranya tercekat di antara tangis dan tawa:
“Ur Enki… hidup?! Dia masih hidup?! Oh, Ilu…!”
Ia bangkit dari duduknya, meski tubuhnya ringkih. Peluh masih mem-basahi keningnya, namun kakinya kini kokoh menopang tubuh. Wajahnya yang pucat disirami cahaya baru, cahaya cinta yang kembali dari kubur.
Ninsabtu menatap putrinya, lalu menatap Nin Edin. Air mata jatuh dari sudut matanya, tapi kali ini bukan semata-mata karena pedih, melainkan juga lega. Ia menggenggam tangan putrinya erat-erat, suaranya penuh keya-kinan:
“Jika benar demikian, maka dewa telah menunjukkan jalan. Innana… kau harus pergi malam ini juga. Pergi bersama Nin Edin, temui Ur Enki di bukit Dul Gir. Selamatkan dirimu, selamatkan cintamu. Biar aku… aku akan tetap di sini, menunggu nasibku, sebagaimana ayahmu kini menunggu ajal di medan perang.”
Innana terisak, mengguncang kepalanya. “Ibu, jangan tinggalkan aku… ikutlah bersamaku…”
Namun Ninsabtu menggeleng lembut, wajahnya pasrah namun teguh:
“Tidak, anakku. Umurku sudah cukup. Tugasku sudah selesai. Tapi kau… kau adalah benih yang harus tumbuh, cinta yang harus mekar. Aku akan menunggu kematian dengan tenang, karena aku tahu kau akan selamat bersama Ur Enki. Pergilah, anakku. Pergilah sebelum api perang mencapai rumah ini.”
Para pelayan perempuan yang sejak tadi berkerumun di sudut ru-angan kini maju, satu per satu mendekat. Mata mereka basah, namun wajah mereka tegak. Seorang yang paling tua di antara mereka berkata dengan suara lirih namun mantap:
“Nyonyaku, kami tidak akan pergi. Kami akan tinggal bersamamu. Se-jak awal hidup kami adalah untuk rumah ini, untuk tuan dan nyonya. Kalau ajal menjemput, biarlah kami menyambutnya di sisimu. Tapi putrimu… dia harus selamat. Itu kehendak kami juga.”
Ninsabtu menatap mereka, air mata menitik. Ia mengangguk, suaranya serak namun lembut:
“Kalian adalah sahabatku, bukan hanya pelayan. Baiklah… kalau be-gitu, kita akan menunggu bersama. Tapi pastikan satu hal: jangan ada yang menahan Innana. Dia harus pergi.”
Para pelayan serentak menunduk, menyetujui dengan dada penuh kepasrahan.
Innana terisak keras, menatap wajah-wajah yang setia itu. “Men-gapa… mengapa kalian memilih tinggal? Aku tak sanggup meninggalkan kal-ian semua!”
Salah satu pelayan menggenggam tangannya erat, menatapnya dengan mata penuh kasih:
“Karena engkau, Tuan Putri, adalah harapan terakhir kami. Jika engkau hidup, maka semua yang kami korbankan tidak sia-sia. Jika engkau selamat bersama Ur Enki, maka dunia ini masih memiliki cahaya. Jangan sia-siakan kesetiaan kami dengan tangisan. Pergilah… dan bawalah doa kami bersamamu.”
Innana jatuh berlutut, menangis dalam pelukan ibunya dan para pe-layan yang setia. Namun Nin Edin mendekat, mengangkat wajahnya dengan kedua telapak tangannya yang keriput, suaranya bergetar namun kokoh:
“Cukup, anakku. Air mata tidak akan menghentikan pasukan yang se-dang menuju rumah ini. Hanya langkahmu yang bisa menyelamatkanmu. Bangkitlah, pergilah bersamaku sekarang. Ur Enki menunggumu di bukit Dul Gir.”
Innana menatap Nin Edin, lalu menatap kembali ibunya dan para pe-layan. Dengan hati remuk, ia akhirnya mengangguk. Ia mencium tangan Ninsabtu, memeluk ibunya erat-erat untuk terakhir kalinya, lalu berdiri.
Ninsabtu mengusap pipi putrinya, senyumnya tipis meski matanya banjir air mata.
“Pergilah, Innana. Ibumu akan menunggu di sisi ayahmu. Tapi kau… kau harus hidup. Itulah cara terbaik membalas cinta kami.”
Dan malam itu, di bawah langit yang diguncang genderang perang, keputusan terakhir pun diambil: Ninsabtu dan para pelayan memilih tinggal, sementara Innana bersiap mengikuti Nin Edin menuju takdirnya yang lain—takdir yang masih membuka jalan di atas Bukit Dul Gir.
***