Fibozona
📖 BACA BAB

Baca Bab

Nikmati setiap bab dari karya penulis berbakat

🎉 GRATIS - Tanpa Koin

Perang Besar

📅 01 July 2026 📚 Ketika Kota Mengutuk Cinta Kita ⏱️ 4 menit baca 📑 Bab 46

Fajar belum sepenuhnya tiba ketika tanah Rawa Edin bergetar oleh derap ribuan kaki prajurit kerajaan. Obor-obor panjang masih menyala, membentuk sungai api yang berakhir di pelataran luas Zigurat Esgal Ilu. Udara pekat dengan bau besi, darah, dan asap dupa yang terbakar sejak semalam.

Di sisi satu, barisan panjang prajurit kerajaan memenuhi seluruh hal-aman, perisai mereka berkilat, tombak-tombak mereka tegak bagai hutan besi. Kereta-kereta perang berderet, roda-roda kayu besar menghentak ba-tu. Di sisi lain, pasukan Sulgi Ram berdiri jauh lebih sedikit, zirah mereka se-derhana, wajah mereka keras namun mata mereka menyala dengan api keyakinan.

Enlil Bazi turun dari kereta perangnya. Jubahnya menjuntai, matanya menyala merah padam. Di sampingnya, Namtar Sin berdiri dengan wajah tegang, tombak di tangan. Sang raja melangkah ke tengah pelataran, suaranya menggelegar, menembus dada setiap orang yang mendengar:

“SULGI RAM!”

Nama itu bergema, memantul di dinding zigurat.

“Kau yang dulu duduk di mejaku, kau yang kuserahi kehormatan bangsawan, kau yang hampir menjadi besanku! Dan inilah balasanmu? Me-nyerbu rumah suci, menumpahkan darah imam tertinggi, dan menajiskan kota ini dengan pemberontakan?!”

Ia mengangkat tangannya, menunjuk tajam ke arah barisan kecil lawannya.

“Jawab aku, Sulgi Ram! Apa yang mendorongmu mengkhianati raja dan dewa-dewamu?!”

Hening sejenak. Dari barisan kecil itu, Sulgi Ram melangkah maju. Rambutnya kusut, zirahnya penuh noda darah, namun tubuhnya tegak bagai pilar batu. Sorot matanya menyalak, suaranya berat namun mantap:

“Enlil Bazi! Aku bukan pengkhianat, aku bukan pemberontak. Aku berdiri di sini bukan karena ambisi, melainkan karena kebenaran! Imam yang kau lindungi—Nasaru Balet Ili—adalah serigala berbulu domba! Ia menodai Lilitu, budak tak berdaya, lalu menutupinya dengan fitnah keji pada Ur Enki! Dan kau, Enlil Bazi, kaulah yang telah mengatur semuanya. Kau yang mencipta tipu-daya. Kau yang merusak keagungan para dewa. Kau yang berkhianat. Kau yang berdusta, wahai Enlil Bazi!”

Prajurit-prajurit Sulgi Ram bersorak, suara mereka keras meski jumlah mereka sedikit:

“Kebenaran! Kebenaran!”

Enlil Bazi tertawa pendek, dingin, penuh cemooh.

“Kebenaran? Jangan ajari aku tentang kebenaran, Sulgi Ram! Aku adalah raja! Aku adalah hukum! Kebenaran adalah apa yang keluar dari mulutku, dan kebohongan adalah apa yang kuludahi! Siapa pun yang menentang titahku adalah pengkhianat, dan pengkhianat hanya pantas be-rakhir dengan darahnya sendiri!”

Sulgi Ram mengangkat pedangnya tinggi-tinggi, cahaya obor meman-tul pada bilahnya.

“Kalau begitu, malam ini biarlah para dewa sendiri yang mengadili kita!”

Suasana menegang. Dua pasukan, dua kebenaran yang saling menud-ing, berdiri di ambang badai.

Enlil Bazi mengangkat tombaknya, matanya menyala.

“Kalau begitu, biarlah darah menjadi hakimnya! Pasukan, maju! Han-curkan pemberontak itu, hancurkan nama Sulgi Ram dari muka bumi!”

Dan dengan teriakan itu, dua arus pun saling mengalir, tabrakan yang tak terhindarkan. Pedang beradu, tombak menghantam, dan pelataran Zigu-rat Esgal Ilu seketika berubah menjadi lautan perang.

Pedang beradu, tombak menembus perisai, teriakan prajurit mengguncang pelataran. Darah pertama jatuh, lalu mengalir menjadi banjir kecil yang mengotori batu putih zigurat. Suara perang membubung, bercampur dengan gemuruh genderang dan jerit yang putus di tenggorokan.

Sulgi Ram memimpin pasukannya di garis depan. Pedangnya berke-lebat, menebas kiri dan kanan, tubuhnya bagai gunung yang tak terguncang. Setiap tebasannya merobohkan musuh, setiap teriakannya membakar se-mangat prajuritnya yang hanya segelintir.

Namun jumlah terlalu timpang. Pasukan kerajaan bagai lautan, mel-ingkupi dari segala arah, tak henti datang bagai gelombang yang terus-menerus menghantam karang.

“Untuk kebenaran! Untuk Ilu sejati!” pekik prajurit Sulgi Ram, sebe-lum dadanya tertembus tombak.

Satu demi satu mereka gugur, tubuh mereka menutup jalan, darah mereka membasahi batu yang dulu dipakai untuk sujud. Namun tidak seorang pun mundur. Mereka bertarung dengan dada terbuka, dengan teriakan yang menggema lebih keras daripada rasa takut.

Matahari mulai muncul dari balik peraduannya, sinarnya semula memancar keemasan, menyingkap wajah-wajah yang berlumur peluh dan darah. Tapi seiring tubuh-tubuh prajurit Sulgi Ram jatuh satu per satu, sinar itu seakan redup, kalah oleh kegelapan yang bergulung di dada langit.

Sulgi Ram sendiri terus bertarung, tubuhnya penuh luka, napasnya berat. Namun pedangnya masih tegak, matanya masih menyala. Ia menebas, ia menangkis, meski darahnya sudah membasahi tanah hingga lutut.

Akhirnya, sebuah tombak panjang menembus bahunya, lalu pedang lain menghantam dadanya. Sulgi Ram berlutut, tangannya masih berusaha mengangkat pedangnya ke langit.

“Biarlah… Ilu… menjadi saksi…” suaranya serak, terputus-putus. “Kebenaran… tidak mati… meski aku mati…”

Dengan pekik terakhir itu, pedangnya terlepas dari genggaman. Tubuhnya roboh ke tanah, darahnya mengalir, dan senyap pun jatuh bagai tirai.

Hening sesaat meliputi medan, lalu teriakan kemenangan pasukan ke-rajaan pecah. Namun di atas mereka, langit tiba-tiba berubah. Awan hitam menggulung dari ufuk, menelan cahaya mentari yang baru saja lahir. Angin kencang turun mendadak, mengguncang pohon-pohon, menerbangkan de-bu, mengibarkan umbul-umbul yang tadinya dirancang untuk pesta.

Rakyat yang menyaksikan dari kejauhan berteriak ngeri. “Badai… ba-dai besar datang!”

Dan memang, langit yang seharusnya cerah kini berkerut bagai wajah yang marah. Guruh menggelegar di kejauhan. Bumi bergetar seakan ikut meratap atas gugurnya seorang yang memilih kebenaran, sementara kota bersiap menerima murka alam.

***

← Kembali ke Daftar Bab