Nikmati setiap bab dari karya penulis berbakat
Belum sempat tanah di pelataran zigurat menyerap darah terakhir Sulgi Ram, genderang kembali ditabuh. Namtar Sin, dengan wajah berlumur amarah, berdiri di samping kereta perangnya, tombak di tangan bergetar menahan dendam.
“Jangan biarkan satu pun dari mereka hidup!” pekiknya, suaranya nyaring bagai guruh. “Rumah Sulgi Ram harus rata dengan tanah! Ninsabtu, Innana, pelayan-pelayannya—semua harus binasa! Aku tidak mau ada sisa darah pengkhianat yang meracuni kota ini!”
Sebagian pasukan kerajaan segera berputar arah, bagai arus sungai yang mencari jalur baru. Obor-obor kembali menyala, kereta-kereta perang berderak, dan langkah prajurit menghantam jalan-jalan menuju kediaman bangsawan yang kini ditandai sebagai sarang pengkhianat.
Rakyat yang masih berani mengintip dari celah jendela melihat barisan itu lewat. Mereka berbisik ketakutan, sebagian berdoa, sebagian lari menyelamatkan diri. Umbul-umbul ungu dan emas yang tadinya dikibarkan untuk pesta pernikahan kini tergilas roda kereta, sobek, kotor oleh lumpur dan darah.
Namtar Sin berdiri tegak di atas keretanya, matanya merah bagai ba-ra. Dalam dadanya, dendam bukan lagi sekadar demi ayahnya, tetapi demi kehormatan yang ia rasa telah diinjak. Baginya, kehormatan hanya bisa dite-bus dengan api dan darah.
“Aku akan hancurkan rumah itu!” teriaknya pada pasukannya. “Aku akan bakar setiap batu, aku akan tebas setiap jiwa yang bersembunyi di da-lamnya! Pagi ini, nama Sulgi Ram dan keluarganya akan terhapus dari bumi ini selamanya!”
Teriakan balasan dari pasukan menggema:
“Untuk raja! Untuk Namtar Sin!”
Maka, dengan pedang dan tombak terangkat, mereka bergerak se-makin dekat ke kediaman Sulgi Ram—rumah megah yang berdiri dalam ketegangan, dihuni hanya oleh Ninsabtu dan para pelayan yang setia, menunggu gelombang maut yang kian mendekat.
Di dalam rumah megah yang kini sunyi, Ninsabtu duduk di ruang utama, tubuhnya tegak meski wajahnya pucat. Obor dan lampu minyak dibiarkan masih menyala, seolah menjadi saksi akan apa yang akan terjadi selanjutnya. Di sekelilingnya, para pelayan perempuan yang setia berkeru-mun, sebagian menggenggam tangan tuannya, sebagian berbisik doa-doa lirih, sebagian hanya menatap lantai dengan mata basah.
Tak ada lagi upaya untuk lari. Tak ada lagi tipu muslihat untuk bersembunyi. Mereka semua tahu gelombang maut sedang bergerak, dan ketika sampai, mereka hanya bisa menyambutnya dengan kepala tegak.
Ninsabtu menatap wajah-wajah itu satu per satu. Ada yang muda, ada yang renta, ada yang sejak lama hidup dalam rumah ini. Hatinya hancur, tapi suaranya tetap lembut dan kokoh:
“Anak-anakku… malam ini kita akan menjemput ajal bersama. Jangan takut. Lebih baik mati dengan setia daripada hidup dalam dusta. Ingatlah: Innana telah pergi. Ia selamat. Itulah yang terpenting. Biarlah kita yang tertinggal di sini menjadi persembahan terakhir bagi kebenaran yang dite-gakkan ayah rumah ini.”
Para pelayan mengangguk, beberapa menangis terisak, namun tak seorang pun melangkah mundur.
Di luar, bunyi derap kaki prajurit semakin keras. Obor-obor tampak berkelebat dari jendela, cahaya merah menyapu dinding-dinding rumah. La-lu terdengar teriakan komando, keras, bengis:
“Dobrak gerbangnya! Tak seorang pun boleh selamat!”
Dentuman pertama mengguncang pintu gerbang kayu berat. Suara besi beradu dengan besi, kayu berderak. Dentuman kedua menyusul, lebih keras, membuat debu runtuh dari kusen. Hingga pada benturan ketiga, gerbang rumah bangsawan itu pecah.
Kayu-kayu berat terhempas ke dalam, menyembur debu dan serpi-han. Obor-obor masuk, tombak-tombak terangkat, dan pasukan kerajaan menyerbu masuk dengan teriakan membahana.
Di ruang utama, Ninsabtu bangkit berdiri. Ia meraih tangan seorang pelayan di kanan dan kirinya, lalu berbisik dengan suara yang hanya bisa terdengar oleh mereka yang dekat:
“Bersiaplah. Pagi ini kita tidak menunggu kehidupan…pagi ini kita menunggu kematian.”
Dan detik itu, pintu rumah Sulgi Ram pun dihempas terbuka, disergap oleh gelombang prajurit kerajaan yang masuk dengan mata liar, tombak berkilat, dan kebencian yang siap menumpahkan darah.
Ninsabtu berdiri tegak di ruang utama, tubuhnya tak bergeming mes-ki puluhan prajurit mengepungnya. Para pelayan yang setia berdiri di seke-lilingnya, merapatkan barisan, seolah tubuh-tubuh lemah mereka bisa men-jadi perisai terakhir bagi sang nyonya.
Seorang perwira berteriak lantang:
“Habisi mereka semua! Jangan biarkan darah pengkhianat ini ber-lanjut!”
Pedang pertama terayun. Jeritan pecah di udara. Tubuh seorang pe-layan muda roboh, darahnya memercik ke lantai batu. Namun yang lain tid-ak lari. Mereka tetap berdiri, tetap menghadang dengan tubuh kosong.
Dan satu demi satu mereka ditebas. Beberapa merangkul Ninsabtu hingga napas terakhir, beberapa rebah di kakinya. Ruangan itu seketika berubah menjadi kolam darah, penuh jerit, penuh amarah, penuh doa yang terhenti di tenggorokan.
Akhirnya, Ninsabtu sendiri mengangkat wajahnya. Matanya menatap lurus ke arah perwira yang mengangkat pedang untuknya. Dengan suara parau ia berkata:
“Lakukanlah. Aku tidak takut!”
Pedang itu menebas. Ninsabtu pun rebah di lantai, darahnya bercam-pur dengan darah para pelayan yang setia.
Hening sesaat meliputi ruangan, hanya suara napas kasar para prajurit yang tersisa. Namun tiba-tiba, seorang prajurit lain berseru setelah memeriksa seluruh sudut rumah:
“Putri Innana… tidak ada di sini!”
Suasana gaduh. Para perwira saling berpandangan, sebagian berteri-ak penuh murka:
“Ke mana dia?! Ke mana darah pengkhianat itu dibawa?!”
Namtar Sin yang berdiri di ambang pintu ruangan mendengar kabar itu. Wajahnya memerah, matanya menyala bagai api yang hampir meledak. Ia menggertakkan giginya, lalu berteriak lantang:
“Kalau begitu bakar rumah ini! Jangan sisakan apa pun! Biarlah se-luruh kota melihat: rumah pengkhianat takkan pernah berdiri lagi di tanah Rawa Edin!”
Obor-obor dilemparkan ke pilar kayu, ke tirai kain, ke atap yang ber-lapis jerami kering. Api segera menjalar, menjilat dinding, melahap perabot, memakan udara dengan rakus.
Jeritan kayu yang terbakar bercampur dengan suara atap yang runtuh. Api memantulkan cahaya merah di wajah-wajah prajurit, sementara asap hitam membumbung ke langit yang sudah diliputi awan badai.
***