Nikmati setiap bab dari karya penulis berbakat
Belum usai bara api yang melahap rumah Sulgi Ram, langit di atas Rawa Edin mendadak mengerut bagai wajah marah. Awan hitam menggulung dari segala penjuru, menutupi cahaya mentari yang baru saja terbit. Guruh bergemuruh, petir mencabik-cabik cakrawala, lalu hujan turun dengan deras, mengguyur kota tanpa ampun.
Jalan-jalan yang baru semalam dipasangi umbul-umbul pernikahan kini berubah menjadi sungai-sungai kecil. Air bercampur darah mengalir de-ras, melarikan dedaunan, kain, dan bangkai hewan yang terbengkalai. Obor-obor padam, api yang membakar rumah Sulgi Ram pun terjerat hujan, na-mun kini berganti dengan banjir yang mulai meninggi.
Rakyat berteriak. Ada yang lari menutup pintu rumah, ada yang bersembunyi di bawah tiang, ada pula yang tersungkur sambil meratap:
“Ilu murka! Ilu marah! Ini azab atas darah yang tertumpah!”
Teriakan anak-anak bercampur dengan tangisan ibu, suara panik pa-ra lelaki bersahut-sahutan. Kota yang semula penuh gegap gempita hendak menyambut pesta kini berubah menjadi lautan jerit ketakutan.
Orang-orang tua yang duduk di serambi, wajah mereka pucat oleh cahaya petir, berbisik lirih kepada cucu-cucu yang menangis:
“Inilah yang dituliskan dalam kitab purba… inilah banjir yang telah lama diramalkan.”
Mereka mengingat kisah kuno yang diwariskan turun-temurun:
bahwa bila kota ini menolak kebenaran, bila imam-imam mencemari nama Ilu dengan nafsu, bila raja menukar keadilan dengan fitnah—maka langit dan bumi akan bersatu menghukum. Air akan turun tanpa henti, menelan rumah dan istana, hingga gunung pun menjadi pulau-pulau kecil.
Kisah purba itu kini bukan lagi dongeng yang dituturkan di malam hari. Ia hidup, ia nyata, di depan mata mereka.
Teriakan warga semakin gaduh. Sebagian berlari ke kuil, mencoba mengetuk pintu zigurat yang kini sudah ternoda darah. Sebagian lain me-manggil nama dewa-dewa dengan suara parau, mengangkat tangan ke langit yang menolak mengampuni.
“Banjir! Banjir akan datang!” teriak seseorang.
“Tidak ada tempat bernaung lagi!” sahut yang lain.
Air mulai menggenang di pelataran, menelan kaki mereka hingga ma-ta kaki, lalu lutut. Sungai yang membelah kota meluap, menjebol tanggul, membawa arus hitam bercampur lumpur. Perahu-perahu kecil yang diikat di tepian hanyut terbawa deras, menghantam rumah-rumah kayu.
Guruh menggelegar tanpa henti, seakan langit sendiri menjerit. Dan di dalam jeritan rakyat Rawa Edin, rasa takut yang paling purba menggeliat: rasa takut pada banjir besar, banjir yang dikatakan akan menghapus segala sesuatu—baik raja maupun budak, baik kaya maupun miskin, baik benar maupun dusta.
Di tengah kepanikan rakyat yang berlarian di jalan-jalan, istana Rawa Edin masih berdiri megah, meski hujan deras mengguyurnya. Di dalam balairungnya, api unggun padam satu per satu, tirai-tirai basah terhempas angin. Para bangsawan duduk gelisah, sebagian berdoa, sebagian berbisik ketakutan.
Namun Enlil Bazi berdiri tegak di hadapan mereka, jubahnya basah, matanya menyala dengan api yang bukan berasal dari obor, melainkan dari kesombongan yang membakar dada.
“Jangan gentar!” serunya, suaranya menggema menembus deru hu-jan. “Ini bukan murka para dewa. Ini hanyalah badai biasa. Ilu tidak akan meninggalkan rajanya. Ilu tidak akan meruntuhkan takhtanya!”
Namtar Sin yang sudah kembali dari kediaman Sulgi Ram yang lulih-lantak berdiri di sisinya, meski wajahnya pucat, berusaha mengikuti api yang menyala di dada ayahnya. Tetapi bangsawan lain saling berpandangan, ketakutan tak bisa mereka sembunyikan.
Seorang tua yang duduk di sudut memberanikan diri berkata, “Tuan raja… kitab purba telah lama menuliskan banjir besar. Mungkin inilah saatnya. Mungkin ini murka yang dijanjikan atas darah yang tumpah…”
Enlil Bazi menoleh, menatap tajam, lalu tertawa dingin.
“Kitab? Ramalan? Itu hanya dongeng untuk menakut-nakuti budak dan anak kecil! Lihatlah aku, rajamu! Aku tak akan binasa! Aku akan berdiri di atas segalanya!”
Ia menunjuk ke arah jendela, ke arah bayangan Zigurat Esgal Ilu yang menjulang meski hujan dan kabut menutupinya.
“Di sana, puncak zigurat—itulah gunung yang tidak akan terguncang. Aku akan naik ke sana bersama kalian semua. Dari sana, aku akan melihat air menelan kota, namun tidak akan menelanku. Siapa yang berani berkata Ziusudra, si lelaki di atas bukit, bisa menyentuhku? Tidak! Aku adalah raja Rawa Edin! Aku adalah titah yang tak tergoyahkan!”
Bangsawan yang mendengar kata-katanya terdiam, sebagian masih gemetar, sebagian pura-pura mengangguk, meski hati mereka bergetar he-bat.
Enlil Bazi mengangkat tangannya tinggi-tinggi, seakan menantang langit.
“Biarlah banjir itu datang! Biarlah bumi ini hancur! Selama zigurat itu berdiri, aku akan hidup! Aku, Enlil Bazi, akan hidup selama-lamanya!”
Kilatan petir menyambar di luar, membuat dinding istana bergetar. Namun Enlil Bazi tetap tegak, matanya menantang, seolah-olah badai itu hanyalah hamba yang harus tunduk pada dirinya.
Enlil Bazi menurunkan tangannya, menatap bangsawan dan perwira yang berkumpul di balairung. Suaranya menggelegar, tak kalah dari guruh yang mengguncang langit:
“Segera! Siapkan semuanya! Kita akan bergerak menuju Zigurat Esgal Ilu! Keluarkan kereta, panggil para pengawal, dan kumpulkan semua yang layak berdiri di sisiku. Kita tidak berlindung di istana, melainkan di rumah para dewa! Dari puncak zigurat, kita akan menyaksikan dunia tenggelam, sementara kita berdiri sebagai yang tersisa!”
Namtar Sin membungkuk dalam-dalam, seraya mengangkat tombak-nya. “Titahmu akan dijalankan, Ayah. Zigurat akan menjadi benteng kita.”
Bangsawan-bangsawan lain—meski wajah mereka pucat oleh rasa takut—ikut berdiri, mengangguk, dan membisikkan kata setia, sebab siapa berani menentang raja dalam badai seperti ini?
Tidak lama, barisan panjang obor dan kereta bergerak dari istana, menuju zigurat yang menjulang di tengah kota. Deru hujan menghantam tanah, mengubah jalan menjadi lumpur, namun langkah-langkah mereka tetap tegak, dijaga oleh puluhan prajurit bersenjata lengkap.
Namun kabar itu segera menyebar. Rakyat kecil yang kalut, basah kuyup, menggiring anak-anak dan orang tua mereka, mengikuti dari belakang. Mereka tahu zigurat itu tinggi, mereka percaya hanya dari sana mereka bisa selamat dari air yang terus naik.
“Bawa kami! Biarkan kami ikut berlindung!” teriak seorang perempu-an, menggendong bayi yang menangis.
“Kasihanilah kami, tuanku! Kami juga hamba-hambamu!” jerit seorang lelaki renta, jatuh tersungkur di lumpur.
Tetapi prajurit-prajurit kerajaan membentuk barikade. Tombak mereka terhunus, perisai mereka terangkat, menolak setiap rakyat kecil yang mencoba mendekat.
“Ini perintah raja!” bentak seorang perwira. “Tidak ada tempat untuk budak dan rakyat jelata! Kembali ke rumahmu, atau binasalah di jalanan!”
Jeritan pecah, tangis anak-anak menambah gaduh. Sebagian rakyat mencoba memaksa, meraih tangan bangsawan yang berjalan menuju zigu-rat. Namun tangan mereka ditepis, tubuh mereka dipukul, bahkan ada yang ditikam, tubuhnya jatuh bersimbah darah di jalan yang sudah penuh lumpur.
Obor-obor menyalakan jalan menuju tangga raksasa zigurat. Batu-batu besar yang basah oleh hujan berkilau pucat oleh cahaya kilat. Enlil Bazi melangkah di depan, jubahnya terseret air, namun kepalanya tegak tinggi, seolah badai hanyalah karpet yang digelar untuk langkah kakinya.
Namtar Sin menyusul di sampingnya, tombak tegak di tangan. Para bangsawan berjalan di belakang, menggigil antara dingin hujan dan rasa takut, tetapi dipaksa berdiri angkuh, sebab mereka adalah pengikut raja.
Prajurit-prajurit kerajaan menjaga rapat barisan, mengusir siapa pun rakyat kecil yang masih berusaha memanjatkan tangga bersama mereka. Tangis, jeritan, doa, semuanya bercampur jadi ratapan panjang di kaki zigu-rat.
Namun Enlil Bazi tidak menoleh ke belakang. Ia terus menapaki tang-ga batu yang panjang, selapis demi selapis, hingga akhirnya mencapai pun-cak. Dari sana, ia berdiri tegak, memandang ke seluruh kota Rawa Edin.
Di bawah, hujan menggila. Jalan-jalan sudah menjadi sungai, rumah-rumah mulai terendam hingga separuh, api-api padam, dan manusia berlari-an tak tentu arah. Raungan bumi bercampur dengan gelegar langit.
Enlil Bazi mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi, suaranya mela-wan deru angin:
“Lihatlah! Aku berdiri di atas semua ini! Aku tidak akan binasa! Aku akan menyaksikan dunia tenggelam di bawah kakiku, namun aku tetap tegak, sebab aku raja! Aku, Enlil Bazi, dipilih para dewa untuk bertakhta abadi!”
Namtar Sin pun berseru lantang:
“Tak ada air yang bisa menyentuh kita! Tak ada badai yang bisa mer-obohkan zigurat ini! Kita aman! Kita selamat!”
Para bangsawan, meski hati mereka gentar, dipaksa ikut bersorak, suara mereka parau, bercampur dengan raungan langit.
Namun di balik sorak itu, rakyat kecil yang tertolak di kaki zigurat menengadah dengan ratapan. Mereka memanggil-manggil nama dewa-dewa, mereka mengetuk pintu batu, mereka meratap minta belas kasihan. Tapi yang mereka dapatkan hanyalah suara petir dan dinding batu dingin yang menolak mereka masuk.
Air terus meninggi. Sungai-sungai meluap, rawa-rawa melahap ru-mah, dan banjir mulai mengepung kaki zigurat itu sendiri. Ombak lumpur berputar bagai naga hitam yang siap menelan kota seluruhnya.
Dan dari puncak tertinggi Zigurat Esgal Ilu, Enlil Bazi menatapnya dengan senyum penuh kesombongan, yakin bahwa dirinya kebal dari murka langit, yakin bahwa Ziusudra—si lelaki di atas bukit—takkan pernah bisa menyentuhnya.
***