Nikmati setiap bab dari karya penulis berbakat
Hujan turun bagaikan tirai besi yang tak kunjung berhenti. Angin menderu-deru, menumbangkan pohon-pohon, melempar atap-atap rumah, membawa bersama jeritan manusia dan lolongan hewan. Kota Rawa Edin, yang semula dihiasi umbul-umbul pesta, kini tenggelam dalam lumpur, api, dan air yang terus naik.
Di lorong sempit yang penuh genangan, Innana berlari tertatih. Kainnya basah menempel pada tubuh, rambutnya terurai kacau, wajahnya pucat namun matanya menyala oleh satu tujuan: bertahan hidup. Di sisinya, Nin Edin menggenggam tangannya erat, tubuh tuanya yang rapuh tetap menjadi penopang.
“Cepat, Putri… jangan menoleh ke belakang,” suara Nin Edin parau, hampir hilang tertelan gemuruh angin.
Air sudah mencapai betis mereka, arus kecil menyeret potongan kayu, bangkai ayam, dan barang-barang rumah tangga yang hanyut. Di ke-jauhan, terdengar suara tanggul pecah, diikuti raungan massa yang ditelan arus.
Innana tersandung, lututnya membentur batu, namun Nin Edin sege-ra menariknya berdiri lagi. Tubuh tua itu seolah diberi kekuatan baru, bukan dari dirinya sendiri, melainkan dari keyakinan yang ia simpan selama ini—keyakinan pada Lelaki di atas bukit.
“Kita harus menuju Dul Gir… di sanalah keselamatanmu, Putri,” ucap Nin Edin dengan napas terengah. “Dia menunggumu di sana. Ur Enki menunggumu…”
Nama itu, nama yang disangka telah hilang bersama air dan fitnah, kini menjadi nyala kecil dalam hati Innana. Dadanya bergetar, air mata bercampur dengan hujan di wajahnya.
“Ur Enki… masih hidup?” bisiknya, seakan ingin memastikan bahwa itu bukan sekadar mimpi.
“Masih, Putri. Dia masih hidup. Tuhan Ilu tidak membiarkannya binasa.”
Kata-kata itu membuat kaki Innana kembali bertenaga. Ia menoleh ke arah badai yang memporakporandakan kota, lalu ke arah bukit yang samar-samar terlihat di kejauhan, diselubungi kabut dan hujan.
“Aku harus sampai padanya…” ucapnya lirih, tapi penuh tekad.
Mereka pun melanjutkan langkah, menyusuri jalanan yang semakin dalam oleh genangan. Di kiri-kanan, terdengar jeritan rakyat yang hanyut, terdengar doa-doa yang patah, terdengar dentuman rumah-rumah yang ro-boh. Namun Innana dan Nin Edin hanya bisa terus berjalan, menantang mal-am, menantang badai, menantang murka langit, demi satu harapan yang be-lum padam.
Air terus naik, kini mencapai pinggang. Arus deras menghantam dind-ing-dinding rumah, menyeret batang pohon dan bangkai hewan yang terba-wa dari rawa-rawa. Hujan tidak lagi turun, melainkan menubruk, menghan-tam tubuh mereka dari segala arah.
Innana dan Nin Edin merayap menyusuri jalan yang sudah berubah menjadi sungai. Sesekali mereka harus meraih tali atau tiang yang masih ter-tancap, agar tidak terseret arus. Nafas mereka memburu, tubuh mereka gemetar kedinginan.
Pada satu titik, derasnya air memutus jalan yang hendak mereka lalui. Sebuah tanggul pecah, dan banjir menerjang dengan suara bagai singa lapar. Tubuh Nin Edin, yang sudah renta, terhempas keras ke dinding batu. Ia be-rusaha bangkit, namun wajahnya pucat pasi, darah merembes dari pelipisnya.
Innana menjerit, memeluk bahunya. “Nin Edin! Jangan tinggalkan aku! Kita hampir sampai… kita harus sampai ke Dul Gir!”
Nin Edin menatapnya dengan mata yang sudah sayu. Nafasnya pen-dek, dadanya naik-turun berat.
“Putri… aku… aku sudah tak kuat lagi… tubuh ini terlalu rapuh mela-wan arus Ilu…”
Air semakin deras, menderu di sekeliling mereka. Innana mencoba menarik tubuh Nin Edin, namun kaki tuanya tersangkut reruntuhan kayu yang terjepit di arus.
“Pergilah, Putri… jangan menoleh ke belakang. Lelaki di atas bukit menunggumu. Ur Enki menunggumu. Tugasku sudah selesai…”
Innana menangis, mengguncang tubuhnya. “Tidak! Aku tidak bisa meninggalkanmu! Kau satu-satunya yang menuntunku!”
Namun Nin Edin tersenyum samar, meski bibirnya bergetar.
“Aku sudah menuntunmu sejauh ini… sekarang hanya kau yang bisa melanjutkan. Jangan takut… aku akan pergi dengan tenang… dalam geng-gaman Tuhan…”
Air menyambar sekali lagi, menghantam keras. Tubuh Nin Edin ter-lepas dari genggaman Innana, terseret arus, dan lenyap dalam gulungan air keruh.
Innana menjerit sekencang-kencangnya, tangannya meraih udara kosong. Namun yang tersisa hanyalah banjir yang terus melaju, tak memberi waktu untuk berduka.
Dengan tubuh gemetar, kaki terhuyung, ia dipaksa takdir untuk berdiri sendiri. Air sudah mencapai dadanya, mendorongnya ke segala arah. Ia tahu hanya ada satu pilihan: berlari. Berlari menantang arus, menantang badai, menantang maut, demi bukit Dul Gir yang samar-samar masih terlihat di kejauhan.
***