Nikmati setiap bab dari karya penulis berbakat
Hujan deras membasuh batu-batu hitam di lereng Dul Gir. Dari pun-caknya, terlihat cahaya kilat membelah gulungan air yang menelan kota Ra-wa Edin, dan dari sana pula terdengar jeritan manusia yang bercampur dengan deru ombak, laksana ratapan dunia yang sedang sekarat.
Orang-orang yang setia, yang terpanggil, yang tercerahkan, sudah masuk ke dalam bahtera. Begitupun burung-burung dan binatang-binatang, juga telah masuk dalam kuasa Ilu yang perkasa.
Nuh, atau Zisudra, memandang Ur Enki dengan pandangan Ilahi.
“Ur Enki, anak rawa… jangan goyah oleh gelombang air bah ini. Jan-gan terjerat oleh kepedihan dunia. Segala yang terjadi di bawah sana adalah buah dari kesombongan manusia yang menyembah selain Ilu Yang Mahasa-tu.”
Air mata Ur Enki mengalir, bercampur dengan hujan yang menetes dari rambutnya. Suaranya bergetar, namun matanya menyala oleh api yang belum padam:
“Nin Edin belum juga sampai,” ucap Ur Enki, “Innana juga. Wahai orang suci, aku harus kembali. Aku harus membawa mereka segera ke si-ni…”
Nuh memandangnya lama, seakan hendak menimbang jiwa pemuda itu di atas neraca langit. Lalu ia berkata, suaranya lembut namun penuh kekuatan:
“Pergilah, Ur Enki. Turunlah engkau ke dalam badai itu. Tetapi in-gatlah: bukan dengan kapakmu engkau akan menyelamatkan Innana, bukan pula dengan kekuatan lenganmu. Hanya dengan keteguhan pada Ilu Yang Esa engkau akan bertahan. Bila engkau tetap teguh, bahkan badai pun akan tunduk di hadapanmu. Pergilah, anak rawa. Temukan kasihmu, temukan takdirmu.”
Ur Enki menunduk, mencium tangan Nuh dengan penuh hormat. Hat-inya bergetar, bukan oleh takut, tetapi oleh keyakinan yang membara. Ia bangkit, meraih kapaknya, dan berlari menuruni lereng Dul Gir.
Di belakangnya, suara Nuh bergema, dibawa angin badai, bagai doa yang menyertai setiap langkahnya:
“Badai ini bukanlah akhir. Bagi yang setia pada Yang Esa, badai han-yalah jalan menuju kehidupan baru.”
Bumi bergetar, langit meraung. Air turun dari segala penjuru, deras bagai ribuan sungai yang pecah dari perut awan. Dari celah tanah, sembu-ran air memuntah laksana naga yang bangkit dari rahim bumi. Rawa Edin, kota yang megah, kini hilang di bawah gulungan samudra hitam.
Ur Enki menuruni lereng Dul Gir dengan dada bergemuruh. Kakinya terperosok dalam lumpur, hujan mencambuk wajahnya, namun matanya tak gentar. Di dadanya hanya ada satu nama—Innana. Badai boleh menggulung, tetapi hatinya hanya tertuju pada satu cahaya: cintanya yang suci, cintanya yang kekal.
Setelah, tanpa memedulikan keselamatannya sendiri, nyawanya sendiri, dan di tengah jeritan, di antara gelombang yang memukul, ia melihat sosok itu—Innana Eti. Rambutnya terurai, gaunnya basah melekat di tubuhnya, wajahnya pucat namun matanya menyala dalam keputusasaan. Ia berlari, lalu terseret arus, tubuhnya terhempas ke dalam ombak yang mengamuk.
“Innana!” teriak Ur Enki, suaranya memecah badai.
“Ur Enki…” bisik Innana, hampir tak terdengar, tertelan ombak yang menghantam tubuhnya.
Mereka berenang—satu dari arah bukit, satu dari arah rawa—dengan tenaga yang tersisa. Ombak berusaha memisahkan, arus mencoba menghempaskan. Namun tangan-tangan mereka terus meraih, terus meng-gapai. Kilatan petir menerangi wajah mereka yang putus asa sekaligus penuh harap.
Lalu, akhirnya—dalam sekejap yang abadi—tangan itu bertemu. Jari-jari saling menggenggam, erat, tak tergoyahkan meski badai merobek dunia.
Ur Enki menarik Innana ke dadanya, Innana melingkarkan tangannya pada lehernya. Mereka berpelukan di tengah samudra yang menggila. Air menghantam dari segala arah, angin menjerit, namun dalam genggaman itu ada ketenangan, ada cahaya.
“Innana… aku tak pernah berpaling,” bisik Ur Enki, meski suaranya tenggelam oleh deru air.
“Aku tahu… aku tahu sekarang…” jawab Innana dengan air mata bercampur hujan. “Cintamu adalah cintaku. Bahkan badai tak bisa mem-isahkan kita.”
Petir kembali menyambar, kilatan putih melukis tubuh mereka yang saling berpaut. Badai menelan, gelombang menutup, namun dalam tikaman hari itu, dalam pelukan dua jiwa yang saling setia, berakhir Rawa Edin, dan awal bagi sebuah janji yang tak bisa dipadamkan oleh air, api, dan waktu.
Di tengah gulita, mereka tetap bersama.
Di tengah badai, cinta mereka menjadi mercusuar.
Dan langit pun mencatat: dua jiwa itu, Ur Enki dan Innana Eti, saling berpelukan dalam tikaman badai.
***