Fibozona
📖 BACA BAB

Baca Bab

Nikmati setiap bab dari karya penulis berbakat

🎉 GRATIS - Tanpa Koin

Epilog

📅 01 July 2026 📚 Ketika Kota Mengutuk Cinta Kita ⏱️ 5 menit baca 📑 Bab 51

Rawa Edin telah tiada.

Kota yang dahulu megah dengan menara-menara, dengan pasar penuh hiruk pikuk, dengan istana menjulang, dengan ladang yang meng-hampar, kini semuanya terkubur dalam samudra yang tak bertepi. Air telah menenggelamkan setiap dinding batu, setiap ukiran dewa, setiap langkah ka-ki manusia yang pernah membanggakan dirinya.

Yang terdengar kini hanyalah suara gelombang yang menggulung-gulung, memukul puing-puing kayu dan batu yang hanyut. Bau asin dan busuk memenuhi udara. Mayat-mayat terapung, wajah-wajah kaku menatap kosong ke langit kelam yang masih menitikkan hujan tanpa henti.

Di puncak Bukit Dul Gir, sebuah bahtera raksasa berdiri—kukuh, meski didera angin, meski dipukul ombak. Bahtera itu bukan sekadar kayu dan tar. Ia adalah harapan, ia adalah pintu yang memisahkan kehidupan dari kemusnahan. Di dalamnya, binatang-binatang berpasangan menggeliat, manusia-manusia pilihan berdoa, dan seorang lelaki tua—Nuh, atau Ziusu-dra, atau nama lain yang akan disebut bangsa-bangsa di masa depan—berdiri menatap lautan yang menelan segala sesuatu.

Rambutnya basah, janggutnya meneteskan air. Namun matanya, mes-ki berat, tetap menyala dengan cahaya keyakinan. Ia telah lama menyiapkan diri untuk hari ini, hari ketika langit dan bumi bersekutu meniadakan segala kesombongan.

Tapi hatinya tetap bergetar. Sebab ia tahu, di luar sana, ribuan jiwa menjerit, berteriak, meminta pertolongan. Jiwa-jiwa itu akan lenyap, ditulis dalam sejarah hanya sebagai bayangan yang terlupakan.

Di antara jeritan itu, ada dua nama yang terbisik dalam angin: Ur Enki dan Innana Eti.

Nuh pernah melihat keduanya—pemuda tukang kayu yang matanya jernih bagai air sumur murni, dan gadis bangsawan yang kecantikannya tak kalah dari bintang fajar. Ia tahu kisah mereka. Ia tahu ada cinta yang ber-juang melawan takdir, melawan dewa-dewa, melawan kekuasaan manusia.

Namun malam ini, bahkan Nuh tidak tahu bagaimana akhir mereka.
Apakah mereka berhasil berenang mendekati bahtera?

Atau apakah ombak telah menelan tubuh mereka, menyisakan hanya nama yang terucap dalam desas-desus orang-orang yang selamat?

Nuh berdiri lama di geladak, matanya menyapu kegelapan. Hanya ki-latan petir yang sesekali menyingkap wajah air. Dan di sana, dalam sekelebat cahaya, ia pikir ia melihat dua tubuh berpelukan di antara gulungan ombak.

Namun ketika kilat meredup, keduanya lenyap, seakan hanya bayan-gan yang dibentuk badai.

Kisah Ur Enki dan Innana menjadi bisikan. Orang-orang yang selamat menceritakan dengan suara bergetar: mereka melihat pasangan itu bere-nang, saling menggenggam tangan, melawan arus dengan tenaga terakhir. Ada yang bersumpah mereka melihat Innana menangis, rambutnya berkilat diterpa cahaya petir, sementara Ur Enki menjeritkan namanya ke langit. Ada pula yang berkata, mereka melihat keduanya terapung-apung, lalu ombak besar menelan mereka.

Tetapi tak ada satu pun saksi yang benar-benar tahu. Tak ada yang menemukan jasad mereka. Tak ada yang melihat apakah mereka berhasil mencapai bahtera. Maka, nama mereka pun tenggelam dalam kabut misteri.

Namun satu hal yang pasti: kisah mereka tetap hidup. Di malam-malam panjang setelah banjir, ketika bahtera mengapung di samudra yang tak bertepi, orang-orang yang selamat sering berkumpul. Mereka menya-lakan obor kecil, lalu berbicara lirih. Mereka berbicara tentang kota yang hilang, tentang raja yang angkuh, tentang dewa-dewa yang tidak berdaya, dan tentang cinta yang melawan badai.

Seorang perempuan tua berbisik:

“Ur Enki bukan hanya tukang kayu. Ia adalah saksi bahwa ada Tuhan yang lebih besar daripada semua dewa. Ia tidak berpaling karena cinta dunia, tetapi karena kebenaran. Dan Innana—ia tidak hanya putri bang-sawan, ia adalah perempuan yang berani melawan arus demi hatinya sendiri.”

Yang lain menimpali:

“Kalau mereka masih hidup, mungkin mereka kini berada di bahtera, bersembunyi di sudut gelap, menunggu waktu untuk muncul. Dan jika mere-ka telah mati, maka mereka mati bersama, dipeluk cinta yang abadi.”

Hari-hari pun berlalu. Air masih belum surut, badai masih belum re-da. Tetapi kisah tentang Ur Enki dan Innana sudah menjadi semacam doa yang berbisik dari mulut ke mulut. Anak-anak yang menangis karena lapar didiamkan dengan nyanyian tentang sepasang kekasih yang menantang ba-dai. Para lelaki yang ketakutan menatap samudra menenangkan diri dengan keyakinan bahwa ada jiwa-jiwa yang tetap setia hingga detik terakhir.

Kisah itu berubah menjadi cahaya kecil di tengah gulita, sebuah pe-neguhan bahwa cinta sejati tak bisa ditenggelamkan, meski oleh samudra yang paling dalam sekalipun.

Kelak, ketika air mulai surut dan bahtera menempel pada puncak gunung, orang-orang yang selamat akan turun dan membangun dunia baru. Mereka akan menanam ladang, membangun rumah, melahirkan anak-anak. Dan di antara nyanyian dan dongeng yang mereka turunkan, kisah Ur Enki dan Innana akan tetap hadir.

Sebagian akan berkata:

“Mereka mati ditelan badai. Cinta mereka berakhir di dalam air.”

Sebagian lain akan bersumpah:

“Mereka selamat. Mereka berjalan bersama di bumi baru. Mereka adalah leluhur dari anak-anak kita.”

Dan karena tak ada bukti, karena tak ada jawaban, maka misteri itu akan tetap abadi.

Namun, mungkin memang demikianlah seharusnya. Sebab cinta sejati tak butuh kesudahan yang jelas. Cinta sejati hidup justru dalam misteri—ia mengikat jiwa-jiwa, bukan dengan kepastian, melainkan dengan harapan.
Ur Enki dan Innana, apakah mereka mati atau hidup, kini telah men-jadi simbol. Mereka adalah bisikan lembut yang menentang dewa-dewa palsu. Mereka adalah nyala api kecil yang menolak padam meski disiram banjir. Mereka adalah dua jiwa yang saling mencari, saling menemukan, dan saling memeluk dalam tikaman badai.

Mungkin tubuh mereka telah lenyap. Mungkin mereka berjalan di dunia baru. Tetapi kisah mereka—kisah cinta, kisah keberanian, kisah kese-tiaan—akan tetap hidup, sepanjang manusia masih menatap langit dan ber-tanya: apakah cinta bisa mengalahkan maut?

Dan jika engkau, wahai pembaca dari zaman yang jauh, suatu malam berdiri di tepi sungai besar yang bercabang, atau di bawah kilatan petir yang membelah langit, mungkin engkau akan mendengar bisikan. Bisikan itu da-tang dari angin, dari air, dari bayangan kabut.

Bisikan itu berkata: “Mereka tidak mati. Mereka tidak hilang. Mereka bersama.”

Atau mungkin bisikan itu berkata:

“Mereka tenggelam. Mereka lenyap. Tetapi cinta mereka hidup dalam kita semua.”

Engkau tak akan tahu pasti.

Tak seorang pun akan tahu.

Namun, di situlah letak kekuatan kisah ini: ia bukan untuk memberi jawaban, melainkan untuk menyalakan nyala kecil di hatimu.

***

⬅ Bab Sebelumnya Bab 51 dari 51 Bab Selanjutnya ➡
← Kembali ke Daftar Bab