Fibozona
📖 BACA BAB

Baca Bab

Nikmati setiap bab dari karya penulis berbakat

🎉 GRATIS - Tanpa Koin

Hukuman Mengerikan

📅 01 July 2026 📚 Ketika Kota Mengutuk Cinta Kita ⏱️ 6 menit baca 📑 Bab 36

Pagi itu, langit Rawa Edin diselimuti awan berat. Matahari belum tinggi, namun cahaya keemasannya dipantulkan permukaan Danau Nammu yang luas, tenang, dan menyeramkan. Airnya berkilau bagai cermin purba, tempat manusia memandang wajah kehidupan sekaligus wajah kematian. Di tepi danau, altar kayu dibangun. Obor-obor menyala meski hari terang, seolah hendak menambah suasana sakral bercampur ngeri.

Rakyat tumpah-ruah. Dari pelosok kota, dari celah-celah gang sempit, dari rumah-rumah di tepi rawa, semua datang. Ada wajah ingin tahu, ada wajah haus tontonan, ada wajah iba yang disembunyikan di balik kerumunan. Mereka berdesakan, berdiri di atas batu-batu, di cabang pohon, di atap rumah perahu—semua ingin menyaksikan hukuman yang belum pernah terjadi dalam sejarah Rawa Edin.

“Kasihan Ur Enki—Pengrajin kayu putra tukang kayu.”

“Ia sudah melampaui batas.”

“Tapi, apakah benar Lilitu mengandung karena perbuatannya?”

“Kita tidak akan pernah tahu,” jawab seseorang yang suaranya hampir tak terdengar, “tetapi itu sudah tak penting. Kalau raja sudah memutuskan, keputusannya tak bisa digugat.”

Di tengah panggung kuasa itu, tampak Enlil Bazi, duduk di kursi singgasananya yang dipindahkan ke tepi danau. Jubahnya megah, emas dan ungu berkilau dalam cahaya matahari. Di sampingnya berdiri Namtar Sin, gagah bagai dewa perang muda, pedang di pinggangnya berkilau. Di sisi lain, Sulgi Ram dan Ninsabtu duduk dengan wajah kaku, sementara Innana berdiri di antara mereka—pucat, gemetar, matanya sembab karena terlalu banyak air mata yang tertahan.

Ur Enki….

Dan, Lilitu….

Muda-mudi itu masih diikat dalam ikatan masing-masing. Ur Enki menatap Innana di kejauhan dengan tatapan pedih. Berkali ia menelan ludah sedang ludah itu sudah mengering.

Sedang Lilitu menoleh dan memandangi Ur Enki dengan pandangan yang mengiris dan menyayat hati.

Mereka lalu ditelanjangi di hadapan semua orang. Hanya sesobek kain yang menutup kehormatan keduanya. Tubuh mereka lalu ditarik ke hadapan. Kulit mereka yang masih muda bergetar dihembus angin danau. Ur Enki tetap berdiri tegak, meski tali kasar mengikat lengannya. Matanya menatap jauh, menembus kerumunan, mencari wajah yang dikenalnya, lalu jatuh pada sepasang mata Innana—mata yang membalasnya dengan linangan yang ia tahan mati-matian.

Lilitu terisak. Rambut hitamnya yang panjang terurai, menutupi sebagian wajah yang basah oleh air mata. Ia bukan lagi budak yang jelita, melainkan tubuh hina yang akan dijadikan persembahan bagi serangga rawa.

Penjagal (algojo) memanggul batang kurma yang telah dilubangi, dipahat dari pohon tertua di tepi kota. Ruangnya sempit, dingin, bagai rahim terkutuk yang akan menelan tubuh. Batang itu dibelah dua secara vertikal, lalu di dalamnya tubuh-tubuh itu dipaksa masuk. Ur Enki terlebih dahulu. Ia didorong masuk, tubuhnya dijepit, dan batang kurma ditutup kembali. Suara kayu bertemu kayu bergema, bagai pintu penjara kosmik yang menutup nasib. Tangan, kepala, dan kaki Ur Enki dibiarkan terjulur keluar. Tali rami diikat ke batang kurma, melingkar hingga memunculkan warna putih pucat menyelebungi batang kurma itu.

Lilitu menyusul. Tubuhnya yang lemah didorong ke dalam batang kurma lain, diikat, dikancing dengan pasak kayu. Jeritannya menggema, memantul di permukaan danau, menusuk jantung yang masih memiliki belas kasih.

Sorak-sorai memecah sunyi. Bagi sebagian besar warga yang hadir: Ini adalah pertunjukkan baru—suatu tontonan yang belum pernah mereka saksikan sebelum-sebelumnya. Suatu cara hukuman yang belum pernah dicatat dalam tablet-tablet tulisan nenek moyang.

Dua tubuh kini dipasung dalam kotak kayu kurma berdampingan.

“Ur Enki…,” ujar Lilitu lirih, nyaris tak terdenga. Bibirnya kering dan pecah-pecah. Wajahnya pucat-pasi. “Maafkan atas segala kesalahanku….”

Ur Enki meneteskan air mata, dan menimbulkan gerak gelengan kepala. Ujarnya, juga lirih namun cukup kuat terdengar di telinga Lilitu, “Kau tak pernah salah, Lilitu. Kau orang yang benar.”

“Terimakasih, Ur Enki. Karena Engkau, aku mengenal kebenaran Ziusudra. Meski dosaku menggunung karena perbuatanku di masa lalu, mudah-mudahan Ilu mengampuniku….”

“Kau takut, Lilitu?”

“Tidak, wahai saudaraku. Wahai guruku…”

Penjagal lalu menuangkan susu ke dalam mulut keduanya, memaksa mereka menelan dengan paksa. Gelas demi gelas dituangkan hingga perut mereka kembung. Ur Enki terbatuk, namun tetap menolak bersuara selain dengus napasnya. Lilitu meronta, namun tak berdaya.

Kemudian, madu kental dituangkan. Tangan penjagal mengoleskannya ke wajah mereka, ke mata, telinga, mulut. Wajah Ur Enki berkilau lengket, seperti dipermainkan nasib. Lilitu merintih saat madu dituangkan ke tubuhnya yang lemah, hingga seluruh kulitnya mengilap, basah oleh manis yang segera akan mengundang makhluk-makhluk rawa.

Enlil Bazi berdiri, suaranya menggelegar bagai guntur di langit.

“Wahai rakyat Rawa Edin! Saksikanlah hari ini! Inilah yang terjadi pada mereka yang menghina para dewa, yang mengkhianati titah raja, yang mengotori bumi kita dengan aib terkutuk. Biarlah danau Nammu, rahim kehidupan dan kematian, menjadi saksi. Biarlah serangga-serangga rawa menjadi hakim. Biarlah nama mereka menjadi pelajaran bagi keturunan kita: jangan pernah menghina dewa-dewa kita, jangan pernah mengkhianati kota kita! Jangan pernah berbuat zina!”

Sorak rakyat bergema.

Ada yang bersorak puas.

Ada yang membuang muka.

Ada yang menangis diam-diam

“Sungguh, hukuman yang kejam,” ujar yang menangis. “Bahkan para dewa tak menghendaki hukuman mengerikan seperti ini.”

Enlil Bazi melanjutkan, kini dengan senyum kemenangan.

“Dan dengarlah, wahai semua! Dalam beberapa hari ke depan, pesta agung akan digelar. Pernikahan antara putraku, Namtar Sin, dan putri tercantik kota ini, Innana Eti. Itu titahku! Itu kehendak dewa-dewa! Maka kota ini akan kembali murni, kembali suci!”

Tepuk tangan, sorak, dan teriakan bergemuruh.

Namun di tempat duduknya, Innana jatuh bergetar. Air matanya pecah, dadanya naik-turun. Tangannya menutupi wajahnya, seakan ingin menghapus pemandangan ngeri di depannya.

Ur Enki berusaha menoleh ke arahnya, meski madu menutupi wajahnya. Tatapannya berkata: Aku tetap setia, sekalipun dunia menenggelamkanku.

Lilitu hanya menutup mata, pasrah. Ia tahu nasibnya telah selesai.

Akhirnya, batang-batang kurma yang mengurung tubuh mereka digulingkan ke danau. Suara air yang berat menelan mereka, lalu batang itu mengapung, perlahan didorong ke tengah permukaan. Angin bergemuruh. Angin membawa kedua tubuh tak berdaya itu terseret semakin menjauh ke tengah danau. Pemandangan itu terus berjalan. Kedua papan kurma seakan bergerak tak beraturan, bergerak menjauh, bergerak ke arah masing-masing.

Bersama itu pula, bau susu dan madu mulai mengundang serangga-serangga danau. Nyamuk, lalat, lebah, semut, dan binatang kecil lainnya—berkerumun. Mereka menempel di madu, menelusup ke telinga, ke hidung, ke mata. Ur Enki menggertakkan giginya, menahan setiap gigitan, setiap sengatan. Lilitu menjerit, lalu tersedak, lalu hanya merintih.

Satu per satu, warga kota membalikkan badan. Meninggalkan tempat yang indah Danau Nammu yang berubah serupa raksasa hitam yang mengerikan. Isak tangis terdengar di sela-sela gemuruh suara orang dan angin yang bertiup.

“Dipenggal kepalanya itu lebih baik daripada dibiarkan mati perlahan,” ujar seorang lelaki tua sembari menahan geram.

“Apakah mereka akan mati pelan-pelan?” tanya seorang anak kecil.

“Tubuh mereka akan digerogoti serangga sedikit demi sedikit. Seribu nyamuk akan menggigit. Dan barangkali, sebentar lagi, buaya danau akan menghabisi.”

“Aku ingin melihat…”

“Sssst! Jangan asal bicara!!”

Enlil Bazi kembali pada keretanya. Begitu pula Namtar Sin dan para bangsawan lain. Sulgi Ram, Nibsabtu, dan Innana rupa-rupanya sudah lebih dahulu meninggalkan danau terkutuk itu. Keretanya berjalan pelan membawa hati-hati yang keadaannya sulit untuk dilukiskan.

Hari itu, langit Rawa Edin menjadi saksi bahwa kekuasaan telah berbicara, bahwa cinta dihancurkan, bahwa tubuh manusia dipermainkan dan diumpankan ke serangga dan binatang-binatang rawa, dan bahwa sebuah kota memilih untuk berdiri di atas darah, madu, dan susu.

***

← Kembali ke Daftar Bab