Fibozona
📖 BACA BAB

Baca Bab

Nikmati setiap bab dari karya penulis berbakat

🎉 GRATIS - Tanpa Koin

Perdebatan di Penjara

📅 01 July 2026 📚 Ketika Kota Mengutuk Cinta Kita âąī¸ 8 menit baca 📑 Bab 35

BAB 57

DI BALIK TERALI KEBENCIAN

Malam turun dengan wajah yang muram di atas Rawa Edin. Bulan Sin menggantung pucat di langit seperti kepingan perak yang kehilangan cahayanya, sementara angin dari rawa bergerak perlahan menyapu alang-alang yang tumbuh di tepian sungai. Di kejauhan, puncak-puncak kuil tampak menjulang dalam bayang-bayang, menyerupai gunung-gunung batu yang sedang mengawasi dunia manusia dengan mata yang tak pernah terpejam. Namun jauh di bawah kemegahan kota itu, jauh di bawah pelataran Esgal Ilu yang selama siang hari dipenuhi dupa dan nyanyian para imam, terdapat dunia lain yang nyaris tak tersentuh cahaya. Dunia yang lembap, dingin, dan berbau batu basah. Dunia tempat para terhukum menunggu nasib mereka diputuskan. Dunia tempat harapan perlahan-lahan dilucuti dari dada manusia seperti pakaian yang disobek satu demi satu.

Malam itu, langkah-langkah Namtar Sin menggema di lorong-lorong bawah tanah itu. Cahaya obor yang dibawa para penjaga menari di dinding batu, melahirkan bayangan-bayangan panjang yang bergerak seperti makhluk hidup. Bunyi tetesan air terdengar berulang-ulang dari celah-celah langit-langit batu, jatuh ke lantai dengan irama yang lambat dan menyiksa. Seolah-olah bumi sendiri sedang menghitung sisa waktu bagi mereka yang dipenjarakan di sana.

Namtar berjalan dengan wajah yang mengeras. Rahangnya mengatup kuat. Dadanya naik turun oleh amarah yang belum juga menemukan jalan keluar. Sejak meninggalkan kediaman Sulgi Ram sore tadi, bayangan wajah Innana terus menghantuinya. Gadis yang dahulu begitu bercahaya itu kini layu seperti bunga teratai yang dicabut dari kolamnya. Matanya yang dulu penuh kehidupan kini dipenuhi kabut kesedihan. Dan setiap kali Namtar mengingat keadaan Innana, setiap kali ia teringat air mata yang membasahi wajah gadis itu, amarahnya kepada Ur Enki kembali menyala seperti bara yang dikipasi angin padang pasir.

Baginya, pengkhianatan itu sudah terlalu jelas untuk dibantah. Ia telah melihatnya dengan mata kepala sendiri. Ia melihat Ur Enki dan Lilitu di tepi sungai. Ia melihat tawa mereka. Ia melihat kedekatan mereka. Dan kemudian seluruh kota dipenuhi kabar bahwa Lilitu mengandung anak Ur Enki. Apa lagi yang harus dipertanyakan? Apa lagi yang harus dijelaskan? Di dalam hati Namtar, semua perkara itu telah selesai. Vonis telah dijatuhkan. Hukuman hanya tinggal menunggu waktu.

Ketika akhirnya ia tiba di depan ruang tahanan yang dijaga dua prajurit, langkahnya berhenti. Salah seorang penjaga membungkuk lalu membuka pintu besi yang berat. Engselnya berderit panjang seperti suara binatang tua yang terluka. Udara dingin dari dalam ruangan segera menerpa wajah Namtar. Ia menarik napas perlahan lalu masuk seorang diri.

Ruangan itu sempit. Hanya sebuah obor kecil yang tergantung pada dinding batu, memancarkan cahaya kekuningan yang redup. Di sudut ruangan tampak seorang lelaki duduk bersandar pada tembok. Kedua tangannya dirantai. Pakaiannya kotor oleh debu dan bercak darah yang mengering. Namun tubuhnya masih tegak. Kepalanya masih terangkat. Dan yang paling membuat dada Namtar semakin panas adalah kenyataan bahwa mata lelaki itu tetap tenang.

***

Ur Enki.

Beberapa saat mereka hanya saling memandang. Tidak ada kata-kata. Tidak ada sapaan. Hanya kesunyian yang menggantung di antara mereka seperti jaring laba-laba yang tebal. Kesunyian yang dibangun oleh kenangan panjang, persahabatan bertahun-tahun, dan luka yang kini berdiri di antara keduanya seperti tembok batu yang tak mungkin lagi diruntuhkan.

Akhirnya Namtar memecah keheningan itu.

"Aku datang bukan sebagai sahabat, Ur Enki."

Suaranya rendah, tetapi berat seperti batu yang dijatuhkan ke dasar sumur.

Ur Enki memandangnya tanpa berkedip. Wajahnya tampak lebih kurus daripada sebelumnya, namun sorot matanya tidak berubah.

"Aku sudah menduganya," jawabnya pelan.

Jawaban itu justru membuat kemarahan Namtar semakin membesar. Ia melangkah lebih dekat hingga cahaya obor menyinari wajahnya yang tegang.

"Aku tidak datang untuk mendengarkan pembelaanmu. Aku tidak datang untuk mengenang masa lalu kita. Aku datang untuk melihat wajah seorang pengkhianat. Aku ingin memastikan bahwa lelaki yang selama ini kuanggap saudara ternyata benar-benar mampu menikamku dari belakang."

Ur Enki tetap diam beberapa saat. Lalu perlahan ia mengangkat wajahnya.

"Kalau begitu lihatlah sepuas hatimu."

Seperti petir yang menyambar ladang kering, kalimat itu langsung menyulut ledakan dalam dada Namtar.

"Aku membencimu!"

Bentakannya mengguncang ruangan sempit itu.

"Aku membencimu lebih dari siapa pun yang pernah hidup di kota ini!"

Napasnya memburu. Matanya memerah.

"Aku mempercayaimu, Ur Enki. Aku menganggapmu saudara. Aku rela menahan perasaanku sendiri demi persahabatan kita. Aku rela melihat Innana memilihmu. Aku rela mengorbankan kebahagiaanku sendiri karena aku percaya kau lelaki yang jujur. Tetapi apa yang kau lakukan? Kau menginjak semua itu seolah tidak pernah berarti apa-apa!"

Suara Namtar menggema pada dinding-dinding batu. Kemarahannya yang selama berhari-hari tertahan kini meluap tanpa kendali.

"Aku melihatmu bersama Lilitu. Aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri. Aku melihat bagaimana kalian tertawa seperti dua kekasih yang sedang mabuk asmara. Dan sekarang seluruh kota tahu bahwa perempuan itu mengandung anakmu. Masihkah kau ingin berdusta di hadapanku?"

Ur Enki menundukkan kepala sesaat. Bukan karena takut. Bukan karena malu. Melainkan seperti seseorang yang sedang memikul beban kesedihan yang terlalu besar untuk dijelaskan dengan kata-kata. Ketika ia kembali mengangkat wajahnya, sorot matanya tampak begitu letih.

"Namtar," katanya perlahan, "aku tidak pernah mengkhianatimu."

Jawaban itu membuat Namtar tertawa pendek. Tawa yang pahit.

"Tidak mengkhianatiku?"

"Ya."

"Masih berani kau berkata seperti itu?"

"Aku berkata apa yang kuyakini benar."

"Kebenaran?" desis Namtar. "Jangan berbicara tentang kebenaran kepadaku."

Untuk pertama kalinya sejak pertemuan itu dimulai, mata Ur Enki berubah. Ada luka lama yang tampak mengambang di sana.

"Lalu bagaimana dengan malam ketika aku melihat Innana berada dalam pelukanmu?"

Namtar terdiam.

Kalimat itu datang seperti tombak yang tak diduganya.

Ur Enki melanjutkan dengan suara yang tetap tenang.

"Apa yang harus kurasakan ketika aku melihat perempuan yang kucintai berada dalam dekapmu? Apa yang harus kupikirkan ketika aku melihat wajahmu begitu dekat dengannya? Apa yang harus kusebut dirimu pada malam itu?"

"Itu berbeda!" bentak Namtar.

"Benarkah?"

"Itu berbeda!"

"Aku tidak tahu itu."

Namtar menggertakkan gigi.

"Dia pingsan!"

"Aku tidak tahu itu."

"Aku menolongnya!"

"Aku tidak tahu itu."

"Kau seharusnya bertanya!"

Ur Enki menatapnya dalam-dalam.

"Sama seperti kau seharusnya bertanya kepadaku sebelum menjatuhkan hukuman?"

Ruangan kembali sunyi.

Hanya bunyi tetesan air yang terdengar dari langit-langit batu.

Namtar memalingkan wajahnya sesaat. Ia merasa dadanya semakin sesak. Namun amarah yang telah tumbuh terlalu besar itu tidak memberinya ruang untuk mundur.

"Jangan samakan semuanya. Aku melihat apa yang kulihat."

Ur Enki mengangguk pelan.

"Dan aku juga melihat apa yang kulihat."

"Kau mempermainkan kata-kata."

"Tidak."

"Lalu apa?"

Ur Enki menarik napas panjang.

"Kita berdua sedang menjadi tawanan dari mata kita sendiri."

Namtar mengerutkan kening.

"Maksudmu?"

Ur Enki menatap nyala obor yang bergoyang di dinding.

"Mata adalah anugerah yang besar. Tetapi mata juga sering menjadi pendusta terbesar yang dimiliki manusia. Mata melihat gerakan, tetapi tidak melihat niat. Mata melihat senyum, tetapi tidak melihat luka. Mata melihat tubuh, tetapi tidak melihat hati."

Namtar tertawa sinis.

"Omong kosong."

"Mungkin."

"Tidak mungkin. Aku percaya apa yang kulihat."

"Aku pun pernah percaya."

Ur Enki memejamkan mata sesaat.

"Lalu aku belajar bahwa banyak hal yang tampak jelas ternyata hanya bayangan di atas air."

Namtar menatapnya tajam.

"Aku tidak datang ke sini untuk mendengar ajaran Ziusudra."

Ur Enki tersenyum tipis.

"Bahkan tanpa Ziusudra pun, kebenaran tetaplah kebenaran."

***

Pembicaraan mereka terus berlangsung. Seperti dua sungai yang saling menghantam batu-batu besar di tengah arusnya. Namtar menyerang dengan tuduhan demi tuduhan. Ur Enki menjawab dengan ketenangan yang justru semakin membuat putra mahkota itu marah. Namun jauh di dalam percakapan mereka, sesungguhnya bukan hanya dua lelaki yang sedang berdebat. Yang bertarung di dalam ruang penjara itu adalah dua cara memandang dunia. Yang satu percaya pada apa yang tampak. Yang satu percaya bahwa kebenaran sering bersembunyi jauh di balik apa yang tampak.

Ketika akhirnya percakapan itu mencapai ujungnya, Namtar merasa tidak memperoleh apa yang diinginkannya. Ia datang untuk melihat seorang pengkhianat yang memohon ampun. Namun yang ditemuinya justru seorang lelaki yang tetap berdiri teguh di atas keyakinannya.

Dan itulah yang paling dibencinya.

Karena jauh lebih mudah membenci seorang pendusta daripada membenci seseorang yang tetap tenang ketika seluruh dunia menuduhnya.

Akhirnya Namtar berbalik menuju pintu. Sebelum keluar, ia berhenti sejenak tanpa menoleh.

"Dengarkan baik-baik, Ur Enki. Mulai hari ini kau bukan lagi saudaraku. Persahabatan kita telah mati."

Ruangan itu kembali sunyi.

"Aku tidak akan pernah memaafkanmu. Dan tunggulah hukuman yang pantas untukmu!"

Lalu ia melangkah pergi.

Namun sebelum pintu besi tertutup sepenuhnya, suara Ur Enki terdengar dari belakangnya.

Pelan.

Nyaris seperti bisikan.

"Aku masih menganggapmu saudaraku, Namtar. Dan itulah sebabnya aku berdoa agar suatu hari nanti kau melihat apa yang saat ini tidak mampu kaulihat."

Pintu besi menutup.

Dentumannya menggema panjang di lorong bawah tanah.

Namtar terus berjalan tanpa menoleh lagi. Namun kata-kata itu tetap mengikutinya seperti bayangan yang menolak ditinggalkan. Dan semakin jauh ia melangkah dari ruang tahanan itu, semakin ia menyadari bahwa amarahnya belum juga padam.

Bahkan setelah meluapkannya.

Bahkan setelah mengucapkan semua kebenciannya.

Karena ada luka-luka yang tidak sembuh oleh kemarahan.

Dan ada pertanyaan-pertanyaan yang tidak mati meskipun seseorang menolak mendengarnya.

***

← Kembali ke Daftar Bab