Nikmati setiap bab dari karya penulis berbakat
Sore turun perlahan di atas Rawa Edin.
Langit yang biasanya berwarna keemasan—keemasan seperti madu yang baru ditiriskan dari sarang lebah, keemasan seperti padi yang siap dipanen di musim gugur—kini tampak suram, kelabu, muram. Seolah matahari sendiri enggan memancarkan kemegahannya kepada kota yang sedang diliputi kabar-kabar buruk, seolah dewa Utu sedang memalingkan wajah karena malu atau marah atau sedih—tidak ada yang tahu mana yang benar. Awan-awan tebal bergulung di ufuk barat, menelan cahaya senja sedikit demi sedikit, seperti tangan raksasa yang perlahan memadamkan obor raksasa di langit.
Burung-burung rawa terbang rendah di atas alang-alang yang bergoyang ditiup angin. Sayap mereka berkelebat di antara kabut tipis yang mulai naik dari permukaan air, menciptakan bayangan-bayangan yang bergerak cepat di atas tanah basah. Suara mereka—kwek panjang, kwek pendek, kwek yang terputus-putus—terdengar seperti ratapan, seperti tangisan, seperti orang-orang yang sedang mengantar jenazah ke peristirahatan terakhir. Dari kejauhan terdengar suara lonceng kuil yang dipukul para imam menjelang senja, dentang perunggu yang bergema dari puncak zigurat hingga ke sudut-sudut kota. Namun dentangnya terasa muram, seperti ratapan yang panjang dan letih, seperti doa yang tidak lagi yakin akan didengar.
Orang-orang yang masih beraktivitas di pasar mulai bergegas pulang. Pedagang menurunkan tenda, mengemas dagangan, menghitung hasil jualan dengan tergesa-gesa. Ibu-ibu memanggil anak-anak mereka yang masih bermain di tepi kanal, menarik tangan mereka yang berlumuran lumpur, membawa mereka pulang sebelum malam benar-benar turun. Namun di antara mereka yang pulang, ada bisik-bisik yang terus mengalir—bisik-bisik tentang Ur Enki yang ditangkap, tentang Lilitu yang hamil, tentang hukuman yang akan segera dijatuhkan, tentang murka para dewa yang mungkin sedang mempersiapkan sesuatu yang lebih besar dari sekadar fitnah.
Bisik-bisik yang tidak pernah berhenti.
Bisik-bisik yang seperti air.
Yang merembes ke mana-mana.
***
Di jalan utama kota, sebuah kereta kerajaan bergerak perlahan.
Bukan kereta perang yang berat dengan lapisan perunggu dan roda besi. Bukan kereta upacara yang dihiasi ukiran emas dan permata. Kereta ini sederhana—sederhana untuk ukuran istana—tetapi cukup untuk menunjukkan bahwa orang yang duduk di dalamnya bukanlah rakyat biasa. Dua ekor onager hitam—hitam pekat seperti malam tanpa bintang, seperti arang yang baru saja keluar dari perapian—menariknya melintasi jalan bata yang mulai dipenuhi bayangan malam. Rambut surai mereka bergoyang-goyang seirama langkah kaki mereka yang teratur seperti detak jantung.
Di dalam kereta itu duduk seorang pemuda.
Namtar Sin.
Putra mahkota Rawa Edin.
Pewaris takhta Enlil Bazi.
Lelaki yang akan menjadi raja suatu hari nanti.
Namun sore itu, mahkota tak mampu memberinya kedamaian. Tahta tak mampu memberinya ketenangan. Kekuasaan tak mampu memberinya kebahagiaan. Yang ia rasakan hanyalah amarah yang membakar, kecewa yang menusuk, dan kesedihan yang mencekik—kesedihan untuk sahabat yang telah hilang, kesedihan untuk cinta yang tidak pernah ia miliki, kesedihan untuk Innana yang sedang hancur di rumahnya.
Tatapannya menerobos keluar melalui tirai kereta yang terbuka sebagian. Matanya melihat rumah-rumah penduduk yang terbuat dari bata lumpur kering, warung-warung pasar yang mulai ditutup dengan anyaman buluh, anak-anak yang masih berlarian di tepi jalan sambil tertawa-tawa. Tetapi sesungguhnya ia tidak melihat apa pun. Matanya terbuka, tetapi yang ia lihat hanyalah bayangan. Bayangan masa lalu. Bayangan kenangan. Bayangan Ur Enki yang duduk di sampingnya di tepi sungai, bertahun-tahun yang lalu, ketika mereka masih anak-anak dan dunia terasa begitu sederhana.
Pikirannya berada di tempat lain.
Pikirannya dipenuhi satu nama.
Ur Enki.
Giginya bergemeretak perlahan—bukan karena dingin, bukan karena takut, tetapi karena amarah yang terlalu besar untuk ditahan, terlalu panas untuk didinginkan, terlalu berat untuk dipendam.
Setiap kali nama itu muncul di kepalanya, dada Namtar terasa seperti bara yang disiram minyak. Bara yang membakar dari dalam, melahap segalanya, meninggalkan hanya abu dan kepahitan.
Ia masih mengingat semuanya dengan begitu jelas. Setiap detail. Setiap gerakan. Setiap tawa.
Sungai.
Air yang tenang, berkilau oleh cahaya sore.
Percikan air yang beterbangan seperti mutiara yang jatuh dari langit.
Tawa Lilitu—tawa yang terdengar bahagia, tawa yang terdengar bebas, tawa yang tidak pernah ia dengar dari budak istana itu sebelumnya.
Wajah Ur Enki—wajah yang dulu selalu teduh ketika memandang Innana, kini teduh ketika memandang perempuan lain.
Tubuh mereka yang tampak begitu dekat, begitu akrab, begitu... bahagia.
Dan yang paling menyakitkan—yang paling menusuk—yang paling menghancurkan—adalah wajah Innana ketika menyaksikan semuanya.
Wajah yang seketika berubah pucat, seperti bunga yang kehilangan air, seperti bulan yang tertutup awan, seperti cahaya yang padam dalam sekejap. Wajah yang seolah kehilangan seluruh cahaya kehidupannya.
Wajah yang membuat Namtar sadar—Innana benar-benar mencintai Ur Enki. Mencintainya dengan segenap hati, dengan seluruh jiwa, dengan setiap helaan napas. Dan cinta itu, di hadapannya, dihancurkan oleh orang yang sama yang menanamkannya.
Namtar mengepalkan tangannya.
Kuku-kukunya menancap ke telapak.
Darah hampir keluar.
Namun ia tidak merasakan sakit.
Sakit yang ia rasakan di dadanya terlalu besar, terlalu pekat, terlalu dalam—sehingga sakit fisik tidak lagi berarti apa-apa.
"Pengkhianat..." desisnya, suaranya nyaris tak terdengar, tetapi di dalam kereta yang sunyi, desisan itu terdengar seperti guntur.
Tangannya kembali mengepal.
Lebih erat.
Lebih keras.
Lebih sakit.
Namun beberapa saat kemudian, ketika kereta mulai memasuki jalan yang lebih sepi, ketika suara kaki kuda bergema di antara dinding-dinding batu yang tinggi, kemarahan itu perlahan berubah menjadi sesuatu yang lain. Sesuatu yang lebih berat. Lebih menyakitkan. Lebih dalam.
Kekecewaan.
Kekecewaan adalah saudara kembar kemarahan. Kemarahan adalah api yang membakar dengan keras, cepat, dan menghanguskan. Kekecewaan adalah bara yang membakar perlahan, diam-diam, tetapi tidak pernah benar-benar padam. Kemarahan bisa reda setelah beberapa hari. Kekecewaan bisa bertahan bertahun-tahun, puluhan tahun, seumur hidup.
Dan Namtar kecewa.
Sangat kecewa.
Bukan hanya kepada Ur Enki—meskipun kepada Ur Enki ia sangat kecewa. Ia juga kecewa kepada dirinya sendiri. Kepada persahabatan yang ia yakini lebih kuat dari apa pun. Kepada dunia yang tiba-tiba terasa begitu kejam, begitu kotor, begitu… asing.
Namun tujuan perjalanannya sore itu bukan untuk menemui Ur Enki.
Ur Enki sudah berada di penjara bawah tanah Esgal Ilu, menunggu hukuman yang akan segera dijatuhkan.
Tujuan Namtar sore itu adalah untuk menemui Innana.
Dan setiap kali ia memikirkan keadaan gadis itu—setiap kali ia membayangkan wajah pucatnya, mata sembabnya, tubuh kurusnya yang dulu begitu anggun dan kuat—hatinya terasa diremas oleh tangan yang tak terlihat. Tangan yang tidak bisa ia lihat, tidak bisa ia tangkap, tidak bisa ia lawan. Tangan yang terus meremas, meremas, meremas, sampai ia hampir tidak bisa bernapas.
***
Kereta akhirnya berhenti di depan kediaman Sulgi Ram.
Rumah besar itu berdiri megah seperti biasanya—megah seperti gunung yang tidak bisa digoyahkan, megah seperti istana kecil di tengah kota. Tembok-tembok bata merah menjulang kokoh, tingginya hampir dua kali lipat tinggi manusia dewasa, dilapisi dengan lapisan bitumen hitam yang mengkilap di beberapa bagian. Pilar-pilar kayu cedar dari hutan pegunungan menopang serambi yang luas, diukir dengan motif-motif naga sirrush dan singa bersayap—simbol kekayaan dan kekuasaan keluarga Sulgi Ram. Pohon-pohon kurma tumbuh berjajar di halaman depan, pohon-pohon yang telah ditanam oleh kakek Sulgi Ram puluhan tahun yang lalu, yang sekarang tingginya sudah melebihi atap rumah.
Namun ada sesuatu yang berbeda sore itu.
Rumah itu masih megah—tetapi tidak lagi hidup.
Tidak terdengar alunan musik dari ruang dalam—musik yang dulu selalu mengalun di waktu sore, ketika para pemusik dipekerjakan untuk menghibur keluarga dan tamu-tamu yang datang.
Tidak terdengar tawa pelayan yang berlarian dengan nampan berisi makanan dan minuman—tawa yang dulu selalu memenuhi halaman, menciptakan suasana ramah dan hangat.
Tidak terdengar suara percakapan yang hangat dari ruang utama, tempat Sulgi Ram biasa menerima tamu-tamu bangsawan lainnya.
Kediaman itu terasa seperti rumah yang sedang berkabung. Sesuatu seperti rumah yang baru saja ditinggalkan oleh kematian. Atau sesuatu seperti rumah yang sedang menunggu kematian datang.
Namtar turun dari kereta.
Seorang pelayan—lelaki tua dengan wajah keriput dan rambut yang mulai memutih—segera membungkuk hormat, tangannya menekan dada, kepalanya menunduk dalam-dalam.
"Putra Mahkota... kediaman ini terhormat menerima kehadiranmu."
Namtar hanya mengangguk. Tidak ada senyum. Tidak ada kata-kata basa-basi. Tidak ada waktu untuk itu.
Pelayan itu mengantarnya masuk, melewati pintu gerbang kayu cedar berukir, melewati taman kecil dengan kolam teratai yang airnya tenang, melewati lorong-lorong panjang dengan dinding bata yang dihiasi ukiran-ukiran leluhur.
Saat memasuki ruang utama, Namtar langsung melihat Sulgi Ram.
Lelaki bangsawan itu duduk di kursi kayu besar dekat jendela—kursi yang dulu selalu ia tempati ketika memandang ke arah taman, menikmati teh kurma di pagi hari, membaca tablet-tablet laporan dari para pengelolanya. Namun sore itu, ia tidak sedang menikmati apa pun. Ia hanya duduk. Diam. Menatap kosong ke arah jendela.
Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Namtar terkejut melihat perubahan pada wajahnya.
Sulgi Ram tampak jauh lebih tua.
Lebih tua dari usianya.
Lebih tua dari yang seharusnya.
Garis-garis kelelahan—garis-garis yang biasanya hanya muncul ketika ia begadang semalaman karena urusan bisnis atau politik—kini memenuhi wajahnya. Matanya cekung seperti sumur yang mulai mengering, Bahkan rambutnya—rambut yang biasanya tersisir rapi, diolesi minyak wangi, dibiarkan tumbuh panjang sebagai tanda kebangsawanan—kini tampak berantakan, tidak terurus, seperti rambut orang yang tidak lagi peduli dengan penampilannya.
Ketika melihat Namtar masuk, Sulgi Ram bangkit. Gerakannya lambat.
"Putra mahkota..." ucapnya pelan, suaranya serak.
Namtar membungkuk hormat, tangan di dada, kepala menunduk.
"Tuan Sulgi Ram."
Mereka saling menggenggam tangan—tangan lelaki tua yang dingin dan sedikit gemetar, tangan muda yang hangat tetapi juga gelisah. Dan Namtar dapat merasakan betapa dinginnya tangan Sulgi Ram. Dingin seperti batu di musim hujan. Dingin seperti air sumur di tengah malam. Dingin seperti kematian yang sedang mendekat.
"Bagaimana keadaan Innana?" tanya Namtar perlahan.
Lelaki tua itu menghela napas panjang.
Sangat panjang.
"Kalau hamba mengatakan baik," katanya akhirnya, suaranya lirih tetapi jelas, "hamba akan berdusta…”
Jantung Namtar berdegup lebih keras.
"Seberapa buruk?" tanyanya, meskipun ia takut mendengar jawabannya.
Sulgi Ram tidak segera menjawab. Ia hanya memandang ke arah taman belakang—ke arah kolam teratai yang airnya tenang, ke arah pohon-pohon kurma yang daunnya bergoyang ditiup angin sore—ke arah tempat di mana putrinya biasa duduk berjam-jam, memandang bunga-bunga yang mekar, tersenyum sendirian, bahagia dengan dunia miliknya sendiri.
Lalu ia berkata, suaranya lirih, seperti bisikan:
"Setiap hari saya melihat putri saya perlahan-lahan menghilang."
Kata-kata itu jatuh di antara mereka seperti batu yang dilemparkan ke kolam tenang—menciptakan riak yang melebar, yang menyentuh setiap sudut ruangan, yang membuat udara terasa lebih berat, lebih dingin, lebih sunyi.
"Bukan tubuhnya—tubuhnya masih ada di sini, di rumah ini, di kamarnya, di taman belakang. Tetapi jiwanya... jiwanya, tuan Namtar.. jiwanya perlahan-lahan pergi. Setiap hari. Setiap jam. Setiap detik. Seperti air yang menetes dari kendi pecah. Tidak bisa ditahan. Tidak bisa dibendung. Tidak bisa dihentikan."
Namtar menunduk. Dadanya terasa sakit. Sakit yang tidak bisa ia jelaskan dengan kata-kata.
***
Tak lama kemudian Ninsabtu muncul dari dalam rumah.
Istri Sulgi Ram itu juga tampak jauh berbeda dari yang Namtar ingat. Matanya sembab. Wajahnya pucat. Tubuhnya kurus. Ketika melihat Namtar, perempuan itu tersenyum lemah. Senyum yang lebih mirip kepasrahan daripada kebahagiaan. Senyum yang mengatakan: Aku sudah lelah, tetapi aku tidak bisa berhenti, karena dia anakku, dan aku ibunya.
Lalu ia duduk di dekat mereka, di kursi anyaman buluh yang empuk, tangannya—tangan yang dulu lembut dan terawat—kini tampak kasar, kering, penuh kerutan.
"Terima kasih sudah datang," katanya, suarara lirih, seperti orang yang kehabisan suara karena terlalu banyak berteriak dalam diam.
Namtar menggeleng pelan. "Jangan berterima kasih, Bibi. Aku mengkhawatirkannya. Aku mengkhawatirkannya setiap saat, setiap malam, setiap kali aku memejamkan mata."
Ninsabtu menundukkan kepala.
Air matanya langsung menggenang di pelupuk mata—menggenang seperti air yang siap meluap, seperti sungai yang siap banjir.
"Dia hampir tidak makan," bisiknya, suaranya mulai pecah, mulai bergetar, mulai kehilangan kendali. "Setiap hari aku menyiapkan makanan untuknya, makanan yang dulu selalu ia habiskan dengan lahap. Kurma isi kacang, roti gandum dengan madu, susu kambing hangat, daging panggang dengan bumbu rempah. Tapi ia hanya memandanginya. Memandanginya lama, lalu menangis, lalu memintaku untuk mengambilnya kembali."
Suasana mendadak sunyi.
Sunyi yang pekat.
Sunyi yang menekan.
Sunyi yang terasa seperti kain kafan yang menutupi seluruh ruangan.
"Dia hampir tidak tidur," lanjut Ninsabtu, tangannya mulai gemetar. "Setiap malam aku mendengarnya menangis dari balik dinding. Tangis lirih. Tangis tertahan. Tangis yang sengaja disembunyikan di balik bantal, di balik selimut, di balik tirai. Tetapi aku ibunya, tuan Namtar. Aku mendengar semuanya. Aku mendengar setiap desahan, setiap isak, setiap helaan napas yang patah."
Air mata jatuh dari pipinya—jatuh perlahan, satu per satu, seperti hujan gerimis di musim kemarau.
Sulgi Ram memejamkan mata.
Tangannya yang duduk di pangkuan mengepal—mengepal erat, seperti menahan sesuatu yang ingin meledak.
"Ia duduk berjam-jam tanpa bicara," katanya, suaranya berat, dalam, seperti gemuruh yang datang dari perut bumi. "Kadang ia memandang langit—memandang awan yang bergerak, memandang burung yang terbang, memandang matahari yang terbenam. Kadang ia memandang kolam—memandang teratai yang mekar, memandang ikan yang berenang, memandang air yang tenang. Kadang ia memegang benda-benda yang pernah diberikan Ur Enki kepadanya—sehelai kain sederhana, sebuah sisir kayu, sepotong batu sungai yang diambil dari tepian Purattu. Ia memegangnya, memandanginya lama, lalu menangis."
Sulgi Ram membuka matanya.
Matanya merah—merah oleh amarah yang tertahan, merah oleh kesedihan yang tidak bisa ia ungkapkan, merah oleh rasa bersalah yang terus menggerogoti.
Namtar terdiam.
Mulutnya terasa kering.
Lidahnya terasa kelu.
Dadanya terasa seperti dihantam batu besar berkali-kali.
Kemarahan yang sebelumnya memenuhi dadanya—kemarahan yang membara, yang meledak-ledak, yang hampir membakarnya hidup-hidup—tiba-tiba terasa kecil. Kecil dan tidak berarti. Kecil dibandingkan kesedihan yang sedang didengarnya. Kecil dibandingkan penderitaan yang sedang dialami Innana. Kecil dibandingkan luka yang tidak bisa disembuhkan oleh hukuman apa pun.
"Dia mencintainya sedalam itu?" bisik Namtar. Bukan pertanyaan—lebih kepada pernyataan, lebih kepada pengakuan, lebih kepada kekalahan.
Ninsabtu tersenyum pahit—pahit seperti buah mentah yang dipetik sebelum waktunya.
"Lebih dalam dari yang bisa kami bayangkan, Namtar. Lebih dalam dari yang seharusnya. Lebih dalam dari yang kami inginkan. Kami pikir cinta itu hanya kegilaan sesaat, hanya perasaan muda yang akan hilang dengan sendirinya seiring waktu."
Ia menggeleng.
***
Beberapa saat kemudian, setelah udara di ruang utama terasa sedikit lebih tenang—setelah Sulgi Ram dan Ninsabtu menangis bersama dalam diam, setelah Namtar menarik napas panjang berkali-kali untuk menenangkan dadanya yang bergemuruh—ia meminta izin untuk menemui Innana.
Sulgi Ram hanya mengangguk. Tidak ada kata-kata. Tidak ada peringatan. Tidak ada pesan. Hanya anggukan kecil, anggukan yang mengatakan: Pergilah. Mungkin kau bisa melakukan sesuatu yang tidak bisa kami lakukan. Mungkin kau bisa menyentuh hatinya. Mungkin kau bisa mengembalikan senyumnya. Mungkin.
"Dia ada di taman belakang," kata Ninsabtu, suaranya lirih, seperti orang yang tidak ingin suaranya terdengar terlalu keras, takut mengganggu kesunyian yang rapuh. "Dia selalu di sana setiap sore. Duduk di tepi kolam. Memandang teratai. Sendirian."
Namtar bangkit. Kaki-kakinya terasa berat—berat seperti baru saja selesai berjalan sejauh puluhan mil, berat seperti baru saja selesai bertempur dalam peperangan yang melelahkan.
Ia berjalan melewati lorong-lorong rumah—lorong yang dulu selalu terang oleh cahaya obor, kini terasa gelap dan sunyi. Melewati pilar-pilar kayu cedar yang dulu menjadi tempat ia bersandar ketika berbicara dengan Sulgi Ram tentang politik dan perdagangan. Melewati taman kecil yang dulu selalu dipenuhi bunga-bunga warna-warni, kini tampak kurang terawat, kurang hidup, kurang bahagia.
Hingga akhirnya ia tiba di halaman belakang.
Langkahnya perlahan terhenti.
Di tepi sebuah kolam teratai—kolam yang dulu selalu menjadi tempat favorit Innana untuk membaca puisi atau sekadar bermimpi—duduk seorang perempuan.
Sendirian.
Membelakanginya.
Rambut hitam panjangnya—rambut yang dulu selalu ia sisir dengan rapi, ia ikat dengan pita sutra, ia biarkan tergerai seperti sungai malam—kini terurai kusut, tidak tersisir, tidak terikat, seperti dedaunan yang jatuh dari pohon di musim kemarau.
Gaunnya yang berwarna pucat—dulu merah, atau biru, atau ungu, atau warna-warna cerah yang membuatnya tampak seperti bunga yang mekar—kini pudar, kusam, tidak jelas lagi warnanya. Mungkin karena sudah terlalu lama tidak dicuci. Mungkin karena sudah terlalu lama tidak diganti. Mungkin karena ia tidak lagi peduli dengan warna, tidak lagi peduli dengan penampilan, tidak lagi peduli dengan dunia.
Tubuhnya tampak lebih kurus—kurus dari biasanya, padahal biasanya ia sudah kurus, ramping, anggun. Kini kurusnya berbeda. Kurus yang tidak sehat. Kurus yang mengkhawatirkan. Kurus yang membuat tulang-tulangnya hampir terlihat di balik gaun tipisnya.
Lebih rapuh—rapuh seperti patung tanah liat yang belum dibakar, rapuh seperti telur yang hampir menetas, rapuh seperti sesuatu yang akan hancur jika disentuh.
Lebih sepi—sepi seperti gurun di malam hari, seperti makam di tengah hutan, seperti hati yang sudah mati.
Namtar nyaris tidak mengenali gadis yang selama ini dikenal sebagai Bidadari Rawa Edin—gadis yang senyumnya mampu membuat para pemuda kehilangan akal, gadis yang tawanya mampu mengusir kesedihan siapa pun yang mendengarnya, gadis yang kehadirannya saja sudah cukup untuk membuat ruangan terasa lebih terang, lebih hangat, lebih hidup.
Ia berdiri beberapa saat di belakangnya. Tidak bergerak. Tidak bersuara. Hanya memandang. Memandang punggung yang tadinya tegap anggun, kini membungkuk lemah. Memandang bahu yang tadinya selalu tegak, kini terkulai. Memandang kepala yang tadinya selalu diangkat tinggi dengan percaya diri, kini menunduk, seperti bunga yang kehilangan matahari.
Namtar tidak sanggup langsung mendekat.
Karena untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia melihat kesedihan memiliki wujud.
Dan wujud itu adalah Innana.
Ia melihat bagaimana kesedihan bisa merusak yang paling indah. Bagaimana kesedihan bisa menghancurkan yang paling kuat. Bagaimana kesedihan bisa merobek yang paling suci. Dan ia tidak tahu apakah kesedihan bisa diperbaiki. Tidak tahu apakah luka bisa disembuhkan. Tidak tahu apakah bunga yang layu bisa mekar kembali.
Namtar menarik napas panjang.
Lalu ia berjalan mendekat.
"Innana..."
Perempuan itu perlahan menoleh.
Gerakannya lambat—lambat seperti gerakan dalam mimpi, seperti orang yang baru bangun dari tidur panjang, seperti orang yang tidak yakin apakah yang dilihatnya nyata atau hanya khayalan.
Matanya sembab—sembab seperti tidak pernah berhenti menangis, sembab seperti air mata yang tidak pernah kering, sembab seperti danau yang terus dihujani tanpa henti.
Namun matanya masih indah.
Indah seperti langit malam yang dipenuhi bintang—meskipun awan menutupinya, bintang-bintang itu masih ada di baliknya, bersinar redup tetapi tidak padam.
Indah seperti bunga yang mulai layu—meskipun kelopaknya sudah mulai rontok, meskipun warnanya sudah mulai pudar, meskipun batangnya sudah mulai mengering—ia masih indah. Indah dengan caranya sendiri. Indah dengan kesedihannya sendiri. Indah dengan kepedihannya sendiri.
"Innana," ulang Namtar, suaranya lembut, sangat lembut, seperti tidak ingin merusak sesuatu yang rapuh.
Innana memandangnya—memandang wajah Namtar yang tampan, yang tegas, yang kuat—lalu bibirnya mencoba tersenyum. Bukan senyum bahagia. Bukan senyum ramah. Bukan senyum yang dulu selalu ia berikan kepada para tamu yang datang. Senyum yang lemah. Senyum yang rapuh. Senyum yang hampir tidak terlihat. Senyum yang terlalu lemah untuk bertahan lama, terlalu rapuh untuk tidak hancur, terlalu tipis untuk tidak robek.
"Namtar," balasnya, suaranya serak—serak seperti orang yang kehabisan suara, seperti orang yang terlalu lama menangis, seperti orang yang tenggorokannya kering karena tidak pernah minum.
***
Namtar duduk perlahan di sampingnya.
Tidak terlalu dekat—karena ia tidak ingin mengganggu, karena ia tidak ingin membuat Innana merasa terpojok, karena ia tidak ingin kehadirannya menjadi beban lain bagi gadis yang sudah terlalu banyak menanggung beban.
Tidak terlalu jauh—karena ia ingin Innana tahu bahwa ia ada di sini, bahwa ia tidak akan pergi, bahwa ia akan tetap di sampingnya meskipun mungkin kehadirannya tidak berarti apa-apa.
Mereka duduk berdampingan.
Sama-sama memandang permukaan kolam yang tenang.
Teratai-teratai mulai menutup kelopaknya—menyambut malam yang akan segera tiba, mempersiapkan diri untuk tidur, untuk beristirahat, untuk melupakan sejenak dunia yang kejam.
Ikan-ikan kecil berenang di bawah permukaan, sesekali naik ke atas untuk mengambil udara, lalu turun lagi, menghilang di antara akar-akar teratai yang bergelantungan.
Daun-daun pohon kurma bergoyang-goyang ditiup angin sore, menciptakan suara seperti bisikan, seperti ratapan, seperti doa yang tidak selesai.
Beberapa saat tidak ada yang berbicara.
Hanya suara angin.
Hanya suara daun.
Hanya suara detak jantung mereka yang berdetak dalam irama yang berbeda—satu terluka, satu lagi bingung.
Akhirnya, Namtar berkata:
"Aku mengkhawatirkanmu."
Katanya sederhana, tanpa hiasan, tanpa basa-basi. Tidak ada janji. Tidak ada harapan. Tidak ada tawaran. Hanya fakta. Fakta bahwa ia mengkhawatirkan Innana. Fakta bahwa ia tidak bisa tidak mengkhawatirkannya. Fakta bahwa ia datang ke sini bukan karena kewajiban, bukan karena titah ayahnya, bukan karena tekanan siapa pun, tetapi karena ia benar-benar khawatir.
Innana tersenyum tipis—senyum yang sama, senyum lemah, senyum rapuh, senyum yang hampir tidak terlihat.
"Aku masih hidup," katanya, suarara lirih, seperti orang yang tidak yakin dengan kata-katanya sendiri.
Namtar menatapnya. Matanya—mata yang biasanya teduh, yang biasanya tenang, yang biasanya tidak menunjukkan emosi—kini berkaca-kaca.
"Tubuhmu hidup," jawabnya, tanpa sengaja, tanpa direncanakan, tanpa dipikirkan. Kata-kata itu keluar begitu saja, seperti air yang keluar dari tanah, seperti kebenaran yang tidak bisa ditahan lagi.
Innana menunduk.
Dan untuk pertama kalinya sejak Namtar datang—sejak ia duduk di sampingnya, sejak mereka berdua memandang kolam teratai dalam diam—air mata kembali muncul di matanya.
Bukan air mata ledakan.
Bukan air mata histeris.
Bukan air mata yang disertai jeritan dan ratapan.
Air mata yang tenang.
Air mata yang mengalir perlahan, setetes demi setetes, seperti sungai yang mengalir tanpa suara, seperti hujan yang turun di malam hari.
"Aku mencoba kuat," bisiknya, suaranya mulai pecah—pecah seperti kaca yang retak, seperti tanah liat yang kering, seperti sesuatu yang tidak akan pernah bisa kembali utuh. "Sungguh. Aku sangat mencoba. Setiap pagi aku bangun dan berkata pada diriku sendiri: hari ini aku akan kuat, hari ini aku tidak akan menangis, hari ini aku akan tersenyum. Tapi... tapi rasanya seperti ada sesuatu yang patah di dalam diriku. Sesuatu yang tidak bisa kuperbaiki. Sesuatu yang tidak bisa kusembuhkan. Sesuatu yang tidak bisa kuganti dengan apa pun."
Ia menekan dadanya—menekan tempat di mana hatinya berada, tempat di mana luka itu bersarang, tempat di mana cinta yang dulu bersemi kini hanya menyisakan abu.
"Setiap kali aku berpikir aku sudah lebih baik, sesuatu muncul. Sebuah kenangan. Sebuah senyum. Sebuah kata yang pernah ia ucapkan. Dan semuanya hancur lagi. Hancur lagi. Hancur lagi. Aku lelah, Namtar. Aku sangat lelah."
Namtar menatapnya.
Dan hatinya terasa sakit.
Sakit seperti dadanya ditusuk perlahan.
Sakit seperti ada pisau yang memelintir di dalam.
Sakit seperti melihat sesuatu yang paling indah di dunia dihancurkan oleh sesuatu yang paling kejam.
"Aku membencinya," kata Namtar.
Kata-kata itu keluar tiba-tiba, tanpa direncanakan, tanpa dipikirkan panjang.
Innana menoleh. Matanya—matanya yang basah oleh air mata, matanya yang merah oleh tangis, matanya yang lelah oleh kesedihan—menatap Namtar dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Aku membenci apa yang telah dilakukan Ur Enki kepadamu," lanjut Namtar, suaranya mulai bergetar, tangannya mulai mengepal. "Kalau saja dia hanya melukai diriku sendiri, mungkin aku masih bisa memaafkannya. Kalau saja dia hanya menghancurkan persahabatan yang selama ini kita bangun bersama, mungkin aku masih bisa melupakannya. Tapi dia... dia menghancurkanmu, Innana. Dia merobek hatimu. Dia mematikan senyummu. Dia membuatmu seperti ini."
Ia menatap lurus ke mata Innana—mata yang dulu selalu bersinar, yang dulu selalu memantulkan kebahagiaan, yang dulu selalu menjadi alasan para pemuda Rawa Edin kehilangan akal.
"Aku tidak bisa memaafkan itu."
Innana memejamkan mata.
Air mata jatuh semakin deras—mengalir di pipinya yang pucat, menetes ke pangkuannya, membasahi gaun pucat yang sudah tidak jelas warnanya.
"Aku tidak ingin membencinya," bisiknya—bisikan yang nyaris tak terdengar, bisikan yang seperti doa, seperti harapan terakhir yang masih tersisa di hatinya.
Namtar diam.
"Setiap kali aku mencoba membencinya," lanjut Innana, suaranya terputus-putus, "aku justru mengingat semua hal baik yang pernah ia lakukan. Aku ingat bagaimana ia tersenyum padaku untuk pertama kalinya di Gerbang Air Ishtar. Aku ingat bagaimana ia menggenggam tangaku di bawah cahaya obor, di pesta itu, di depan semua orang yang menganggapnya tidak layak untukku. Aku ingat kata-katanya—kata-kata tentang Tuhan yang satu, tentang kesucian cinta, tentang kesetiaan yang tidak akan pernah pudar."
Ia membuka matanya.
Matanya kosong.
Kosong seperti sumur yang sudah tidak berair.
"Dan itu lebih menyakitkan, Namtar. Jauh lebih menyakitkan daripada jika aku bisa membencinya dengan mudah. Karena dengan mengingat semua kebaikannya, aku terus bertanya-tanya: apakah aku salah? Apakah apa yang kulihat di danau itu benar-benar yang kukira? Apakah mungkin ada penjelasan lain? Apakah mungkin ia tidak mengkhianatiku? Apakah mungkin... apakah mungkin aku yang salah?"
Namtar tidak menjawab.
Karena ia juga tidak tahu.
***