Fibozona
📖 BACA BAB

Baca Bab

Nikmati setiap bab dari karya penulis berbakat

🎉 GRATIS - Tanpa Koin

Senyum Keculasan

📅 01 July 2026 📚 Ketika Kota Mengutuk Cinta Kita ⏱️ 26 menit baca 📑 Bab 33

Malam telah turun sempurna di atas Rawa Edin.

Langit membentang hitam seperti kain perkabungan raksasa yang disampirkan para dewa di atas bumi, seolah alam sendiri sedang berduka untuk sesuatu yang belum terjadi tetapi sudah terasa di udara. Bintang-bintang tampak redup di balik kabut tipis yang naik dari rawa-rawa dan sungai-sungai yang membelah kota, seperti mata-mata yang mengintip dari balik tirai, melihat tetapi tidak ingin dilihat. Angin malam berembus perlahan di antara menara-menara kuil yang menjulang, melintasi jalan-jalan batu yang mulai sepi, menyentuh obor-obor yang menyala di sepanjang tembok istana dengan nafas dingin yang membuat nyala api itu bergoyang pelan, bergoyang seperti ragu-ragu, seperti tidak yakin apakah mereka harus terus menyala atau padam saja.

Nyala api itu memantulkan cahaya merah ke dinding-dinding bata yang dihiasi ukiran naga sirrush dan singa bersayap, menciptakan bayangan-bayangan yang bergerak-gerak seolah hidup. Di beberapa sudut, bayangan itu tampak seperti dewa-dewa yang sedang menari, di sudut lain seperti setan-setan yang sedang mengintai. Namun tidak ada yang tahu mana yang benar, karena di istana ini, batas antara dewa dan setan sering kali kabur, sering kali tipis, sering kali hanya soal siapa yang bercerita.

Di tengah kesunyian itu, Enlil Bazi masih duduk seorang diri di ruang singgasana.

Ia belum beranjak sejak Namtar Sin meninggalkan ruangan beberapa saat yang lalu—beberapa saat yang terasa seperti sekejap mata bagi mereka yang menunggu, tetapi terasa seperti berabad-abad bagi mereka yang sedang merenungkan kemenangan. Tubuhnya yang kekar masih tegak di atas singgasana batu hitam, tidak bersandar, tidak membungkuk, tidak memberikan sedikit pun ruang bagi kelemahan untuk masuk. Matanya menatap kosong ke arah pintu yang baru saja ditutup oleh putranya, tetapi pikirannya—pikirannya sedang melayang jauh, melayang ke masa depan yang telah ia rancang, melayang ke skenario-skenario yang telah ia hitung berkali-kali.

Keheningan memenuhi aula besar itu sepenuhnya. Tidak ada suara selain desis obor yang terbakar dan detak jantungnya sendiri yang berirama tenang—tenang seperti air danau yang dalam, seperti malam tanpa badai, seperti pembunuh yang sudah yakin bahwa korbannya tidak akan pernah bangkit lagi.

Tiang-tiang batu menjulang di sekelilingnya seperti batang pohon purba yang menopang langit. Setiap tiang diukir dengan kisah-kisah kemenangan para leluhurnya—kisah bagaimana mereka menaklukkan kota-kota di seberang sungai, bagaimana mereka membangun zigurat yang menjulang hingga awan, bagaimana mereka menjadikan Rawa Edin sebagai pusat perdagangan dan kekuasaan di tanah antara dua sungai. Bayangan obor menari di antara ukiran-ukiran itu, membuat para pahlawan batu itu tampak hidup, bergerak, seolah sedang mengawasi setiap pikiran yang lahir di dalam ruangan ini.

Namun Enlil Bazi tidak sedang memikirkan para leluhurnya.

Ia tidak sedang memikirkan sejarah.

Ia tidak sedang memikirkan kemegahan masa lalu.

Ia sedang memikirkan kemenangan.

Kemenangannya sendiri.

Kemenangan yang baru saja ia raih meskipun belum sepenuhnya sempurna, tetapi sudah cukup untuk membuatnya tersenyum.

Perlahan-lahan, sudut bibirnya terangkat.

Senyum tipis muncul di wajah yang mulai digurat usia itu—wajah yang telah menyaksikan terlalu banyak peperangan, terlalu banyak pengkhianatan, terlalu banyak kematian. Mula-mula kecil, nyaris tak terlihat, seperti retakan pertama di dinding benteng yang akan runtuh. Lalu semakin jelas, semakin melebar, semakin dingin—seperti air yang membeku di musim dingin, seperti pisau yang baru saja diasah, seperti mata serigala yang sedang mengintai mangsa yang terluka.

Senyum yang tak pernah diperlihatkannya kepada rakyat, karena rakyat butuh melihat raja yang tegas, bukan raja yang licik.

Senyum yang tak pernah dilihat para imam, karena para imam butuh percaya bahwa raja mereka adalah pelindung dewa-dewa, bukan pengguna dewa-dewa.

Senyum yang bahkan jarang disaksikan Namtar Sin, karena Namtar adalah putranya, dan seorang ayah tidak perlu menunjukkan sisi tergelapnya kepada anaknya sendiri.

Senyum seorang pemburu yang baru saja melihat jeratnya berhasil menjerat mangsa—bukan jerat yang terbuat dari tali rami atau besi, melainkan jerat yang terbuat dari kata-kata, dari desas-desus, dari fitnah yang disebarkan dengan hati-hati dan kesabaran yang luar biasa.

"Ur Enki..." gumamnya pelan, suaranya hampir tidak lebih dari bisikan, tetapi di dalam keheningan ruang singgasana, setiap suku kata terdengar jelas, terdengar seperti guntur yang mendekat.

Nama itu meluncur dari bibirnya dengan lembut—lembut seperti seorang kekasih yang memanggil nama pasangannya, tetapi di dalam kelembutan itu tersimpan kebencian yang begitu dalam, begitu pekat, begitu membara.

"Akhirnya kau berada di tempat yang semestinya."

***

Ia bangkit perlahan dari singgasananya.

Gerakannya tidak tergesa—tidak seperti orang yang sedang dikejar waktu atau yang takut kehilangan sesuatu. Juga tidak ragu—tidak seperti orang yang masih mempertimbangkan apakah keputusannya benar atau salah. Gerakannya adalah gerakan seseorang yang telah memikirkan setiap langkah berulang kali, yang telah mempertimbangkan setiap kemungkinan, yang telah menghitung setiap risiko, dan yang kini yakin bahwa apa pun yang terjadi, ia akan keluar sebagai pemenang.

Langkahnya bergema di aula—setiap hentakan kaki di lantai batu hitam menciptakan suara yang memantul dari dinding ke dinding, dari tiang ke tiang, seperti detak jantung raksasa yang sedang bangun dari tidurnya.

Ia berjalan menuju jendela besar yang menghadap ke kota.

Jendela itu tidak berdaun—hanya lengkungan batu yang terbuka ke arah langit malam, seperti mulut raksasa yang menganga, siap menelan siapa pun yang berani melihat ke dalamnya. Angin malam masuk melalui celah itu, membawa aroma rawa, aroma sungai, aroma kehidupan yang terus berlangsung meskipun di dalam istana sedang dirancang kematian.

Di kejauhan, tampak lampu-lampu minyak menyala di antara rumah-rumah penduduk yang terbuat dari bata lumpur kering dan anyaman buluh. Nyala-nyala kecil itu berkelap-kelip seperti bintang-bintang yang jatuh ke bumi, seperti kunang-kunang yang tersesat di tengah kota, seperti mata-mata kecil yang mengawasi dari kejauhan. Tampak pula puncak-puncak kuil yang menjulang seperti tombak batu yang menusuk langit—Zigurat Esgal Ilu yang menjadi pusat keagamaan kota, dengan altar-altarnya yang masih mengepulkan asap dupa meskipun malam telah larut.

Rawa Edin tertidur.

Tidak benar-benar tidur, karena kota besar tidak pernah benar-benar tidur. Masih ada suara-suara kecil dari pasar malam, masih ada derap langkah para prajurit yang berpatroli, masih ada bisik-bisik para wanita yang sedang menyelesaikan pekerjaan rumah tangga mereka. Tetapi secara keseluruhan, kota ini tertidur—tertidur dalam ketidaktahuan, dalam kenaifan, dalam keyakinan bahwa raja mereka akan melindungi mereka dari segala bahaya.

Mereka tidak tahu bahwa bahaya terbesar justru sedang merancang strategi di dalam istana ini.

Mereka tidak tahu bahwa sang raja, yang mereka anggap sebagai pelindung, sedang tersenyum karena keberhasilan fitnah yang ia ciptakan sendiri.

Enlil Bazi berdiri lama di depan jendela itu.

Tangannya tergenggam di belakang punggung. Jubah hitamnya berkibar-kibar ditiup angin malam, membuatnya tampak seperti patung dewa kegelapan yang turun dari langit untuk menghakimi manusia-manusia yang tidak taat.

Malam seperti ini—sepi, gelap, dingin—selalu membuat pikirannya bekerja paling tajam. Bukan siang ketika matahari menyinari segala sesuatu dan membuat semuanya tampak jelas. Bukan pagi ketika embun masih membasahi dedaunan dan udara masih segar. Malam. Malam adalah sahabat bagi orang-orang yang menyusun rencana, karena malam tidak menghakimi, malam tidak mengawasi, malam tidak mencatat. Malam hanya menyediakan kegelapan—dan di dalam kegelapan, segala sesuatu mungkin terjadi.

Dan selama berbulan-bulan terakhir—bahkan mungkin selama bertahun-tahun—ia telah menyusun satu rencana yang panjang, rumit, dan penuh kesabaran. Rencana yang tidak hanya melibatkan pedang dan tombak, tetapi juga kata-kata dan desas-desus. Rencana yang tidak hanya membutuhkan kekuatan, tetapi juga kelicikan. Rencana yang tidak hanya bertujuan menghancurkan satu orang, tetapi juga mengamankan takhta untuk generasi-generasi yang akan datang.

Kini rencana itu mulai menunjukkan hasilnya.

Bukan hasil akhir—masih panjang jalan yang harus ditempuh. Tetapi tanda-tanda awal sudah terlihat, sudah terasa, sudah bisa dinikmati. Ur Enki telah jatuh. Namtar telah kembali ke pangkuan ayahnya. Innana telah dilukai hatinya. Rakyat telah percaya pada fitnah. Para imam telah puas dengan hukuman yang akan dijatuhkan. Dan takhta—takhta semakin kokoh, semakin aman, semakin tidak tergoyahkan.

Ia tersenyum lagi.

Senyum yang sama.

Senyum kelicikan.

***

Pintu aula terbuka perlahan.

Suara derit kayu yang bergesekan dengan engsel batu terdengar nyaring di tengah keheningan, memecah lamunan Enlil Bazi. Namun ia tidak menoleh. Ia tetap berdiri di depan jendela, membiarkan bayangannya jatuh panjang ke lantai batu, seperti bayangan raksasa yang menutupi seluruh ruangan.

Seorang lelaki berjubah gelap masuk.

Tubuhnya kurus—kurus seperti orang yang tidak pernah makan cukup, atau seperti orang yang terlalu sibuk mengintai dan menyusup sehingga lupa bahwa tubuh juga butuh makan. Wajahnya tajam—tajam seperti pisau yang baru diasah, dengan tulang pipi yang menonjol dan dagu yang runcing. Matanya bergerak cepat, tidak pernah diam di satu tempat, seperti musang yang selalu waspada terhadap bahaya yang mungkin muncul dari arah mana pun.

Ia adalah kepala jaringan mata-mata kerajaan. Namanya tidak pernah disebut di depan umum. Wajahnya tidak pernah terlihat dalam upacara-upacara istana. Namanya tidak tercatat dalam prasasti-prasasti kemenangan. Ia adalah bayangan—bayangan yang bergerak di antara bayangan-bayangan lain, mendengar apa yang tidak boleh didengar, melihat apa yang tidak boleh dilihat, mengetahui apa yang tidak boleh diketahui.

Selama bertahun-tahun, ia menjadi telinga dan mata Enlil Bazi. Telinga yang mendengar bisikan-bisikan di pasar, di kuil, di istana. Mata yang melihat gerak-gerik para bangsawan, para imam, para pedagang, bahkan para prajurit. Tidak ada yang luput dari jaringannya—jaringan yang tersebar di seluruh Rawa Edin, bahkan hingga ke kota-kota di seberang sungai.

Ia berlutut.

Kakinya yang bersandal kulit menyentuh lantai batu dengan suara yang hampir tidak terdengar. Kepalanya menunduk, menunduk dalam-dalam, seperti orang yang tidak berani menatap matahari karena takut buta.

"Maharaja."

Suaranya serak—serak seperti orang yang terlalu sering berbisik, terlalu sering berbicara di tempat-tempat gelap, terlalu sering menyembunyikan suaranya agar tidak dikenali.

Enlil Bazi tidak menoleh.

Dia tetap berdiri di depan jendela, menikmati angin malam yang menerpa wajahnya, menikmati pemandangan kota yang tertidur, menikmati perasaan menjadi satu-satunya yang terjaga di antara ribuan yang tidur.

"Apa kabarnya?" tanyanya, suaranya datar, tidak menunjukkan emosi.

"Apa kabarnya?" adalah kode. Bukan sekadar pertanyaan tentang kesehatan atau keadaan. Di dalam istana ini, di antara raja dan kepala mata-matanya, "apa kabarnya" berarti: bagaimana perkembangan rencana? Apakah semuanya berjalan sesuai yang diharapkan? Apakah ada hambatan? Apakah ada yang perlu diwaspadai?

Kepala mata-mata itu mengangkat kepalanya sedikit, tetapi matanya tetap menunduk, tidak berani menatap langsung ke arah raja.

"Ur Enki telah dimasukkan ke penjara bawah tanah Esgal Ilu, Maharaja. Para prajurit menyeretnya dari depan gerbang kediaman Sulgi Ram. Rakyat menyaksikan. Rakyat bersorak. Rakyat meludahinya."

Enlil Bazi tersenyum.

"Dan rakyat?"

"Mereka mempercayai semua yang beredar, Maharaja. Tidak ada yang meragukan. Tidak ada yang bertanya. Selebaran-selebaran telah melakukan tugasnya dengan sempurna. Kata orang, Ur Enki adalah pengkhianat, penghina dewa, perusak kesucian cinta, pezina yang menghamili budak istana. Dan mereka menerimanya. Mereka menerima semuanya tanpa bertanya."

Senyum di bibir Enlil Bazi bertambah lebar.

"Bagus."

Kepala mata-mata itu melanjutkan, suaranya semakin mantap karena melihat raja merasa puas.

"Mereka menganggap Lilitu mengandung anak Ur Enki, Maharaja. Bahkan ada yang mengatakan bahwa mereka sudah lama berselingkuh, bahwa Ur Enki sering mengunjungi Lilitu di bilik-bilik kuil pada malam hari, bahwa mereka sudah merencanakan untuk melarikan diri bersama."

Enlil Bazi tertawa kecil.

Tawa pendek, rendah, tetapi terdengar jelas di ruangan yang sunyi.

"Bagus."

"Bahkan anak-anak kecil ikut mencemoohnya, Maharaja. Di jalan-jalan, mereka berlari sambil berteriak, 'Ur Enki si tukang kayu busuk, Ur Enki perusak cinta suci.' Orang tua mereka tidak melarang. Bahkan ada yang tersenyum mendengarnya, seolah itu adalah hiburan di tengah kesibukan mereka."

"Bagus. Bagus sekali."

Kepala mata-mata itu mengangkat kepala sedikit lebih tinggi, memberanikan diri untuk menatap bayangan raja di lantai batu.

"Baginda tampaknya sangat puas dengan jalannya rencana ini."

Enlil Bazi tidak segera menjawab.

Ia masih berdiri di depan jendela, menikmati angin malam, menikmati pemandangan, menikmati perasaan menjadi pemenang. Kemudian, perlahan-lahan, ia menoleh. Matanya—mata yang tajam seperti elang—menatap kepala mata-matanya yang berlutut di lantai. Dan untuk pertama kalinya malam itu, ia tertawa.

Tawanya tidak keras. Tidak meledak-ledak. Tidak seperti tawa kemenangan seorang prajurit yang baru saja memenangkan pertempuran. Tawanya rendah, dalam, dan dingin—dingin seperti air sumur di tengah malam, dingin seperti bilah pedang yang baru saja dihunus.

"Puas?"

Ia menggeleng pelan, matanya berkilat.

"Aku tidak puas."

Kepala mata-mata itu terdiam. Ia tidak mengerti. Rencana berjalan sempurna. Musuh telah jatuh. Rakyat telah percaya. Apa lagi yang diinginkan?

"Aku tidak puas," ulang Enlil Bazi, kali ini suaranya lebih berat. "Aku merasa lega."

Ia berjalan kembali menuju singgasananya. Jubah hitamnya menyapu lantai batu dengan suara yang halus, seperti bisikan, seperti desisan ular yang sedang meluncur di antara rerumputan.

"Legaan, anakku," katanya, meskipun kepala mata-mata itu bukan anaknya. "Legaan adalah perasaan yang lebih dalam daripada kepuasan. Kepuasan adalah ketika kau mendapatkan apa yang kau inginkan. Legaan adalah ketika kau terbebas dari sesuatu yang selama ini mengancammu. Ur Enki selama ini adalah ancaman. Bukan hanya bagi tahtaku, tetapi bagi seluruh tatanan yang telah kita bangun. Dan sekarang, ancaman itu telah tersingkir."

Ia duduk di singgasananya. Tubuhnya yang kekar kembali bersandar—tidak, tidak bersandar, tetapi duduk tegak, seperti gunung yang tidak bisa digoyahkan oleh apa pun.

"Orang-orang mengira aku membenci Ur Enki karena ia mencintai Innana."

Ia tertawa lagi—tawa yang sama, rendah dan dingin.

"Terlalu kecil. Terlalu sempit. Terlalu bodoh."

"Orang-orang mengira aku marah karena ia melukai perasaan putraku, karena ia membuat Namtar Sin bimbang antara kewajiban sebagai putra mahkota dan kesetiaan sebagai sahabat."

Ia menggeleng, janggutnya yang lebat bergoyang pelan.

"Terlalu sepele. Terlalu dangkal. Terlalu kekanak-kanakan."

Kepala mata-mata itu diam mendengarkan. Ia tahu bahwa saat-saat seperti ini adalah saat-saat langka ketika sang raja membuka isi pikirannya—bukan karena ia membutuhkan nasihat, tetapi karena ia ingin seseorang menjadi saksi atas kecerdasannya, atas kelicikannya, atas kemenangannya.

"Aku tidak pernah takut kepada cinta seorang tukang kayu."

Enlil Bazi menatap kosong ke arah obor-obor yang menyala di sepanjang dinding. Nyala api itu bergoyang-goyang, memantulkan cahaya ke wajahnya yang keras, menciptakan bayangan-bayangan yang membuatnya tampak lebih tua, lebih lelah, tetapi juga lebih berbahaya.

"Aku tidak takut kepada kemiskinannya. Aku tidak takut kepada kapaknya. Aku tidak takut kepada otot-ototnya yang kekar. Semua itu bisa dihancurkan dengan pedang, dengan tombak, dengan pasukan. Semua itu bisa dilenyapkan dalam satu malam, dengan satu perintah."

Ia mengetukkan jarinya ke sandaran singgasana. Jari-jarinya yang tebal dan penuh cincin itu bergerak dengan irama yang teratur—tik, tik, tik—seperti jarum jam yang sedang menghitung mundur menuju kematian.

"Aku takut kepada pikirannya."

Ruangan menjadi semakin sunyi. Obor-obor seolah berhenti bergoyang. Angin malam seolah berhenti berembus. Bahkan detak jantung kepala mata-mata itu seolah berhenti sejenak, menahan napas, menunggu.

"Ur Enki adalah penyakit. Penyakit yang berbahaya. Penyakit yang tidak membunuh tubuh, melainkan keyakinan. Penyakit yang tidak merusak daging, melainkan jiwa. Dan penyakit seperti itu—tidak bisa disembuhkan dengan pedang. Tidak bisa dimusnahkan dengan tombak. Tidak bisa dihancurkan dengan pasukan."

Suaranya menjadi lebih berat, lebih dalam, seperti gemuruh yang datang dari perut bumi.

"Seorang pemuda yang mampu membuat putra mahkota—putraku sendiri, Namtar Sin—mempertanyakan para dewa, meragukan tradisi, membangkang terhadap titah ayahnya demi persahabatan—adalah ancaman yang lebih berbahaya daripada seribu prajurit musuh. Seribu prajurit bisa dikalahkan dengan strategi. Tetapi satu pemuda dengan pikiran yang menyala-nyala? Dengan keyakinan yang membara? Dengan keberanian untuk mengatakan bahwa para dewa yang kita sembah selama ribuan tahun tidak lebih dari patung-patung bisu?"

Matanya menyipit, seperti ular yang sedang mengintai katak di tepi sungai.

"Ancaman semacam itu tidak boleh dibiarkan tumbuh. Tidak boleh dibiarkan berkembang. Tidak boleh dibiarkan menyebar. Harus dipotong. Harus dimusnahkan. Harus dilenyapkan. Sebelum akarnya semakin dalam. Sebelum cabangnya semakin lebar. Sebelum buahnya semakin banyak."

***

Ingatannya melayang ke masa beberapa bulan sebelumnya—masa ketika laporan demi laporan mulai berdatangan dari jaringan mata-matanya. Laporan yang pada awalnya ia anggap remeh, tidak penting, tidak perlu dikhawatirkan.

Tentang seorang tukang kayu muda yang sering terlihat duduk sendirian di tepi rawa, menatap langit, berbicara dengan sesuatu yang tidak bisa dilihat orang lain.

Tentang seorang pemuda yang jarang ikut persembahan di kuil, yang tidak pernah membawa dupa ke altar, yang tidak pernah menyembelih kambing untuk para dewa.

Tentang seorang murid dari lelaki tua di atas bukit—Ziusudra, orang gila yang sudah puluhan tahun membangun bahtera di tempat yang tidak pernah turun hujan.

Mula-mula ia menganggap semua itu tidak penting.

Hanya percakapan kecil antara seorang pemuda yang kehilangan orang tua dan seorang tua yang kehilangan akal sehat.

Hanya perenungan para penggembala yang tidak punya pekerjaan lebih baik.

Hanya kegelisahan orang-orang miskin yang iri kepada mereka yang kaya dan berkuasa.

Namun kemudian sesuatu berubah.

Semakin banyak orang mendengarkan.

Semakin banyak orang bertanya-tanya tentang ajaran lelaki tua di atas bukit itu—tentang Tuhan yang satu, tentang kebohongan para dewa, tentang kemunafikan para imam.

Semakin banyak orang mulai meragukan apa yang selama ini mereka yakini.

Semakin banyak orang berbisik-bisik di pasar, di dermaga, di rumah-rumah mereka, bahwa mungkin—hanya mungkin—lelaki gila itu benar.

Dan di pusat semuanya, selalu ada satu nama.

Ur Enki.

Bukan Ziusudra. Bukan nabi yang sudah tua dan hampir tidak pernah turun dari bukitnya. Bukan lelaki yang suaranya sudah parau dan tubuhnya sudah renta.

Ur Enki. Pemuda itu. Tukang kayu itu. Anak rawa itu.

Dialah yang membuat ajaran itu hidup. Dialah yang membuatnya relevan. Dialah yang membuatnya berbahaya.

"Ziusudra terlalu tua," gumam Enlil Bazi, suaranya lirih seperti sedang berbicara kepada dirinya sendiri. "Sudah puluhan tahun ia berdakwah, tetapi tidak ada yang peduli. Tidak ada yang mendengarkan. Tidak ada yang percaya. Ia hanya lelaki tua yang membangun perahu di atas bukit, tertawa, diejek, diludahi, dilempari roti busuk. Tidak ada yang menganggapnya serius."

Ia mengepalkan tangan.

"Namun muridnya masih muda. Muridnya masih segar. Muridnya masih memiliki energi, semangat, dan keberanian untuk menyebarkan ajaran itu ke seluruh pelosok kota. Dan pemuda itulah yang berbahaya. Pemuda itulah yang harus dihancurkan. Sebelum ia menjadi terlalu besar. Sebelum ia menjadi terlalu kuat. Sebelum ia menjadi legenda."

***

Ingatannya kemudian melayang lebih jauh—ke saat pertama kali ia memikirkan cara untuk menghancurkan Ur Enki.

Bukan dengan pedang. Bukan dengan tombak. Bukan dengan kekerasan. Karena kekerasan hanya akan menciptakan martir. Dan martir lebih berbahaya daripada pejuang. Martir tidak bisa dibunuh. Martir tidak bisa dihancurkan. Martir hidup selamanya dalam ingatan orang-orang yang mencintainya.

Ia butuh cara yang lebih halus. Lebih licik. Lebih kejam.

Ia butuh fitnah.

Karena fitnah adalah senjata yang paling murah, paling mudah, paling efektif. Fitnah tidak membutuhkan pasukan, tidak membutuhkan pedang, tidak membutuhkan darah. Fitnah hanya membutuhkan satu hal: seorang perempuan.

Seorang perempuan yang cantik. Seorang perempuan yang bisa merayu. Seorang perempuan yang bisa membuat lelaki mana pun kehilangan akal sehatnya.

Seorang perempuan bernama Lilitu.

Lilitu adalah budak istana yang sejak kecil dilatih untuk melayani para dewa—atau lebih tepatnya, untuk melayani para imam yang mengaku mewakili para dewa. Ia cantik—sangat cantik. Kecantikannya adalah senjata. Dan selama bertahun-tahun, senjata itu digunakan untuk keperluan-keperluan yang tidak pernah dicatat dalam sejarah.

Enlil Bazi memanggil Lilitu. Ia memberi perintah: dekati Ur Enki. Buat ia percaya bahwa kau tertarik padanya. Buat ia lengah. Buat ia jatuh. Dan ketika waktunya tiba, jadikan ia sebagai bukti bahwa Ur Enki adalah pezina, pengkhianat, penghina dewa.

Lilitu menurut. Ia tidak punya pilihan. Ia hanyalah budak. Budak tidak punya hak untuk menolak.

Dan Lilitu memang mendekati Ur Enki. Ia datang ke gubuk reyot di tepi rawa. Ia memesan perahu. Ia membawa senyum, rayuan, dan segala kecantikan yang ia miliki.

Namun sesuatu yang tidak pernah Enlil Bazi duga terjadi.

Lilitu gagal.

Ia gagal merayu Ur Enki.

Ia gagal menjebaknya.

Ia gagal menggodanya.

Bukan karena Ur Eniki kebal terhadap kecantikan. Bukan karena Ur Enki tidak memiliki nafsu. Bukan karena Ur Enki lebih suci dari manusia biasa.

Tetapi karena Ur Enki—pemuda itu, tukang kayu itu, anak rawa itu—telah menemukan sesuatu yang lebih besar dari nafsu. Ia telah menemukan iman. Iman kepada Tuhan yang satu. Iman yang mengajarkannya bahwa kesucian adalah mahkota jiwa, bahwa tubuh adalah amanah yang harus dijaga, bahwa cinta—cinta sejati—hanya untuk satu perempuan.

Lilitu datang sebagai serigala berbulu domba. Namun yang ia temukan di gubuk reyot itu bukanlah domba yang siap dimangsa. Ia menemukan seorang pemuda dengan hati yang tidak bisa dibeli, dengan keyakinan yang tidak bisa digoyahkan, dengan cinta yang tidak bisa dikhianati.

Dan yang lebih buruk lagi—jauh lebih buruk—Lilitu sendiri mulai berubah.

Ia mulai bertanya-tanya. Ia mulai meragukan perintah yang ia terima. Ia mulai mendengarkan ajaran Ur Enki tentang Tuhan yang satu, tentang kesucian, tentang pengampunan.

Dan ketika ia kembali ke istana, kehadirannya terasa berbeda. Matanya tidak lagi kosong. Hatinya tidak lagi beku. Jiwanya tidak lagi patuh.

"Lilitu," gumam Enlil Bazi, matanya berubah dingin. "Betapa sempurnanya pilihan itu. Dan betapa sia-sianya."

Ia menghela napas panjang.

"Seharusnya ia menjadi alat. Seharusnya ia menjadi senjata. Seharusnya ia menjadi bukti bahwa Ur Enki adalah manusia biasa yang bisa jatuh ke dalam dosa seperti lelaki lainnya. Namun ia malah menjadi... ia malah menjadi..."

Ia tidak menyelesaikan kalimatnya. Tidak perlu. Kepala mata-matanya sudah mengerti.

"Namun ternyata budak itu gagal, Maharaja," kata kepala mata-mata itu, suaranya hati-hati, tidak ingin melukai perasaan raja.

Wajah Enlil Bazi mengeras.

"Ya."

Matanya menyala—bukan dengan amarah, tetapi dengan kekesalan.

"Gagal."

Ia mengetukkan jarinya lebih keras ke sandaran singgasana.

"Dia datang sebagai serigala. Tetapi berubah menjadi domba. Dia diutus untuk memangsa, tetapi justru menjadi mangsa. Dia diperintahkan untuk menghancurkan Ur Enki, tetapi ia malah ikut terpesona oleh ajarannya."

Ia mendengus.

"Lilitu mengira bahwa dengan mengikuti Ur Enki, ia akan menemukan kebebasan. Ia mengira bahwa dengan meninggalkan perintahku, ia akan menemukan kebahagiaan. Ia mengira bahwa dengan memeluk iman yang baru, ia akan diselamatkan."

Ia tertawa—tawa yang pahit.

"Bodoh. Bodoh sekali. Seorang budak tidak pernah punya kebebasan. Seorang budak hanya punya tuan. Dan jika ia mengkhianati tuannya yang lama, ia hanya akan menjadi budak tuannya yang baru."

Namun kemudian datang kabar yang tidak pernah ia duga.

Kabar yang tidak pernah ia rencanakan.

Kabar yang membuatnya terkejut, lalu berpikir, lalu tersenyum.

Lilitu hamil.

Ia masih ingat saat pertama kali mendengar berita itu—dari seorang dayang yang melihat perut Lilitu mulai membuncit, dari seorang penjaga yang mendengar Lilitu muntah-muntah di pagi hari, dari seorang pelayan yang mencuri-curi pandang ketika Lilitu mengganti pakaiannya.

Mula-mula ia terkejut.

Kemarahan sesaat melanda pikirannya. Siapa yang berani? Siapa yang telah menyentuh budaknya tanpa izin? Siapa yang telah merusak alat yang sudah ia persiapkan dengan hati-hati?

Namun kemudian ia berpikir.

Ia berpikir panjang.

Ia berpikir dalam-dalam.

Dan perlahan-lahan, ia tersenyum.

Karena dalam politik—dalam permainan kekuasaan, dalam strategi menghancurkan musuh—kebenaran sering kali tidak sepenting manfaat. Kebenaran adalah beban yang bisa dibuang kapan saja. Kebenaran adalah penghalang yang bisa disingkirkan. Kebenaran adalah musuh yang bisa dibunuh.

Tetapi manfaat? Manfaat adalah segalanya.

Dan kehamilan Lilitu sangat bermanfaat.

Sangat sempurna.

Sangat indah.

Ia tidak tahu siapa ayah anak itu. Ia tidak pernah menyelidikinya. Ia tidak peduli. Apakah itu Nasaru Balet-ili, imam tertinggi yang bejat? Apakah itu salah seorang prajurit yang sering berjaga di dekat bilik Lilitu? Apakah itu siapa pun?

Tidak penting.

Sama sekali tidak penting.

Yang penting adalah apa yang akan dipikirkan rakyat.

Dan rakyat—rakyat yang selama ini sudah dijejali dengan desas-desus tentang Ur Enki dan Lilitu—rakyat akan memilih jawaban yang paling mereka sukai. Jawaban yang paling sederhana. Jawaban yang paling sesuai dengan cerita yang sudah tertanam di kepala mereka.

Ur Enki.

Dan rakyat tidak akan bertanya. Rakyat tidak akan menyelidiki. Rakyat tidak akan meragukan. Karena bagi rakyat, kebencian adalah makanan yang lebih lezat daripada kebenaran. Dan mereka sudah lapar. Sangat lapar.

"Kadang-kadang," kata Enlil Bazi sambil tertawa pelan, "rakyat jauh lebih berguna daripada mata-mata. Mata-mata harus kuperintahkan, harus kubayar, harus kukendalikan. Tetapi rakyat? Rakyat bekerja sendiri. Rakyat menyebarkan cerita sendiri. Rakyat mempertahankan kebohongan dengan penuh semangat, tanpa perlu disuruh."

Kepala mata-mata itu mengangguk.

Maharaja benar. Selama berminggu-minggu, ia melihat sendiri bagaimana desas-desus itu menyebar. Dari mulut ke mulut. Dari pasar ke rumah. Dari dermaga ke kuil. Seperti api di ladang kering di musim kemarau. Sekali menyala, tidak bisa dipadamkan.

Rakyat telah melakukan pekerjaan yang bahkan tidak perlu diperintahkan.

Mereka menciptakan detail-detail cerita yang tidak pernah ia ciptakan.

Mereka menambahkan adegan-adegan yang tidak pernah ia rancang.

Mereka memperkuat kebohongan dengan kesaksian palsu yang mereka buat sendiri.

Dan dalam hitungan hari, kebohongan berubah menjadi kenyataan.

Kenyataan yang lebih nyata daripada kebenaran itu sendiri.

***

Enlil Bazi berdiri lagi. Kali ini ia berjalan menuju balkon istana—sebuah balkon kecil yang menjorok keluar dari dinding, tempat ia biasa berdiri di pagi hari untuk melihat matahari terbit di atas rawa-rawa.

Angin malam menerpa wajahnya. Dingin. Menusuk. Namun ia tidak bergeming.

Ia memandang kota yang tertidur—kota yang tidak tahu bahwa rajanya sedang tersenyum di atas mereka, bahwa rajanya sedang merayakan kemenangan yang tidak akan pernah mereka ketahui, bahwa rajanya telah berhasil mengelabui mereka semua.

"Aku hanya menyiapkan jerat," katanya, suaranya nyaris berbisik, seperti sedang berbicara kepada angin, kepada malam, kepada bintang-bintang yang redup. "Tetapi langit sendiri yang mengencangkan talinya. Para dewa sendiri yang mengirimkan kabar itu—kabar tentang kehamilan Lilitu—sebagai hadiah, sebagai restu, sebagai tanda bahwa aku berada di jalan yang benar."

Lalu ia tertawa.

Panjang.

Dalam.

Puas.

Tawa yang menggema di balkon kecil itu, memantul dari dinding-dinding batu, terdengar oleh para penjaga yang berjaga di bawah—penjaga yang hanya menggeleng, tidak mengerti apa yang sedang terjadi di atas sana.

"Budak hina memang untuk manusia hina."

Ia meludah ke arah kegelapan.

"Lilitu—budak sundal yang tidak tahu diri, yang berani mengkhianati perintahku, yang berani memeluk ajaran sesat Ziusudra—akan menerima hukuman yang pantas. Dan Ur Enki—tukang kayu hina yang berani mengacaukan pikiranku, yang berani mengancam takhtaku, yang berani menghina para dewa—juga akan menerima hukuman yang pantas."

Tangannya mengepal di atas pagar batu.

"Semuanya terasa sempurna. Lilitu jatuh. Ur Enki jatuh. Persahabatan Namtar dan Ur Enki hancur berkeping-keping. Innana—bunga Rawa Edin yang paling indah—terluka hatinya, dan dari luka itu, ia akan semakin mendekat kepada Namtar, semakin menerima takdirnya sebagai putri mahkota."

Ia menoleh ke arah kepala mata-matanya yang masih berlutut di dalam ruangan.

"Rakyat percaya. Rakyat tidak meragukan. Rakyat bahkan ikut menyebarkan fitnah dengan semangat yang lebih besar daripada yang aku perintahkan. Para imam puas—mereka senang karena seorang penghina dewa akan dihukum. Takhta aman—tidak ada lagi ancaman dari ajaran sesat Ziusudra, tidak ada lagi pemuda yang akan membuat rakyat bertanya-tanya."

Ia mengangkat kedua tangannya ke langit—seperti seorang imam yang sedang memanjatkan doa, tetapi tidak ada doa di bibirnya, hanya senyum kemenangan.

"Bukankah itu kemenangan? Bukankah itu keberhasilan? Bukankah itu bukti bahwa aku—Enlil Bazi, raja Rawa Edin, penguasa tanah antara dua sungai—lebih cerdas daripada semua orang? Lebih licik daripada semua orang? Lebih kuasa daripada semua orang?"

Ia menurunkan tangannya.

"Ya. Aku lebih cerdas. Aku lebih licik. Aku lebih kuasa. Dan tidak ada seorang pun—bukan Ur Enki, bukan Ziusudra, bukan Namtar, bukan Innana, bukan siapa pun—yang bisa mengalahkanku."

***

Namun jauh di bawah istana.

Jauh di bawah kuil.

Jauh di bawah batu-batu Esgal Ilu yang megah dan dingin.

Di penjara bawah tanah yang gelap dan lembab, yang tidak pernah tersentuh sinar matahari, yang tidak pernah didengar doa-doa para imam, yang tidak pernah dilihat oleh mata-mata Enlil Bazi—dua manusia yang ia anggap sudah hancur, sudah kalah, sudah tidak berdaya, sedang berbicara.

Ur Enki dan Lilitu.

Tidak dengan suara keras. Tidak dengan teriakan. Tidak dengan ratapan yang memilukan.

Mereka berbicara dengan lembut. Dengan bisikan. Dengan kata-kata yang hanya bisa didengar oleh dinding-dinding batu yang tipis di antara sel-sel mereka.

Mereka berbicara tentang iman.

Tentang kebenaran.

Tentang harapan.

Tentang cahaya.

Tentang Tuhan yang satu—Tuhan yang tidak butuh persembahan, tidak butuh dupa, tidak butuh darah hewan yang disembelih di altar.

Tuhan yang melihat hati, bukan pakaian.

Tuhan yang mendengar doa, bukan mantra.

Tuhan yang mengampuni, bukan menghukum.

Tuhan yang tidak pernah meninggalkan hamba-Nya, bahkan di penjara paling gelap sekalipun.

Mereka berbicara tentang ketabahan.

Tentang bagaimana menerima pukulan tanpa membenci.

Tentang bagaimana menanggung fitnah tanpa membalas.

Tentang bagaimana tetap mencintai ketika dunia mengajarkan kebencian.

Mereka berbicara tentang kematian—bukan dengan ketakutan, tetapi dengan keyakinan bahwa kematian hanyalah pintu, bukan akhir. Pintu menuju kehidupan yang lain. Kehidupan yang lebih indah. Kehidupan yang tidak ada lagi air mata, tidak ada lagi tangis, tidak ada lagi rasa sakit.

Dan Enlil Bazi—raja yang perkasa, penguasa yang disegani, manusia yang menganggap dirinya paling cerdas di Rawa Edin—tidak mengetahui semua itu.

Ia tidak mengetahui bahwa Lilitu tidak lagi menjadi budaknya.

Ia tidak mengetahui bahwa Ur Enki tidak lagi takut kepadanya.

Ia tidak mengetahui bahwa benih yang ingin ia musnahkan—benih ajaran Ziusudra, benih iman kepada Tuhan yang satu, benih kebenaran yang tidak bisa dibunuh oleh fitnah—justru mulai berakar semakin dalam.

Di dalam hati Lilitu.

Di dalam hati Ur Enki.

Dan mungkin—suatu hari nanti—di dalam hati orang-orang lain yang mendengar bisikan mereka.

Karena begitulah sering kali kesombongan bekerja. Ia membuat seseorang melihat keberhasilannya sendiri, merayakan kemenangannya sendiri, memuji kecerdikannya sendiri. Namun di saat yang sama, ia membutakannya terhadap kegagalan yang sedang tumbuh di bawah kakinya—kegagalan yang tidak terlihat, tidak terdengar, tidak tercium, tetapi suatu hari nanti akan meledak, menerjang, menghancurkan.

Malam itu, di atas balkon istana yang tinggi, dengan angin malam yang menerpa wajahnya dan obor-obor yang menyala di belakangnya, Enlil Bazi berdiri dengan senyum kemenangan yang memenuhi dadanya. Senyum yang membuatnya merasa besar. Senyum yang membuatnya merasa kuat. Senyum yang membuatnya merasa abadi.

Ia merasa telah mengalahkan seorang tukang kayu.

Ia merasa telah menghancurkan seorang budak.

Ia merasa telah mengendalikan takdir.

Padahal sesungguhnya, tanpa ia sadari, takdir sedang bergerak perlahan menuju dirinya. Tidak dengan terburu-buru. Tidak dengan suara gemuruh. Seperti sungai besar yang mengalir diam-diam pada malam hari—tenang, nyaris tak terdengar, bahkan menenangkan bagi mereka yang tidak tahu apa yang sedang terjadi.

Namun pada waktunya nanti—pada saat yang tidak bisa diprediksi, pada saat yang paling tidak ia duga—sungai itu akan datang sebagai banjir.

Banjir yang tidak bisa dihentikan oleh tembok setinggi apa pun.

Banjir yang tidak bisa dihalangi oleh pasukan sekuat apa pun.

Banjir yang tidak bisa diselamatkan oleh dewa-dewa palsu yang ia sembah.

Banjir yang sanggup merobohkan segala sesuatu yang berdiri di hadapannya.

Banjir yang akan menenggelamkan Rawa Edin—kota yang megah, kota yang sombong, kota yang lupa bahwa di bawah langit yang sama, di atas bumi yang sama, ada manusia-manusia kecil yang tidak pernah mereka hiraukan, yang tidak pernah mereka dengar, yang tidak pernah mereka anggap penting.

Banjir yang akan membawa bahtera—bahtera yang selama ini diejek, dihina, dicemooh, dilempari roti busuk—untuk mengapung.

Membawa serta orang-orang yang percaya.

Membawa serta orang-orang yang setia.

Membawa serta Ur Enki dan Lilitu, jika mereka masih hidup.

Meninggalkan Enlil Bazi dan para pengikutnya di puncak zigurat yang tinggi—berteriak, memanggil dewa-dewa yang tidak pernah menjawab, menyadari bahwa semua kekuasaan, semua kekayaan, semua kecerdikan, semua kelicikan, tidak ada artinya di hadapan air bah yang datang dari langit dan bumi.

Dan di bawah langit Rawa Edin yang gelap, tanpa ia sadari, senyum Enlil Bazi terus mengembang.

Senyum seorang raja.

Senyum seorang pemenang.

Senyum seorang manusia yang belum mengetahui bahwa kemenangan terbesar sering kali hanyalah awal dari kekalahan yang paling menyakitkan.

Senyum yang suatu hari nanti akan berubah menjadi jeritan.

Tetapi malam itu, jeritan itu belum terdengar.

Malam itu, hanya senyum.

Senyum keculasan.

***

← Kembali ke Daftar Bab