Nikmati setiap bab dari karya penulis berbakat
Istana itu sunyi. Bukan sunyi seperti malam biasa ketika para penghuni terlelap dalam mimpi-mimpi mereka, melainkan sunyi seperti ruang pengadilan sebelum vonis dijatuhkanâsunyi yang berat, yang menekan dada, yang membuat setiap suara, sekecil apa pun, terdengar seperti guntur di langit kering.
Obor-obor yang menyala di sepanjang lorong memantulkan cahaya merah di dinding-dinding batu yang dihias ukiran naga sirrush. Cahaya itu bergoyang-goyang, menari-nari ditiup angin malam yang menyelinap dari celah-celah jendela tinggi, menciptakan bayangan-bayangan panjang yang berkelebat seperti arwah-arwah gentayangan yang tidak bisa tidur. Hanya suara sandal prajurit yang bergeser di lantai bata hitam terdengarâberat, teratur, penuh ketegangan. Setiap langkah adalah pengingat bahwa di istana ini, darah bisa tertumpah kapan saja, dan tidak ada yang bisa memprediksi siapa yang akan menjadi korban berikutnya.
Namtar Sin melangkah cepat, hampir berlari.
Jubah putihnya yang biasanya menjuntai anggun kini berkibar-kibar tidak karuan, terseret di lantai batu, mengumpulkan debu-debu halus yang tidak pernah sempat disapu oleh para pelayan. Nafasnya memburu, keluar-masuk dari bibirnya yang terkatup rapat, seperti banteng yang baru saja lolos dari kurungan dan sedang mencari musuh untuk ditanduk. Ada api di dadanyaâbukan api yang hangat dan menenangkan, melainkan api yang membakar, yang melahap, yang mengubah segala sesuatu yang ia sentuh menjadi abu. Ada badai di kepalanyaâbukan badai yang membawa hujan dan kesuburan, melainkan badai yang merobohkan pohon-pohon tua, menerbangkan atap-atap rumah, dan meninggalkan kehancuran di mana pun ia lewat.
Malam ini ia tidak datang sebagai putra yang bersujud dengan penuh hormat di hadapan ayahandanya. Ia tidak datang sebagai pewaris takhta yang sopan dan patuh, yang setiap kata-katanya diukur, yang setiap gerak-geriknya diperhitungkan. Malam ini ia datang sebagai jiwa yang meledak oleh luka dan kecewaâsebagai seorang anak yang merasa dikhianati oleh orang yang paling ia percaya, sebagai seorang sahabat yang merasa ditikam dari belakang oleh saudara yang ia bela mati-matian.
Ia mendorong pintu ruang singgasana.
***
Pintu kayu cedar berukir itu terbuka dengan keras, menghantam dinding batu di belakangnya, menciptakan suara yang menggema ke seluruh ruangan. Para penjaga yang berjaga di kedua sisi pintu menunduk, tidak berani mengangkat wajah. Mereka bisa merasakan amarah yang memancar dari tubuh putra mahkotaâamarah yang lebih panas dari obor-obor yang menyala di sepanjang dinding.
Dan di sana, di ujung ruangan yang luas itu, di atas singgasana batu hitam yang dipahat dengan ukiran naga sirrush dan dewa-dewa bersayap, Enlil Bazi duduk tegak.
Seperti gunung hitam yang tidak bisa digoyahkan oleh angin badai apa pun, seperti pilar langit yang menopang cakrawala agar tidak runtuh menimpa bumiâdemikianlah Enlil Bazi duduk di singgasananya. Bermahkota api obor yang cahayanya memantul di uban-ubannya yang tebal, dengan mata yang tajam bagai petir yang membelah langit sebelum hujan turun. Jubahnya dari wol hitam berhiaskan benang emas, menjuntai hingga ke lantai, menutupi kakinya yang bersandal kulit buaya. Di tangan kanannya, ia menggenggam tongkat kerajaan dari kayu langka yang didatangkan dari negeri seberang, dihiasi dengan batu lazuli biru yang berkilauan setiap kali terkena cahaya.
Di hadapan Enlil Bazi, para bangsawan dan menteri istana biasa gemetar. Suaranya saja sudah cukup untuk membuat mereka berlutut dan mencium tanah. Namun malam ini, yang berdiri di hadapannya bukanlah bangsawan atau menteri. Itu adalah putranya sendiri. Darah dagingnya. Pewaris takhta yang akan meneruskan kekuasaannya setelah ia tiada.
Dan putranya itu sedang marah.
Sangat marah.
"Ayah!" suara Namtar membelah udara, lantang, tergetar, bukan sekadar panggilan seorang anak kepada ayahandanya, melainkan gugatan seorang yang terluka kepada hakim yang akan memvonisnya.
Enlil Bazi mengangkat alisnya. Gerakan kecil ituâhanya sepersekian jariâcukup untuk membuat para pelayan yang bersembunyi di balik tirai gemetar ketakutan. Namun suaranya ketika ia berbicara tetap tenang, berat, bagai angin dari gunung tinggi yang membawa kesejukan meskipun di lembah sedang dilanda kekeringan.
"Mengapa kau datang dengan langkah api, putraku? Mengapa kau membanting pintu ruang singgasana seolah kau adalah musuh yang hendak menyerang istana ini, bukan putra mahkota yang akan mewarisinya?"
Namtar berdiri di tengah ruang. Tubuhnya yang tegap, yang biasanya ia jaga dengan postur sempurna di hadapan siapa pun, kini sedikit membungkukâbukan karena takut, tetapi karena beban amarah yang terlalu berat untuk dipikul. Dadanya naik-turun cepat, seperti gelombang yang dihantam angin topan. Ia mengepalkan tangan, kuku-kukunya menancap ke telapak, dan nadanya bergemuruh ketika ia akhirnya berbicara:
"Ayah, aku datang bukan untuk memohon pencabutan titah. Aku datang untuk memohon agar titah itu jangan sekali-kali diubah! Jangan sekali-kali dicabut! Biarlah ia tetap tegak bagai gunung. Biarlah ia tetap keras bagai batu. Karena aku... aku tidak ingin Innana jatuh ke tangan pengkhianat itu!"
Enlil Bazi menyipitkan mata. Senyum tipisâsangat tipis, hampir tidak terlihatâterbit di wajahnya yang keras. Bukan senyum kebahagiaan, melainkan senyum kemenangan yang masih disembunyikan di balik topeng kebapakan.
"Ah, rupanya api di dadamu lebih terang daripada obor di istana ini," ujarnya, suaranya masih tenang, namun ada nada puas yang tidak bisa ia sembunyikan sepenuhnya. "Katakan, apa yang membakar hatimu, Namtar Sin? Ceritakan pada ayahmu ini, agar ayah bisa memahami mengapa putranya yang dulu begitu lembut dan penuh belas kasihan, kini berubah menjadi singa yang siap menerkam."
Mata Namtar berkilatâberkilat seperti pedang yang baru saja diasah, seperti tombak yang baru dicelupkan ke dalam minyak panas. Nadanya meletup, meledak, meluap seperti sungai yang jebol tanggulnya.
"Ur Enki, ayah! Sahabatku, saudara yang kuanggap darah sendiri, yang kusayangi seperti kakak, yang kuhormati seperti guruâtelah mengkhianatiku! Ia telah mengkhianati cinta Innana. Ia telah mengkhianati persahabatan yang selama ini kujunjung lebih tinggi dari tahta dan mahkota. Ia telah menginjak-injak semua yang kami bangun bersama sejak kecil, di tepi sungai Purattu, di bawah rindang pohon tamarisk, di tengah tawa dan air mata yang kami bagi berdua."
Ia melangkah maju, suaranya semakin meninggi, memantul dari dinding-dinding batu, membuat obor-obor bergoyang seolah ketakutan.
"Aku melihatnya, ayah! Aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri! Bukan dengan mata-mata, bukan dengan desas-desus, bukan dengan kabar dari mulut ketiga. Mataku sendiri yang menyaksikanâia bermesraan dengan budak istana, Lilitu Shamhat. Mereka bermain air di tepian rawa, bercanda, tertawa, berdua seperti sepasang kekasih yang lupa daratan. Dan InnanaâInnana yang selama ini ia katakan sebagai cinta sejatinya, Innana yang katanya akan ia bela sampai matiâInnana harus menanggung malu karena menyaksikan itu dengan matanya sendiri!"
Ia berhenti sejenak, menarik napas, menelan ludah yang terasa pahit.
"Apakah aku harus diam, ayah? Apakah aku harus menutup mata, membisu, dan membiarkan semua ini berlalu seolah tidak terjadi? Apakah aku harus tetap tersenyum dan berkata bahwa semuanya baik-baik saja, bahwa pengkhianatan itu tidak ada, bahwa sahabatku masih setia?"
Enlil Bazi diam. Ia menatap putranya dengan tatapan tajam yang mengirisâtatapan yang bisa menembus daging dan tulang, menembus rahasia yang paling tersembunyi sekalipun. Namun ia tidak bersuara. Ia membiarkan Namtar meledak, membiarkan api di dadanya menyala seterang mungkin, karena ia tahuâsemakin besar api itu, semakin mudah ia mengarahkannya ke musuh yang ingin ia hancurkan.
Namtar melanjutkan, kali ini lebih meledak dari sebelumnya. Tangannya yang terangkat ke udara bergetar hebat, seperti dahan pohon yang digoyang angin badai.
"Ayah, selama ini aku menahan diriku! Selama ini aku memilih diam! Selama ini aku memilih menunggu titahmu berubahâbukan karena aku ragu, tetapi karena aku ingin memberi kesempatan pada Ur Enki, karena aku ingin membuktikan bahwa persahabatan kami lebih kuat dari segala rintangan. Aku memilih percaya pada sahabatku. Aku meyakinkan Innana, aku menenangkan hatinya, aku menjaga persahabatan ini lebih tinggi daripada apa punâlebih tinggi dari tahta, lebih tinggi dari mahkota, lebih tinggi dari namaku sendiri sebagai putra mahkota Rawa Edin."
Matanya berkaca-kacaâbukan karena sedih, tetapi karena marah yang terlalu besar sehingga tubuhnya tidak mampu menahannya.
"Tetapi kini apa yang terjadi?! Pengkhianatan! Penghianatan, ayah! Ur Enki tidak hanya menusuk cintakuâcinta yang tidak pernah aku minta, cinta yang tidak pernah aku inginkan, cinta yang justru aku perjuangkan untuknyaâtetapi ia juga menusuk jantung persahabatanku! Ia menghancurkan semua yang kami bangun! Ia merobek semua kenangan yang kami ukir!"
Ia mengangkat tangannya lebih tinggi, telapak terbuka, seolah memohon pada langit, pada dewa-dewa, pada semua yang mau mendengar.
"Ayah! Jangan biarkan titahmu dicabut! Jangan biarkan kehormatan kitaâkehormatan keluarga Enlil Baziâdiinjak-injak oleh seorang tukang kayu hina, seorang pengkhianat tak tahu diri, seorang yang berani menodai kesucian cinta dan persahabatan! Biarkan ia menerima hukuman! Biarkan seluruh Rawa Edin tahu: siapa yang setia, siapa yang berkhianat! Biarkan nama Ur Enki menjadi kutukan yang disebutkan oleh ibu-ibu untuk menakuti anak-anak mereka yang nakal!"
Air mataâbukan air mata kesedihan, tetapi air mata kemarahan yang membakarâberkilat di mata Namtar, bercampur dengan bara di dadanya yang terus menyala.
"Dulu aku menyebutnya saudara. Dulu aku menyebutnya sahabat. Aku memeluknya di depan semua orang, aku mengakui dia sebagai saudara meskipun darahnya tidak pernah bercampur dengan darahku. Tetapi malam ini, di hadapanmu, di hadapan singgasana ini, di hadapan para dewa yang menyaksikanâaku bersumpah: Ur Enki bukan lagi saudaraku, bukan lagi sahabatku. Ia hanyalah duri yang tertancap di dagingku. Ia hanyalah noda yang mencoreng kehormatanku. Dan noda harus dihapus! Duri harus dicabut! Sekeras apa pun rasa sakitnya, secabik apa pun daging yang ikut terbuang!"
Ia mengepalkan tangan lagi, kali ini begitu erat hingga kuku-kukunya menembus kulit telapaknya, meninggalkan bekas merah berdarah.
Enlil Bazi menghela napas panjangâhelaan napas yang terasa seperti angin yang mendahului badai. Perlahan, dengan gerakan yang penuh wibawa, ia berdiri dari singgasananya. Sosoknya menjulang, lebih tinggi dari Namtar meskipun usianya sudah tidak muda lagi, karena di singgasana itu seorang raja selalu terlihat lebih besar dari manusia biasa. Wajahnya setenang malam tanpa bintangâtidak menunjukkan kebahagiaan, tidak menunjukkan kemenangan, tetapi juga tidak menunjukkan kemarahan. Hanya ketenangan yang dingin, seperti air danau yang dalam, yang permukaannya tidak beriak tetapi di dalamnya menyimpan pusaran yang bisa menenggelamkan siapa pun yang jatuh ke dalamnya.
Ia menepuk bahu Namtarâtepukan yang berat, penuh makna. Suaranya ketika berbicara tidak lagi tenang seperti sebelumnya, tetapi menjadi lebih dalam, lebih berat, lebih berwibawaâseperti suara bumi ketika sedang bergemuruh di perutnya.
"Putraku... aku mendengar semua yang kau katakan. Aku melihat api di matamuâapi yang sama yang dulu menyala di mataku ketika aku masih muda, ketika aku pertama kali mengetahui bahwa sahabatku sendiri mengkhianatiku. Aku tahu luka di dadamuâluka yang tidak bisa disembuhkan oleh ramuan apa pun, oleh doa apa pun, oleh kurban apa pun. Dan aku setuju denganmu."
Ia berhenti, menatap dalam-dalam ke mata putranya.
"Ur Enki telah melewati batas. Ia telah melangkahi garis yang tidak seharusnya ia langkahi. Rawa Edinâkota yang kita bangun dengan darah dan keringat, kota yang kita jaga dengan pedang dan tombak, kota yang para dewanya bersemayam di puncak ziguratâtidak akan dibiarkan ternoda oleh seorang pengkhianat seperti dia. Titahku tidak akan dicabut. Titahku akan tegak bagai gunung, tidak bisa digoyahkan oleh badai apa pun. Jika itu maumuâdan ternyata itu juga kehendak para dewaâmaka biarlah titah itu tetap tegak."
"Tetapi ayah..." Namtar hendak memotong, namun Enlil Bazi mengangkat tangannya, menyuruhnya diam.
"Aku tahu sedalam apa cinta Innana pada Ur Enki. Aku tahu sekuat apa ikatan hati merekaâatau setidaknya, apa yang mereka kira sebagai ikatan hati. Pengkhianatan Ur Enki pasti telah meremukkan jiwanya. Dan di situlah letak keadilan, Namtar. Di situlah para dewa menunjukkan bahwa mereka tidak buta. Innana akan terluka, tetapi dari luka itu ia akan belajar. Dari luka itu ia akan menjadi lebih kuat. Dari luka itu ia akan menyadari bahwa cinta sejati tidak mungkin diberikan kepada pengkhianat."
***
Ia menatap Namtar dengan sorot mata yang sulit diartikanâantara kebanggaan dan kesombongan, antara kasih sayang dan perhitungan dingin.
"Pada akhirnya kita tahu," ucap Enlil Bazi kemudian, suaranya merendah tetapi tetap menusuk, "apakah cinta Ur Enki benar-benar tulus, atau itu hanya sekadar permainan hati yang mudah bosan. Dan kita telah mendapatkan jawabannya, bukan? Ia bosan. Ia berpaling. Ia memilih budak istana daripada putri bangsawan yang paling elok di Rawa Edin."
Ia tersenyumâsenyum yang tidak sampai ke matanya.
"Kau ingat, Namtar, ketika kau mendatangiku beberapa waktu lalu, berlutut di hadapanku, memohon belas kasihan-ku? Kau memohon agar aku mengubah titahku, agar aku membatalkan perjodohanmu dengan Innana, agar kuserahkan dia pada Ur Enki. Kau berkata bahwa kau lebih memilih persahabatan daripada cinta, bahwa kau rela mengorbankan kebahagiaanmu sendiri demi kebahagiaan sahabatmu. Dan apa yang kukatakan padamu saat itu, wahai putraku?"
Namtar mengangguk pelan. Matanya menunduk, tidak berani menatap ayahnya.
"Kau ingat? Aku katakan bahwa aku akan mempertimbangkannya. Aku katakan bahwa aku ingin melihat apakah Ur Enki benar-benar layak menerima pengorbananmu. Dan lihatlah sekarangâia tidak layak, Namtar. Ia sama sekali tidak layak. Ia telah membuktikan bahwa ia hanyalah sampah yang tidak pantas menyentuh ujung jari Innana, apalagi hatinya."
Seringai senyumâsenyum yang lebih jelas, lebih lebar, lebih nyataâmeluncur di bibir Enlil Bazi. Bukan lagi senyum yang disembunyikan, tetapi senyum yang dipamerkan. Senyum kemenangan.
"Rupa-rupanya kedudukanmu yang tinggi sebagai putra Enlil Bazi tidak membuatmu sombong. Rupa-rupanya darah biru yang mengalir di tubuhmu tidak membuatmu lupa diri. Itu yang membuatku bangga, Namtar. Itu yang membuatku yakin bahwa kelak, ketika aku tiada, kau akan menjadi raja yang bijaksana dan adil. Bukan karena kau pandai menghukum, tetapi karena kau pandai mengasihiâbahkan kepada mereka yang tidak pantas menerima kasihmu."
Ia berhenti, matanya berubah serius.
"Namun satu hal lagi, Namtar. Sebelum kita melangkah lebih jauh, aku harus bertanyaâapakah kau tahu bahwa Ur Enki benar-benar sudah berpaling dari para dewa kita? Apakah kau tahu bahwa ia tidak lagi percaya pada Anu, pada Enlil, pada Enki, pada Inanna? Apakah kau tahu bahwa ia kini menyembah Ilu yang satu, Tuhan lelaki tua di atas bukit itu?"
Gigi Namtar bergemeretak. Bibirnya terbuka beberapa kali, seperti ikan yang kehabisan air, namun tiada suara yang terucap. Ia tidak bisa membantah. Ia tidak bisa membela. Karena ia tahuâsemua yang dikatakan ayahnya adalah benar.
"Iyaâmata-mataku telah menyaksikan semuanya, Namtar," lanjut Enlil Bazi, suaranya semakin berat, semakin dalam, seperti guntur yang mendekat. "Kutahu bahwa Ur Enki sering pergi ke bukit Dul Gir. Kutahu bahwa ia duduk berjam-jam bersama Ziusudra, lelaki gila yang mengaku nabi itu. Kutahu bahwa ia mendengarkan ajarannya tentang Tuhan yang satu, tentang kebohongan dewa-dewa kita, tentang kebatilan persembahan dan kurban. Kutahu semua itu, Namtar. Dan kini telah terang-benderang. Telah jelas, telah nyata."
Ia mengepalkan tangannya di atas meja batu di samping singgasana, hingga buku-buku jarinya memutih.
"Semua itu bukan desas-desus murahan yang dibawa angin. Bukan bisikan-bisikan kosong dari lidah pedagang pasar. Semua itu adalah kebenaran yang tak terelak, yang tidak bisa kau bantah, yang tidak bisa kau sangkal dengan alasan apa pun. Namtar, kalau ayahmu ini boleh jujur, sesungguhnya aku tak terlalu memedulikan hubungan Ur Enki dengan Lilitu. Itu bebas! Merdeka baginya. Itu urusan jiwanya dengan budak itu, biarlah ia berbuat dosa dan menanggung akibatnya sendiri."
Matanya berubah merahâmerah seperti bara yang disembunyikan di balik abu, seperti api yang tidur di dalam kawah gunung, menunggu saatnya untuk meletus.
"Tetapi menghina para dewa? Mencaci maki sesembahan kita yang telah melindungi Rawa Edin selama ribuan tahun? Berpaling dari altar-altar suci yang dibangun oleh leluhur kita dengan darah dan air mata? Itu, Namtarâitu tidak bisa dimaafkan. Tidak bisa dimaafkan oleh seorang raja, tidak bisa dimaafkan oleh seorang ayah, tidak bisa dimaafkan oleh manusia mana pun."
Suaranya meninggiâbukan karena amarah semata, tetapi karena wibawa seorang raja yang merasa tidak ada seorang pun, siapa pun dia, yang berhak menodai kehormatan para dewa.
"Tidak, Namtar. Itu tak bisa dimaafkan. Seorang manusia yang menyalakan api di hatinya untuk melawan para dewa adalah manusia yang sudah mencabut akar kehidupannya sendiri. Ur Enki telah menolak dupa yang harum. Ia telah menutup telinganya dari kidung-kidung suci yang dilantunkan oleh para imam di puncak zigurat. Ia telah berpaling dari terang matahari Utu yang menyinari ladang-ladang kita. Ia telah membelakangi cahaya bulan Sin yang menjadi penunjuk waktu bagi para petani. Ia telah tidak menghiraukan gemetar kilat Adad yang membawa hujan bagi tanaman-tanaman kita."
Ia mengambil napas panjang.
"Itu bukan sekadar aib, wahai anakku. Itu penghinaan. Penghinaan terhadap dewa-dewa yang telah menjadikan Rawa Edin sebagai kota paling makmur di antara dua sungai. Penghinaan terhadap leluhur yang telah membangun zigurat ini bata demi bata dengan keringat dan doa. Penghinaan terhadap aku, rajamu, yang telah diberi mandat oleh para dewa untuk menjaga kesucian tanah ini."
Matanya sekarang benar-benar menyalaâmenyala seperti matahari di tengah padang pasir, seperti api yang membakar hutan di musim kemarau.
"Dan penghinaan, Namtarâhanya bisa dibalas dengan satu hal. Bukan dengan kata-kata, bukan dengan nasihat, bukan dengan peringatan. Penghinaan hanya bisa dibalas dengan hukuman yang setimpal. Hukuman yang keras. Hukuman yang pedih. Hukuman yang akan dikenang oleh generasi-generasi setelah kita, sebagai pengingat bahwa tidak ada seorang punâbangsawan atau rakyat jelata, kaya atau miskin, kuat atau lemahâyang berhak menghina para dewa dan selamat dari murka-Nya."
Namtar terdiam. Nafasnya masih memburu, tidak kunjung reda. Namun kini, dada yang terbakar itu seakan disirami dengan minyak baruâminyak yang menyalakan api lebih besar, lebih panas, lebih menghanguskan dari sebelumnya. Ia memandang ayahnya, matanya bergetarâbukan oleh keraguan, tetapi oleh semangat yang mencari kepastian, yang mencari validasi, yang mencari izin untuk membenci lebih dalam lagi.
"Jadi... jadi apa yang harus kita lakukan, ayah?" bisiknya, suaranya lirih tetapi penuh bara. "Bagaimana kita harus menghukumnya?"
Enlil Bazi menatap lurus ke mata anaknyaâseolah hendak menyalurkan seluruh kekuatan gunung dan sungai, seluruh wibawa langit dan bumi, ke dalam jiwa Namtar yang sedang bergejolak.
"Ketahuilah, putraku," ujarnya, suaranya dalam bagai dasar samudra. "Seorang raja bisa menutup mata dari kebodohan rakyatnya. Seorang raja bisa menutup telinga dari fitnah yang dilontarkan oleh musuh-musuhnya. Seorang raja bisa bersabar menghadapi hinaan dari mereka yang tidak mengerti. Tetapi seorang rajaâtidak, tidak ada seorang punâboleh berdiam diri ketika para dewa dihina. Karena bila dewa-dewa direndahkan, maka takhta ini pun akan runtuh. Bila takhta ini runtuh, maka hukum akan lenyap. Bila hukum lenyap, maka Rawa Edin akan karam. Dan bila Rawa Edin karam, maka nama kitaânama Enlil Bazi, nama Namtar Sin, nama seluruh leluhur kitaâakan terhapus dari muka bumi."
Ia mengangkat tongkat kerajaannya tinggi-tinggi, seolah sedang bersumpah di hadapan langit, di hadapan bumi, di hadapan seluruh dewa yang bersemayam di puncak zigurat.
"Dengarlah kata-kata Enlil Bazi, raja Rawa Edin, penguasa tanah antara dua sungai, yang kekuasaannya meliputi timur dan barat, utara dan selatan: Ur Enki, putra Lugal Enki, tidak hanya mengkhianatimu, Namtar. Ia tidak hanya mengkhianati Innana Eti, putri Sulgi Ram. Ia tidak hanya meludahi persahabatan yang telah kau jaga dengan tulus. Ia telah mencabik-cabik selendang para dewaâselendang yang melindungi kota ini dari malapetaka, selendang yang menutupi kita dari murka langit."
Tongkatnya dihantamkan ke lantai batu, menciptakan suara yang menggema ke seluruh ruangan, membuat obor-obor bergoyang lebih keras.
"Maka, hukumannya akan jadi teladan. Teladan bagi seluruh Rawa Edin, bagi seluruh negeri di seberang sungai, bagi seluruh generasi yang akan datang setelah kita. Biar mereka tahu: siapa pun yang menghina dewa, akan binasa. Sekeras hinaannya, sepedih kata-katanya, sebesar kesombongannyaâbegitulah keras, begitu pedih, begitu besarnya balasan yang akan ia terima."
Namtar menggertakkan gigi. Tubuhnya bergetarâbukan karena ketakutan, bukan karena keraguan, tetapi karena bara di dadanya kini telah menyatu dengan bara yang menyala di tubuh sang raja. Dua api menjadi satu. Dua amarah menjadi satu. Dua kebencian menjadi satu.
Ia menunduk, lalu berbisik lirih, suararnya nyaris tak terdengar di antara gemuruh api obor dan debar jantungnya sendiri:
"Ayah... lakukanlah. Jangan beri ampun. Jangan beri belas kasihan. Jangan biarkan ia lolos. Biarkan ia tahuâbiarkan seluruh kota tahuâbahwa dewa-dewa tidak akan membiarkan diri mereka dihina. Bahwa raja tidak akan membiarkan takhtanya dinodai. Bahwa Namtar Sin tidak akan membiarkan sahabatnya mengkhianatinya dan hidup bahagia selamanya."
Ia mengangkat wajahnya, matanya kini keringâkering oleh tekad yang telah membakar habis semua air mata.
"Biarkan ia menjerit. Biarkan ia merasakan apa yang aku rasakan. Biarkan ia tahu bahwa rasa sakit karena dikhianati tidak bisa dibandingkan dengan rasa sakit fisik apa pun. Dan biarkan ia matiâmati sebagai pengkhianat, mati sebagai penghina dewa, mati sebagai noda yang harus dihapus dari muka bumi Rawa Edin."
Senyum dinginâsenyum yang membuat bulu kuduk para penjaga yang berdiri di pintu berdiriâmelintas di wajah Enlil Bazi. Ia mengangguk pelan, mantap, tanpa keraguan sedikit pun. Dan ketika ia berbicara, suaranya menggema ke seluruh ruangan, memantul dari dinding ke dinding, seolah seluruh istana sedang mendengarkan dan mencatat setiap katanya dalam lembaran sejarah.
"Tenanglah, anakku. Senyapkanlah hatimu yang luka, yang remuk, yang tercabik-cabik oleh pengkhianatan. Sebab malam ini juga, senyum kemenangan akan menjadi milik kita. Malam ini juga, kita akan mulai menyusun rencana. Malam ini juga, Ur Enki akan mulai merasakan bahwa seorang yang berani menghina para dewa, pada akhirnya hanya akan menjerit di bawah telapak kaki rajaâdi bawah telapak kakimu, Namtar, karena kelak kau yang akan menjadi raja, dan kau yang akan memastikan bahwa tidak ada lagi pengkhianat yang berani muncul di tanah ini."
***
Obor-obor di sepanjang lorong seakan bergoyang oleh hembusan takdir yang baru saja diucapkan. Api mereka menari-nari, menciptakan bayangan-bayangan panjang di dinding batuâbayangan singa bersayap, bayangan naga sirrush, bayangan dewa-dewa yang diam-diam tersenyum menyetujui apa yang telah diputuskan di ruang singgasana malam itu.
Dan malam itu, di atas singgasana naga sirrush, di bawah cahaya obor yang bergetar, lahirlah sebuah keputusan. Keputusan yang akan menjadi darah. Keputusan yang akan menjadi air mata. Keputusan yang akan mengguncang seluruh Rawa Edin, yang akan mengubah nasib beberapa orang selamanya, dan yang akan menjadi titik balik dalam kisah cinta, persahabatan, dan pengkhianatan yang sedang bergulir.
Enlil Bazi duduk kembali di singgasananya. Ia memandang Namtar dengan sorot mata yang tidak bisa diartikanâantara kebanggaan dan peringatan, antara kasih sayang dan perhitungan.
"Pergilah sekarang, putraku. Istirahatlah. Karena besok, kita akan memulai babak baru. Besok, Ur Enki akan tahu bahwa tidak ada ampun bagi penghina dewa. Besok, Rawa Edin akan menyaksikan bagaimana seorang raja menegakkan kehormatan para dewanya."
Namtar menunduk, membungkuk hormat, lalu berbalik. Langkahnya yang tadinya begitu terburu-buru ketika masuk, kini menjadi lambatâlambat seperti orang yang baru saja melepaskan beban berat dari pundaknya, tetapi di saat yang sama menyadari bahwa beban yang lebih berat akan segera datang.
Ia melangkah keluar dari ruang singgasana, meninggalkan ayahnya yang duduk tegak di atas singgasana batu hitam, dengan senyum kemenangan yang mulai mengembang di wajahnyaâsenyum yang tidak lagi disembunyikan, senyum yang dipamerkan kepada obor, kepada dinding, kepada patung-patung dewa yang diam-diam tersenyum kembali.
Di lorong, Namtar berhenti sejenak. Ia menutup matanya, merasakan detak jantungnya yang mulai tenang. Tapi di dalam ketenangan itu, ada sesuatu yang mengganjal. Sesuatu yang tidak bisa ia identifikasi. Sesuatu yang seperti bisikan kecil dari sudut hatinya yang paling gelap.
"Apakah ini benar? Apakah ini yang kau inginkan?"
Ia menggeleng, mengusir bisikan itu.
"Ur Enki telah mengkhianatiku. Ia pantas menerima hukumannya."
Tapi bisikan itu tidak pergi. Ia hanya terdiam, bersembunyi di balik amarah, menunggu saat yang tepat untuk muncul kembali.
Namtar membuka matanya. Ia melangkah lagi, meninggalkan lorong panjang istana, menuju kamarnya yang sunyi. Di belakangnya, obor-obor terus menyala, menari-nari ditiup angin malam, seolah sedang merayakan kemenangan yang belum genap terjadi.
Dan di dalam ruang singgasana, Enlil Bazi tersenyum sendirian.
Senyum kemenangan.
***