Fibozona
📖 BACA BAB

Baca Bab

Nikmati setiap bab dari karya penulis berbakat

🎉 GRATIS - Tanpa Koin

Penjara Bawah Tanah

📅 01 July 2026 📚 Ketika Kota Mengutuk Cinta Kita ⏱️ 12 menit baca 📑 Bab 31

Suara itu datang dari balik dinding.

Bukan suara Ilu—bukan suara yang ia harapkan—melainkan suara tangis. Tangis yang tertahan, teredam, seperti orang yang menangis di dalam sumur, atau di dalam gua yang sangat dalam. Tangis yang tidak ingin didengar siapa pun, tetapi tidak bisa sepenuhnya ditahan.

Ur Enki memejamkan mata, berusaha mengidentifikasi dari mana suara itu berasal. Bukan dari lorong di depannya—lorong itu sunyi, hanya sesekali terdengar langkah penjaga yang berpatroli. Bukan dari langit-langit di atasnya—yang ada hanya batu dan tanah. Suara itu datang dari... dari balik dinding sampingnya.

Dinding yang memisahkan selnya dengan sel lain.

Ur Enki membuka matanya. Perlahan, ia merangkak ke sudut sel, menempelkan telinganya ke dinding batu yang dingin. Dan di sana, di balik ketebalan batu bata yang dilapisi lumpur dan bitumen, ia mendengar suara yang dikenalnya.

Lilitu.

Perempuan itu menangis. Bukan isak tangis biasa, melainkan tangis orang yang telah kehilangan segalanya—keluarga, kebebasan, kehormatan, dan kini bahkan harapan. Tangis yang tidak lagi memiliki tujuan, yang tidak lagi mencari penghiburan, yang tidak lagi memohon belas kasihan. Tangis yang murni lahir dari keputusasaan yang paling dalam.

Ur Enki tidak bisa menahan hatinya untuk tidak berbicara. Ia menempelkan bibirnya ke celah-celah kecil di antara batu bata, lalu berbisik dengan suara serak namun lembut:

"Lilitu... apakah kau di sana?"

Suara tangis di balik dinding itu terhenti seketika. Sejenak, hanya keheningan yang mengisi ruang di antara mereka. Lalu, suara Lilitu terdengar—parau, terputus-putus, seperti orang yang baru saja bangun dari mimpi buruk yang panjang:

"Ur... Ur Enki? Apakah itu benar-benar kau? Ataukah kegelapan ini mulai mengirimkan suara-suara palsu ke telingaku?"

"Ini aku, Lilitu," jawab Ur Enki, suaranya lirih namun jelas. "Mereka menangkapku di depan gerbang rumah Sulgi Ram. Mereka memukuliku, mengikatku, lalu membuangku ke sini. Dan sekarang... sekarang aku di sini, di sebelahmu. Seperti dua burung yang terjebak dalam sangkar yang berbeda, tetapi dipisahkan oleh dinding yang tipis."

Lilitu terdiam beberapa saat. Kemudian suaranya terdengar lagi, kali ini lebih dekat—ia pasti juga menempelkan bibirnya ke dinding yang sama.

"Aku mendengar teriakanmu dari jauh, Ur Enki. Ketika kau berteriak di depan gerbang itu. Aku mendengar namamu disebut oleh para prajurit yang lewat di lorong ini. Aku... aku menangis, Ur Enki. Bukan karena aku takut untuk diriku sendiri, tetapi karena aku tahu kau akan menanggung semua ini karena aku. Karena kebodohanku. Karena kelemahanku. Karena aku tidak berani melawan Nasaru Balet-ili sejak awal."

Ur Enki menghela napas. Dadanya terasa sesak, bukan oleh udara yang tipis, tetapi oleh beban kesedihan yang ia rasakan dari suara perempuan di balik dinding itu.

"Lilitu, dengarkan aku. Tidak ada satu pun yang terjadi di sini adalah kesalahanmu. Kau adalah korban, sama sepertiku. Korban dari nafsu yang dibungkus jubah kesucian. Korban dari kekuasaan yang lebih besar dari diri kita. Korban dari sistem yang membiarkan seorang imam memperkosa budak perempuannya atas nama dewa."

"Tapi jika aku tidak pernah menurut, jika aku berteriak, jika aku melawan sejak pertama kali ia menyentuhku..." suara Lilitu terputus oleh isaknya yang tertahan. "...mungkin semua ini tidak akan terjadi. Mungkin kau tidak akan ada di sini, di penjara ini, menunggu kematian bersama seorang budak hina sepertiku."

Ur Enki menunduk. Ia meremas tanah di bawahnya, merasakan butiran-butiran lumpur yang basah dan dingin di sela-sela jarinya.

"Lilitu, tidak ada gunanya menyalahkan masa lalu. Masa lalu adalah bayangan yang sudah jatuh di tanah, tidak bisa lagi kau kejar, tidak bisa lagi kau ubah. Yang bisa kau ubah hanyalah saat ini. Dan saat ini... saat ini kau di sini, aku di sini, dan kita masih hidup. Selama kita masih hidup, selama jantung ini masih berdetak, selama Ilu masih memberiku napas, aku tidak akan menyerah. Dan aku tidak akan membiarkan kau menyerah."

"Tapi apa gunanya?" Lilitu bertanya, suaranya getir. "Mereka akan menghukum kita, Ur Enki. Aku sudah melihat hukuman untuk orang-orang seperti kita. Aku sudah melihat bagaimana para imam dan raja memperlakukan mereka yang dianggap menodai kesucian. Aku... aku tidak takut mati, Ur Enki. Yang aku takutkan adalah... adalah..."

"Takut akan apa, Lilitu?"

"Aku takut Ilu tidak akan menerimaku. Aku takut Tuhan yang kau sembah itu—Tuhan yang satu, Tuhan yang tidak butuh persembahan dan tidak butuh dupa—akan memalingkan wajah-Nya ketika aku datang. Karena aku ini... aku ini kotor, Ur Enki. Aku berlumur dosa. Aku tidak pantas berada di surga-Nya."

Ur Enki memejamkan mata sejenak. Di dalam kegelapan sel, ia merasakan sesuatu yang aneh—sesuatu yang mirip dengan cahaya. Bukan cahaya yang bisa dilihat oleh mata, melainkan cahaya yang dirasakan oleh hati. Cahaya keyakinan bahwa Tuhan yang ia imani adalah Tuhan yang Maha Pengampun, Maha Penyayang, Maha Menerima taubat hamba-Nya yang tulus.

"Lilitu, dengarkan aku baik-baik," ucapnya kemudian, suaranya mantap meski tubuhnya lemah. "Tuhan yang aku sembah tidak melihat apakah kau kaya atau miskin, merdeka atau budak, suci atau berlumur dosa di mata manusia. Tuhan yang aku sembah melihat hatimu. Dia melihat apakah di dalam hatimu ada penyesalan yang tulus. Dia melihat apakah kau berusaha untuk berubah, meskipun kau gagal berkali-kali. Dia melihat apakah kau mencintai kebenaran, meskipun seluruh dunia memaksamu untuk mencintai kebohongan."

Ia berhenti, menelan ludah yang terasa pahit.

"Dan aku melihat di matamu, Lilitu, ketika kau datang ke gubukku untuk terakhir kalinya sebelum semua ini terjadi. Aku melihat penyesalan yang tulus. Aku melihat seorang perempuan yang ingin bebas dari dosanya. Aku melihat seorang perempuan yang ingin memulai hidup baru. Itu sudah cukup, Lilitu. Itu sudah cukup bagi Ilu untuk menerimamu. Sebab Dia tidak pernah menutup pintu ampunan-Nya bagi siapa pun, selama pintu itu masih bisa dibuka oleh hati yang merendah."

Lilitu menangis. Kali ini tangisnya tidak lagi tertahan. Ia menangis keras, histeris, seperti orang yang selama bertahun-tahun menahan air mata di balik topeng kepatuhan dan kesalehan palsu. Tangis itu menggema di lorong sempit penjara, memantul dari dinding ke dinding, terdengar oleh para penjaga yang hanya menggelengkan kepala—mereka sudah terbiasa dengan tangisan para tahanan.

Ur Enki membiarkannya menangis. Ia tidak menyuruhnya berhenti. Ia tidak menghiburnya dengan kata-kata manis. Karena ia tahu, Lilitu butuh menangis. Ia butuh mengeluarkan semua yang selama ini ia pendam: ketakutan, keputusasaan, kemarahan, dan penyesalan. Dan di dalam kegelapan penjara ini, dengan dinding tipis yang memisahkan mereka, tidak ada yang bisa menyaksikan air matanya kecuali Tuhan yang Maha Melihat.

Setelah tangis Lilitu mulai mereda, berubah menjadi isak yang terputus-putus, Ur Enki kembali bersuara.

"Lilitu, aku ingin kau tahu sesuatu."

"Apa itu?" suara Lilitu lirih, hidungnya tersumbat oleh tangis.

"Setiap malam, ketika kau masih sering datang ke gubukku dengan dalih memesan perahu, aku melihat sesuatu di matamu. Bukan kecantikan yang membuat para bangsawan tergila-gila—bukan itu. Aku melihat kesedihan. Kesedihan yang sangat dalam, seperti air di danau Nammu yang tidak pernah kering meskipun matahari terus membakarnya. Aku bertanya-tanya, dari mana kesedihan itu berasal? Mengapa seorang perempuan yang begitu cantik, yang dipuja-puja oleh banyak lelaki, yang melayani para dewa di zigurat paling suci, menyimpan kesedihan di matanya?"

Lilitu diam, mendengarkan.

"Sekarang aku tahu. Kesedihan itu adalah jeritan jiwamu yang tidak bisa kau ucapkan dengan kata-kata. Kesedihan itu adalah amarahmu yang terpendam karena kau tidak bisa melawan. Kesedihan itu adalah... adalah beban yang kau pikul sendirian, tanpa seorang pun tahu."

Suara Ur Enki bergetar.

"Dan aku menyesal, Lilitu. Aku menyesal karena aku tidak bertanya lebih awal. Aku menyesal karena aku hanya berbicara tentang Tuhanku tanpa benar-benar mendengarkan jeritan hatimu. Jika saja aku bertanya... jika saja aku membuka pintu hatiku lebih lebar... mungkin semua ini bisa dihindari. Mungkin kau tidak akan sendirian menanggung beban sebesar itu."

"Tidak, Ur Enki," Lilitu memotong, suaranya lirih namun tegas. "Kau jangan menyesal. Justru karena kau, justru karena kata-katamu tentang Tuhan yang satu, aku akhirnya menyadari bahwa aku tidak harus terus hidup dalam dosa. Aku akhirnya menyadari bahwa aku bisa memilih. Aku akhirnya menyadari bahwa aku masih punya harga diri, meskipun tubuhku sudah direnggut."

Ia berhenti, menarik napas panjang.

"Dan untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku merasa... bersih. Bukan secara fisik—aku tahu tubuhku masih kotor, masih penuh dosa—tetapi jiwaku... jiwaku terasa ringan. Seperti ada beban yang terangkat. Seperti ada cahaya yang masuk ke ruang paling gelap di dalam hatiku."

Ur Enki tersenyum di dalam gelap. Air matanya jatuh, menitik ke tanah di bawahnya.

"Itulah yang disebut taubat, Lilitu. Taubat adalah ketika kau menyadari kesalahanmu, menyesalinya, dan berusaha untuk tidak mengulanginya. Tidak ada dosa yang terlalu besar bagi Ilu Yang Mahasatu, selama kau kembali kepada-Nya dengan hati yang tulus."

Mereka berdua terdiam. Keheningan itu tidak lagi terasa berat. Keheningan itu seperti selimut yang menghangatkan mereka di tengah dinginnya penjara bawah tanah.

"Ur Enki," Lilitu akhirnya bersuara lagi, suaranya lirih namun penuh kelembutan. "Apa kau takut mati?"

Ur Enki merenung sejenak. Di dalam kegelapan, ia memandang tangannya sendiri—tangan yang dulu memegang kapak, tangan yang pernah menggenggam jemari Innana, tangan yang kini kotor oleh lumpur dan darah.

"Aku tidak takut mati, Lilitu. Yang aku takutkan adalah... adalah mati tanpa sempat melihat Innana tersenyum padaku sekali lagi. Mati tanpa sempat mengatakan kepadanya bahwa aku tidak pernah mengkhianatinya. Mati tanpa sempat memeluknya, merasakan hangat tubuhnya, mendengar detak jantungnya."

Suaranya pecah.

"Tapi jika Ilu menghendaki aku mati di sini, di penjara ini, tanpa pernah bertemu Innana lagi... maka aku akan menerimanya. Karena aku percaya, kematian bukanlah akhir segalanya. Kematian hanyalah pintu menuju kehidupan yang lain. Dan di sana, di kehidupan yang lain itu, aku akan bertemu dengan-Nya. Aku akan bertemu dengan Tuhan yang selama ini aku sembah dalam gelap, tanpa kuil, tanpa dupa, tanpa persembahan."

Lilitu terdiam beberapa saat. Lalu ia berkata, suaranya nyaris berbisik:

"Aku tidak tahu apakah aku sekuat itu, Ur Enki. Aku masih takut. Aku takut pada rasa sakit. Aku takut pada api—mereka bilang, di neraka Sumerian, orang-orang berdosa akan dibakar. Aku takut pada... pada ketidakpastian. Tidak tahu apa yang akan terjadi setelah mati."

"Lilitu," kata Ur Enki, suaranya lembut bagai air yang mengalir di atas bebatuan, "Tuhan yang aku sembah tidak menciptakan neraka untuk membakar hamba-Nya. Dia menciptakan neraka untuk membersihkan mereka. Seperti api yang memurnikan emas, seperti air yang membasuh lumpur. Dan bagi mereka yang bertobat dengan tulus, api itu tidak akan terasa panas. Api itu akan terasa seperti... seperti pelukan. Pelukan yang menghangatkan, yang melelehkan semua dosa, yang menyisakan hanya jiwa yang suci."

"Apakah itu benar, Ur Enki? Apakah Tuhanmu benar-benar sebaik itu?"

"Tuhanku adalah Tuhan yang sama dengan Tuhan Adam, Tuhan Nuh, Tuhan Ibrahim. Tuhan yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu bersemayam di atas singgasana-Nya. Tuhan yang tidak tidur dan tidak lalai. Tuhan yang mendengar doa hamba-Nya yang paling hina sekalipun. Dan Dia... Dia mencintai hamba-Nya yang bertobat lebih daripada seorang ibu mencintai anaknya yang baru belajar berjalan."

Lilitu menangis lagi, tetapi kali ini tangisnya berbeda. Tangis haru. Tangis seorang anak yang akhirnya menemukan pangkuan ibunya setelah tersesat di padang pasir yang luas.

"Ur Enki... bolehkah aku berdoa kepada Tuhanmu? Bolehkah aku, seorang budak yang kotor dan penuh dosa, memohon ampunan kepada-Nya?"

Ur Enki tersenyum. Matanya berkaca-kaca.

"Dia tidak pernah melarang siapa pun untuk berdoa, Lilitu. Doa adalah hak setiap hamba, merdeka atau budak, kaya atau miskin, suci atau berdosa. Doa adalah jembatan antara jiwa yang lemah dengan Tuhan Yang Mahakuat. Dan Dia... Dia selalu mendengar. Bahkan ketika kau berbisik di dalam gelap, bahkan ketika kau hanya menangis tanpa kata-kata, Dia mendengar."

Lilitu terdiam sejenak. Lalu, dari balik dinding, Ur Enki mendengar bisikannya—lirih, nyaris tak terdengar, tetapi jelas:

"Ya Ilu-nya Ur Enki... aku tidak tahu nama-Mu yang sebenarnya. Aku hanya tahu bahwa Engkau Mahasatu, bahwa Engkau tidak butuh persembahan, bahwa Engkau melihat hatiku. Ampunilah aku. Ampunilah segala dosaku. Bersihkanlah jiwaku yang kotor ini. Dan jika Engkau berkenan... terimalah aku di sisi-Mu, di tempat yang tidak ada lagi air mata, tidak ada lagi tangis, tidak ada lagi rasa takut..."

Ur Enki menutup matanya. Air matanya jatuh, membasahi pipinya yang penuh luka. Dan di dalam hatinya, ia berbisik:

"Ya Ilu, dengarkanlah doa hamba-Mu ini. Ampunilah dia. Terimalah taubatnya. Dan jika kematian memang takdir kami... matikanlah kami dalam keadaan beriman kepada-Mu, berserah diri kepada-Mu, dan mencintai-Mu lebih dari apa pun di dunia ini."

Di kejauhan, langkah penjaga terdengar semakin mendekat. Suara derap kaki besi di lorong batu, diselingi oleh gumaman doa-doa pagan yang tidak pernah didengar oleh langit.

Ur Enki membuka matanya. Ia menatap garis cahaya tembaga yang masih setia menembus celah pintu selnya.

"Lilitu," bisiknya, "apapun yang terjadi nanti, ingatlah: kita tidak sendirian. Ilu bersama kita. Bahkan di ruang paling gelap sekalipun, Dia ada di sini."

Dari balik dinding, ia mendengar Lilitu menghela napas panjang—napas yang terasa seperti pelepasan beban yang selama bertahun-tahun ia pikul.

"Terima kasih, Ur Enki. Terima kasih telah membuka mataku. Terima kasih telah menuntunku kepada cahaya di tengah kegelapan ini."

Dan di dalam sel-sel yang bersebelahan, dua jiwa yang sama-sama terluka, sama-sama difitnah, sama-sama dihina oleh dunia, berdoa dalam hening. Mereka tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Mereka tidak tahu apakah mereka akan diadili, dihukum, atau dibunuh. Mereka hanya tahu bahwa saat ini, di dalam kegelapan ini, mereka memiliki satu sama lain—dan memiliki Tuhan yang sama.

Di lorong penjara, langkah penjaga semakin jauh. Kegelapan semakin pekat. Garis cahaya tembaga dari celah pintu perlahan memudar, ditelan malam yang turun sepenuhnya.

Namun di dalam hati Ur Enki, ada cahaya yang tidak pernah padam.

Dan di dalam hati Lilitu, ada harapan yang tidak pernah mati.

Di kejauhan, di atas bukit Dul Gir, seorang lelaki tua menatap langit yang mulai dipenuhi awan hitam. Tangannya yang keriput menyentuh papan-papan bahtera yang telah ia paku satu per satu selama bertahun-tahun. Di belakangnya, binatang-binatang berpasangan mulai berkumpul, seolah mengetahui sesuatu yang belum diketahui oleh manusia di kota.

Lelaki tua itu menghela napas.

"Badai akan segera datang," bisiknya pada angin malam. "Dan hanya mereka yang percaya yang akan selamat."

Ia memandang ke arah kota Rawa Edin yang mulai tenggelam dalam kegelapan. Di sana, di penjara bawah tanah zigurat, dua jiwa sedang berdoa. Dua jiwa yang tidak akan ia tinggalkan.

"Bersabarlah, anak-anakku. Aku akan menjemputmu."

Dan angin malam membawa bisikan itu, melintasi rawa-rawa, melintasi kanal-kanal, melintasi atap-atap rumah bata, hingga akhirnya masuk melalui celah-celah kecil dinding penjara bawah tanah.

Ur Enki membuka matanya.

Ia tersenyum.

Ia tahu, ia tidak sendirian.

***

← Kembali ke Daftar Bab