Fibozona
📖 BACA BAB

Baca Bab

Nikmati setiap bab dari karya penulis berbakat

🎉 GRATIS - Tanpa Koin

Teriakan di Depan Gerbang

📅 01 July 2026 📚 Ketika Kota Mengutuk Cinta Kita ⏱️ 18 menit baca 📑 Bab 30

Langit Rawa Edin sore itu muram, seolah menampung segala desas-desus yang menghitamkan udara kota. Awan kelabu bergulung rendah, menutupi matahari yang hendak pulang ke peraduannya, menyisakan cahaya tembaga yang pucat dan dingin. Angin bertiup tidak keruan—kadang dari timur, kadang dari barat—seperti alam sendiri sedang kebingungan menyaksikan apa yang akan terjadi di bawahnya.

Matahari yang condong ke barat tertutup awan kelabu, sementara suara-suara benci berdesakan di lorong pasar, di pelataran rumah-rumah bata, di sudut-sudut jalan berdebu. Nama Ur Enki disebut dengan nada jijik, dicemooh, dipatahkan seperti tulang yang dirempuk di lesung batu. Setiap kali namanya keluar dari bibir seseorang, ia segera diikuti oleh ludah yang dimuntahkan ke tanah, seolah menyebutnya saja sudah mengotori mulut.

Selebaran-selebaran masih dipaku di setiap tiang gerbang, di setiap dinding pasar, bahkan di pilar-pilar kuil. Tulisan paku yang tergores tegas dengan tinta hitam itu berbunyi:

"Ur Enki, anak pengkhianat, telah menodai budak istana Lilitu Shamhat dan menghamilinya. Ia adalah penghina para dewa, perusak kesucian cinta, pengkhianat persahabatan. Barangsiapa yang melindunginya, akan ditimpa murka yang sama."

Di bawah tulisan itu, tertera cap segel kerajaan—lambang naga sirrush yang menjadi simbol kekuasaan Enlil Bazi. Cap itu adalah stempel kematian, cap yang mengubah nama Ur Enki dari seorang pemuda biasa menjadi buruan seluruh kota.

Orang-orang berkerumun di depan setiap selebaran, membaca, menggelengkan kepala, meludah, lalu berbisik-bisik dengan nada yang sama: jijik, muak, dan puas karena ada sesuatu yang bisa mereka hakimi.

"Sudah kuduga sejak dulu," ujar seorang pedagang kurma kepada pelanggannya, matanya menyipit penuh kemenangan. "Anak itu aneh. Tidak pernah ikut persembahan, tidak pernah sujud di altar. Pastilah ia menyembah setan atau roh jahat yang mengajarinya berbuat cabul."

"Benar," sahut yang lain, seorang perempuan tua dengan wajah keriput penuh kebencian. "Aku sering melihatnya duduk sendirian di tepi rawa, menatap langit seolah berbicara dengan sesuatu yang tidak bisa dilihat orang lain. Itulah tanda orang yang kerasukan. Dan lihatlah buahnya! Ia menghamili budak istana, menghancurkan hati putri bangsawan yang paling suci!"

Di sudut lain, seorang lelaki muda dengan pakaian lusuh—seorang kuli pelabuhan—hanya diam mendengar. Ia tidak ikut meludah, tidak ikut mengutuk. Ia hanya menunduk, lalu berbisik pada temannya yang berdiri di sampingnya, "Aku dulu pernah memesan perahu darinya. Tangan halusnya membuat kayu menjadi hidup. Ia tidak pernah berkata kasar, tidak pernah menipu. Aku tidak percaya ia sejahat itu."

Namun bisikan itu segera ditepis oleh yang lain. "Kau terlalu naif! Semua orang sudah tahu. Putra mahkota sendiri yang memergokinya. Apa kau mau bilang putra mahkota berdusta?"

Lelaki itu terdiam. Tidak ada gunanya melawan arus.

***

Namun Ur Enki tidak peduli. Atau setidaknya, ia berusaha untuk tidak peduli.

Ia tetap melangkah. Dadanya terbuka menantang angin, matanya tajam, langkahnya berat—berat seperti orang yang memikul beban yang tidak bisa dilihat mata, tetapi bisa dirasakan oleh setiap tulang dan urat di tubuhnya. Setiap tatapan yang menuding bagai tombak ia terima, namun tak satu pun menggetarkan tekadnya. Setiap kata yang meluncur dari bibir orang-orang yang lewat bagai sembilu, tetapi ia biarkan sembilu itu menancap, karena ia sudah terlalu banyak luka untuk merasakan lagi rasa sakit yang baru.

Di dadanya masih ada satu nama yang belum padam, satu nama yang terus menyala seperti obor di tengah badai: Innana.

Ya, Innana.

Nama itu adalah doa terakhirnya. Nama itu adalah alasan mengapa ia masih berdiri, mengapa ia masih melangkah, mengapa ia masih bernapas meskipun setiap helaan udara terasa seperti menelan api. Ia tahu seluruh kota kini memusuhinya. Ia tahu Namtar Sin, sahabat yang dulu ia percaya seperti saudara, kini memandangnya dengan mata penuh kebencian. Ia tahu para imam telah mengutuknya, para bangsawan telah menghinanya, rakyat jelata telah meludahi namanya.

Tapi ia belum tahu apakah Innana juga ikut membencinya. Dan selama ia belum mendengar langsung dari bibir Innana, selama ia belum melihat dengan matanya sendiri bahwa Innana telah berpaling sepenuhnya, ia tidak akan berhenti. Ia akan terus melangkah, terus berjuang, terus berteriak—sampai suaranya habis, sampai napasnya putus, sampai tubuhnya jatuh.

Innana harus tahu.

Itulah yang terus berbisik di kepalanya.

“Innana harus tahu bahwa aku tidak mengkhianatinya. Innana harus tahu bahwa Lilitu hanyalah siasat. Innana harus tahu bahwa cintaku padanya tidak pernah berubah, tidak pernah pudar, tidak pernah ternodai oleh apa pun—bahkan oleh fitnah yang dirancang oleh raja dan imam sekalipun. Bahkan bila Innana sudah benar-benar jatuh dalam pelukan Namtar!”

Maka ia melangkah. Menembus kerumunan yang meludah, menembus bisikan yang menusuk, menembus tatapan yang menghakimi. Ia melangkah menuju kediaman Innana—rumah bangsawan Sulgi Ram yang berdiri megah di ujung jalan berkerikil putih, dengan gerbang kayu cedar berlapis besi hitam yang menjulang tinggi, seolah ingin berkata bahwa di baliknya, ada dunia yang tidak boleh dimasuki oleh orang seperti dirinya.

Ketika ia tiba di depan gerbang itu, langit semakin gelap. Awan kelabu bergulung lebih rendah, angin bertiup lebih kencang, dan udara terasa lebih dingin

Di balik gerbang itu, ada taman dengan kolam teratai. Di balik gerbang itu, ada ruang utama dengan lantai batu hitam mengkilap. Di balik gerbang itu, di suatu sudut yang terlindung pohon dan bunga-bunga, ia pernah menemui Innana. ia pernah menggenggam tangannya.

Ur Enki menarik napas dalam-dalam. Dadanya bergemuruh. Lalu, dengan suara yang memecah senja, ia berteriak:

"Innana! Wahai bintang Rawa Edin! Dengarkan aku!"

Suaranya menggema di jalanan sepi, memantul dari dinding-dinding bata, menghilang di sela-sela atap rumah. Ia tidak peduli dengan sekitarnya. Ia tidak peduli dengan tatapan orang-orang yang mulai berkerumun di belakangnya. Ia bahkan tidak peduli dengan kehormatan Sulgi Ram dan istrinya yang mungkin akan terusik oleh teriakannya. Yang ia pedulikan hanyalah satu: Innana harus mendengar. Innana harus tahu.

Riuh segera membuncah di belakangnya. Orang-orang yang tadinya hanya berbisik-bisik di kejauhan, kini berdesakan mendekat. Wajah mereka penuh rasa ingin tahu yang haus akan tontonan, bercampur dengan kebencian yang sudah dipupuk oleh selebaran dan desas-desus. Tatapan mereka getir, bibir mereka meludah kata-kata tajam.

"Dia gila! Dia benar-benar gila!"

"Suruh dia pergi! Ini bukan tempatnya!"

"Bawa dia ke hadapan raja!"

Ur Enki tidak menghiraukan mereka. Ia kembali berteriak, kali ini lebih keras, lebih lantang, suaranya pecah oleh emosi yang terlalu lama terpendam:

"Innana! Aku bukan pengkhianat! Aku tidak mengkhianatimu! Lilitu hanyalah siasat istana! Kandungannya bukan dariku! Itu bukan darahku!"

Teriakan itu mengguncang udara. Beberapa orang yang tadinya hanya mendengar, kini ikut bersuara—bukan untuk membela, tetapi untuk menyerang.

"Lancang mulutnya!"

"Berani sekali ia menyebut nama putri bangsawan!"

"Lempari dia! Biar darahnya membasahi tanah ini!"

Sebuah batu kecil meluncur dari kerumunan, mengenai bahu Ur Enki. Ia tidak bergerak. Batu lain menyusul, mengenai punggungnya. Ia tetap berdiri tegak. Beberapa kerikil, potongan kayu, bahkan sisa roti busuk mulai beterbangan ke arahnya. Namun ia tidak menghiraukan. Matanya tetap tertuju pada gerbang itu—pada kisi-kisi kayu di balik bayangan, tempat ia berharap melihat bayangan Innana muncul.

Dan kemudian, bayangan itu muncul.

***

Dari balik kisi gerbang, bayangan seorang perempuan berdiri. Rambutnya jatuh bagai sungai malam, hitam pekat berkilau meski dalam cahaya senja yang muram. Wajahnya pucat bagai rembulan yang murung, pucat seperti teratai yang kehilangan air. Ia berdiri di balik jeruji kayu, kedua tangannya menggenggam erat palang besi yang memisahkannya dari dunia luar—dari lelaki yang berdiri di hadapannya dengan tubuh penuh luka dan hati yang hancur.

Innana.

Ur Enki menatapnya, dan untuk sesaat, dunia di sekitarnya lenyap. Kerumunan yang bersorak, batu yang melayang, teriakan yang meledak—semuanya hilang, ditelan oleh keheningan yang hanya berisi dua pasang mata yang saling menatap. Ia melihat Innana, dan ia tahu: Innana telah menangis. Matanya sembab, merah, basah oleh air mata yang tak henti mengalir sejak berhari-hari. Wajahnya yang dulu berseri-seri kini kuyu, layu, seperti bunga yang tidak pernah lagi disentuh matahari.

"Innana!" teriak Ur Enki sekali lagi, suaranya parau, namun kali ini tidak keras—hanya lirih, hanya cukup untuk didengar oleh telinga yang ia tuju. "Percayalah kepadaku! Cintaku padamu tetap suci, tetap setia, tetap abadi! Selamanya. Demi Ilu Yang Mahasuci. Demi Tuhan yang satu yang tidak pernah mengajarkan kebohongan. Demi segala yang kuyakini, aku tidak pernah mengkhianatimu! Lilitu bukan kekasihku! Ia hanyalah korban, sama sepertiku! Kita dijebak, Innana! Kita semua dijebak!"

Innana hanya berdiri kaku. Air matanya jatuh, membasahi pipinya yang pucat, menitik ke tanah di balik gerbang. Hatinya porak-poranda, jiwanya retak, namun bibirnya membisu. Ia sudah tidak mampu lagi percaya—meski di dasar jiwanya yang paling dalam, di tempat yang tidak bisa dijangkau oleh kabar aib dan fitnah, masih berpendar lentera cinta yang tak bisa ia padamkan. Lentera itu kini tertutup kabut kecurigaan, kabar busuk, dan luka yang terlalu dalam untuk diukur dengan kata-kata.

Ia ingin percaya. Matanya ingin mengatakan bahwa ia masih mencintai, bahwa ia masih berharap, bahwa ia masih menunggu. Tetapi ada suara lain di kepalanya—suara ayahnya, suara ibunya, suara seluruh kota yang berkata bahwa ia bodoh jika masih percaya. Ada gambar di matanya—gambar Ur Enki dan Lilitu bermain air, tertawa, berdua seperti sepasang kekasih. Ada kabar di telinganya—kabar bahwa Lilitu mengandung, bahwa Ur Enki adalah ayahnya, bahwa ia telah dihamili oleh lelaki yang ia cintai.

Bagaimana ia bisa percaya? Bagaimana ia bisa melawan semua bukti, semua saksi, semua kabar yang datang dari segala arah?

"Mengapa kau tidak membantah ketika mereka menangkapmu? Mengapa kau tidak lari?" bisik Innana dalam hati, suara yang tidak bisa didengar oleh Ur Enki. "Mengapa kau membiarkan dirimu dihina, dicemooh, ditangkap, jika kau benar-benar tidak bersalah? Mengapa Tuhanmu tidak membantumu?"

Pertanyaan itu berputar di kepalanya tanpa jawaban. Dan sementara ia diam, kerumunan di belakang Ur Enki semakin gaduh.

"Hukum dia!"

"Pengkhianat cinta!"

"Bakar rumahnya! Buang dia ke rawa! Biar buaya yang menghabisinya!"

Teriakan-teriakan itu meledak di udara, memecah keheningan yang tadinya hanya berisi tatapan antara dua sejoli yang saling mencinta tetapi tidak bisa lagi saling percaya.

***

Dari ujung jalan, derap kaki berat terdengar. Berirama, teratur, mengguncang tanah. Barisan prajurit kerajaan datang, tombak-tombak mereka berkilau oleh cahaya senja yang muram, perisai-perisai perunggu beradu logam menciptakan suara yang menggetarkan dada. Langkah mereka teratur bagai gemuruh guntur, bagai detak jantung kota yang sedang marah.

Pasukan mengepung. Dari kiri, dari kanan, dari depan, dari belakang. Tidak ada celah. Mereka datang dengan bendera hitam berlambang naga sirrush yang berkibar di atas kepala mereka, lambang kekuasaan Enlil Bazi yang tak terbantahkan. Rakyat yang tadinya berkerumun di sekitar Ur Enki segera minggir, memberi jalan, tetapi tidak pergi. Mereka ingin melihat. Mereka ingin menyaksikan. Mereka ingin menjadi saksi dari penghancuran seorang pemuda yang dulu pernah mereka anggap aneh, kini mereka anggap sebagai sampah yang harus dibuang.

Seorang perwira maju dari barisan. Wajahnya keras bagai batu, tidak menunjukkan emosi, hanya kepatuhan pada titah. Zirah perunggunya mengkilap meski dalam cahaya remang, pedangnya tergantung di pinggang, tombaknya tegak di tangan. Ia menunjuk Ur Enki dengan ujung tombak itu, suaranya lantang, tegas, tanpa ampun:

"Ur Enki, putra Lugal Enki! Atas titah Enlil Bazi, raja Rawa Edin, penguasa tanah antara dua sungai, engkau ditangkap! Engkau dituduh menghina para dewa, mengotori kesucian kota, dan merusak budak istana! Hukuman akan dijatuhkan sesuai dengan kejahatanmu!"

Teriakan sorak menyambut pengumuman itu. Rakyat bersorak seolah baru saja menyaksikan kemenangan dalam peperangan. Mereka puas. Mereka senang. Akhirnya, ada yang bisa dihukum. Akhirnya, ada yang bisa disalahkan. Akhirnya, amarah mereka yang tak jelas arahnya menemukan sasaran.

Gerbang besar di belakang Innana berderit—bukan terbuka, tetapi tertutup lebih rapat. Innana terisak dari balik palangnya. Tangannya yang tadinya menggenggam erat palang besi, kini lemas. Ia jatuh berlutut di balik gerbang, tidak ada yang bisa melihatnya kecuali para pelayan yang berkerumun di halaman dalam. Namun ia tidak berseru membela. Ia tidak berteriak meminta para prajurit untuk berhenti. Ia tidak memohon pada ayahnya untuk membuka gerbang dan membiarkannya berlari ke arah Ur Enki.

Ia hanya menangis. Tubuhnya bergetar hebat, dadanya naik-turun oleh isak yang tertahan, karena ia tak sanggup menolak kenyataan pahit yang kini menjerat. Di dasar jiwanya, cinta itu masih ada—masih menyala, meskipun redup. Namun ia membiarkan prajurit-prajurit itu mengepung Ur Enki, membiarkan mereka mengikatnya, membiarkan mereka membawanya pergi.

Ia membiarkan semua itu terjadi karena ia terlalu lelah untuk percaya, terlalu lelah untuk berjuang, terlalu lelah untuk berharap.

***

Ur Enki berdiri tegak di tengah kepungan. Tubuhnya yang berlumur peluh dan darah—darah dari luka di pahanya, dari bahunya yang terhantam perisai, dari punggungnya yang terkena batu—masih kokoh menopang jiwa yang menolak menyerah. Matanya tidak tertuju pada para prajurit yang mengepungnya, tidak pada perwira yang menunjukinya dengan tombak, tidak pada kerumunan yang bersorak penuh kebencian.

Matanya hanya tertuju pada satu tempat: gerbang itu. Pada bayangan di balik kisi kayu. Pada air mata yang jatuh di balik jeruji.

"Innana," bisiknya lirih, suara yang hanya cukup untuk dirinya sendiri, tidak untuk didengar oleh siapa pun. "Aku akan tetap melawan, meski kau tak lagi percaya. Aku akan tetap setia, meski seluruh kota berkata aku pengkhianat. Karena cintaku padamu bukanlah cinta yang mudah mati. Cintaku padamu adalah cinta yang lahir dari Ilu Yang Mahasatu, dan Dia tidak pernah mengajarkan hamba-Nya untuk berkhianat."

Ia tidak tahu apakah Innana mendengarnya. Mungkin tidak. Mungkin suaranya terlalu lirih, tenggelam dalam sorak sorai kerumunan. Mungkin Innana sudah terlalu hancur untuk mendengar apa pun selain suara tangisnya sendiri. Tapi ia tetap mengucapkannya, karena itu adalah kebenaran terakhir yang ia miliki.

Dan tepat ketika prajurit-prajurit maju dengan belenggu besi di tangan, sorak rakyat mengguncang langit senja:

"Pengkhianat harus dihukum!"

"Buang dia ke danau Nammu! Biar serangga yang menghabisinya!"

"Bunuh! Bunuh! Bunuh!"

Udara senja merapat, berat, penuh ketegangan. Obor-obor mulai dinyalakan meskipun hari belum sepenuhnya gelap—cahaya kuning keemasan bergetar di tangan para prajurit, menari-nari di wajah-wajah yang penuh kebencian. Bayangan-bayangan panjang jatuh ke tanah, seperti ular hitam yang melata, siap menelan mangsanya.

Perwira prajurit mengangkat tangannya, memberi aba-aba tegas:

"Tangkap dia! Hidup-hidup! Raja ingin melihatnya diadili!"

Maka derap kaki logam maju serentak. Tombak-tombak menusuk udara, perisai mengkilap menutup celah, dan barisan baja itu bergerak maju bagai ombak hitam yang menutup satu-satunya ruang yang tersisa bagi Ur Enki. Tidak ada jalan mundur. Tidak ada jalan ke samping. Hanya ke depan—ke arah gerbang yang tertutup, ke arah Innana yang menangis di baliknya—atau ke arah kematian.

Ur Enki mengaum. Dari dadanya yang sesak, dari jiwanya yang terluka, dari seluruh keputusasaan yang telah ia pendam sejak malam pesta itu, keluar sebuah auman yang bukan auman manusia biasa. Itu adalah auman singa yang terpojok, auman banteng yang terluka, auman seorang pemuda yang kehilangan segalanya dan tidak punya apa-apa lagi selain harga dirinya.

Ia mengangkat kapaknya tinggi-tinggi—kapak kayu yang biasa ia gunakan untuk menebang batang kurma, meraut papan, membentuk perahu. Kini, kapak itu menjelma sebagai senjata kehormatan, satu-satunya perisai melawan dunia yang menuduhnya.

"Majulah! Kalau kalian ingin menyeretku, lakukan dengan darah di tubuhku! Bukan dengan kata-kata busuk, bukan dengan fitnah yang kalian sebarkan! Tunjukkan bahwa kalian berani menghadapi seorang yang tidak bersalah!" teriaknya, matanya merah menyala.

Dan ketika prajurit pertama mendekat, ia mengayunkan kapaknya. Trang! Kapaknya menghantam perisai perunggu, memercikkan bunga api kecil di udara senja yang gelap. Prajurit itu terhuyung, mundur beberapa langkah, terkejut oleh kekuatan yang tidak ia duga dari seorang pemuda kurus yang tubuhnya penuh luka.

Ur Enki tidak berhenti. Ia melompat maju, menghindari tombak yang menusuk dari kiri, menangkis serangan dari kanan, lalu mengayunkan kapaknya ke arah prajurit lain. Trang! Lagi. Prajurit kedua jatuh, tombaknya terlepas dari genggaman. Dua, tiga prajurit tumbang. Mereka tidak menyangka perlawanan ini. Mereka mengira Ur Enki akan menyerah, akan pasrah, akan membiarkan dirinya diikat seperti domba yang digiring ke penyembelihan.

Tapi Ur Enki bukan domba. Ia adalah badai.

"Lihat dia! Pengkhianat melawan!" teriak seorang perempuan dari kerumunan.

"Jatuhkan dia! Jangan biarkan ia lolos!" teriak yang lain.

Prajurit-prajurit itu semakin geram. Mereka tidak terbiasa dihadang oleh seorang tahanan yang seharusnya pasrah. Mereka maju dengan lebih agresif, lebih terorganisir, lebih kejam. Perisai mereka merapat, tombak-tombak mereka menusuk dari segala arah, tidak memberi ruang bagi Ur Enki untuk bergerak.

Ia bertahan. Kapaknya menari di udara, mengiris, memukul, menangkis. Setiap ayunan adalah doa, setiap tebasan adalah perlawanan, setiap napas adalah bukti bahwa ia masih hidup dan tidak akan menyerah.

Namun tubuh-tubuh baja itu terlalu banyak, terlalu rapat, terlalu terlatih. Tombak-tombak menusuk, menekan, merenggut ruang geraknya. Sebuah perisai menghantam bahunya dengan keras, membuat kapaknya nyaris terlepas. Sebuah tombak melukai pahanya, darah segar mengucur, membasahi tanah di bawahnya. Sebuah gagang tombak lain menghantam punggungnya, membuatnya terjatuh berlutut.

Ia bangkit lagi.

Kapaknya masih di tangan.

Ia maju lagi.

Namun kalah jumlah adalah kalah jumlah. Tidak ada keajaiban di medan pertempuran yang tidak seimbang. Tidak ada dewa yang turun dari langit untuk membela orang yang benar. Tidak ada tangan gaib yang menangkis tombak-tombak yang terus menusuk.

Seorang prajurit melingkarkan tali rami ke lengannya, menarik dengan kekuatan penuh. Yang lain menghantam punggungnya dengan gagang tombak hingga ia jatuh tersungkur ke tanah. Kapaknya terlepas dari genggamannya, jatuh berdering di atas bebatuan, bunyinya nyaring seperti lonceng kematian.

Dengan cepat, tubuhnya diikat. Tali-tali rami melilit pergelangan tangannya, dadanya, kakinya. Ia mencoba meronta, tetapi tenaganya sudah habis, direnggut oleh perlawanan yang sia-sia melawan puluhan pasukan bersenjata lengkap.

"Innana..." suaranya lirih, patah, tenggelam oleh sorak kemenangan kerumunan. "Innana... aku tidak bersalah... aku tidak pernah..."

Dari balik gerbang, mata Innana masih menatap. Air matanya tidak berhenti mengalir. Tubuhnya gemetar hebat, dadanya sesak, tangannya yang menggenggam palang besi kini lemas, tidak bertenaga. Ia ingin berteriak, ingin menjerit, ingin membuka gerbang dan berlari ke arah Ur Enki.

Ia ingin memeluknya. Ingin berkata bahwa ia percaya. Ingin meminta maaf atas semua keraguannya.

Tapi bibirnya terkatup. Tidak bisa bergerak. Tidak bisa bersuara. Seolah ada tangan tak kasatmata yang menutup mulutnya, membungkam hatinya, memaksanya untuk diam dan menyaksikan.

Innana jatuh tersungkur di balik gerbang. Tubuhnya ambruk ke tanah, kepalanya membentur batu, tetapi ia tidak merasakan sakit. Rasa sakit itu sudah terlalu banyak, terlalu pekat, hingga ia tidak bisa lagi membedakan mana yang nyata dan mana yang hanya bayangan.

***

Prajurit-prajurit menyeret tubuh Ur Enki ke tanah. Debu menempel pada darah yang masih mengalir dari lukanya, menciptakan coretan-coretan merah di atas tanah kecoklatan. Rakyat berteriak, menuding, meludah. Ada yang melemparkan batu lagi, ada yang melemparkan kata-kata yang lebih tajam dari batu. Ia digiring bagai binatang buruan yang ditangkap, dibawa menuju tempat yang telah dipersiapkan—penjara yang sama dengan Lilitu.

Di langit yang mulai gelap, gagak-gagak melayang rendah. Mereka berputar-putar di atas kerumunan, di atas gerbang, di atas tubuh Ur Enki yang terseret. Seakan mereka mencium bau kematian yang akan segera ditabuh, seakan mereka tahu bahwa malam ini akan ada darah yang tertumpah, dan mereka adalah undangan yang paling setia dalam pesta kesedihan itu.

Ur Enki menutup matanya sejenak. Ia merasakan tanah yang kasar di bawah tubuhnya, merasakan tali yang mengikat pergelangan tangannya, merasakan darah yang mengalir dari lukanya. Ia merasakan semuanya—setiap gigitan kerikil di pipinya, setiap tarikan tali yang melukai pergelangan, setiap tetes darah yang jatuh ke tanah.

Lalu ia membuka matanya kembali.

Pandangannya menembus kerumunan yang bersorak. Menembus tombak-tombak yang berkilau. Menembus gerbang kayu jati yang kini semakin jauh. Ia mencari satu titik, satu titik terang di tengah semua kegelapan itu.

Ia mencarinya.

Dan ia menemukannya.

Di balik gerbang yang mulai kabur oleh jarak, di balik air mata yang terus jatuh, di balik tubuh yang ambruk ke tanah—ia masih bisa melihat Innana. Masih bisa melihat bayangan perempuan yang ia cintai. Masih bisa melihat dua bola mata yang basah tetapi tidak pernah berpaling darinya.

"Innana," bisiknya pada hatinya sendiri, karena suaranya sudah tidak cukup kuat untuk keluar dari bibirnya yang pecah. "Aku akan tetap setia. Sampai akhir. Sampai napas terakhir. Sampai tidak ada lagi yang tersisa dari diriku kecuali nama yang kau kenal. Aku akan tetap setia."

Dan di balik gerbang, di antara isak tangis yang tidak bisa ia tahan lagi, Innana mendengar bisikan itu. Entah bagaimana, entah mengapa, entah dengan cara apa—ia mendengar suara Ur Enki di kepalanya, di hatinya, di jiwanya.

"Aku akan tetap setia."

Innana menutup matanya.

Air mata terakhir jatuh, membasahi tanah di balik gerbang.

Dan ia tidak tahu lagi, apakah air mata itu jatuh karena kebencian, karena kesedihan, atau karena cinta yang tidak bisa mati.

***

Di luar, sorak sorai masih bergema. Prajurit-prajurit menyeret tubuh Ur Enki semakin jauh, semakin jauh, hingga akhirnya lenyap ditelan kegelapan malam yang mulai turun sepenuhnya. Kerumunan perlahan bubar, membawa cerita yang akan mereka sebarkan ke seluruh penjuru kota: bahwa Ur Enki telah ditangkap, bahwa pengkhianat itu akhirnya mendapat ganjarannya, bahwa keadilan telah ditegakkan.

Namun di antara mereka yang bubar itu, ada beberapa orang yang diam. Ada beberapa pasang mata yang tidak ikut bersorak. Ada beberapa hati yang bertanya-tanya, apakah semua ini benar? Apakah pemuda yang dulu mereka lihat bekerja keras di tepi rawa, yang tangannya halus membuat perahu, yang matanya jernih dan teduh—apakah ia benar-benar sejahat yang dikatakan orang?

Mereka tidak berani menjawab.

Keraguan adalah hal yang berbahaya di Rawa Edin. Keraguan bisa membuatmu menjadi sasaran berikutnya. Keraguan bisa membuatmu berdiri di tempat yang sama dengan Ur Enki, diikat tali, diseret ke tanah, diludahi oleh orang-orang yang dulu tersenyum padamu.

Maka mereka diam. Mereka membawa pulang keraguan itu, menguburnya di dalam hati, dan berharap suatu hari nanti mereka akan menemukan jawabannya.

Namun malam itu, di langit Rawa Edin, bintang-bintang tidak mau muncul. Bulan bersembunyi di balik awan. Dan angin malam bertiup dingin, membawa serta bisikan-bisikan yang tidak berani diucapkan oleh mulut manusia:

"Apa yang terjadi jika semua ini salah? Apa yang terjadi jika Ur Enki benar-benar tidak bersalah? Apa yang terjadi jika kita semua—kota ini, raja ini, imam ini, kita semua—telah menghakimi orang yang tidak bersalah?"

Tidak ada yang menjawab.

Hanya gagak-gagak yang masih berputar di atas langit gelap, menunggu.

Menunggu sesuatu yang belum usai.

Menunggu badai lain yang akan datang.

***

← Kembali ke Daftar Bab