Nikmati setiap bab dari karya penulis berbakat
Hari-hari berlalu, tetapi bagi Innana, waktu seolah berhenti. Bukan berhenti seperti air danau yang tenang tanpa riak, melainkan berhenti seperti pedang yang tersangkut di dada—tetap ada, menusuk, dan setiap helaan napas adalah rasa sakit yang berulang. Setiap pagi hanya menghadirkan matahari yang terasa dingin, cahayanya seolah enggan menyentuh kulitnya; setiap malam hanya membawa bulan yang menusuk bagai pisau, sinarnya yang pucat bagai kain kafan yang membungkus jiwanya yang sekarat.
Ia duduk di kamarnya, bersandar pada tiang ranjang berkelambu yang dulu ia anggap sebagai perisai dari dunia luar. Kini, perisai itu telah runtuh. Wajahnya pucat seperti tanah liat yang belum dibakar, mata sembab oleh air mata yang tak henti mengalir, bibirnya pecah-pecah oleh kekeringan yang lahir bukan dari dahaga fisik, melainkan dari kekeringan jiwa yang kehilangan sumbernya. Rambutnya yang dulu hitam berkilau bagai malam bertabur bintang, kini terurai kusut, tak pernah lagi ia sisir sejak hari itu—sejak ia melihat tawa Ur Enki bersama Lilitu di rawa itu.
Di balik dinding kamar yang terbuat dari bata merah dan anyaman buluh, dunia luar tetap berputar. Pedagang tetap berteriak menawarkan kurma di pasar, para imam tetap melantunkan doa di puncak zigurat, dan para bangsawan tetap berpesta di balai-balai megah mereka. Namun bagi Innana, semua suara itu hanyalah gema dari dunia yang telah mati. Ia hidup, tetapi tidak benar-benar hidup. Ia bernapas, tetapi setiap tarikan udara terasa seperti menelan pecahan kaca.
Ratapannya menusuk dinding-dinding rumah bangsawan Sulgi Ram, merembes melalui celah-celah bata, menembus ke hati ayah dan ibunya yang mendengar dari kejauhan. Ratapan itu bukanlah jeritan keras yang memecah telinga, melainkan erangan lirih yang justru lebih menyayat—seperti suara seruling yang dimainkan oleh tangan yang patah, seperti kecapi yang senarnya putus satu per satu.
Ninsabtu, ibunya, tidak tahan mendengar. Ia masuk ke kamar putrinya dengan langkah pelan, kakinya gemetar, tangannya memegang secawan susu hangat yang mungkin tidak akan diminum. Ia duduk di sisi ranjang, lalu memeluk Innana dari belakang, membiarkan punggung putrinya bersandar pada dadanya yang juga bergetar menahan tangis.
“Putriku...” suara Ninsabtu bergetar, lembut namun dipenuhi oleh kebingungan seorang ibu yang melihat anaknya hancur tanpa mampu berbuat banyak. “Mengapa masih kau tangisi nama itu? Bukankah semua sudah jelas? Bukankah kau sudah mendengar kabar yang menyebar ke seluruh kota? Ur Enki telah mengotori dirinya, ia telah jatuh dengan budak istana.”
Jarinya yang halus—bekas jari seorang bangsawan yang tak pernah bekerja kasar—mengusap rambut putrinya yang kusut, mencoba merapikan meski sia-sia.
"Tidakkah kau lega, bahwa benalu yang mengikat hatimu kini sudah hancur? Tidakkah kau merasa ringan, bahwa waktu pernikahanmu dengan Namtar semakin dekat? Anakku, ibu tidak mengerti. Ibu tidak mengerti mengapa kau masih menangisi sampah yang sudah dibuang ke rawa."
Sulgi Ram berdiri di ambang pintu, tidak berani masuk. Tangannya tergenggam di belakang punggung, jari-jarinya saling memilin, gelisah. Wajahnya yang biasa tegas dan penuh wibawa di hadapan para bangsawan lain, kini tampak layu—penuh kerutan yang tidak hanya disebabkan oleh usia, tetapi juga oleh beban melihat putri semata wayangnya hancur berkeping-keping. Ia menatap Innana dari kejauhan, dan di matanya ada perang yang tidak pernah ia alami di medan perang mana pun: perang antara ingin melindungi dan ingin memaksa, antara cinta seorang ayah dan tuntutan status bangsawan.
"Innana..." Sulgi Ram akhirnya bersuara, suaranya keras namun getar kegelisahan tak bisa ia sembunyikan. "Ayahmu ini juga pernah muda. Ayahmu ini juga pernah merasakan apa yang namanya cinta. Tapi cinta, putriku, cinta tidak boleh buta. Cinta harus melihat kenyataan. Dan kenyataannya, Ur Enki telah memilih jalannya. Ia telah memilih Lilitu. Ia telah menghamili budak itu. Apakah kau masih mau disebut sebagai perempuan yang memperjuangkan lelaki bejat?"
Innana menegakkan wajahnya perlahan. Gerakannya lambat, seperti patung yang tiba-tiba diberi nyawa, namun nyawa itu hanya cukup untuk mengangkat kepala, tidak lebih. Air matanya masih mengalir, membasahi pipinya yang pucat, jatuh menitik di atas kain selendang yang melapisi pangkuannya. Bibirnya bergetar, tetapi ketika ia membuka mulut, suaranya jernih—jernih seperti air sungai Purattu sebelum bercampur lumpur, jernih seperti cahaya bulan sebelum disapu awan.
"Ibu, ayah... tidakkah kalian mengerti?"
Ia menatap kedua orang tuanya bergantian. Matanya yang sembab tiba-tiba menyala—bukan dengan amarah, melainkan dengan api kesedihan yang terlalu dalam untuk sekadar disebut duka.
"Aku menangis bukan karena nama Ur Enki hancur oleh kabar itu. Aku menangis karena hatiku sendiri yang retak. Hatiku yang masih menaut padanya, meski seluruh kota berteriak menuduh. Aku menangis karena cintaku tak pernah berubah, tak pernah berpaling, meski ia telah mengkhianatiku di depan mataku sendiri."
Suaranya pecah di kata terakhir, tetapi ia tidak berhenti. Ia terus berbicara, seolah jika ia berhenti, ia akan tenggelam dalam pusaran yang lebih dalam.
"Aku menangis karena aku masih mencintainya, Ibu. Aku masih mencintainya meski ia telah merobek jantungku dengan tangannya sendiri. Aku masih mencintainya meski ia telah memilih perempuan lain di hadapanku. Aku masih mencintainya meski seluruh kota berkata bahwa aku bodoh, bahwa aku mempertahankan sampah, bahwa aku tidak punya harga diri."
Ia menarik napas panjang, napas yang terasa seperti menghirup duri.
"Dan itulah yang paling menyiksa, Ayah. Bukan karena ia telah pergi. Bukan karena ia telah memilih yang lain. Tapi karena aku tidak bisa berhenti mencintainya, meskipun aku tahu aku harus berhenti. Aku tidak bisa mematikan api di dadaku, meskipun api itu kini membakarku hidup-hidup."
Sulgi Ram maju selangkah, wajahnya memerah. Bukan karena marah kepada Innana, tetapi karena marah kepada situasi yang tidak bisa ia kendalikan. Ia adalah bangsawan, ia adalah pemimpin di antara para pemimpin, ia biasa memberi perintah dan perintah itu ditaati. Tapi kali ini, ia tidak bisa memerintahkan hati putrinya untuk berhenti mencintai.
"Innana!" suaranya keras, memecah keheningan kamar yang hanya diisi oleh tetesan air mata. "Apa yang kau katakan? Kau masih berpegang pada cinta itu? Kau masih menaruh hatimu pada pemuda miskin itu, setelah semua yang terjadi? Setelah seluruh kota bersuara? Setelah Namtar sendiri, putra raja, memergoki mereka dengan matanya sendiri? Apa kau hendak mempermalukan keluargamu sendiri? Apa kau hendak membuat nama Sulgi Ram menjadi olok-olok di pasar dan di istana?"
Innana menunduk. Bahunya bergetar. Namun ketika ia mengangkat wajahnya lagi, matanya tidak lagi sembab—matanya basah, tetapi jernih. Ada sesuatu di sorot matanya yang tidak pernah Sulgi Ram lihat sebelumnya: ketegasan yang lahir bukan dari ketaatan, melainkan dari luka yang telah mencapai dasar paling dalam.
"Ayah... aku tidak berbohong pada diriku. Aku tidak berbohong pada kalian. Aku tidak bisa berbohong, meskipun aku tahu kejujuranku akan menyakiti kalian."
Suaranya lirih, tetapi penuh ketegasan yang lahir dari luka.
"Cinta yang tertanam di dadaku bukan karena kemewahan, bukan karena titah, bukan karena garis darah bangsawan. Cinta itu murni, ayah. Cinta itu lahir dari jiwa yang menaut pada jiwa, bukan dari kalkulasi harta dan status. Aku mencintai Ur Enki, apa pun kata kota, apa pun titah raja, apa pun yang terjadi. Aku mencintainya ketika ia masih dianggap sebagai pemuda biasa yang tidak istimewa. Aku mencintainya ketika ia masih tersenyum di Gerbang Air Ishtar. Aku mencintainya ketika ia masih menggenggam tanganku di bawah cahaya obor pesta. Dan aku... aku masih mencintainya sekarang, meskipun ia telah menghancurkan cinta itu dengan tangannya sendiri."
Ninsabtu terisak. Ia meremas tangan putrinya, jari-jarinya yang halus menggenggam erat jemari Innana yang dingin.
"Lalu bagaimana dengan Namtar, putriku?" suara Ninsabtu nyaris tak terdengar, lirih seperti bisikan angin malam. "Bukankah ia telah mendekatimu? Bukankah ia telah datang ke rumah ini, duduk di sampingmu, mendengarkan keluhanmu? Bukankah ia telah mendampingimu, menjagamu, berusaha memahami lukamu? Bukankah semua orang melihatmu bersamanya, berjalan bersisian, bahkan... bahkan memeluknya? Bukankah semua itu tanda bahwa hatimu mulai beralih?"
Innana menggeleng. Gelengannya lambat, tetapi tegas. Seperti pohon kurma yang digoyang angin badai tetapi akarnya tetap tertancap di tanah.
"Itu semua demi satu harapan, ibu. Demi satu harapan yang kini telah hancur berkeping-keping."
Ia menelan ludah, berusaha menahan isak yang mengguncang dadanya.
"Demi satu harapan bahwa Namtar akan menepati janjinya. Ia bersumpah akan melawan titah ayahnya, agar titah itu dicabut. Ia bersumpah memilih persahabatan daripada cinta. Ia bersumpah akan membantu kami bersatu. Aku mendekat padanya, ibu, bukan karena aku mencintainya. Bukan karena hatiku berpaling dari Ur Enki. Aku mendekat padanya karena aku percaya—aku percaya bahwa ia akan menolong kami. Aku percaya bahwa ia adalah sahabat sejati yang akan mengorbankan kebahagiaannya sendiri demi kebahagiaan orang lain."
Air matanya jatuh lagi, kali ini lebih deras.
"Aku berjalan bersamanya, ibu, karena aku ingin menjaga agar ia tetap pada janjinya. Aku memeluknya, karena aku ingin ia merasa bahwa aku berterima kasih, bahwa aku menghargai pengorbanannya. Bukan karena cinta, ibu. Bukan karena hatiku berpaling. Tapi karena aku ingin menjaga cinta yang sejati—cinta yang selama ini aku bangun dengan Ur Enki—tetap hidup."
Ia menekan dadanya dengan telapak tangan, seolah ingin menunjukkan di mana letak luka itu.
"Cinta yang sejati, ibu. Cinta yang tidak pernah meminta imbalan. Cinta yang rela menunggu, rela berkorban, rela berjuang. Itulah yang aku lakukan. Itulah yang selama ini aku jaga. Dan kini... kini cinta itu telah dihancurkan. Bukan oleh Namtar, bukan oleh ayah, bukan oleh ibu. Tapi oleh Ur Enki sendiri. Oleh tangannya sendiri. Oleh pilihannya sendiri."
Sulgi Ram terdiam. Wajahnya pucat, lebih pucat daripada ketika ia mendengar kabar kekalahan dalam perang. Hatinya berkecamuk, antara ingin marah, ingin menangis, dan ingin berlari keluar dari rumah ini untuk mencari Ur Enki dan membunuhnya dengan tangannya sendiri. Tapi ia tidak bisa. Ia hanya bisa berdiri di sana, di ambang pintu, menatap putrinya yang hancur tanpa bisa berbuat apa-apa.
Ninsabtu menutupi mulutnya dengan selendang, tubuhnya bergetar hebat. Tangisnya tertahan, hanya terdengar sebagai desisan lirih di sela-sela kain.
"Putriku..." suara Sulgi Ram akhirnya keluar, berat bagai batu yang digulingkan dari puncak Zigurat Esgal Ilu. Setiap suku kata terasa seperti mengeluarkan darah dari tubuhnya. "Kau sungguh... kau sungguh tak bisa melupakan Ur Enki itu? Bahkan setelah semua yang terjadi? Bahkan setelah aib itu tersebar ke seluruh pelosok kota? Bahkan setelah kau melihat dengan matamu sendiri, mendengar dengan telingamu sendiri? Kau masih... kau masih menyebut namanya dengan penuh cinta?"
Innana menatap ayahnya. Matanya basah, tetapi ada senyum tipis di bibirnya—senyum yang lebih menyayat daripada tangisan. Senyum yang lahir bukan dari kebahagiaan, melainkan dari kepasrahan yang paling dalam.
"Iya, ayah. Aku tak bisa berpaling. Aku tak bisa membohongi jantungku. Cinta ini bukan titah raja yang bisa dibatalkan dengan segel kerajaan. Cinta ini bukan bisikan rakyat yang bisa diubah dengan selebaran. Cinta ini adalah anugerah yang lahir dari langit, dari tempat yang lebih tinggi dari zigurat mana pun. Dan langitlah yang akan menilainya. Langitlah yang akan menjadi saksinya."
Ia berhenti, menelan ludah yang terasa pahit.
"Namun, cinta itu kini telah dihancurkannya. Dengan tangannya sendiri. Dengan pilihannya sendiri. Aku tidak bisa menyalahkan ayah, tidak bisa menyalahkan ibu, tidak bisa menyalahkan Namtar, tidak bisa menyalahkan siapa pun. Yang bisa aku salahkan hanyalah dia. Dan yang bisa aku ratapi hanyalah hatiku sendiri."
"Putriku..." bisik Ninsabtu, suaranya lembut namun getir, seperti buah yang manis di luar tetapi pahit di dalam. "Mengapa kau terus meratap? Bukankah kini jalanmu telah terbuka? Bukankah kabar tentang Ur Enki dan budak itu telah nyata di telinga semua orang? Ia telah jatuh, ia telah ternoda. Tak ada lagi alasan untuk hatimu terikat padanya."
Ninsabtu meraih kedua pipi putrinya, menatap matanya lurus-lurus.
"Mestinya kini hatimu lapang, sebab Namtar, putra raja, tetap menjagamu. Ia tidak meninggalkanmu meskipun ia tahu kau pernah mencintai orang lain. Ia tidak mempermalukanmu meskipun seluruh kota tahu kau telah ditolak. Ia tetap datang, tetap tersenyum, tetap menawarkan bahunya untuk tempat bersandar. Mestinya kau berbahagia, sebab waktu pernikahanmu semakin dekat. Mestinya kau bersyukur, sebab dewa-dewa telah menyelamatkanmu dari lelaki yang tidak setia."
Innana menggeleng pelan. Gerakannya lemah, seperti dedaunan yang jatuh dari pohon di musim kemarau.
"Ibu... apa yang harus kulakukan bila cinta yang kujaga sepenuh jiwa ternyata hancur oleh pengkhianatan? Apa yang harus kulakukan bila lelaki yang kuanggap titian hidupku, sandaran jiwaku, tempatku berlabuh—justru menukar kesetiaannya dengan budak istana?"
Suaranya meninggi sedikit, bukan karena marah, tetapi karena kepedihan yang terlalu besar untuk ditahan dalam dada.
"Aku melihatnya, ibu, tak hanya Namtar. Aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri. Mataku sendiri, ibu. Bukan mata orang lain, bukan kabar dari mulut ketiga. Mataku sendiri yang menyaksikan ia bermain air bersama Lilitu, bercanda, tertawa, seolah tidak ada yang salah. Seolah tidak ada aku di sudut sana yang menunggu, yang berharap, yang mencintainya dengan segenap napas."
Ia menekan dadanya lagi, kali ini lebih keras.
"Aku mendengarnya pula—kabar yang disebarkan seluruh kota dengan cepat, seperti api di ladang kering. Lilitu mengandung anaknya. Darah dagingnya tumbuh dalam rahim budak itu. Bagaimana aku bisa menutup telingaku dari itu semua, ibu? Bagaimana aku bisa berpaling, bagaimana aku bisa melupakan, bagaimana aku bisa mengatakan bahwa semuanya tidak terjadi?"
Air mata jatuh lagi, membasahi pipinya yang dingin.
"Ini bukan lagi cinta yang tergores, ibu. Ini cinta yang mati. Mati dibunuh oleh orang yang sama yang menanamkannya di dadaku. Dan aku... aku hanya bisa duduk di sini, menangisi mayat cinta yang masih kukubur dalam hati, meskipun sudah membusuk, meskipun sudah hancur, meskipun sudah tidak lagi bernyawa."
Ia menekap wajahnya dengan kedua tangan. Suaranya terputus-putus di antara isak, seperti aliran sungai yang terhalang batu.
"Cinta ini bukan lagi terikat, ibu. Cinta ini bukan lagi menggantung dengan seutas harapan. Cinta ini sudah dihancurkan. Diremukkan. Dihabiskan. Aku tak bisa lagi berpegang pada bayangan yang telah patah, pada janji yang telah dilanggar, pada kesetiaan yang telah dikhianati."
Sulgi Ram, yang sejak tadi berdiri di dekat pintu, akhirnya melangkah masuk. Ia mendekati ranjang putrinya, lalu berlutut di samping Ninsabtu. Tangannya—tangan yang biasa menggenggam pedang, tangan yang biasa memberi perintah kepada puluhan prajurit—kini gemetar ketika ia meraih tangan Innana.
"Innana, putriku..." suaranya parau, nyaris tak dikenali sebagai suara Sulgi Ram yang tegas dan berwibawa. "Ayah tidak tahu harus berkata apa. Ayah tidak bisa membayangkan sakit yang kau rasakan. Tapi ayah tahu satu hal: kau tidak sendirian. Ibu dan ayah ada di sini. Kami tidak akan meninggalkanmu."
Ia menarik napas panjang, berusaha menenangkan diri.
"Tapi dengarkan ayah, putriku. Lelaki itu memang tak layak untukmu. Ia hanya tukang kayu, miskin, tanpa darah bangsawan. Ayah tidak pernah mempermasalahkan itu, karena ayah tahu ayahmu dulu juga bukan bangsawan. Tapi kini ia telah ternoda oleh budak hina. Ia telah memilih jalannya sendiri. Dan jalan itu tidak lagi searah dengan jalanmu."
Matanya berkaca-kaca.
"Kau, putriku, adalah bunga Rawa Edin. Sejak kecil, semua orang sudah tahu itu. Kecantikanmu, keanggunanmu, ketulusan hatimu—semua itu adalah anugerah yang tidak bisa kau sia-siakan hanya untuk menangisi lelaki yang tidak pantas menerimanya. Kau hanya pantas bersanding dengan Namtar Sin, putra mahkota, pewaris kejayaan kota ini. Apa lagi yang kau tunggu?"
Ia menggenggam tangan putrinya lebih erat.
"Tidakkah kau melihat, dewa-dewa sendiri telah membukakan jalanmu? Tidakkah kau sadar, segala kabar ini adalah tanda—tanda yang jelas, tanda yang tidak bisa kau abaikan—agar kau berpaling dari kesesatan itu? Agar kau kembali ke jalan yang benar, jalan yang telah ditetapkan untukmu sejak kau lahir?"
Innana menatap ayahnya. Pandangannya kosong, hampa, seperti sumur yang telah kering. Namun air matanya masih mengalir—air mata yang lahir bukan dari kesedihan biasa, melainkan dari kepedihan yang telah mencapai inti paling dasar dari jiwanya.
"Ayah... aku mengerti apa yang kau katakan. Aku mengerti bahwa semua ini—kabar ini, fitnah ini, pengkhianatan ini—adalah tanda bahwa aku harus meninggalkan Ur Enki. Bahwa tidak ada lagi jalan untuk kembali. Bahwa cinta itu sudah mati dan harus dikubur."
Ia menunduk, bahunya bergetar.
"Tetapi apakah ayah mengerti, bagaimana rasanya cinta yang hancur? Apakah ayah mengerti bagaimana rasanya dada yang dirobek dengan pengkhianatan, lalu diminta untuk tersenyum seolah tidak terjadi apa-apa? Apakah ayah mengerti bagaimana rasanya kehilangan separuh jiwamu, lalu diminta untuk mengisi kekosongan itu dengan pernikahan yang tidak pernah kau inginkan?"
Ia mengangkat wajahnya, menatap ayahnya dengan mata yang merah dan basah.
"Aku bukan hanya kehilangan seorang kekasih, ayah. Aku kehilangan masa depan yang pernah aku lukis dalam mimpiku. Aku kehilangan sosok yang pernah aku yakini sebagai belahan jiwaku. Aku kehilangan kepercayaan bahwa cinta sejati itu ada, bahwa ia bisa bertahan, bahwa ia bisa melawan segala rintangan."
Ia terisak, tubuhnya berguncang hebat.
"Aku kehilangan separuh jiwaku, ayah. Dan aku tidak tahu apakah separuh yang tersisa ini cukup untuk hidup, cukup untuk tersenyum, cukup untuk menjadi istri Namtar Sin."
Ninsabtu memeluk putrinya erat-erat, menangis bersamanya. Air mata ibu dan anak bercampur menjadi satu, mengalir membasahi kain selendang yang melapisi pangkuan mereka. Sulgi Ram memalingkan wajah, menahan air mata yang hampir pecah. Ia tidak ingin putrinya melihat ayahnya menangis—tetapi di dalam hatinya, ia menangis. Ia menangis untuk putrinya, untuk cinta yang hancur, untuk semua yang tidak bisa ia perbaiki meskipun ia adalah seorang bangsawan yang disegani.
Bagi Sulgi Ram dan Ninsabtu, kabar tentang Ur Enki dan Lilitu semestinya menjadi kabar yang melegakan. Benalu bernama Ur Enki yang selama ini mengikat hati putri mereka, yang selama ini menjadi penghalang bagi pernikahan dengan Namtar Sin, kini telah hancur dengan sendirinya. Ia telah mengotori tangannya sendiri, ia telah memilih budak istana, ia telah membuktikan bahwa ia tidak layak untuk Innana. Seharusnya mereka bersyukur, seharusnya mereka merayakan, seharusnya mereka semakin yakin bahwa pernikahan dengan Namtar Sin adalah jalan yang benar.
Tetapi bagi Innana, kabar itu justru menjadi pisau yang menikam. Bukan pisau yang memotong tali yang mengikatnya pada Ur Enki, melainkan pisau yang menghancurkan seluruh dunia yang pernah ia bangun dalam hatinya. Cinta yang ia jaga dengan doa di setiap malam, yang ia pelihara dengan air mata di setiap kesunyian, yang ia pertahankan dengan keberanian di hadapan titah raja—kini hancur berkeping-keping, diinjak-injak oleh fitnah yang menyebar lebih cepat daripada angin.
Dan malam itu, di dalam kamarnya yang sunyi, di pelukan ibunya yang menangis, di bawah tatapan ayahnya yang berusaha tegar, ratap Innana bukan lagi doa untuk bersatu dengan Ur Enki. Ratapannya bukan lagi harapan bahwa suatu hari nanti cinta mereka akan menang. Ratapannya bukan lagi keyakinan bahwa kebenaran akan terungkap dan segalanya akan kembali seperti dulu.
Ratapannya adalah ratapan seorang gadis yang cintanya telah dikubur hidup-hidup. Dikubur tanpa nisan, tanpa upacara, tanpa kata perpisahan. Hanya ditinggalkan begitu saja, membusuk dalam dadanya, sebagai luka yang mungkin tidak akan pernah benar-benar sembuh. Sebagai bekas yang akan terus terasa setiap kali angin malam berhembus, setiap kali bulan purnama bersinar, setiap kali ia mendengar nama yang dulu membuat jantungnya berdebar, kini hanya membuatnya terdiam.
Dan di luar, di balik jendela kamarnya yang terbuka sedikit, angin malam membawa suara sayup-sayup dari puncak zigurat—doa para imam yang tak pernah didengar oleh dewa-dewa yang mereka sembah, tetapi terus dilantunkan karena sudah menjadi kebiasaan.
Innana menutup matanya. Dalam gelap di balik kelopak matanya, ia masih bisa melihat wajah Ur Enki—wajah yang pertama kali ia lihat di Gerbang Air Ishtar, wajah yang tersenyum padanya di Menara Penjaga Angin, wajah yang menggenggam tangannya di bawah cahaya obor pesta. Wajah itu masih sama. Masih segantang dulu. Masih seteduh dulu.
Tapi di wajah itu, kini ada noda yang tak bisa ia hapus. Ada bayangan Lilitu yang berdiri di sampingnya. Ada tawa yang tidak lagi ia kenali.
"Selamat tinggal, Ur Enki," bisiknya dalam hati, suara yang hanya bisa didengar oleh jiwanya sendiri. "Selamat tinggal, cinta yang dulu kukira abadi."
Dan air mata terakhir jatuh, membasahi pipinya untuk yang kesekian kalinya—sebelum ia memejamkan mata, dan membiarkan malam menelannya dalam keheningan yang sunyi.
***