Nikmati setiap bab dari karya penulis berbakat
Malam turun perlahan di atas Rawa Edin seperti kain perkabungan raksasa yang dibentangkan oleh tangan tak terlihat dari ufuk ke ufuk. Langit kehilangan kemegahannya; bintang-bintang yang biasanya berkerlip bagai butiran perak di atas kubah hitam kini tampak muram dan jauh, seakan enggan menyaksikan apa yang sedang terjadi di kota yang dahulu mereka terangi dengan penuh kasih. Angin dari Purattu bertiup dingin, menyusuri kanal-kanal, melintasi rumah-rumah bata lumpur, menembus celah-celah jendela, lalu berakhir di jalan-jalan sempit yang malam itu masih dipenuhi suara manusia. Namun suara-suara itu bukan lagi suara tawa yang hangat, bukan pula nyanyian para nelayan yang pulang membawa ikan. Yang terdengar adalah bisikan. Bisikan yang tajam. Bisikan yang lebih mematikan daripada mata tombak. Bisikan yang selama beberapa hari terakhir telah berubah menjadi hukuman bagi seorang lelaki bernama Ur Enki.
Ia berjalan seorang diri menyusuri jalan utama menuju pusat kota. Jubah gelap menutupi tubuhnya, sementara kepalanya sedikit tertunduk untuk menghindari pandangan orang-orang. Namun tidak ada tempat bersembunyi dari lidah manusia. Bahkan sebelum ia melewati sebuah warung bir di tepi kanal, beberapa lelaki yang sedang mabuk telah mengenalinya.
“Itu dia.”
Suara itu meluncur pelan, tetapi cukup keras untuk didengar.
“Lelaki rawa itu.”
“Lelaki yang menghamili budak kuil.”
“Pengikut orang gila di bukit.”
Tawa pun menyusul. Tawa yang pendek, sinis, dan penuh racun.
Ur Enki tidak menoleh.
Ia terus berjalan.
Namun seperti darah yang menarik hiu di laut, kehadirannya segera menarik perhatian yang lain. Seorang perempuan yang sedang menimba air menghentikan pekerjaannya lalu menarik anaknya menjauh. Dua pedagang kurma yang tengah membereskan dagangan saling berbisik sembari memandangnya dengan sorot mata jijik. Dari beranda rumah-rumah, wajah-wajah muncul dari balik bayang lampu minyak, mengintip seperti burung pemakan bangkai yang sedang menunggu kematian seekor rusa terluka.
Tak lama kemudian, suara langkah-langkah kecil terdengar dari belakang.
Anak-anak.
Mereka adalah anak-anak yang dahulu sering menerima bantuan gandum darinya ketika musim paceklik datang. Anak-anak yang pernah ia bantu memperbaiki perahu ayah mereka. Anak-anak yang pernah tertawa bersamanya di tepian rawa.
Kini mereka berdiri sambil menggenggam kerikil.
“Ur Enki si pezina!”
Sebuah batu kecil melayang.
Mengenai bahunya.
Disusul batu lain.
Kemudian segumpal roti busuk.
Tawa anak-anak pecah memenuhi jalan.
“Penghamil Lilitu!”
“Budak kuil itu kekasihmu!”
“Di mana anakmu, Ur Enki?”
Seketika suara mereka bercampur dengan tawa orang-orang dewasa yang berdiri di kejauhan. Tak seorang pun menghentikan mereka. Tak seorang pun menegur mereka. Seolah seluruh kota telah sepakat bahwa melempari Ur Enki adalah bentuk hiburan baru yang direstui para dewa.
Ur Enki tetap berjalan.
Kepalanya tidak menoleh.
Tangannya tidak terangkat.
Bibit kemarahan memang sempat menyentuh dadanya, namun segera padam sebelum sempat tumbuh menjadi api. Ia teringat Ziusudra. Lelaki tua itu telah menerima hinaan yang jauh lebih berat selama bertahun-tahun. Dilempari batu. Diludahi. Dianggap gila. Namun tidak pernah sekalipun membalas. Tidak pernah sekalipun mengutuk.
Maka Ur Enki memilih diam.
Tetapi diam bukan berarti tidak terluka.
Setiap ejekan yang menghantam telinganya terasa seperti paku yang ditancapkan perlahan ke dalam dadanya.
Karena ia tahu seluruh kota sedang mempercayai kebohongan. Mereka percaya bahwa dirinya telah menodai Lilitu. Mereka percaya bahwa bayi yang dikandung perempuan itu adalah darah dagingnya. Mereka percaya bahwa ia adalah lelaki munafik yang berkhotbah tentang kebenaran namun diam-diam bergelimang dosa.
Dan yang paling menyakitkan adalah kenyataan bahwa ia tak mampu membela diri tanpa sekaligus menyeret Lilitu ke jurang penghinaan yang lebih dalam lagi.
Begitulah fitnah bekerja.
Ia tidak membunuh tubuh.
Ia membunuh nama.
***
Ketika akhirnya Zigurat Esgal Ilu muncul di hadapannya, Ur Enki menghentikan langkah sejenak. Menara raksasa itu menjulang ke langit malam seperti gunung batu yang dibangun oleh kesombongan manusia. Obor-obor menyala di setiap tingkatannya. Asap dupa mengepul dari altar-altar persembahan. Dari kejauhan terdengar suara nyanyian para imam yang sedang memanjatkan pujian kepada para dewa.
Betapa megah.
Betapa indah.
Dan betapa busuk….
Ur Enki menatapnya lama. Lalu melangkah menuju gerbang bawah tanah yang terletak di sisi timur kompleks kuil. Di sanalah para tahanan disimpan. Di sanalah Lilitu berada.
Empat penjaga berdiri di depan pintu batu besar yang mengarah ke lorong-lorong penjara. Tombak mereka berkilau diterpa cahaya obor. Ketika melihat siapa yang datang, wajah mereka langsung berubah.
Salah seorang tertawa, “Lihat siapa yang datang.”
Penjaga lain menoleh. Lalu tersenyum sinis, “Ah. Lelaki yang sedang menjadi bahan cerita seluruh kota.”
Tawa mereka pecah.
Ur Enki berhenti beberapa langkah dari mereka. Lalu ia berkata, “Aku ingin menemui Lilitu.”
Permintaannya sederhana.
Namun justru itulah yang membuat para penjaga semakin terhibur.
“Menemui Lilitu?”
“Atau menemui anakmu yang masih berada dalam perutnya?”
“Kau datang membawa hadiah untuk kekasihmu?”
Salah satu penjaga bahkan membungkuk sambil pura-pura memberi hormat, “Salam hormat untuk ayah paling terkenal di Rawa Edin!”
Mereka tertawa lagi.
Tawa yang menggema di antara dinding batu.
Ur Enki diam.
Diamnya justru membuat mereka semakin kehabisan alasan untuk mengejek. Mereka berharap melihat kemarahan. Mereka berharap melihat pembelaan. Mereka berharap melihat rasa malu.
Namun yang mereka lihat hanyalah seorang lelaki yang tampak lelah.
Sangat lelah.
Lelah karena dihina. Lelah karena difitnah. Lelah karena melihat kebenaran dihukum sementara kebohongan diarak keliling kota seperti raja.
Di antara para penjaga itu berdiri seorang lelaki tua berambut putih. Sejak tadi ia tidak ikut tertawa. Matanya memperhatikan Ur Enki dengan cara yang berbeda. Ada sesuatu dalam tatapan itu. Sesuatu yang menyerupai belas kasih.
Akhirnya ia mengangkat tangan, “Cukup!”
Tawa perlahan mereda.
Penjaga tua itu maju beberapa langkah lalu menatap wajah Ur Enki. Untuk beberapa saat ia tidak berkata apa-apa. Seolah sedang menimbang sesuatu yang berat. Kemudian ia menghela napas panjang. Lalu berkata, “Masuklah.”
Tiga penjaga lain langsung memandangnya dengan heran.
“Apa?”
“Kau serius?”
Penjaga tua itu tidak menjawab mereka. Pandangannya tetap tertuju pada Ur Enki. Lalu dengan suara pelan ia berkata, “Mengapa tidak? Yang di dalam sedang menunggu pedang kematian….”
Ia menoleh ke arah pintu penjara. Kemudian kembali memandang Ur Enki. Dan melanjutkan, “Dan yang di luar pun sedang menunggu pedang yang sama.”
Sunyi menyelimuti mereka.
Tak seorang pun tertawa lagi.
Karena untuk pertama kalinya malam itu seseorang mengucapkan kebenaran.
Lilitu memang sedang menunggu hukuman mati. Tetapi Ur Enki juga sedang menunggu kematian. Kematian nama baik. Kematian kehormatan. Kematian masa depannya di tengah masyarakat.
Penjaga tua itu akhirnya membuka pintu batu.
“Pergilah,” suaranya lirih, “biarkan dua orang yang telah dihukum dunia saling mengucapkan selamat tinggal.”
***
Lorong-lorong bawah tanah Esgal Ilu menyambut Ur Enki dengan udara lembap dan dingin. Dinding-dinding batu dipenuhi lumut. Air menetes dari sela-sela langit-langit. Obor-obor kecil menyala redup di sepanjang jalan, menciptakan bayangan yang bergerak-gerak seperti arwah yang kehilangan jalan pulang. Semakin jauh ia melangkah, semakin terasa bahwa tempat itu bukan lagi bagian dari dunia manusia. Ia seperti memasuki perut bumi, memasuki ruang yang sengaja diciptakan untuk menampung kesedihan, penyesalan, dan kematian.
Dari balik sel-sel yang gelap terdengar suara ratapan. Ada yang menangis. Ada yang berdoa. Ada pula yang tertawa sendiri seperti orang yang telah kehilangan kewarasan. Semua suara itu bercampur menjadi nyanyian kesengsaraan yang mengalun pelan di sepanjang lorong.
Akhirnya ia tiba di depan sebuah pintu besi.
Dan jantungnya seketika terasa berhenti.
Karena di balik pintu itulah Lilitu berada.
Pintu besi itu berdiri seperti mulut seekor raksasa tua yang telah terlalu lama menelan ratapan manusia. Karat menempel di sela-sela engselnya, sementara bau lembap bercampur darah kering dan jamur tua menguar dari celah-celah batu di sekelilingnya. Untuk sesaat Ur Enki hanya berdiri diam. Tangan yang biasa kokoh menggenggam kapak kayu kini terasa berat ketika hendak menyentuh daun pintu itu. Bukan karena ia takut pada gelap, bukan karena ia takut pada para penjaga, melainkan karena ia takut pada kenyataan yang akan ia lihat di balik sana.
Perlahan ia mendorong pintu itu. Engsel tua mengerang. Suara panjang dan menyayat. Dan seketika waktu seperti berhenti.
Di sudut ruangan yang hanya diterangi satu obor kecil, duduk seorang perempuan dengan kedua tangan terikat rantai besi. Rambut hitamnya yang dahulu selalu terurai indah kini kusut dan jatuh menutupi sebagian wajahnya. Pakaian yang dikenakannya telah kehilangan warna aslinya. Namun bahkan dalam keadaan demikian, masih tersisa sesuatu yang tak mampu dirampas oleh para imam, para penjaga, ataupun seluruh kebencian kota: keteduhan yang lahir dari jiwa yang telah menemukan kebenaran.
Lilitu mengangkat wajahnya. Mata mereka bertemu. Dan pada saat itu, segala suara dari luar seakan lenyap. Tak ada lagi bunyi tetesan air. Tak ada lagi ratapan para tahanan. Tak ada lagi langkah penjaga. Hanya ada dua manusia yang dipertemukan oleh badai takdir.
Senyum tipis muncul di bibir Lilitu. Senyum yang membuat dada Ur Enki terasa semakin sesak. “Engkau benar-benar datang,” ucapnya pelan.
Suara itu terdengar lemah, tetapi jernih.
Ur Enki menelan ludah. Jawabnya, “Iya, aku datang.”
Hanya itu yang mampu ia katakan. Karena semua kalimat yang telah ia susun sepanjang perjalanan mendadak runtuh begitu melihat keadaan perempuan itu.
Lilitu memandangnya beberapa saat, lalu tersenyum lagi.
“Aku sempat berpikir mereka akan membunuhku lebih dahulu sebelum aku sempat melihatmu sekali lagi.”
Ur Enki melangkah mendekat. Barulah kini ia melihat jelas luka-luka di wajah Lilitu. Memar di pelipis. Bekas cambuk di lengan. Kulit yang mengelupas di sekitar pergelangan tangan akibat rantai.
Sesaat darahnya mendidih.
Namun Lilitu seperti memahami isi hatinya.
“Jangan marah,” ucap Lilitu.
“Aku tidak marah.”
“Engkau marah.”
“Aku hanya...”
Ur Enki berhenti. Sebab bahkan ia sendiri tidak tahu harus menyebut apa perasaan yang sedang mengamuk di dalam dirinya. Sedih. Marah. Kecewa. Bersalah. Semuanya bercampur menjadi satu.
Lilitu menundukkan kepala sesaat. Lalu berkata dengan suara yang jauh lebih tenang, “Ur Enki, apakah engkau masih ingat hari pertama ketika aku mendatangimu?”
Ur Enki mengangguk perlahan. Tentu ia ingat. Terlalu jelas untuk dilupakan.
Lilitu tertawa kecil. Tawa yang lebih menyerupai desahan kelelahan.
“Ketika itu aku datang bukan sebagai sahabatmu,” sunyi memenuhi ruangan. “Aku datang sebagai perangkap. Aku datang atas perintah Enlil Bazi.”
Ur Enki tidak menjawab. Ia telah mengetahui semuanya dari pengakuan Lilitu sebelumnya. Namun mendengar perempuan itu mengulanginya kembali dari balik penjara membuat luka itu terasa berbeda.
“Aku diperintahkan untuk menjeratmu. Aku diperintahkan untuk mendekatimu. Aku diperintahkan membuatmu jatuh…”
Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya.
Lilitu masih melanjutkan, “Aku bahkan merasa bangga saat itu.”
Lilitu tertawa lagi. Namun kali ini tawanya penuh kepahitan.
“Betapa bodohnya aku.”
Ia memejamkan mata. Masih melanjutkan, “Aku meyakini para imam adalah suara para dewa. Aku meyakini kuil adalah rumah kesucian. Aku meyakini segala yang mereka perintahkan adalah kebenaran. Padahal aku hanyalah budak. Budak yang tidak sadar bahwa dirinya diperbudak.”
Obor kecil di dinding berkeredip pelan.
Bayang-bayang bergerak di wajah mereka.
“Aku dulu membenci diriku sendiri, Ur Enki.”
“Lilitu...”
“Ternyata aku hanya merelakan tubuhku pada nafsu imam atas nama kesucian dan persembahan…”
Ia menarik napas panjang. Lanjutnya lagi, “Dan yang paling menyedihkan, aku mengira itu karunia agung dari para dewa .”
Ur Enki memejamkan mata.
Nama Nasaru seperti racun yang kembali menetes ke dalam luka lama. Imam tertinggi itu. Manusia yang bersembunyi di balik jubah kesucian. Manusia yang kini membiarkan Lilitu memikul dosa yang sebenarnya miliknya. Namun Lilitu justru tampak tenang ketika menyebut namanya. Seolah kebencian telah lama meninggalkannya.
“Dahulu aku mengira diriku hidup. Ternyata aku mati. Dan anehnya...” Perempuan itu memandang Ur Enki, “Justru ketika seluruh kota mulai menganggapku mati, aku baru benar-benar hidup.”
Air mata perlahan mengalir di pipinya.
“Karena aku bertemu denganmu.”
Ur Enki menggeleng pelan. “Jangan berkata begitu.”
“Ini bukan pujian. Ini kebenaran,” Lilitu tersenyum, “melalui engkau aku mengenal Ziusudra.”
Nama itu membuat ruangan terasa berbeda. Seakan angin dari bukit jauh di luar kota tiba-tiba menyelinap masuk ke ruang gelap itu.
“Aku masih ingat hari ketika engkau membawaku menemui beliau. Aku datang dengan kesombongan. Aku datang untuk mencari kesalahannya. Aku datang dengan keyakinan bahwa aku lebih pintar daripadanya…”
Lilitu tertawa kecil dan melanjutkan, “Aku pulang sebagai perempuan yang hancur.”
“Hancur?”
“Hancur karena untuk pertama kalinya aku melihat diriku sendiri.”
Air mata Lilitu kembali jatuh. “Untuk pertama kalinya aku mengerti betapa kotornya jiwaku. Untuk pertama kalinya aku mengerti bahwa selama ini aku telah menyembah sesuatu yang bukan Tuhan.”
Ur Enki menundukkan kepala. Dadanya bergetar. Karena ia tahu kata-kata itu lahir dari tempat yang sangat dalam. Bukan dari emosi sesaat. Melainkan dari perjalanan panjang yang telah mengubah hidup Lilitu.
“Jadi jangan pernah berkata bahwa engkau penyebab penderitaanku.”
Lilitu menatapnya dengan sungguh-sungguh. “Engkau bukan penyebabnya.”
“Kalau begitu apa?”
“Engkau jalan yang membawaku keluar.”
Sunyi.
Begitu sunyi.
Hanya suara napas mereka yang terdengar.
“Dahulu aku budak. Sekarang, meski berada di penjara ini dan di balik rantai besi ini, aku merdeka.”
Kalimat itu menghantam hati Ur Enki lebih keras daripada seluruh hinaan yang ia terima dari kota. Karena ia melihat kebenarannya. Lilitu memang dirantai. Tetapi jiwanya telah bebas. Sedangkan banyak orang di luar sana berjalan tanpa rantai namun diperbudak oleh hawa nafsu, ketakutan, dan kebohongan.
Beberapa saat mereka hanya saling memandang.
Lalu Lilitu bertanya pelan, “Bagaimana keadaanmu?”
Pertanyaan sederhana itu justru membuat Ur Enki tersenyum pahit.
“Aku baik.”
“Kau berbohong.”
“Aku tidak berbohong.”
“Kau tidak pandai berbohong.”
Untuk pertama kalinya malam itu, senyum tipis muncul di wajah Ur Enki.
Lilitu menggeleng. “Mereka juga menghukummu, bukan?”
Ur Enki tidak menjawab. Tetapi diamnya sudah cukup.
“Aku mendengar para tahanan membicarakannya. Mereka menyebutmu ayah dari anak yang kukandung.”
“Ya…”
“Mereka melemparimu?”
“Ya.”
“Menghinamu?”
“Ya.”
“Membencimu?”
“Ya.”
Ur Enki menjawab semuanya dengan tenang. Lilitu memejamkan mata. Air matanya jatuh lagi.
“Maafkan aku.”
“Tidak.”
“Karena aku...”
“Tidak.”
Ur Enki memotongnya. “Kita sama-sama korban dari kebohongan mereka.”
Lilitu terdiam. Lalu perlahan mengangguk.
Malam semakin larut. Obor semakin pendek. Dan waktu yang mereka miliki semakin sedikit. Akhirnya langkah kaki terdengar dari lorong. Penjaga tua itu muncul kembali. Wajahnya muram.
“Waktunya habis!”
Kalimat itu terdengar seperti hukuman.
Lilitu menunduk. Ur Enki berdiri. Untuk beberapa saat tak seorang pun bergerak. Perpisahan selalu menjadi hal yang paling sulit dilakukan manusia. Terutama ketika mereka tidak tahu apakah akan pernah bertemu lagi.
Ur Enki menatap Lilitu. “Aku akan kembali.”
Lilitu tersenyum. Namun kali ini senyumnya berbeda. Lebih tenang. Lebih dalam. Seolah seseorang yang telah berdamai dengan takdirnya.
“Jika engkau bisa, datanglah.”
“Jika aku bisa?”
“Badai sudah mendekat, Ur Enki.”
Perempuan itu memandangnya lekat-lekat. Ujarnya lagi, “Aku tidak tahu siapa yang akan lebih dahulu mati. Aku. Atau kebenaran yang kita punya.”
“Jangan berkata seperti itu.”
“Aku hanya berkata jujur.”
Air mata mengalir perlahan di pipinya. “Jika aku mati nanti...”
Ur Enki membeku.
“Jangan menangis untuk tubuhku.”
“Lilitu...”
“Dengarkan aku.” Suaranya lembut. Namun tegas, “dahulu aku mengenal banyak nama dewa. Namun aku tidak mengenal Dia. Kini aku mengenal-Nya. Kini aku tahu kepada siapa jiwa ini harus kembali.”
Ia tersenyum. Senyum yang begitu damai hingga membuat dada Ur Enki terasa semakin sesak. Ur Enki tak mampu berkata apa-apa. Sebab di hadapannya meringkuk seorang perempuan yang dahulu datang sebagai alat tipu daya, namun kini memiliki keteguhan yang bahkan tak dimiliki banyak imam.
Penjaga tua itu memberi isyarat. Waktu benar-benar habis. Ur Enki mundur selangkah. Lalu selangkah lagi. Pandangan mereka tak pernah terputus. Hingga akhirnya pintu besi perlahan ditutup kembali. Dan wajah Lilitu lenyap di balik bayangan.
Suara besi beradu menggema panjang di lorong. Menyisakan kesunyian yang terasa lebih berat daripada batu-batu Esgal Ilu itu sendiri. Ketika Ur Enki kembali berjalan menuju permukaan bumi, ia merasa dirinya memasuki dunia yang berbeda. Dunia di atas masih dipenuhi kebohongan, fitnah, dan kemarahan manusia. Namun jauh di dalam penjara yang gelap itu, ia baru saja melihat sesuatu yang lebih terang daripada seluruh obor di puncak zigurat. Ia telah melihat jiwa yang dibebaskan oleh kebenaran. Dan justru karena itulah, ia tahu para imam tidak akan pernah berhenti sampai jiwa itu benar-benar mereka hancurkan.
***