Nikmati setiap bab dari karya penulis berbakat
Rawa menjelang malam tampak tenang. Sisa cahaya senja sudah lenyap, berganti dengan remang bulan yang muncul malu-malu dari balik awan. Angin membawa bau tanah basah dan aroma rawa yang menusuk, tetapi di gubuk reyot itu, udara terasa berat oleh sesuatu yang lain—oleh tangisan yang baru saja reda, oleh jiwa yang tengah terhempas di ambang pengakuan.
Lilitu masih berlutut, ujung kainnya basah oleh lumpur. Air matanya menetes deras, membasahi tanah di bawahnya. Ia mencoba menegakkan tubuh, namun tubuhnya goyah, seolah lututnya tak lagi sanggup menyangga beban yang ditaruh di atasnya sejak bertahun-tahun.
Ur Enki menatapnya dengan penuh iba. Ia hendak menolongnya berdiri, tetapi Lilitu menepis halus, lalu berkata dengan suara parau, pecah oleh isakan:
“Ur Enki… jangan kau tolong aku. Biarkan aku jatuh. Biarkan aku kotor, karena memang itulah aku sebenarnya.”
Ia mengangkat wajahnya yang penuh air mata. Tatapan matanya bukan lagi mata seorang budak jelita yang dipuja-puja, melainkan mata seorang manusia yang terbuka dari segala penutupnya.
“Aku harus berkata jujur padamu. Aku harus menanggalkan semuanya, sebab aku tak sanggup lagi menanggungnya sendiri.”
Ur Enki diam, hanya menunggu.
Lilitu menarik napas panjang, lalu ucapannya meluncur lirih namun deras, seperti aliran air yang akhirnya memecah bendungan:
“Selama ini… aku bukan datang kepadamu karena perahu kecil itu. Perahu itu hanyalah alasan. Aku diutus. Aku diperintah Enlil Bazi sendiri—agar aku mendekatimu, agar aku menjebakmu dengan tubuhku, dengan wajahku, dengan segala kelemahanmu sebagai lelaki. Aku adalah siasat, Ur Enki. Siasat seorang raja yang ingin menjatuhkanmu.”
Kata-kata itu mengguncang udara. Lilitu menunduk, bahunya bergetar.
“Dan lebih dari itu… aku membawa aib yang tak lagi bisa kusembunyikan. Aku… aku pernah menyerahkan tubuhku kepada imam tertinggi, Nasaru Balet-Ili. Aku yakin saat itu bahwa yang kulakukan adalah suci—bahwa tubuhku adalah persembahan kepada dewa yang bersemayam dalam dirinya. Aku menyerahkan diriku berkali-kali, mengira aku tengah melayani altar. Padahal aku hanya menyerahkan kehormatanku pada nafsu manusia.”
“Itulah aku, Ur Enki,” lanjut Lilitu di tengah isak tangisnya, “seorang perempuan yang kotor. Seorang budak yang mengira dirinya persembahan. Aku tidak layak berada di hadapanmu, apalagi mendengar kata-katamu tentang kesucian tadi. Kata-kata itu membakar jiwaku, sebab aku tahu, aku telah kehilangan kesucianku sejak lama.”
Lilitu menutup wajahnya dengan kedua tangan, suaranya pecah di antara isak:
“Sekarang kau tahu siapa aku. Aku tidak datang sebagai kawan, tidak datang sebagai orang suci. Aku datang sebagai racun yang dibungkus bunga. Aku datang untuk menjatuhkanmu. Aku yang terjatuh. Aku yang penuh dosa. Aku yang sekotor-kotornya. Ampuni aku, Ur Enki. Ampuni aku….”
Ur Enki terdiam. Sorot matanya tetap teduh, meski hatinya terguncang mendengar pengakuan itu. Ia tidak menyela. Ia membiarkan Lilitu menumpahkan seluruh isi dadanya.
Di luar, suara katak rawa bersahutan. Bulan perlahan keluar dari balik awan, menyoroti gubuk reyot itu dengan cahaya pucat. Dan di bawah cahaya itu, seorang perempuan jelita bernama Lilitu Shamhat, budak istana Enlil Bazi, akhirnya menanggalkan seluruh tabirnya, membuka aib dan rahasianya, bukan dengan kebanggaan, melainkan dengan air mata dan keputusasaan.
“Ur Enki…,” ucap Lilitu dengan bibir bergetar hebat.
“Aku tak tahu harus berkata apa, Lilitu,” Ur Enki akhirnya bersuara.
“Apakah engkau tak membenciku?”
“Apa yang mesti kubenci?” Ur Enki menjawab, “kau telah mengaku. Jikalau aku harus benci—maka Nasaru Balet-illi itulah yang patut untuk dibenci. Kau ingin menggodaku? Aku merasa tak tergoda. Sebab aku hanya punya satu cinta. Satu cinta yang tak akan pernah mati. Meski—barangkali kau juga sudah tahu—dia sudah berpaling dariku.”
“Apa yang harus aku lakukan, Ur Enki? Aku budak yang tak punya kemerdekaan.”
“Kau tetap merdeka di hadapan Ilu yang sejati…”
“Tolong bimbing aku, Ur Enki. Tolong pertemukan aku dengan Lelaki di atas bukit itu….”
“Kembalilah pada Enlil Bazi. Tetapi kembalilah dengan jiwamu yang merdeka. Katakan kepadanya bahwa usahamu telah berhasil. Tetapi sembunyikan keyakinanmu darinya.”
“Apakah aku bisa menemuimu lagi?”
“Iya, kapan pun. Kapan pun kamu mau, Lilitu. Sebab, kini kau bukan lagi budak di mataku. Kau adalah perempuan merdeka, dan saudaraku dalam keyakinan yang sama.”
***
Hari-hari berganti, dan waktu perlahan menenun benang-benang kebersamaan yang aneh antara Ur Enki dan Lilitu Shamhat. Gubuk reyot di tepi rawa itu, yang dahulu hanya menjadi saksi sepi bagi seorang pengrajin kayu dengan luka jiwanya, kini kadang dipenuhi suara lirih Lilitu. Ia datang bukan lagi sebagai utusan, bukan pula sebagai budak, melainkan sebagai perempuan yang mencari pengampunan, sebagai jiwa yang merindukan penebusan.
Ur Enki menyambutnya, bukan sebagai kekasih, melainkan sebagai saudara dalam keyakinan yang sama. Di sela-sela pekerjaannya membuat perahu, menebang kayu, atau meraut papan, Lilitu kerap duduk di dekatnya, mendengarkan kata-kata Ur Enki tentang Tuhan yang satu, tentang kesucian yang tak dapat dikotori, dan tentang kemerdekaan jiwa.
Perlahan, Lilitu merasa dadanya lapang; seakan ia telah dibasuh dari segala aib, meski tubuhnya masih menyimpan rahasia yang kelak tak terelakkan: janin yang tumbuh dalam rahimnya, buah dari perbuatannya bersama Nasaru Balet-Ili.
Namun Lilitu tidak gentar. Di hadapan Ur Enki ia merasa masih diterima, masih berharga. Ur Enki sendiri, dengan tatapan mata yang jernih, tidak pernah menyoal perut yang mulai terasa berat. Ia tahu, setiap jiwa punya aibnya masing-masing. Dan kini, ia sudah mempertemukan Lilitu dengan lelaki di atas bukit—Ziusudra, sang pembawa kabar kebenaran. Pertemuan itu, meski tidak disaksikan mata dunia, telah menyalakan api baru dalam hati Lilitu.
Hari itu, siang menjelang sore, matahari perlahan condong ke barat, menaburkan cahaya keemasan di atas permukaan rawa yang berkilau bagai kaca retak. Udara lembap, harum dedaunan basah dan lumpur rawa bercampur dengan semilir angin. Ur Enki baru saja mandi di air rawa, tubuhnya basah, otot-ototnya berkilau terkena cahaya sore. Lilitu, yang datang tanpa rencana jelas, tertawa kecil melihat percikan airnya.
Ia melemparkan tangan, menepiskan riak, dan dalam sekejap, seolah lupa siapa dirinya, Lilitu bermain air bersama Ur Enki. Tawa mereka pecah di udara, ringan dan polos, seakan dua anak manusia yang sedang mencuri kebahagiaan dari dunia yang penuh dengan beban.
Ur Enki tersenyum, untuk sesaat hatinya terasa ringan, beban cinta yang terluka seakan mereda. Lilitu pun merasa seolah ia bukan budak, bukan pula perempuan dengan aib. Di tepi rawa itu, dalam cahaya senja, mereka tampak seperti sepasang kekasih yang sedang berduaan. Tangan Lilitu menyibak air, percikannya mengenai wajah Ur Enki; dan Ur Enki, tanpa sadar, membalas dengan riak air yang lebih deras.
Lilitu mencipratkan air ke wajah Ur Enki.
Ur Enki membalasnya.
Lilitu semakin mencipratkan, dan berlari-larian.
Dan Ur Enki mengejar-ngejarnya.
Lilitu lalu jatuh terjerembab.
Dan Ur Enki menolongnya, lalu merengkuhnya dengan rengkuhan kasih.
Namun, tanpa mereka ketahui, dua pasang mata telah menyaksikan segalanya. Dari balik rimbun semak dan pohon di tepian rawa, tampak Namtar Sin berdiri kaku, wajahnya tegang, sedang di sampingnya Innana Eti menahan napas, matanya membelalak.
Innana, yang masih menyimpan cinta dalam rahasia hatinya, kini serasa dadanya diremukkan. Baginya, yang tampak di depan mata adalah pengkhianatan: Ur Enki, lelaki yang selama ini ia cintai, kini bermain mesra dengan perempuan lain.
Namtar menatap bergantian antara Ur Enki dan Lilitu, lalu ke wajah Innana. Tatapannya penuh dengan gejolak yang tak bisa dibaca: antara cemburu, amarah, dan perasaan dihina. Ia tahu Lilitu hanyalah budak ayahnya, tetapi apa arti semua ini?
Apa yang dilakukan Ur Enki dengan budak istana, di tengah rawa, dalam tawa yang menyerupai tawa asmara?
Riak air yang barusan dipenuhi tawa itu mendadak memucat. Suara derap langkah memecah udara sore. Dari balik semak, Namtar Sin menerobos keluar, wajahnya merah menyala, matanya menyalak seperti api yang menjilat dedaunan kering. Innana mengikutinya dengan langkah gugup, dadanya naik turun, seakan setiap tarikan napas adalah tusukan duri.
“Lilitu!” seru Namtar, suaranya bergemuruh, membuat burung-burung rawa beterbangan. “Perempuan hina! Apa yang kau lakukan di sini, bersama Ur Enki, di air rawa ini?!”
Lilitu tersentak, tubuhnya gemetar. Air yang masih menetes dari rambutnya bagai butiran permata dingin di pipinya, tetapi wajahnya pucat pasi. Ia menunduk, bibirnya bergetar, tak sanggup menjawab.
Ur Enki berdiri, tubuhnya masih basah, otot dadanya berkilat di bawah sinar sore. Tangannya mengepal di sisi tubuhnya, bukan karena marah pada Namtar, melainkan karena merasa ditelanjangi di hadapan sahabat dan gadis yang dicintainya.
“Namtar,” suara Ur Enki berat, menahan gejolak, “kau salah paham. Lilitu datang bukan untuk apa yang kau pikirkan.”
Ucapan Ur Enki membuat dada Namtar bergemuruh.
“Ur Enki!” suara Namtar membelah udara, gemanya membuat burung-burung rawa beterbangan. “Apakah ini yang kau sembunyikan dariku? Apakah ini yang kau lakukan ketika aku memilih diam, menahan gelisah, menunggu ayahku mencabut titahnya—kau malah memadu kasih dengan budak hina dari istana?”
Lilitu terperanjat, tubuhnya gemetar, kakinya goyah. Air yang masih menetes dari rambutnya menambah dingin pada wajahnya yang pucat. Ia ingin bersuara, namun lidahnya kelu.
Ur Enki menjawab, “Namtar, kau salah mengerti….
“Salah mengerti?” Namtar maju selangkah, nadanya penuh kecewa dan amarah. “Aku berjuang. Aku berusaha. Aku hanya menunggu ayahku membatalkan perjodohanku dengan Innana. Kudatangi Innana. Kutemui Innana. Ku yakinkan Innana dengan cintanya kepadamu, dengan keyakinan aku akan membantu dengan segenap jiwaku….”
Ur Enki menatap wajah Namtar.
Ur Enki tertantang.
Ur Enki pun mulai meluapkan amarah, “Namtar Sin! Hai, putra raja Enlil Bazi. Tak perlu lagi menyembunyikan kebusukanmu dengan menuduh aku dengan kebusukan pula. Aku sudah tahu semua. Langit kota pun sudah tahu. Kau memang pandai memutar-balikkan fakta. Kau mau apa?”
Namtar mencabut pedang dari sarungnya.
Lilitu roboh tak kuat lagi meyangga tubuhnya.
Innana menjerit, terisak, dan berseru dengan suara serak, “Kau kejam Ur Enki. Kau sungguh kejam.”
Innana berlari.
Namtar kebingungan.
Namtar memasukkan kembali pedangnya ke dalam sarung di pinggangnya. Namtar lebih mengasihani Innana ketimbang melayani Ur Enki.
***
Rawa Edin bergetar oleh bisikan yang kini berubah menjadi pekikan. Jalan-jalan sempit yang berliku di antara rumah-rumah lumpur, pasar yang beraroma kurma masak dan ikan rawa, hingga halaman luas tempat bangsawan menegakkan tiang benderanya—semuanya bergemuruh oleh satu kabar.
Ur Enki.
Nama itu disebut dengan nada jijik, dibarengi ludah yang dimuntahkan ke tanah. Nama itu dipelintir menjadi aib, dipajang di lidah-lidah rakyat bagaikan hukuman yang sudah jatuh sebelum pengadilan dimulai.
“Budak istana itu, Lilitu Shamhat,” bisik seorang perempuan tua di pasar sambil merapatkan selendang ke wajahnya, “sudah membuncit perutnya. Dan semua orang tahu siapa yang bertanggung jawab. Ur Enki, si tukang kayu yang berlagak suci!”
“Tukang kayu? Suci?” sahut yang lain, wajahnya meringis. “Ia lebih hina dari debu! Lihatlah, malam itu Namtar sendiri yang memergokinya. Bersama Innana! Semua mata tahu. Semua telinga mendengar. Ia pengkhianat. Ia pengotor kota ini.”
Di pojok jalan, anak-anak berlarian sambil meneriakkan ejekan yang diajarkan oleh lidah orang tua mereka.
“Ur Enki si tukang kayu busuk!”
“Ur Enki perusak cinta suci!”
“Lilitu budak terkutuk!”
“Lilitu budak hina!”
Mereka menepuk-nepuk dada, menirukan gaya bangsawan, tertawa kencang.
Tak hanya bisikan. Kini, selebaran-selebaran telah menempel di dinding bata bakar, di tiang gerbang pasar, bahkan di pilar kuil. Huruf-hurufnya tergores dengan tinta pekat, menyeru tanpa tedeng aling-aling:
“Lilitu Shamhat, budak istana, telah mengandung. Kandungan itu adalah buah najis dari hubungan terlarang dengan Ur Enki, si tukang kayu. Inilah noda yang menodai Rawa Edin. Inilah bukti kebusukan jiwa yang berani menantang titah raja dan menodai putri bangsawan.”
Selebaran itu bagai api yang dilemparkan ke ladang kering. Orang-orang berebut membacanya, lalu mulut mereka berubah jadi bara yang menyebar ke segala arah.
“Sekarang sudah jelas!”
“Tak ada lagi yang bisa membela pengrajin hina itu!”
“Buang saja dia ke rawa, biarkan ular dan nyamuk menghabisinya!”
Bahkan mereka yang dulu diam, yang dulu hanya mengamati dari kejauhan, kini ikut bersuara. Sebab suara rakyat, bila sudah dikobarkan oleh selebaran dan desas-desus, menjadi lautan yang tak bisa dibendung.
Di istana, Enlil Bazi tersenyum tipis. Ia tak perlu lagi mengangkat pedang. Ia hanya perlu menggerakkan kata-kata, dan kata-kata itu bekerja jauh lebih kejam daripada besi yang menembus dada. Rakyat kini berdiri di sisinya. Para imam mengangguk-angguk, seolah dewa-dewa sendiri yang menyetujui penghakiman itu.
Dan Ur Enki—nama yang dulu disebut dengan hormat oleh beberapa orang sebagai anak Lugal Enki si bijak, kini diludahkan oleh setiap lidah yang lewat. Ia bukan lagi sahabat bangsawan, bukan lagi pemuda yang dikagumi karena tangannya pandai membuat perahu. Ia kini adalah noda, aib, bayangan hitam yang harus dihapus dari bumi Rawa Edin.
Rawa Edin pun bergemuruh, seperti menunggu pengadilan yang sudah pasti, penghakiman yang tak mungkin ditolak.
Dan kabar itu, bagaikan angin yang tak mengenal pintu, merayap sampai ke gubuk reyot di tepi rawa, tempat Ur Enki tinggal.
Ia duduk di ambang pintu gubuknya, kapak masih di tangannya, sisa kayu perahu berserakan di sekeliling. Matahari condong ke barat, mewarnai rawa dengan cahaya merah darah. Dari jauh, terdengar suara-suara yang mengiris telinga: teriakan anak-anak, bisik orang-orang yang melintas, bahkan dengung sindiran yang menyebut-nyebut namanya.
“Ur Enki si pengotor!”
“Ur Enki si pendosa!”
“Ur Enki yang berani menantang raja dan dewa-dewa!”
Ia mendengar, meski pura-pura menunduk pada kayu di tangannya. Tapi hatinya tak bisa menutup telinga dari kenyataan itu.
Seorang bocah berlari di depan gubuknya, menempelkan selembar kertas di tiang kayu. Bocah itu tertawa, lalu kabur. Ur Enki mendekat, merobek selebaran itu, membacanya dalam diam.
Huruf-huruf pekat itu seakan menyala, menikam matanya:
“Lilitu Shamhat, budak istana, telah mengandung… dan Ur Enki adalah ayah dari anak itu.”
Tangannya gemetar. Selebaran itu diremasnya hingga hancur, tetapi kata-kata yang tergores tak bisa dihapus dari dadanya.
Ia bangkit. Napasnya berat. Seolah seluruh rawa menjadi saksi fitnah yang dilemparkan ke wajahnya. Ia ingin berteriak, ingin menyangkal, tetapi siapa yang mau mendengar? Seluruh kota telah bersuara. Suara rakyat lebih lantang daripada kebenaran yang ia simpan.
Lilitu… nama itu menari di kepalanya. Ia tahu rahasia Lilitu. Ia tahu aib yang disembunyikan Lilitu. Ia tahu siapa yang seharusnya dituduh. Ia tak bersalah, tetapi ia tetap juga terkena fitnah.
Ur Enki menengadah ke langit. Bulan pucat Sin mulai merangkak, bagai mata yang dingin, menyaksikan aib yang ditimpakan kepadanya. Dan di dalam hatinya, terdengar gema suara lelaki di atas bukit:
“Kebenaran itu suci. Ia tak bisa dibungkam, tak bisa dipalsukan. Tetapi kebenaran selalu diuji oleh api kebencian manusia.”
Ur Enki terhuyung, kembali duduk di tanah becek. Tangannya menutup wajahnya. Dadanya bergemuruh, entah oleh amarah, entah oleh luka, entah oleh kerinduan yang tak bisa lagi ia gapai.
Sementara itu, di tempat yang berbeda, siksaan langsung rupa-rupanya sudah dialami Lilitu. Di bawah bayangan tebal Zigurat Esgal Ilu, Lilitu Shamhat telah direnggut dari kebebasan rapuhnya. Ia ditarik keluar dari bilik sempitnya di istana, diikat pergelangan tangannya dengan tali kasar, dan dilempar ke dalam tahanan batu yang lembab dan pengap.
Suara pintu besi berderit menutup, lalu senyap. Hanya suara tetesan air dan napas berat para penjaga yang menemaninya. Lilitu duduk di sudut, tubuhnya menggigil, jiwanya retak. Ia tahu: jalan yang ditempuhnya kini tak bisa kembali.
Nasib pahit menimpa dirinya. Ia yang dahulu diperintah dengan titah dingin oleh Enlil Bazi untuk menggoda Ur Enki, kini justru difitnah dengan aib yang sama. Dulu ia dipaksa menjadi senjata, kini ia dijadikan kambing hitam. Dulu ia hanyalah bidak dalam permainan, kini ia adalah korban yang dipersiapkan untuk ditumbalkan.
Selebaran-selebaran yang kini menempel di dinding kota bukan hanya menyalakan kebencian pada Ur Enki, tetapi juga menutup rapat segala jalan keluar bagi dirinya. Lilitu menangis, menutup wajahnya dengan tangan yang terikat. Ia bukan lagi budak yang dipuja karena kecantikannya, bukan lagi bidak yang memainkan siasat raja, bukan lagi perempuan yang mencari cahaya di balik gelap. Kini ia hanyalah nama yang tertera di selebaran, aib yang disebarkan ke seluruh penjuru kota.
Di dua tempat berbeda—gubuk reyot di tepi rawa dan tahanan batu di bawah zigurat—dua jiwa merana menangis dalam kesepian yang sama. Ur Enki dan Lilitu, tanpa saling tahu, kini berjalan di jalur yang sama.
***