Nikmati setiap bab dari karya penulis berbakat
Senja merayap ke tepi Rawa Edin. Langit berwarna lembayung, bayangan pepohonan meranggas jatuh ke permukaan air yang tenang, dan angin sore berhembus membawa aroma lumpur serta dedaunan basah.
Di gubuk kayu yang sederhana itu, Ur Enki sedang duduk, jari-jarinya mengelus batang kayu yang sebentar lagi akan menjadi perahu kecil. Cahaya redup matahari menimpa wajahnya, menajamkan garis rahang yang tegas, juga tatapan matanya yang seolah menembus batas dunia.
Lilitu Shamhat datang sekali lagi.
Kedatangannya sudah mulai akrab bagi penghuni rawa itu. Ia menjejakkan kaki di tanah becek dengan langkah ringan, membawa sekeranjang bunga yang katanya akan dipakai untuk mengukur lebar perahu persembahan. Tetapi di dalam hatinya, ia tahu: semua itu hanya dalih. Perintah tuannya, Enlil Bazi, telah ia emban. Ia harus menjerat lelaki ini dengan senyum, dengan kata-kata, dengan kelembutan yang memabukkan.
Namun, setiap kali ia duduk di depan gubuk reyot itu, setiap kali ia menatap wajah Ur Enki yang tenang namun menyimpan bara, ia merasa dirinya seperti seorang anak kecil di hadapan seorang guru yang jauh lebih besar.
“Perahu ini,” kata Lilitu, membuka percakapan, “akan menjadi persembahan yang indah. Imam-imam akan memuji tanganmu, Ur Enki. Dewa-dewa pun akan tersenyum.”
Ur Enki berhenti menajamkan pahatnya. Ia menoleh, menatap Lilitu dengan sorot mata yang tenang, tapi penuh daya.
“Dewa-dewa akan tersenyum, Lilitu?” ucapnya pelan. “Apakah batu bisa tersenyum? Apakah kayu bisa menoleh? Apakah logam bisa mendengar pujian?”
Lilitu tertegun. Ia mencoba tersenyum, menutupi kegugupan. “Dewa-dewa adalah penjaga kita. Tanpa mereka, apakah Rawa Edin akan tetap berdiri?”
“Kau tak bisa menjawab pertanyaanku, Lilitu,” ucap Ur Enki, “karena kau sudah tahu jawaban yang sebenarnya. Patung-patung itu tak peduli akan perahu ini. Dan yang tersenyum hanyalah imam-imam-mu. Bukan patung-patungnya.”
“Setidaknya, aku bisa tersenyum karenanya,” Lilitu masih menyergah.
“Kini kau meletakkan dirimu sendiri seakan dewa yang bisa tersenyum. Padahal, senyum itu dari bibirmu sendiri.”
Lilitu terdiam.
Lilitu tersudut.
Ur Enki menggeleng perlahan. Suaranya lirih, namun bagai palu yang menghantam besi panas:
“Lalu, bukan dewa-dewa itu yang menegakkan kota ini. Tangan manusia yang bekerja. Darah lelaki yang mengalir di rawa ini. Air yang turun dari langit, tanah yang merekah memberi padi, itulah kasih Ilu Yang Mahasejati. Satu Tuhan. Bukan banyak nama yang dipahat di batu.”
Lilitu menunduk. Jantungnya berdegup kencang. Ia masih membela apa yang selama ini diyakininya:
“Namun, para imam mengatakan bahwa patung itu hanyalah lambang. Bahwa roh para dewa turun dan bersemayam di sana. Itulah sebabnya kami bersujud, karena yang kami sembah adalah kehadiran mereka, bukan sekadar batu.”
Ur Enki menghela napas. Tatapannya lembut, tapi dalam.
“Jika kau berkata begitu, katakan padaku: adakah kau pernah mendengar suara dewa-dewa itu menjawab doamu? Atau semua doa hanya bergema di dinding kuil, lalu hilang ditelan udara? Sedang hatimu sendiri yang menjawab, bukan?”
Lilitu tercekat. Ia ingin menyangkal, tapi lidahnya kelu. Selama ini, setiap doa yang ia panjatkan di bilik-bilik kuil, ia memang tak pernah mendengar balasan, selain gema suaranya sendiri.
“Dewa-dewa itu agung,” katanya lirih, tapi suaranya sudah kehilangan keyakinan.
Ur Enki menunduk, lalu menyentuh kayu di depannya.
“Dengar, Lilitu. Kayu ini akan menjadi perahu, karena tanganku membentuknya. Batu bisa menjadi patung, karena tangan manusia yang memahatnya. Jika kayu dan batu itu dibuang tanpa disentuh manusia, ia hanyalah benda mati. Maka siapa yang sesungguhnya memberi nyawa bagi patung-patung itu? Manusia, bukan dewa.”
Lilitu merasakan dadanya panas. Seakan ada api kecil yang menyala, bukan di luar, melainkan di dalam jiwanya sendiri. Ia memandang Ur Enki, matanya bergetar.
“Tapi… jika benar yang kau katakan, lalu kepada siapa aku harus menyerahkan diriku? Kepada siapa aku harus bersujud?”
Ur Enki menatapnya dalam. Suaranya mengalun tenang, namun bagai sungai yang tak terbendung.
“Kepada Tuhan yang Esa, Ilu Yang Mahasatu. Yang menciptakan langit dan bumi, air dan tanah, manusia dan segala kehidupannya. Dia tidak dibuat tangan manusia. Dia tidak butuh kuil untuk berdiri, tidak butuh dupa untuk hidup. Dia ada bahkan sebelum ada batu, sebelum ada api. Dialah satu-satunya yang layak disembah.”
Air mata tiba-tiba menggenang di pelupuk mata Lilitu. Ia menunduk, menutupi wajahnya dengan kedua tangan. Ia, yang selama ini menjadi budak dewa-dewa, yang menyerahkan tubuhnya bahkan kepada imam dengan keyakinan bahwa itu adalah persembahan, kini merasa seolah bumi tempatnya berpijak berguncang.
“Cukup,” bisiknya. “Kata-katamu… mengoyak jiwaku.”
Ur Enki menatapnya lama. Ia tidak mendekat, tidak pula menyentuh. Ia hanya berkata, “Aku tidak bermaksud mengoyak. Aku hanya menginginkanmu melihat cahaya, Lilitu. Cahaya yang tidak pernah padam.”
***
Senja yang baru datang kembali dengan pelan, mengalirkan warna keemasan di atas permukaan rawa. Udara membawa aroma lumpur yang lembap bercampur wangi dedaunan basah. Di depan gubuk reyot itu, sebuah perahu kecil tergeletak di atas bilah kayu. Hasil tangan Ur Enki. Bentuknya sederhana, tetapi indah dalam kesederhanaan. Garis-garis pahatannya rapi, permukaan kayunya halus, dan tubuh perahu itu tampak siap meluncur, bukan hanya di air rawa, melainkan seolah-olah di sungai suci menuju langit.
Ur Enki berdiri di sampingnya, matanya menatap perahu itu dengan hening. Bukan bangga yang mengisi dadanya, melainkan rasa lega: pekerjaan telah selesai, dan ia telah menunaikan amanat.
Lalu langkah itu terdengar lagi. Ringan, nyaris tak meninggalkan jejak, namun tetap membuat suasana berubah. Lilitu Shamhat mendekat, gaun lenannya yang sederhana tersapu cahaya senja. Rambutnya jatuh bagai arus hitam yang disinari emas sore. Bibirnya mengulum senyum samar, senyum yang sulit dibedakan antara tulus atau hanya tabir dari sesuatu yang disembunyikan.
“Indah…” bisiknya ketika matanya menangkap perahu kecil itu. “Tanganmu membuat kayu seakan hidup, Ur Enki. Imam-imam akan menyebutnya persembahan yang sempurna. Bahkan dewa-dewa akan merasa bangga menerima perahu ini.”
Ur Enki menoleh, menatapnya dengan tatapan yang teduh namun menusuk. Ia menjawab pelan, tapi tajam bagai pisau yang disarungkan dalam sutra:
“Apakah kayu yang diam bisa mengantar doa ke langit? Apakah bunga-bunga yang ditaburkan mampu membuat dewa-dewa bergetar? Katakan padaku, Lilitu, apakah benar dewa-dewa itu akan tersenyum menerima ini? Ataukah hanya manusia yang merasa tenang karena persembahannya sendiri?”
Lilitu terdiam. Dadanya bergetar. Ia mencoba tersenyum, lalu berkata, suaranya nyaris berbisik:
“Itu tradisi, Ur Enki. Aku… aku pun meyakininya.”
Ur Enki mengangguk perlahan, lalu duduk di bilah kayu di samping perahu. Suaranya kini mengalir, lembut namun dalam, bagai alunan sungai yang tenang tapi membawa arus kuat:
“Tradisi… bukan selalu kebenaran. Ada tradisi yang membuat manusia lupa siapa dirinya. Batu disembah, kayu diagungkan, darah ditumpahkan di altar. Padahal Tuhan tidak pernah meminta itu.”
“Keyakinamu sangat berbahaya, Ur Enki. Jika Enlil Bazi mendengar—juga para imam yang suci—engkau bisa dibakar.”
Ur Enki tersenyum, memejamkan mata. Wajahnya yang tegas kini tampak begitu tenang, begitu damai.
“Imam-imam yang suci,” ujar Ur Enki kemudian, “kesucian apa yang lahir dari jiwa yang tak suci? Kesucian bagaimana yang ada pada jiwa yang menipu? Dusta? Sombong dan angkuh? Bagaimana bisa meletakkan kesucian dewa-dewa pada jiwa yang sesungguhnya rendah dan kotor?”
Dada Lilitu mulai terguncang. Dia pun bertanya, “Jadi apa menurutmu hakikat kesucian itu?”
“Tuhan itu Mahasuci, Lilitu. Kesucian-Nya tidak bisa dikotori oleh nafsu manusia. Ia tidak butuh dupa, tidak butuh darah, tidak butuh tubuh manusia dijadikan persembahan. Yang Ia kehendaki hanyalah hati yang bersih, jiwa yang menjaga dirinya tetap jernih.”
“Seorang perempuan, misalnya,” lanjut Ur Enki, “ia adalah cermin dari kesucian itu. Ia adalah taman yang harum, yang mestinya dijaga dari tangan kasar. Jika taman itu diinjak, bunga-bunganya dipetik sembarangan, apakah keindahan masih tersisa? Tidak. Yang suci akan menjauh. Sebab yang suci hanya mendekat kepada yang suci pula.”
Kata-kata itu menetes lembut, namun mengiris tajam ke jantung Lilitu. Wajahnya memucat, matanya bergetar, lalu air mata jatuh juga di pipinya. Ia menunduk, kedua tangannya menutupi wajahnya. Tangisnya pecah, bahunya terguncang.
Ur Enki menoleh, kaget melihat air mata itu. Ia tidak tahu rahasia yang tersembunyi dalam tubuh dan jiwa Lilitu, tidak tahu bahwa kata-kata itu seakan membongkar malam-malam gelapnya di bilik kuil bersama Nasaru Balet Ili. Maka ia berkata dengan lembut, penuh belas kasih:
“Aku tidak bermaksud melukaimu. Aku hanya berkata sebagaimana yang kutahu. Jangan tangisi masa lalu, Lilitu. Masa lalu adalah bayangan yang sudah jatuh di tanah, tak bisa lagi menghalangi cahaya. Yang ada hanyalah hari ini, detik ini, saat ini—ketika kesucian bisa dimulai kembali. Selama hati masih bernafas, pintu itu tak pernah tertutup.”
Tangisan Lilitu makin deras.
Dan Ur Enki melanjutkan, “Kita, manusia, di hadapan-Nya sama, Lilitu. Tak ada rakyat jelata, tak ada raja. Tak ada miskin, tak ada kaya. Tak ada derajat tinggi, tak ada derajat rendah. Tak ada tuan, tak ada budak. Itulah Ilu Yang Mahasatu, Lilitu. Ilu Yang Maha Mencinta. Ilu Yang Mahasuci.”
Lilitu jatuh berlutut di tanah becek di depan gubuk, suaranya patah-patah di antara isaknya:
“Maafkan aku, Ur Enki. Maafkan aku….”
“Tak ada yang harus dimaafkan, Lilitu. Kau tak bersalah sama sekali.”
“Aku kotor, Ur Enki. Aku sangat kotor….”
***