Fibozona
📖 BACA BAB

Baca Bab

Nikmati setiap bab dari karya penulis berbakat

🎉 GRATIS - Tanpa Koin

Lilitu Datang

📅 01 July 2026 📚 Ketika Kota Mengutuk Cinta Kita ⏱️ 8 menit baca 📑 Bab 25

Matahari condong perlahan, menurunkan cahaya keemasan di atas permukaan rawa. Air yang tenang berkilau bagai sisik naga purba, sementara angin sore mengibaskan dedaunan palem yang tumbuh di tepian. Di sanalah, di gubuk reyot namun tegak berdiri, Ur Enki tengah menajamkan kapaknya, mencoba menyalurkan luka jiwanya pada kayu yang keras, seolah setiap tebasan mampu meredam gemuruh batin.

Langkah itu datang perlahan. Ringan, nyaris tak terdengar, namun tetap membawa aura yang membuat udara berubah. Lilitu Shamhat muncul di jalan tanah yang membelah rerumputan. Ia mengenakan jubah sederhana, bukan kain tipis sutra yang biasa menghiasi tubuhnya di rumah tuannya. Rambutnya digelung, namun beberapa helai dibiarkan jatuh dengan sengaja, seperti akar merambat mencari celah di bebatuan.

Ur Enki menoleh. Alisnya berkerut. Tak pernah ada bangsawan yang mau menginjakkan kaki ke gubuk miskin ini, dan budak istana apalagi. Namun perempuan itu berdiri di hadapannya, menundukkan kepala dengan penuh tata krama.

“Aku mencari tukang kayu Ur Enki,” suaranya lembut, seperti air yang merembes ke celah batu.

“Akulah dia,” jawab Ur Enki pendek. “Apa yang kau cari dariku?”

Lilitu menatapnya, bola matanya jernih namun menyimpan sesuatu yang tak bisa langsung ditebak. Ia mendekat perlahan, menghela napas, lalu berkata dengan suara setengah bergetar:

“Aku mendengar tanganmu mahir membuat perahu kecil. Aku datang untuk memesan satu.”

“Banyak tukang kayu di Rawa Edin. Kau bisa bebas mendapatkannya.”

“Tak ada yang semahir engkau…”

“Darimana kau tahu aku mahir?”

“Seluruh kota tahu itu, Ur Enki.”

“Iya, bahkan kau pun tahu namaku.”

Lilitu Tersenyum. Ramah. Sangat ramah.

Dan indah.

Ur Enki bertanya, “Untuk siapa kau pesan perahu?”

Lilitu tersenyum samar. Jawabnya, “Untuk persembahan di Kuil Eanna. Dewa-dewa perlu hadiah, bukan? Aku hanya budak kecil yang ingin berbakti.”

Ur Enki membeku sejenak. Kata “dewa” itu seperti batu panas yang dilempar ke dadanya. Namun ia menahan diri, sebab wajah Lilitu memantulkan cahaya senja yang indah.

“Perahu untuk dewa?” gumamnya, nyaris tak terdengar. “Mereka sudah punya sungai emas dan lautan dupa. Buat apa hadiah manusia?”

Lilitu menggeser langkah, mendekat setapak demi setapak. “Kau tak percaya pada dewa, ya? Aku sudah sering mendengar kau menolak ikut persembahan.”

Ur Enki tersenyum sinis.

“Benarkan?” Lilitu bertanya lagi, “kau tak pernah ikut persembahan. Tak percaya pada dewa-dewa kita.”

“Itu dewa-dewamu!” ucap Ur Enki sedikit mendengus, “aku tak peduli.”

“Tetapi kenapa, Ur Enki? Kenapa kamu berkata seperti itu?”

Ur Enki menatap tajam Lilitu.

Yang ditatap, membalas tatapan itu dengan senyum yang memesona.

“Kau ini,” ucap Ur Enki, “mau pesan perahu atau banyak bertanya?”

“Pesan perahu,” jawab Lilitu, “dan bertanya…”

“Aku hanya tukang kayu,” katanya datar. “Jika kau ingin perahu, aku akan buatkan. Tapi jangan banyak tanya. Jangan minta aku mendoakan perahu juga.”

Lilitu mendekat lebih lagi, kini hanya sehelai napas memisahkan keduanya.

“Aku tidak datang untuk doa, Ur Enki,” bisiknya, “aku datang untuk mengenalmu.”

Ia letakkan sekeping perak di telapak tangan Ur Enki, jemarinya menyentuh tangan Ur Enki dengan kehalusan yang tidak diminta, seperti embun jatuh ke bilah pedang yang panas.

“Kau berbeda dari pemuda lain di Rawa Edin. Aku ingin tahu, apa yang kau cari… selain kayu, selain sungai, selain—” ia berhenti, menatap matanya dalam-dalam, “—selain seorang gadis yang kau sembunyikan dalam hatimu?”

Ur Enki mengangkat wajahnya, matanya membulat, seperti rusa yang baru sadar sedang dibidik oleh anak panah.

Lilitu hanya tersenyum, melangkah mundur perlahan, membiarkan aroma tubuhnya tertinggal seperti dupa yang sulit hilang.

“Buatkan aku perahu itu,” katanya sambil berbalik. “Kita akan bertemu lagi… sebelum sungai membawa rahasianya.”

***

Malam turun seperti tirai sutra kelam di tepi Rawa Edin. Bulan sabit tergantung pucat di langit, memantul di permukaan rawa yang tenang. Diterangi obor yang meliuk-liuk, Ur Enki masih tenggelam dalam pekerjaannya meraut kayu.

Lilitu kembali hadir.

Lilitu datang kembali.

Lilitu datang bukan sebagai pemesan perahu, melainkan sebagai tamu yang tak diundang namun diterima oleh keheningan malam. Ia membawa sekeranjang kurma dan susu kambing.

“Aku tahu kau jarang keluar, Ur Enki,” ucapnya dengan suara yang seolah mengusap dinding malam. “Jadi aku bawakan sedikit jamuan untuk teman yang bekerja terlalu keras.”

Ur Enki mendongak dari pahatan kayu yang tak kunjung selesai. Matanya ragu, tapi tidak mengusir. Ia pun bertanya, “Mengapa kau datang malam-malam begini? Jika orang melihat, mereka akan berkata buruk.”

Lilitu duduk di bangku berdebu, menyibakkan rambutnya yang hitam pekat hingga lehernya tampak disinari lampu.

“Orang selalu berkata buruk, bahkan kepada lelaki tua di atas bukit itu, bukan?” jawabnya tenang. “Kau peduli pada ucap manusia, atau kau peduli pada dirimu sendiri?”

Ur Enki tercekat. Kata-kata itu seperti menyentuh urat luka dalam dirinya—tentang hinaan kepada lelaki tua itu, tentang gunjingan yang sudah ia telan sejak lama. Ia hanya mengangguk samar, lalu berkata lirih, “Aku peduli pada kebenaran… tapi kebenaran bukan milik dewa-dewa yang kalian sembah.”

Lilitu tersenyum samar.

“Kalau begitu, apa milik mereka?” suaranya selembut malam, tetapi matanya tajam seperti ujung pisau. “Kau bicara seolah kau lebih tahu dari para imam. Kau bicara seolah kau punya Tuhan lain, yang tak pernah kau sebut.”

Ur Enki diam, tak menjawab pertanyaan Lilitu.

Lilitu mendekat perlahan, duduk di samping Ur Enki, suaranya kini seperti bisikan yang menggeser tirai rahasia. “Aku dengar kau sering ke bukit itu. Apa yang diajarkan lelaki tua itu padamu? Tentang bahtera? Tentang badai?”

Kali ini, Ur Enki tergerak hatinya. Perlahan ia menaruh pisaunya. Ia taruh pula papan-papan kurma agak jauh. Kali ini, ia siap melayani pertanyaan-pertanyaan Lilitu.

Ur Enki menatap wajahnya.

Dan Lilitu membalas dengan senyumnya.

“Dua kali kau mendatangiku,” ucap Ur Enki, “dan dua kali pula wajahmu berseri-seri. Apakah karena kau merasa diberkati dewa-dewamu?”

Kali ini, Lilitu menelan ludah, dan tak langsung menjawab Ur Enki.

Dan Ur Enki terus berkata, “Kau bertanya tentang para dewa. Tentang kenapa aku tak melakukan persembahan-persembahan kepada mereka. Tentang lelaki di atas bukit itu. Tentang kebenaran. Sungguhkah kau mau mengetahui kebenaran? Tapi, siapa sebenarnya namamu?”

“Lilitu, Ur Enki,” jawab Lilitu, “maaf, aku tak sempat memperkenalkan diri…”

“Lilitu. Kau datang memesan perahu—katamu untuk persembahan. Pesananmu hanya alasanmu untuk menemuiku. Bukankah begitu?”

Lilitu sedikit tercekat.

Ur Enki tersenyum penuh kemenangan.

“Katakanlah,” akhirnya Lilitu berkata lagi, “katakanlah tentang semuanya. Kuakui, aku memesan perahu hanya sebagai alasan. Mana mungkin aku datang tanpa alasan. Aku hanyalah budak rendah yang harus taat dan patuh pada tuannya. Namun aku punya iman, Ur Enki. Seperti semua orang di kota ini. Kecuali kau, dan lelaki di atas bukit itu.”

“Jelaskan imanmu,” ucap Ur Enki.

Lilitu menelan ludah. Tanyanya, “Apa maksudmu?”

Ur Enki tersenyum, lalu menjawab, “Kau berkata kau punya iman. Apa yang kau Imani? Kepada siapa kau beriman?”

“Tentu kepada para dewa. Kepada siapa lagi?”

“Para dewa menjawab iman-mu?” desak Ur Enki.

“Apakah dewamu menjawab cintamu?” kali ini Lilitu membalikkan pertanyaan.

Ur Enki, tak ayal, menatap lekat wajah Lilitu, tak menduga Lilitu bertanya seperti itu. Sepasang bibirnya seketika bungkam.

“Kenapa kau diam?” Lilitu bertanya kembali, “kita tidak akan pernah tahu apakah dewa-dewa menjawab iman kita, bukan? Sebagaimana juga dewa-mu tak menjawab jeritan cintamu…”

“Aku diam bukan karena aku tak bisa menjawabnya,” balas Ur Enki, “tapi aku diam sebab ternyata kau membawa serta cinta dalam perbincangan kita. Tapi jika kau hendak membantah dengan cara seperti ini, baiklah. Mari kita bicara tentang cinta, dan mari kita dapati bahwa Dia-lah yang menanamkan cinta, dan Dia pula yang menentukan apakah cinta akan bersatu atau tidak. Dia mengetahui bahwa hatiku tak pernah lepas dari cinta. Dia juga membimbingku untuk mengetahui bahwa bukan cintaku yang lenyap, tapi cintanya telah direnggut.”

Lilitu terdiam.

Lilitu memandangi Ur Enki yang tiba-tiba menunduk.

“Apakah kau benar-benar mencintai Innana?” akhirnya meluncur juga pertanyaan itu dari bibir Lilitu.

“Aku mencintai cinta, bukan mencintai Innana.”

“Meski Innana telah berpaling?”

“Jangan paksa aku untuk menjawabnya.”

“Dan hatimu terluka. Dan dewa-mu diam saja?”

“Jangan paksa aku….”

“Aku tak memaksa,” jawab Lilitu, “aku hanya bertanya.”

“Kau tak akan sanggup mendengarnya.”

“Kenapa?”

Sekarang, kembali Ur Enki menjawab dengan tatapan yang lekat ke wajah Lilitu, “Tuhanku akan murka. Murka kepada kota ini. Murka kepada penduduknya. Bukan karena hal itu yang dikatakan Lelaki di atas bukit meski aku pun percaya, tetapi karena kota ini memang telah membuat Tuhanku murka.”

“Jadi tentang badai itu? Badai yang sedari dulu diperingatkannya, namun tak pernah datang juga?”

“Lilitu,” ujar Ur Enki setengah lirih, “jika kau ingin tahu kenapa aku tak memercayai dewa-dewa, sebab aku tak memiliki alasan untuk mempercayainya. Katamu, kau orang yang taat. Kau selalu memberikan persembahan. Sebut satu contoh saja, dalam hidupmu, sekali saja, persembahan yang telah kau berikan itu, telah membawa perubahan apa dalam hidupmu? Patung-patung itu—apakah mereka bisa berkata? Meski satu kalimat saja, atau satu kata saja, adakah mereka menjawab doa-doamu? Atau, doa-doamu dijawab oleh para imam itu, dan para imam meyakinkanmu bahwa mereka wakil para dewa? Darimana kau tahu, dan yakin, para dewa mewakilkan mereka pada imam-imammu? Darimana kau tahu Nasaru Balet-illi dibisiki para dewa bahwa ia utusan mereka? Kau bilang, kau adalah budak. Kau berasal darimana?”

Setelah menelan ludah, Lilitu menjawab jujur, “Aku datang dari kota seberang Eufrat, diambil hingga hidup di kota ini sebab kotaku dihancurkan.”

“Kenapa para dewamu tak membela kotamu? Sedangkan kau, juga orang tuamu, juga penduduk kotamu, tentu selalu memberi persembahan dan doa-doa kepada mereka?”

Kali ini, Lilitu benar-benar tak mampu lagi berkata-kata.

***

← Kembali ke Daftar Bab