Nikmati setiap bab dari karya penulis berbakat
Matahari telah bergulir dari timur, memercikkan cahaya yang seakan menari di permukaan rawa. Angin berhembus pelan, membawa aroma lumpur basah dan dedaunan yang merekah di tepi air. Gubuk kayu Ur Enki berdiri sederhana, tiang-tiangnya rapuh, atapnya miring, namun di dalamnya tersimpan jiwa yang diguncang cinta dan luka.
Di hari itu, beberapa waktu setelah purnama Sin yang mematahkan jiwa, bayang-bayang langkah berderap datang. Tidak hanya satu, melainkan serombongan gerobak besar, penuh dengan wadah-wadah buah delima, kurma yang mengilap bagai permata hitam, kendi-kendi anggur merah, kain lembut dari kota-kota jauh, dan perhiasan emas yang berkilauan.
Di depan rombongan itu, berdirilah Sulgi Ram, ayah Innana, dengan jubah putih berhias benang emas yang melambai diterpa angin. Di sisinya, Ninsabtu, sang ibu, berwajah anggun namun penuh resah, matanya menyimpan sorot yang gamang, bagai cahaya bulan yang bersembunyi di balik kabut tipis. Mereka berjalan perlahan mendekati gubuk reot itu, langkah yang bagi mata dunia adalah kejatuhan derajat seorang bangsawan, tetapi bagi hati mereka, sebuah pengorbanan yang harus ditegakkan demi kebahagiaan putrinya.
Ur Enki, yang kala itu tengah duduk di ambang pintu gubuknya, bertelanjang dada, kulitnya legam oleh matahari, urat-urat lengannya masih menyisakan tenaga dari kapak yang ia ayunkan pagi tadi, tertegun.
Ia melihat kereta, gerobak, dan deretan hadiah itu. Bukan dengan mata yang berbinar, melainkan dengan mata yang redup, seperti seseorang yang telah kehabisan daya untuk bermimpi.
Sulgi Ram berhenti di hadapan pemuda itu. Suaranya bergetar, namun tetap ditopang wibawa seorang bangsawan:
“Ur Enki, putra Lugal Enki. Aku datang lagi. Bukan dengan tangan kosong. Bukan dengan hati penuh amarah. Aku datang dengan rasa terimakasih. Atas cinta yang telah kau berikan untuk putriku, Innana Eti. Cinta yang membesarkan dirinya, yang membuatnya mengenal arti getar jiwa. Cinta yang barangkali, tanpa kau sadari, adalah pelita bagi masa mudanya.”
Ia terdiam sejenak, menoleh pada Ninsabtu yang matanya telah berkaca-kaca.
Dengan suara lirih, Sulgi Ram melanjutkan, “Namun, anak muda… jantung hati seorang gadis akhirnya harus memilih. Dan hatinya kini… telah terikat pada Namtar Sin. Kau tahu, bukan? Itu adalah titah raja, itu adalah takdir yang tak terelakkan. Dan hati mereka—Innana dan Namtar—telah berpaut.”
Kata-kata itu menghunjam ke dada Ur Enki. Nafasnya tercekat. Kepalanya menunduk, menatap tanah berlumpur di depan kakinya. Dalam hatinya, ribuan kilatan luka menyalak, seperti kilat yang menembus langit di kala badai. Namun wajahnya tetap diam, kaku, hanya matanya yang bergetar bagai permukaan air yang dilempari batu kecil.
Sulgi Ram kembali bersuara, kali ini lebih lembut, seakan seorang ayah menasihati anak yang ia kasihi:
“Engkau telah bersumpah waktu itu, Ur Enki, bahwa jika jantung hati Innana bukan untukmu, engkau sendiri akan pergi, meninggalkan cintamu. Kini saatnya, anakku. Inilah waktu yang kau maksud sendiri. Pergilah. Jangan patahkan kebahagiaan mereka. Jangan biarkan cinta yang begitu murni berubah menjadi aib yang dikenang dalam sejarah.”
Hadiah-hadiah itu lalu diturunkan dari gerobak: kain, perhiasan, buah, dan minyak wangi,dan emas-emas berkilauan. Semuanya diletakkan di hadapan gubuk reot itu. Sebuah ironi. Gubuk miskin disandingkan dengan kemewahan istana. Hati yang hancur dipaksa berhadapan dengan hadiah penuh kilau.
Ninsabtu menekuk lututnya, tindakan yang hampir mustahil bagi seorang perempuan bangsawan. Dengan air mata mengalir di pipi, ia bersujud di hadapan Ur Enki:
“Anakku… lepaskanlah. Biarkan Innana bahagia. Aku mohon padamu, demi dewa-dewa yang melindungi kota ini, demi arwah ayah dan ibumu di surga, jangan biarkan putriku hidup dalam ketakutan. Kau tahu, cintanya padamu telah membuatnya gamang, gelisah, dan takut. Ia terjepit, Ur Enki, terjepit antara cintamu dan titah seorang raja. Bebaskan dia dari belenggu itu, bebaskan dia dengan kemurahan hatimu.”
Air mata Ur Enki akhirnya jatuh, setitik, membasahi tanah.
Dengan tangan gemetar, diusaplah air matanya itu.
Dan dengan dada yang bergetar, ia berucap, “Tuan dan nyonya. Demi Ilu yang aku percaya. Demi Ilu yang telah kuyakini kebenaran-Nya—aku tak akan lagi mengusik Innana. Tak akan kucari dan kucuri waktu agar aku bisa bertemu Innana. Iya, Innana telah memilih. Telah jatuh ke pelukan Namtar—aku tahu, sungguh aku tahu.”
Dada Sulgi Ram dan Ninsabtu seakan pecah mendengar kalimat itu.
“Hati Innana telah berubah,” lanjut Ur Enki, “iya, aku mengerti. Tuan dan nyonya—kalian menang. Kota ini menang. Kalian memiliki segalanya. Alangkah bodoh, memang, seorang bangsawan—demi cintanya—memilih seorang tukang kayu.”
“Tak perlu kalian menyuruhku pergi,” lanjut Ur Enki, “aku, dengan sendirinya, tak akan pernah mengganggu. Namun, satu hal yang tak akan bisa kalian lakukan, kalian harapkan, bahkan kalian pintakan titah raja sekalipun: Pergi dan lenyapnya cintaku pada Innana. Biarlah itu satu-satunya yang tersisa.”
Ur Enki lalu memandangi hadiah-hadiah itu, dan berkata, “Perintahkan pelayan-pelayan kalian untuk mengangkatnya lagi ke dalam gerobak, tuan. Sungguh, aku tak membutuhkannya. Aku tak butuh anggur itu, sebab aku tak pernah meminumnya. Aku tak butuh emas itu, sebab aku tak akan pernah memakainya. Buah-buahan, dan makanan itu—sesungguhnya anak-anak miskin dan yatim di kota ini, lebih membutuhkannya. Terimakasih atas kebaikan tuan dan nyonya. Tolong jangan merasa terhina dengan penolakanku ini, sebab sungguh saya benar-benar tak membutuhkannya.”
***
Matahari Mesopotamia menyinari Rawa Edin dengan terik yang tak kenal ampun, namun panas yang sesungguhnya bukan berasal dari langit, melainkan dari bibir-bibir manusia yang tak henti berdesir. Seperti angin yang membawa bibit gandum, begitu pulalah kabar menyebar dari pasar yang riuh hingga ke kanal-kanal yang sunyi: kisah cinta tiga serangkai itu telah menemui ajalnya.
“Lihatlah! Tadi pagi kembali kulihat kereta kebesarannya melintas di depan rumah Sulgi Ram,” seru seorang pedagang tembikar kepada pelanggannya, matanya berbinar-binar. “Dia masuk tanpa diantar lagi, seolah sudah menjadi bagian dari keluarga!”
“Benar,” sahut seorang perempuan yang sedang memilih buah, suaranya berbisik penuh arti. “Dan bukan hanya itu. Aku mendengar dari pelayan mereka, malam setelah purnama Sin, mereka berdua duduk berlama-lama di taman. Konon, sang putri sendiri yang memeluknya. Bayangkan! Innana Eti, yang dinginnya seperti patung dewi, akhirnya luluh juga.”
Di kedai minum tepi dermaga, suara-suara lebih keras dan penuh keyakinan.
“Sudah kukatakan!” seru seorang nelayan dengan tepukan di meja. “Apa gunanya melawan takdir? Darah biru akan kembali ke darah biru. Si pengrajin kayu itu hanya selingan, sebuah mimpi indah sebelum dia terjaga pada kenyataan.”
“Tetapi, sungguh menyedihkan nasib Ur Enki,” balas temannya, menggeleng-gelangkan kepala. “Kehilangan perempuan yang dicintai adalah satu hal. Tetapi kehilangan sahabat karibnya di saat yang sama? Itu adalah pukulan yang kejam. Namtar Sin tidak lagi terlihat bersamanya. Seolah persahabatan mereka ikut terkubur bersama cinta yang gagal.”
Di antara rakyat jelata, nada bicara mereka berbeda. Di bawah pohon kurma tempat mereka beristirahat, seorang wanita tua berbicara dengan nada getir.
“Dia selalu menjadi yang kalah. Pertama orang tuanya, sekarang cinta dan sahabatnya. Kota ini memakan orang-orang baiknya dan memuntahkan yang tersisa.”
“Dia seperti anak domba yang dikorbankan di altar zigurat,” tambah yang lain. “Dibaringkan begitu saja untuk kepentingan yang lebih besar.”
Namun, tidak semua suara bersimpati. Di kalangan bangsawan muda, cibiran tetap terdengar.
“Akhirnya dia tahu tempatnya,” ujar seorang lelaki dengan jubah bermotif rumit. “Dia hanya pengrajin kayu. Lebih baik dia kembali ke rawa dan kayunya. Biarlah para bangsawan mengurusi urusan dunianya.”
Dan demikianlah, kisah itu mengkristal: Innana, sang putri yang akhirnya menerima takdirnya. Namtar, sang pangeran yang memenangkan hati sang permata. Dan Ur Enki, si pengrajin kayu yang tragis, yang harus merelakan segalanya—cinta dan persahabatan—sebagai tumbal bagi kemegahan dan stabilitas Rawa Edin.
Suatu senja yang menumpahkan cahaya jingganya ke atas Pasar Edin, mengubah debu dan keramaian menjadi lukisan suram, para pedagang mulai membereskan dagangan, menurunkan tenda-tenda kain, sementara aroma rempah, ikan asin, dan keringat manusia membaur menjadi satu dalam udara yang mulai sejuk. Di tengah hiruk-pikuk itu, berdirilah Ur Enki.
Dia ada di sana untuk menukar beberapa dayung dan patung kayu kecilnya dengan sekarung gandum. Tubuhnya yang biasanya tegap, kini sedikit membungkuk, bagai menanggung beban yang tak terlihat oleh mata. Sorot matanya yang dahulu teduh dan dalam, kini kosong, menerawang jauh ke suatu tempat yang tidak bisa dijangkau oleh siapa pun.
Kehadirannya bagai sekerat daging yang dijatuhkan di tengah kawanan burung nasar.
Desis pertama datang dari seorang pedagang kain, yang menyandarkan tubuhnya pada tiang tenda, menyilangkan lengannya.
“Lihatlah, sang pemimpi telah turun dari awannya,” ujarnya kepada kawannya, suaranya cukup keras untuk didengar. “Apakah dia datang untuk memesan kain sutra untuk pakaian pengantinnya? Atau mungkin untuk membeli permata bagi sang putri?”
Tawa kecil menyebar di sekitar mereka.
Ur Enki berpura-pura tidak mendengar, tangannya mengeratkan genggaman pada dayung yang ia bawa.
Seorang wanita muda yang sedang membeli sayuran memandangnya dengan pandangan yang bukan lagi kagum, melainkan iba yang sedikit merendahkan.
“Kasihan. Dahulu matanya berbinar-binar. Kini, bagai dua buah batu kali yang telah disapu air bah. Hilang semua cahayanya.”
Lalu, seorang pemuda bangsawan—teman sepermainan Namtar yang dulu—dengan sengaja mengendarai kereta kecilnya mendekati Ur Enki, mengeruhkan debu ke arahnya.
“Maaf, Pengrajin Kayu!” serunya dengan suara pura-pura bersahabat, namun penuh hina. “Aku hampir tidak melihatmu. Kau biasanya berdiri di samping orang yang paling terlihat di kota ini. Sekarang kau sendirian, menyendiri seperti kotoran di sudut jalan. Sulit dikenali!”
Tawa yang lebih keras menyambutnya. Beberapa orang menutup mulut, mencoba menyembunyikan keceriaan mereka atas penghinaan itu.
Ur Enki menunduk, mencoba meneruskan langkahnya. Tetapi setiap langkahnya seperti menginjak kaca. Setiap tatapan yang dilemparkan kepadanya adalah panah beracun.
“Dengar, katanya dia menolak emas Sulgi Ram,” bisik seorang tua kepada temannya.
“Bodoh! Sekarang dia tidak mendapatkan emas, tidak mendapatkan perempuan, dan kehilangan sahabatnya. Lebih hina daripada anjing kuil yang kelaparan.”
Kata-kata itu berdesir, menusuk, dan melukai. Mereka tidak peduli bahwa dia bisa mendengar. Itu justru tujuannya. Untuk mengingatkannya pada tempatnya. Untuk memastikan dia tidak akan pernah lagi mengangkat kepalanya dan mengganggu tatanan yang telah ditetapkan.
Jiwa Ur Enki remuk redam. Setiap ejekan adalah palu yang memukul paku yang sudah menancap dalam di hatinya. Dia bukan lagi Ur Enki yang percaya diri, yang memiliki cahaya dalam mata. Dia adalah sebuah kekalahan yang berjalan, sebuah peringatan bagi siapa pun yang berani bermimpi terlalu tinggi.
Dia akhirnya berhasil menukarkan barang-barangnya dengan cepat, hampir berlari meninggalkan pasar. Tetapi ketika dia berjalan menyusuri tepi kanal, meninggalkan sorak-sorai dan tawa yang masih membekas di telinganya, dia tahu satu hal: luka di hatinya mungkin akan sembuh suatu hari nanti, tetapi bekasnya akan selamanya ada. Dan kota Rawa Edin, yang pernah menjadi rumahnya, kini terasa seperti penjara yang luas, dimana setiap dindingnya adalah tatapan dan setiap pintunya adalah cibiran.
***