Fibozona
📖 BACA BAB

Baca Bab

Nikmati setiap bab dari karya penulis berbakat

🎉 GRATIS - Tanpa Koin

Di Bawah Purnama Sin

📅 01 July 2026 📚 Ketika Kota Mengutuk Cinta Kita ⏱️ 8 menit baca 📑 Bab 23

Innana menunduk lama, kedua tangannya meremas kain gaunnya, tubuhnya gemetar dalam cahaya bulan yang jatuh lembut. Hening itu panjang, nyaris tak tertahankan. Bahkan jangkrik pun seolah terdiam, menunggu jawaban yang akan merobek malam.

Akhirnya, dengan suara lirih yang pecah-pecah, Innana berbicara.

“Bagaimana aku bisa berbohong, tuan Namtar Sin? Bagaimana aku bisa menyembunyikan sesuatu yang telah dilihat mata seluruh kota? Malam pesta itu… di bawah Zigurat Esgal-Ilu, tangan ini telah digenggam seorang pemuda. Namanya—tuan tahu, semua orang tahu—adalah Ur Enki.”

Kata-katanya jatuh pelan, namun berat, bagai batu dilemparkan ke dalam danau yang tenang. Riak yang ditimbulkannya terasa jauh ke dalam dada.

Air mata mengalir di pipinya. Ia mendongak, menatap Namtar, suara lirihnya berubah menjadi desakan getir:

“Bukan hanya bangsawan yang melihatnya. Bahkan lidah rakyat jelata pun masih menyebut-nyebutnya hingga kini. Bagaimana mungkin hamba menyangkal sesuatu yang sudah diketahui langit dan bumi? Tuan tidak perlu bertanya siapa yang ada di hati hamba. Nama itu… sudah ada di mata semua orang.”

Namtar terdiam. Dadanya berdesir, seperti gelombang yang menghantam karang. Ia menatap wajah Innana, yang pucat dan basah, bagai bunga teratai yang diguyur embun malam. Dan ia tahu—Innana tidak berbohong.

Ia menarik napas panjang, menegakkan tubuhnya, menatap bulan di atas mereka.

“Ya… aku tahu, Innana. Aku telah tahu sejak senja itu, ketika aku melihat tangan kalian saling menggenggam. Aku pun tahu sejak malam itu, bahkan tanpa kau ucapkan. Oh, alangkan indah bila kau tak merendahkan diri menyebut hamba dan menyebutku tuan, Innana...."

Senyum tipis muncul di wajahnya, senyum yang getir, tapi juga teduh.

“Aku hanya ingin mendengar dari bibirmu sendiri. Karena aku ingin kebenaran itu lahir di bawah saksi Sin, dewa bulan, agar aku tidak menipu diriku sendiri, tidak menipu ayahku, tidak menipu rakyat kota.”

Suasana kembali hening. Angin berhembus lembut, menggoyangkan dedaunan, seakan ikut mengamini kata-kata itu.

Innana terisak perlahan, lalu berbisik, “Ampunilah aku, Namtar Sin. Aku bukan gadis yang layak menjadi istrimu. Hatiku sudah terikat pada orang lain, pada Ur Enki.”

Namtar menutup mata sejenak. Kalimat itu adalah luka, tetapi juga kejujuran. Dan dalam luka itu, ia merasakan sesuatu yang lebih besar daripada dirinya: cinta yang tak bisa ditundukkan oleh titah, cinta yang tak bisa dibeli dengan tahta.

Namtar menarik napas dalam, lalu berkata dengan suara yang jernih, tenang, namun mengandung getaran hati seorang sahabat sejati:

“Innana… jangan gelisah. Jangan tangisi sesuatu yang memang suci. Aku mengerti. Aku pun telah lama tahu, bahwa cinta itu tidak bisa dipaksa, tidak bisa dipatahkan dengan titah, tidak bisa diganti dengan permata ataupun mahkota. Ur Enki adalah sahabatku. Lebih dari itu, ia adalah saudaraku. Jika engkau mencintainya, maka engkau pun menjadi saudara bagiku. Dengan demikian, aku hanya ingin menjaga kesucian itu, bukan merusaknya.”

Ia berhenti sejenak, matanya menatap tajam ke arah purnama Sin yang menggantung bulat di langit. Lalu ia melanjutkan, suaranya kini lebih dalam, penuh tekad:

“Ketahuilah, aku telah menghadap ayahku, aku telah menggugat titahnya. Aku mohon padanya agar meninjau kembali titah itu. Sebab aku lebih memilih persaudaraan yang abadi daripada cinta yang dipaksakan. Maka jangan biarkan hatimu terus disiksa rasa takut, Innana. Karena apa pun yang terjadi, aku akan berdiri di antara kalian sebagai saudara, bukan sebagai perampas.”

Innana tercekat. Kata-kata itu bagai air jernih yang tiba-tiba membasuh bara api dalam dadanya. Dadanya bergetar, matanya membelalak, lalu tiba-tiba air matanya pecah—bening, deras, mengalir bagai sungai yang lepas dari bendungan.

“Dewa Sin, saksi malam ini…” bisiknya, “inilah keberkahan yang tak pernah kupinta, tapi kini tercurah ke dalam hatiku…”

Tubuhnya lunglai, bahunya terguncang oleh isak, dan tanpa ia sadari, langkahnya maju, kedua tangannya meraih tubuh Namtar. Ia memeluknya erat, menangis tersedu di dadanya.

Namtar terdiam, membiarkan air mata itu menodai jubah putihnya. Ia tidak mendorongnya, tidak pula mengekang pelukan itu. Ia hanya berdiri, tegak dalam cahaya bulan, bagai tiang penyangga yang menguatkan hati seorang gadis yang rapuh.

Dari kejauhan, di balik tirai bambu rumah, Sulgi Ram dan Ninsabtu menyaksikan semuanya. Mereka saling berpandangan, mata mereka berbinar oleh kelegaan. Dalam hati mereka, keyakinan tumbuh: bahwa semuanya kini berjalan menuju kebahagiaan. Putri mereka telah mendapatkan tempat yang aman, putra mahkota telah menunjukkan kelembutan, dan jalan ke masa depan tampak seolah terbuka lebar.

Namun, semak-semak di sisi taman menyimpan rahasia lain. Di balik gelapnya bayangan, sepasang mata menatap adegan itu dengan getir yang tak terkatakan. Ur Enki. Sejak tadi ia berdiri, menyaksikan semua.

Ia melihat Innana menangis dalam pelukan Namtar. Ia melihat tubuh mereka begitu dekat, seakan satu. Dan dalam hatinya, pisau tak terlihat menancap, memelintir, meremukkan. Nafasnya memburu, dadanya sesak, seolah bulan Sin yang bulat di langit kini runtuh menimpa kepalanya.

Tanpa sepatah kata pun, tanpa memberi tanda kehadirannya, ia melangkah pergi. Setiap langkah bagai membawa batu yang lebih berat dari langkah sebelumnya. Malam yang teduh bagi sebagian orang itu, bagi Ur Enki justru menjadi malam penuh kepahitan. Dalam benaknya hanya satu bisikan: Innana telah berpaling.

Dan bulan Sin, saksi agung malam itu, memantulkan dua wajah berbeda: wajah seorang gadis yang merasakan keberkahan, dan wajah seorang pemuda yang pergi membawa hati yang patah.

***

Malam telah larut, namun purnama Sin masih bergantung megah di langit, bagai mata yang tak mau terpejam. Cahaya keperakannya menetes ke rawa, menyalakan kilau-kilau dingin di permukaan air yang beriak kecil, seolah menertawakan hati yang sedang patah.

Innana pasti akan kembali ke peraduannya dengan dada yang dipenuhi nada indah: Ia akan tertidur lelap diiringi nada itu. Sedang Namtar akan kembali ke istananya, diiringi pasukan-pasukan pengawalnya.

Sedang Ur Enki berjalan gontai menyusuri jalan becek menuju gubuknya. Langkahnya berat, seperti setiap telapak kaki menapak pada batu yang menghantam dadanya sendiri. Nafasnya tersengal, bukan karena lelah tubuh, melainkan karena beban jiwa yang menumpuk.

Di dalam kepalanya, adegan itu terus berulang:

Innana menangis di pelukan Namtar Sin.

Tidak sekali, tidak dua kali, tetapi berkali-kali, bagai cermin pecah yang setiap kepingannya menusuk mata.

“Bahkan aku tak pernah memeluknya,” jerit batinnya keras seakan hendak memecahkan dinding-dinding jiwanya. “Kenapa…? Kenapa harus begitu?”

Suaranya parau terbawa angin rawa.

Ia mengingat kembali siang ketika Namtar datang kepadanya, datang dengan segenap pengawalnya, segenap kehormatannya sebagai putra raja. Datang dengan pedang dan tombaknya. Mengajaknya bertarung. Lalu menyemburkan janjinya:

“Aku akan melawan, Ur Enki. Aku akan melawan dengan apa pun yang kupunya. Aku lebih memilih kehilangan cinta daripada kehilangan persahabatan, sedangkan aku tak memiliki cinta, sedangkan aku tak ingin putus persahabatan….”

Janji itu masih terngiang jelas, seakan baru saja diucapkan. Dan kini, janji itu terasa seperti debu yang dihembuskan angin malam—hilang, lenyap, tak berbekas. Sebab yang ia lihat dengan matanya sendiri adalah kebalikannya: Namtar memeluk Innana, dan Innana menyerahkan dirinya dalam pelukan itu.

Hatinya semakin remuk ketika ia teringat pula kedatangan Sulgi Ram beberapa hari sebelumnya. Gerobak-gerobak penuh hadiah, hidangan mewah, kain sutra, permata. Sang bangsawan datang dengan bahasa halus, tetapi maksudnya jelas:

“Aku memohon padamu, demi masa depan Innana. Demi kedamaianmu. Demi kenangan ayahmu yang terhormat… terimalah hadiah ini sebagai tanda terima kasihku. Dan… biarkanlah dia pergi. Padamkan api itu sebelum ia membakar segalanya. Jangan biarkan cinta yang tulus ini berubah menjadi tragedi yang akan menghancurkan kalian berdua.”

Dan Ur Enki menjawab dengan dada yang bergetar, dengan suara yang penuh tekad:

“Dengarkanlah suara hati Innana. Bukan suara titah raja, bukan suara adat, bukan suara kekuatan. Tanyakan pada jantungnya sendiri. Jika setelah itu… jika setelah itu dengan hatinya yang paling jujur ia menerima titah itu, menerima Namtar Sin…”

Itulah jawabannya. Itulah sumpahnya. Ia bersandar pada satu hal: pada kesetiaan hati Innana.

Tetapi malam ini, di bawah saksi Sin, apa yang ia saksikan seakan membatalkan semua. Innana sendiri yang berlari dan memeluk Namtar. Air matanya, tubuhnya, langkahnya—semua berkata lebih jelas daripada seribu lidah: bahwa ia telah memilih.

Ur Enki berhenti di jalan. Tangannya menutupi wajahnya, tubuhnya terguncang hebat. Ia ingin berteriak, tapi suaranya tertahan di tenggorokan, seperti ada batu yang menyumbat.

“Apakah semua ini hanya permainan?” desisnya. “Apakah Namtar datang kepadaku hanya untuk menidurkan kewaspadaanku, sementara ia sendiri menunggu saatnya? Apakah hadiah-hadiah Sulgi Ram bukan sekadar bujukan, melainkan tanda bahwa mereka telah memilih jalannya? Dan aku, hanya aku yang masih berdiri di dalam api ini?”

Ia menunduk, memukul tanah dengan tangannya, hingga lumpur melekat di kulitnya. Dadanya terbakar, matanya merah.

“Oh, Innana… jika engkau benar-benar telah menyerahkan dirimu pada Namtar, maka apalah arti semua janji, semua air mata, semua genggaman tangan yang kita bagi di bawah Zigurat Esgal-Ilu? Apakah itu hanya mimpi yang dengan mudah kau kubur di bawah cahaya bulan ini?”

Ia bangkit, melangkah lagi, tapi tubuhnya terhuyung. Sampai akhirnya ia tiba di gubuk kecilnya. Pintu kayu sederhana itu ia dorong dengan kasar, lalu ia rebahkan tubuhnya di atas tikar. Dinding gubuk itu bergema dengan suara napasnya yang memburu, bercampur dengan isak tertahan yang ia usahakan untuk tidak meledak.

Di luar, suara rawa tenang, suara burung malam mengalun. Tetapi di dalam dadanya, badai berkecamuk. Badai yang lahir dari janji yang dikhianati, cinta yang ia kira murni, tetapi kini tampak ternodai.

Dan dalam gelap, ia berbisik, suaranya getir namun berbara:

“Baiklah. Jika itu memang kebenaran… jika aku memang telah dikhianati, maka biarlah cintaku yang dulu murni menjadi bara. Biarlah jiwaku yang dulu penuh pengharapan menjadi besi. Aku tidak akan hancur. Aku akan bertahan. Dan suatu hari, kebenaran akan menyingkap wajahnya yang sesungguhnya.”

Purnama Sin masih menggantung, menyaksikan. Sin yang tadi menjadi saksi pelukan, kini menjadi saksi patah hati.

***

← Kembali ke Daftar Bab