Fibozona
📖 BACA BAB

Baca Bab

Nikmati setiap bab dari karya penulis berbakat

🎉 GRATIS - Tanpa Koin

Melancarkan Siasat

📅 01 July 2026 📚 Ketika Kota Mengutuk Cinta Kita ⏱️ 11 menit baca 📑 Bab 22

Malam menutup kota Rawa Edin dengan tirai hitam yang pekat. Di puncak Zigurat Esgal-Ilu, dupa masih mengepul, mengirim bau getir ke langit, seolah hendak meneguhkan kedudukan para dewa. Angin malam berputar di sela pilar-pilar tinggi, membawa bisikan yang hanya berani didengar oleh seorang raja.

Di singgasananya, Enlil Bazi duduk tegak. Matanya menyala dalam cahaya obor, dan dadanya bagai menyimpan guntur yang tak kunjung dilepaskan. Tangannya menggenggam sandaran singgasana, jari-jarinya bergetar perlahan, seakan hendak meremukkan batu itu.

“Ah… Ur Enki…” suara itu keluar perlahan, berat, seperti datang dari dalam gua. “Anak dari Lugal Enki. Putra dari sahabatku yang dahulu kusebut saudara. Betapa dalam hatiku aku pernah ingin mengasihi dan melindungimu—seperti aku melindungi putraku sendiri. Tetapi kini… apa yang kudengar dari langit kota bukanlah kabar kosong, bukanlah desas-desus murahan. Aku tahu! Aku tahu engkau telah berpaling!”

Enlil Bazi berdiri. Jubah panjangnya mengibas lantai batu, dan bayangannya menjulang di dinding bagai raksasa. Ia mendekati altar kecil di sisi singgasana, tempat patung-patung dewa berderet dalam cahaya api. Matanya menatap tajam pada wajah batu itu, lalu ia mendesis:

“Engkau tidak lagi sujud pada dewa-dewa ini. Engkau tidak lagi mencium tanah untuk Anu, tidak lagi menundukkan kepala pada Enki, tidak lagi memberi dupa bagi Inanna. Engkau berpaling… berpaling pada satu nama, pada satu seruan: Tuhan lelaki tua di atas bukit itu. Ziusudra, Nuh, apa pun ia menyebut dirinya. Suaranya telah merobek dadamu, dan kini kau mencampakkan para dewa!”

Ia mengangkat tangannya tinggi, seakan hendak mencakar langit.

“Beraninya kau, Ur Enki! Beraninya seorang tukang kayu—tukang kayu!—mengingkari dewa-dewa yang membangun kota ini, mengingkari arwah leluhur yang menopang menara-menara, mengingkari titah yang turun dari langit! Apakah kau pikir cintamu pada Innana Eti cukup untuk melawan tahta? Apakah bisikan lelaki tua itu cukup untuk menandingi suara gong persembahan di zigurat?”

Napasnya memburu. Ia menunduk, menggenggam meja batu, lalu suaranya berubah lirih, getir, namun penuh bara:

“Tidak. Aku tidak akan membunuhmu. Membunuhmu hanya akan membuatmu mati bagi satu Tuhan yang kau agungkan itu. Aku akan menghancurkanmu dengan cara yang lebih halus, lebih tajam, lebih kekal!”

Ruangan dalam istana itu diselimuti kegelapan yang disengaja. Hanya sebuah pelita tunggal yang menyala, melemparkan bayangan-bayangan yang menari-nari di dinding bata yang dingin. Enlil Bazi berdiri di depan jendela, menatap keluar ke arah bukit di utara dimana bayangan bahtera Ziusudra mulai membentuk siluet yang mengancam di ufuk.

Kepada seorang pelayan tua, Enlil Bazi lalu menyuruh untuk menghadapkan Lilitu kepadanya. Pelayan tua itu membungkuk dalam-dalam, dan mengangguk-angguk.

Beberapa saat kemudian, Lilitu Shamhat masuk. Dia masuk dengan langkah lunglai, kepalanya tertunduk, jantungnya berdebar kencang seperti burung yang terjebak. Dia membayangkan kemarahan, teriakan, atau mungkin perintah keji lainnya. Tapi yang dia dapati adalah keheningan yang lebih menakutkan.

“Lilitu,” suara Enlil Bazi pecah, datar dan tanpa emosi, tanpa menoleh. “Kau mengenal pemuda itu. Ur Enki.”

Bukan sebuah pertanyaan, tapi sebuah pernyataan. Sebuah fakta yang membuat darah Lilitu membeku.

“A… sedikit, Tuan,” jawabnya, suaranya bergetar.

“Dia bukan seperti lelaki lain di kota ini,” ujar Enlil Bazi, akhirnya berbalik. Wajahnya diterangi cahaya pelita dari bawah, membuatnya tampak seperti topeng dewa yang keras. “Dia tidak akan tergoda oleh gemerlap emas atau goyangan pinggul. Kecantikanmu yang jelas, jika kau pamerkan, justru akan membuatnya menjauh. Itu adalah bahasa dunia yang dia mulai tolak.”

Lilitu diam, mencoba memahami.

“Dengarkan baik-baik,” desis Enlil Bazi, mendekat. “Kecurigaanku telah menjadi keyakinan. Pemuda itu telah teracuni. Pikirannya telah dicuci oleh kata-kata lelaki tua di bukit itu. Dia telah membelakangi dewa-dewa kita, mengotori kota ini dengan pikirannya yang sesat.”

Nada suaranya berubah, dipenuhi geram yang dingin. “Titahku ini bukan lagi sekadar urusan cinta anak muda. Ini adalah pertahanan keyakinan kita. Pertahanan Rawa Edin.”

Dia menatap Lilitu dengan penuh. “Kau harus mendekatinya. Tapi bukan dengan wajahmu. Kau harus mendekatinya dengan… kecerdasan.”

Lilitu mengangkat matanya, bingung.

“Dia mencari sesuatu. Sesuatu yang dia tidak temukan di kuil-kuil kita. Kebenaran. Makna. Kesucian,” ucap Enlil Bazi dengan nada mengejek. “Itulah yang harus kau tawarkan. Kau harus menjadi cermin dari apa yang dia cari.”

Dia mulai mengitari Lilitu, seperti singa mengitari mangsanya.

“Kau akan pergi ke rawanya. Katakan kau ingin belajar. Katakan kau merasa hampa dengan persembahan di kuil. Katakan kau mendengar tentang ‘Tuhan Yang Esa’ dan ingin memahami. Tanyakan padanya tentang lelaki tua di bukit itu. Buat dia berbicara. Buat dia percaya bahwa kau adalah jiwa yang tersesat yang mencari cahaya yang sama.”

Strateginya halus dan jahat.

“Jangan berias berlebihan. Pakailah kain yang sederhana. Bawalah persembahan yang sederhana – roti gandum, mungkin, atau buah. Jadilah pendengar yang baik. Pujilah pemikirannya. Buat dia merasa dipahami, bukan diingini.”

Enlil Bazi berhenti di depan Lilitu, menatapnya tajam.

“Dan ketika kepercayaannya sudah kau dapatkan… ketika dia telah membuka pintu hatinya untukmu… baru kau boleh menggunakan senjatamu yang lain. Rayulah dia dengan kebenaran yang dia yakini. Buat dia jatuh cinta bukan pada tubuhmu, tetapi pada gambaran yang kau ciptakan tentang seorang perempuan suci yang memahami jalannya.”

Sebuah senyum tipis yang mengerikan muncul di bibirnya.

“Runtuhkan keyakinannya dari dalam. Buktikan bahwa semua kesucian dan kebenaran itu akhirnya akan tumbang juga oleh nafsu paling dasar. Itulah yang akan menghancurkannya. Itulah yang akan membuktikan pada semua orang bahwa dia tidak lebih dari lelaki lemah lainnya.”

Dia menepuk pundak Lilitu, sebuah sentuhan yang membuat gadis itu merinding.

“Lakukan ini dengan tenang. Pelan-pelan. Seperti air yang mengikis batu. Tidak ada yang boleh curiga. Kau tahu maksudku, Lilitu?”

“O, dewa yang agung,” Lilitu hampir tercekat. Sungguh, ia bingung. Namun sungguh, ia hanya bisa mengangguk. Ia pun bertanya, “Jadi hamba harus mendekati Ur Enki, tuanku?”

“Iya…”

“Dengan cara yang tuanku ajarkan…”

“Tepat sekali.”

“Hamba siap menjalankan titah tuanku.”

“Pergilah dari hadapanku.”

Lilitu akhirnya surut ke belakang.

Obor-obor di dinding menari-nari tertiup angin malam.

***

Di jalan sempit yang dipagari dinding bata dan pohon kurma, derap langkah para pengawal menggema laksana guntur kecil. Tombak-tombak mereka tegak menyalakan kilau dalam cahaya matahari sore, dan bayang-bayang tubuh mereka jatuh panjang ke tanah bak deretan tiang yang tak bisa dirobohkan. Di tengah barisan itu, sebuah kereta berhias ukiran naga-sirrush meluncur perlahan, rodanya berderit ringan, ditarik oleh dua lembu jantan besar yang hitam berkilau.

Orang-orang yang melintas berhenti, menunduk, dan berbisik lirih. Nama Namtar Sin, putra Enlil Bazi, bergulir di udara seperti mantra yang membuat setiap hati bergetar. Jarang sekali sang pangeran keluar dari lingkaran istana; lebih jarang lagi ia mengunjungi kediaman bangsawan lain.

Dan hari itu, sore itu, senja itu, roda keretanya berhenti di depan gerbang besar rumah Sulgi Ram, ayah Innana Eti.

Suasana di dalam rumah mendadak tegang. Pelayan-pelayan bergegas menata tikar, menyalakan dupa, dan membawa kendi šikaru serta roti gandum. Sulgi Ram berdiri di halaman depan, pakaiannya yang sudah rapi kini ia rapikan lagi dengan tangan gemetar. Wajahnya berusaha menampilkan senyum, tapi matanya penuh gugup. Di sampingnya berdiri Ninsabtu, istrinya, tubuhnya kaku, kedua tangannya meremas ujung kain jubahnya sendiri.

“Tak pernah aku membayangkan, Ninsabtu,” bisik Sulgi Ram, “bahwa suatu hari Putra Mahkota akan menapakkan kakinya di halaman rumah kita. Ini… ini adalah anugerah…”

Ninsabtu mengangguk, tapi suaranya lirih bergetar:

“Anugerah… atau ujian, suamiku. Sebab bersama kebahagiaan, selalu datang juga ketakutan. Apa maksudnya senja ini ia datang? Apa yang hendak ia cari dari putri kita?”

Sulgi Ram tak sempat menjawab.

Kereta berhenti.

Para pengawal mengetukkan gagang tombaknya ke tanah. Suara hentakan itu serentak, nyaring, menggetarkan dada, seolah bumi sendiri tunduk.

Lalu, tirai kereta tersibak. Turunlah Namtar Sin. Jubah putihnya jatuh dengan anggun, ikat pinggang perak memantulkan cahaya sore, dan kalung batu lazuli di lehernya berkilau bagai serpihan langit. Wajahnya tenang, teduh, tetapi sorot matanya tajam, membuat siapa pun yang menatap ingin segera menundukkan kepala.

Sulgi Ram segera maju, menunduk hormat.

“Selamat datang, Putra Mahkota, cahaya Rawa Edin, penyangga menara-menara kota. Rumah ini menjadi mulia karena kehadiranmu.”

Ninsabtu ikut menunduk dalam-dalam, suaranya lirih, hampir tak terdengar.

“Selamat datang, wahai putra raja…”

Namtar tersenyum tipis, lalu menepuk lembut bahu Sulgi Ram.

“Bangkitlah, tuan Sulgi Ram, dan engkau, nyonya Ninsabtu. Aku datang bukan sebagai penakluk, bukan pula sebagai hakim. Aku datang sebagai seorang sahabat… dan barangkali, sebagai seorang yang hendak mengetuk pintu rumah dengan cara yang paling tulus.”

Ucapan itu membuat udara di halaman mendadak berat. Sulgi Ram dan Ninsabtu saling pandang sekejap. Ada cahaya harapan yang menyala di mata mereka, tetapi juga bayangan cemas yang tak bisa hilang. Sebab mereka tahu: bila putra mahkota mengetuk pintu rumah, itu bukan sekadar tamu—itu titah yang sedang berjalan dalam wujud manusia.

“Mari masuk, putra mahkota,” ucap Sulgi Ram sepenuh hormat, “berkahi kediaman kami dengan kehadiran putra raja…”

Ruang dalam rumah Sulgi Ram telah ditata dengan rapi. Tikar anyaman terbaik digelar, kendi šikaru diletakkan di atas meja rendah dari kayu tamarisk, roti gandum dan buah kurma tertata dalam wadah tembikar berhias ukiran halus. Dupa kecil mengepul di sudut ruangan, menyebarkan wangi samar yang menenangkan.

Sulgi Ram duduk bersila berhadapan dengan Namtar Sin. Wajahnya berusaha ramah, tetapi sorot matanya tak bisa menyembunyikan getar rasa gugup. Di sisinya, Ninsabtu duduk dengan penuh hormat, tangannya tak pernah diam, kadang merapikan tepi jubah, kadang menyentuh kendi, seolah mencari sesuatu yang bisa menyalurkan kegelisahan.

Namtar, bagaimanapun, tampil menawan. Jubahnya yang putih seakan bersinar di bawah cahaya obor, dan setiap gerakannya memancarkan ketenangan seorang yang telah terbiasa dengan tatapan ratusan pasang mata di istana. Senyum tipisnya, ucapan-ucapannya yang manis, membuat ruangan seakan lapang meski udara dalam dada Sulgi Ram dan istrinya masih sesak.

“Roti ini lembut sekali,” kata Namtar, setelah menggigit sepotong. “Kurasa tangan-tangan rumah tangga yang telatenlah yang menjadikannya demikian. Rasa kurma ini pun manis, seperti manisnya udara di halaman rumah kalian. Seolah para dewa berkenan menetap di sini.”

Sulgi Ram buru-buru tersenyum, membungkukkan kepala.

“Putra Mahkota terlalu murah hati dengan pujian. Rumah ini sederhana, jauh dari kemegahan istana, tapi jika tuan berkenan menyebutnya manis, maka kami anggap itu sebagai berkat para dewa yang turun bersama langkahmu.”

Ninsabtu menambahkan, suaranya lembut tapi bergetar:

“Kami tidak pernah bermimpi bahwa kaki seorang putra raja akan singgah di rumah kami. Ini adalah anugerah yang tak ternilai.”

Namtar meneguk perlahan dari cawan perunggu yang disodorkan kepadanya.

Tatapannya tenang, seakan menembus ke dalam hati lawan bicara.

“Aku datang bukan untuk menjadikan kalian terbebani oleh kehormatanku. Aku datang, karena aku ingin merasakan rumah ini… rumah seorang gadis yang telah disebut-sebut oleh kota, gadis yang akan—dengan restu ayahku—menjadi bagian dari masa depan Rawa Edin.”

Kalimat itu membuat jantung Sulgi Ram berdegup lebih cepat. Ninsabtu menunduk, seolah ingin menyembunyikan wajahnya. Keduanya saling pandang sejenak—di balik rasa bangga, terselip ketakutan: titah ini begitu dekat, dan tiada ruang untuk menolak.

Namun, Namtar tidak berhenti di sana. Ia meletakkan cawan, lalu bersuara lembut, nyaris seperti seorang sahabat yang tengah berbicara dengan sahabat lama:

“Tapi aku juga tahu, tuan Sulgi Ram, nyonya Ninsabtu… bahwa di langit kota ini beterbangan suara-suara yang lebih getir. Suara yang berbisik-bisik di pasar, di tepi jalan, bahkan di bawah tiang obor istana. Suara tentang putrimu, Innana Eti.”

Kedua orang tua itu sontak menegang. Senyum yang mereka pasang mendadak retak. Jari-jari Ninsabtu berhenti meremas jubahnya, kini hanya membeku. Sulgi Ram menegakkan punggungnya, mencoba menampilkan ketenangan, tetapi peluh tipis mulai tampak di keningnya.

Namtar menatap mereka, sorot matanya tidak menusuk, tetapi dalam, seakan hendak menguliti hati yang bergetar di hadapannya.

“Desas-desus itu menyebut nama seorang pemuda. Seorang pemuda yang dulu, ayahku pun menyebut ayahnya sebagai sahabat. Seorang tukang kayu yang kalian pasti kenal: Ur Enki.”

Ruangan mendadak sunyi. Dupa yang mengepul seolah padam, dan hanya detak jantung yang terdengar dalam dada.

Sulgi Ram mencoba bersuara, namun suaranya serak:

“Putra Mahkota… itu hanya desas-desus. Lidah manusia memang gemar menyalakan api di udara yang kering. Tak semua bisik patut dipercaya.”

Ninsabtu menambahkan dengan nada lirih, hampir seperti doa:

“Ya, hanya bisikan… hanya bayangan…”

Namun, sorot mata mereka tak bisa berbohong. Keduanya tampak menggigil, seolah suara Namtar adalah gong besar yang membangunkan rasa takut yang selama ini mereka kubur.

Sulgi Ram dan Ninsabtu masih membeku di tempatnya, wajah mereka pucat oleh ketakutan yang tak bisa disembunyikan. Asap dupa melayang tipis di udara, melingkupi ruangan yang kini sunyi seperti ruang pengadilan yang menanti vonis.

Namtar tidak tergesa. Ia menghela napas pelan, lalu kembali meneguk sisa minumannya. Senyumnya muncul lagi, kali ini lembut, seakan ingin menghapus gemetar di wajah kedua orang tua itu. Namun, justru kelembutan itulah yang membuat kalimat berikutnya terdengar lebih berat daripada hantaman palu baja.

“Sudahlah,” katanya tenang, “aku tidak datang ke rumah ini untuk mendengar desas-desus. Aku datang untuk sesuatu yang lebih penting. Aku ingin melihat putrimu. Aku ingin berbicara langsung dengan Innana Eti.”

Kata-kata itu jatuh seperti batu ke dasar sumur. Sulgi Ram menelan ludah, Ninsabtu menunduk dalam-dalam, dan udara seakan semakin menekan dada mereka. Senyum Namtar tetap terjaga. Ia duduk tegak, sorot matanya penuh wibawa namun tak kehilangan pesona.

“Panggillah ia,” lanjutnya, “biarkan aku menatap matanya, agar aku tahu sendiri, bukan dari lidah-lidah yang berbisik, apa yang bersemayam di hatinya.”

Dan ruangan itu, yang semula hanya berisi basa-basi dan ramah tamah, kini berubah menjadi medan getir yang menentukan langkah-langkah berikut dari takdir Rawa Edin.

***

← Kembali ke Daftar Bab