Fibozona
📖 BACA BAB

Baca Bab

Nikmati setiap bab dari karya penulis berbakat

🎉 GRATIS - Tanpa Koin

Hadian yang Membujuk

📅 01 July 2026 📚 Ketika Kota Mengutuk Cinta Kita ⏱️ 6 menit baca 📑 Bab 21

Di tepi Rawa Edin, ketika embun masih menggantung di pucuk ilalang dan burung rawa berkicau lirih bagai seruling sunyi, suara roda gerobak terdengar lirih, semakin dekat, semakin jelas. Derap lembu-lembu penarik beban bergema dalam irama berat, namun teratur, membelah udara lembab pagi.

Ur Enki, dengan kapak masih di tangannya dan tubuhnya bertelanjang dada berkilau oleh peluh, berhenti sejenak dari ayunan kayu yang ia bentuk. Ia menoleh, alisnya berkerut, melihat iring-iringan gerobak yang perlahan mendekat ke arah gubuknya. Gerobak-gerobak itu tak seperti gerobak rakyat jelata yang sering singgah di tepi rawa: kayu-kayunya dipoles licin, roda-rodanya bertatahkan ukiran, dan dari kejauhan nampak kilauan wadah perunggu yang ditutupi kain ungu lembut.

Di depan iring-iringan itu, duduk seorang lelaki yang tubuhnya tegap meski usia telah menaburkan uban di rambut dan janggutnya: Sulgi Ram, ayah dari Innana Eti. Pakaian panjangnya terbuat dari wol halus yang dihiasi garis-garis benang emas, ikat pinggang kulit berhiaskan perunggu menegaskan kedudukannya. Sorot matanya tajam, namun wajahnya dipenuhi dengan senyum yang ditata penuh kebijakan.

Ketika gerobak berhenti, para pelayan segera turun, membuka tutupan kain-kain: tampaklah hidangan buah kurma yang ranum, roti gandum lembut, kendi-kendi besar berisi šikaru—bir jelai yang harum, dan kendi anggur kurma yang merah keunguan. Ada pula permata kecil, kain sutra dari tanah jauh, dan patung kecil dari batu lazuli yang berkilauan.

Sulgi Ram turun dari gerobak, langkahnya anggun, suara sandalnya menekan tanah rawa. Ia menghampiri Ur Enki, dan tanpa ragu, ia membuka kedua tangannya.

“Salam bagimu, Ur Enki, putra dari Lugal Enki yang pernah kujunjung tinggi dalam persahabatan dengan Enlil Bazi.”

Ur Enki menundukkan wajahnya, tetapi tak ada senyum. Kapaknya masih ia genggam, meski kini di sisi kakinya.

“Salam bagimu, tuan Sulgi Ram. Aku tak menyangka, seorang bangsawan agung sepertimu sudi menginjak lumpur rawa demi menemuiku.”

Sulgi Ram menghela napas, menatap ke arah hamparan rawa yang luas, lalu kembali menatap pemuda di depannya.

“Aku datang bukan sebagai musuh,” jelas Sulgi Ram, langkahnya mendekat. Suaranya rendah, hanya untuk didengar Ur Enki. “Aku datang sebagai seorang ayah. Seorang ayah yang mencintai anak perempuannya lebih dari apa pun di dunia ini.”

Dia menatap Ur Enki, dan untuk pertama kalinya, ada sebentuk rasa yang tulus dalam pandangannya.

Sulgi Ram melanjutkan, “Aku tahu siapa dirimu, Ur Enki. Aku mengenal ayahmu. Lugal-Enki adalah seorang lelaki yang jujur dan terhormat. Dan kau… kau adalah darah dagingnya. Kau memiliki kebanggaan dan kejujuran yang sama. Itu yang membuat segalanya menjadi lebih sulit.”

Ur Enki masih diam, mencerna setiap kata.

“Lihatlah sekelilingmu, Nak,” ujar Sulgi Ram, suaranya hampir berbisik, penuh dengan nada yang membujuk. “Lihatlah kehidupanmu yang sederhana. Lihatlah kemurniannya. Dan sekarang, lihatlah hadiah-hadiah ini.”

Tangannya menunjuk ke gerobak. “Ini bisa menjadi milikmu. Semuanya. Kau bisa meninggalkan rawa ini. Membeli rumah bata yang bagus. Memulai hidup baru. Menikahi seorang gadis yang… yang sesuai dengan duniamu.”

Dia berhenti, memastikan kata-katanya terserap.

“Cintamu pada Innana… adalah api yang indah. Tetapi api itu akan membakar kalian berdua. Dunianya bukan duniamu. Takdirnya bukan takdirmu. Dan penderitaan yang akan kalian tanggung… akan jauh lebih besar daripada kebahagiaan sesaat yang kalian rasakan sekarang.”

Sulgi Ram mengambil langkah terakhir, hingga ia hanya berjarak sehasta dari Ur Enki. Bau minyak wanginya yang mahal dan bau damar serta lumpur pada tubuh Ur Enki bercampur di udara.

“Aku memohon padamu,” ucapnya, dan untuk sesaat, suara seorang bangsawan tinggi itu terdengar rapuh. “Demi masa depan Innana. Demi kedamaianmu. Demi kenangan ayahmu yang terhormat… terimalah hadiah ini sebagai tanda terima kasihku. Dan… biarkanlah dia pergi. Padamkan api itu sebelum ia membakar segalanya. Jangan biarkan cinta yang tulus ini berubah menjadi tragedi yang akan menghancurkan kalian berdua.”

Dia berdiri di sana, menunggu. Seorang ayah yang menawarkan kekayaan dunia untuk menyelamatkan anaknya, dengan hati yang hancur karena tahu bahwa ia sedang meminta seorang pemuda untuk memotong sebagian dari jiwanya sendiri. Udara berhenti bergerak. Rawa-rawa pun seolah menahan napas, menunggu jawaban yang akan menentukan arah angin selanjutnya.

Udara di tepi rawa itu menjadi pekat, seakan menyerap semua getaran yang terpancar dari dua jiwa yang bertolak belakang.

Ur Enki mendengar setiap kata Sulgi Ram, bukan dengan telinga, tetapi dengan hatinya. Dia melihat tumpukan kekayaan yang menutup jalan setapak ke gubuknya, bukan sebagai sebuah tawaran, tetapi sebagai sebuah nisan megah yang hendak menimbun hidupnya.

Dia tidak segera menjawab.

Dia menunduk sebentar.

Dia seolah-olah meminta petunjuk pada bayangan ayahnya yang terpatri dalam ingatannya, pada sungai Purattu yang diam-diam mengalir, pada langit luas di atas mereka. Akhirnya dia menyerap enegi dari Ilu yang diyakininya.

Ketika dia akhirnya mengangkat wajahnya, tidak ada kemarahan di matanya. Yang ada adalah ketenangan yang dalam, sebuah penerimaan yang sedih namun tak tergoyahkan.

“Tuan Sulgi Ram,” suaranya lembut, jernih bagai air rawa di pagi hari, penuh hormat yang tulus. “Terima kasih. Terima kasih telah datang bukan dengan pedang, tetapi dengan hati seorang ayah. Terima kasih telah mengenang ayahku dengan kehormatan. Itu lebih berharga dari segala lapis lazuli dan emas di gerobak-gerobak itu.”

Dia melangkah mendekati tumpukan harta itu, matanya menyapu barang-barang mewah itu tanpa secuil pun nafsu atau penyesalan. Menatap sejenak pada segala hidangan dan ranumnya buah-buahan.

“Tuan menawarkan padaku dunia,” ujarnya, dengan senyum kecil yang getir. “Dunia yang bagi banyak orang adalah mimpi. Tapi, Tuan… izinkan anak muda ini berkata jujur. Dunia yang Tuan tawarkan, adalah dunia yang mati bagiku jika aku harus masuk ke dalamnya dengan menguburkan hati sendiri.”

Dia menatap lurus ke mata Sulgi Ram, keberaniannya memancar dari ketulusannya.

“Tuan menyebut cinta kami api. Benar. Tapi api itu bukan untuk membakar. Api itu adalah api pertama yang menyala dalam kegelapan, api yang memanaskan tanah liat hingga menjadi manusia, api yang menghangatkan hati Ilu ketika menciptakan dunia. Cinta adalah dasar dari segala sesuatu, Tuan. Dasar setiap penciptaan, setiap kelahiran, setiap kehidupan.”

Suaranya semakin yakin, namun tetap rendah dan penuh rasa sakit.

“Cinta tidak bisa dicabut seperti rumput liar. Cinta tidak bisa dibeli dengan segala harta di Mesopotamia ini. Dan cinta… maafkan keberanianku, Tuan… cinta tidak bisa tunduk pada sebuah titah, sehebat apa pun titah itu.”

Dia melihat ke arah gubuknya, lalu kembali pada Sulgi Ram.

“Aku tahu sang raja telah bertitah. Aku tahu seluruh dunia akan mendukung titah itu. Aku, anak pengrajin kayu, tidak punya apa-apa untuk melawannya. Satu-satunya yang kumiliki hanyalah kebenaran di dalam hati ini.”

Kemudian, dengan sikap yang penuh martabat yang tak terduga dari seorang pemuda miskin, dia membuat permohonannya.

“Dengan sepenuh hormat, Tuan Sulgi Ram, aku tidak bisa menerima pemberian Tuan. Aku juga tidak bisa, dan tidak akan, mematikan nyala api cintaku. Itu bukan milikku untuk dimatikan. Itu adalah anugerah dari Yang Maha Tinggi, yang bahkan para dewa yang Tuan dan kota ini sembah sekalipun harus menghormatinya.”

Dia menarik napas dalam, menyiapkan kata-kata terakhirnya yang paling berani.

“Oleh karena itu, permohonanku hanya satu: Dengarkanlah suara hati Innana. Bukan suara titah raja, bukan suara adat, bukan suara kekuatan. Tanyakan pada jantungnya sendiri. Jika setelah itu… jika setelah itu dengan hatinya yang paling jujur ia menerima titah itu, menerima Namtar Sin…”

Suara Ur Enki hampir tercekat, tetapi dia meneruskannya.

“Maka aku, Ur Enki, tanpa disuruh siapa pun, akan mengubur cintaku sendiri. Aku akan pergi dari sini, dan kalian tidak akan pernah mendengar namaku lagi. Karena yang kuinginkan bukanlah memaksanya, tetapi kebahagiaannya. Dan kebahagiaan sejati hanya lahir dari hati yang merdeka.”

***

← Kembali ke Daftar Bab