Fibozona
📖 BACA BAB

Baca Bab

Nikmati setiap bab dari karya penulis berbakat

🎉 GRATIS - Tanpa Koin

Skandal Suci

📅 01 July 2026 📚 Ketika Kota Mengutuk Cinta Kita ⏱️ 6 menit baca 📑 Bab 20

Malam telah menelan kota Rawa Edin. Di puncak Zigurat Esgal-Ilu, tempat langit seakan bersatu dengan bumi, sang raksasa bata merah itu menjulang bagai gunung suci yang menyentuh ranah para dewa. Obor-obor di pelatarannya telah padam, menyisakan hanya cahaya Sin, sang dewa bulan, yang menyirami undakan-undakannya dengan cahaya perak pucat yang menyepi.

Di sebuah celah kecil yang tersembunyi, jauh dari pintu masuk utama, berdirilah Lilitu Shamhat. Tubuhnya yang biasanya menjadi pusat perhatian, kini menyatu dengan bayangan, bagai arwah yang tengah mengembara. Kain linen tipisnya berkibar ditiup angin malam yang membawa aroma dingin dari sungai Purattu. Kulit keemasannya pucat diterangi cahaya bulan, membuatnya tampak seperti patung dewi yang terbuang.

Dia tidak datang sebagai budak yang diutus. Dia datang sebagai jiwa yang terlunta, mencari jawaban dari kekuatan yang lebih tinggi.

Dengan langkah pelan, ia mendekati sebuah relung kecil tempat patung Dewi Ishtar berdiri, wajah batuannya telah terkikis dimakan angin dan waktu, tetapi masih memancarkan wibawa yang menakutkan dan memesona.

Lilitu berlutut, lalu menundukkan kepalanya hingga menyentuh lantai batu yang dingin. Suaranya, yang biasanya merdu dan penuh rayuan, kini lirih dan pecah, berisi doa yang menyayat hati.

“Wahai, Inanna, Ratu Langit dan Bumi, Dewi Cinta dan Peperangan yang tiada bandingnya. Kepadamu ku serahkan kebingungan hatiku. Kau yang memahami hasrat dan kehancuran, lepaskanlah aku dari sangkar ini. Lepaskanlah aku dari takdir yang mengepungku.”

Air mata mulai menetes di pipinya, membasahi batu di bawahnya.

“Wahai, Utu, Dewa Matahari yang Maha Melihat, Yang cahayanya menerangi yang tersembunyi. Tunjukkanlah padaku jalan keluar. Aku hanyalah budak, tanah liat di tangan tukang periuk, dibentuk menurut keinginan tuanku. Apakah ada kebebasan untukku di dunia ini?”

Dia menarik napas dalam, suaranya bergetar memanggil dewa yang paling ditakutinya.

“Wahai, Enlil, Penguasa Angin dan Titahan, Ayah dari tuanku yang perkasa. Kau yang memberikan perintah yang tak terbantahkan, dan kau yang menghancurkan kota-kota yang membangkang. Dengarkanlah hamba mu yang hina ini. Aku bukanlah orang merdeka, tapi jiwaku meronta.”

Doanya berubah menjadi ratapan, suara yang nyaris tidak terdengar, tertiup angin.

Tiba-tiba, sebuah bayangan panjang jatuh menutupi tubuhnya, menghalangi cahaya bulan.

“Apakah doa-doa seorang budak sampai ke telinga para dewa, Lilitu?” suara itu dalam, berwibawa, dan penuh dengan nada yang membuat darahnya membeku.

Lilitu terkejut, menoleh ke belakang. Di sana, berdiri Nasaru Balet-ili, Imam Agung Esgal-Ilu. Jubah putihnya tampak menyala dalam kegelapan, matanya tajam bagai elang yang mengincar mangsanya. Senyum tipisnya mengembang, bukan senyum belas kasihan, tetapi senyum yang penuh dengan nafsu dan kekuasaan yang ia tahu tak bisa ditolak.

“Imam Agung...” lirih Lilitu, jantungnya berdebar kencang.

Nasaru Balet-ili melangkah mendekat, tanpa suara. “Para dewa telah mengirimku untuk menjawab doamu.”

Lilitu terguncang.

“Lilitu…” suara sang imam lirih, namun terdengar seperti mantra, “engkau bukan sekadar budak. Engkau dipilih. Lihatlah wajahmu: bukankah itu wajah yang dilukis dewi Inanna sendiri? Bukankah tubuhmu adalah altar yang patut dipersembahkan bagi para dewa?”

Lilitu terperanjat, kendi di sampingnya hampir tertabrak. Ia menunduk lebih dalam, suaranya gemetar:

“Tuanku imam… hamba hanyalah pelayan. Hamba tidak layak disamakan dengan dewi-dewi.”

Nasaru makin mendekat, langkahnya tak bersuara, hingga hanya aroma minyak mur yang mendahului tubuhnya. Ia meraih dagu Lilitu dengan lembut, mengangkat wajahnya. Mata Lilitu bergetar, namun tidak berani berpaling.

“Engkau adalah persembahan,” bisik Nasaru, “dan persembahan paling suci tidak pernah diletakkan di luar altar. Engkau harus dipersembahkan… kepada dewa yang kau sembah. Dan akulah perantara-Nya. Sentuhanku adalah sentuhan-Nya. Pelukanku adalah pelukan-Nya. Biarkan dirimu takluk, sebab dalam takluk itulah engkau menjadi suci.”

Kata-kata itu masuk ke relung hati Lilitu, bagai air yang meresap pada tanah kering. Selama ini, ia hanya tahu tunduk, hanya tahu taat, hanya tahu bahwa para imam adalah bayangan dewa. Dan kini, bayangan itu berdiri di hadapannya, mengucap rayuan yang terdengar bagai sabda.

Air mata jatuh di pipi Lilitu—bukan air mata perlawanan, melainkan air mata pasrah. Tubuhnya gemetar, namun ia tidak bergerak ketika Nasaru merengkuhnya, menyeretnya ke dalam bilik kecil di balik tirai sutra.

Di ruang sempit yang hanya diterangi lampu minyak, tubuh Lilitu jatuh dalam dekapan imam tertinggi. Apa yang terjadi setelahnya adalah aib yang terbungkus selubung kesakralan palsu: persatuan yang bukan lagi persembahan bagi dewa, melainkan jerat nafsu manusia yang berbalut jubah suci.

***

Dan waktu terus berlalu, berganti malam, berganti pekan, berganti bulan. Zigurat Esgal-Ilu tetap berdiri menjulang, dilingkupi kabut dupa dan nyanyian para imam. Namun di balik tiang-tiangnya yang kokoh, di bilik-bilik kecil yang jarang disinggahi mata manusia, sebuah rahasia terus berulang.

Lilitu Shamhat kembali, selalu dengan kendi di tangannya, selalu dengan langkah yang sama tunduknya. Dan selalu pula ada suara lirih yang menantinya—suara Nasaru Balet-ili, imam tertinggi, dengan jubah putihnya dan mata yang berkilau seperti bara.

“Engkau telah dipilih,” bisiknya setiap kali.

“Engkau adalah persembahan paling murni, dan aku adalah tangan para dewa yang menerima pengorbananmu.”

Lilitu selalu bergetar, selalu menunduk, namun tidak pernah menolak. Di hatinya, ketaatan sudah membatu. Baginya, takluk di pelukan imam tertinggi bukanlah aib, melainkan bagian dari pengabdian. Ia meyakini sepenuh jiwa bahwa dirinya hanyalah wadah, alat bagi para dewa untuk menurunkan restu melalui tubuh sang imam.

Dan Nasaru, imam tertinggi itu, menikmati semuanya dengan nafsu yang ia selubungi dengan kesakralan. Pelukan yang membakar, ciuman yang membara, desah yang seharusnya terlarang—semua ia bungkus dengan kata-kata manis yang terdengar bagai iring-iringan doa.

“Ini bukan nafsu, Lilitu. Ini adalah pertemuan antara fana dan abadi. Engkau bukan milikku, engkau milik dewa—dan aku hanyalah saluran-Nya.”

Setiap kali kata-kata itu terucap, Lilitu menangis pasrah. Air matanya jatuh di lantai bata, namun hatinya tidak memberontak. Ia merasa dirinya suci dalam kehinaan yang tak ia sadari.

Maka berulanglah aib itu, malam demi malam, pekan demi pekan. Para imam lain sibuk dengan dupa dan doa, rakyat sibuk dengan ladang dan pasar, bangsawan sibuk dengan pesta dan politik—sementara di bilik kecil zigurat, seorang imam tertinggi dan seorang budak jelita terikat dalam pertemuan terlarang, yang mereka sebut persembahan.

Dan di atas semuanya, para dewa diam membisu. Apakah mereka merestui, ataukah mereka mencatat aib itu di langit?

Tidak ada yang tahu.

Yang jelas, rahasia ini semakin dalam.

Semakin gelap.

Demikianlah, malam-malam itu berulang, bagai lingkaran yang tak pernah putus. Lilitu kembali dan kembali, tubuhnya terikat pada jubah putih Nasaru, hatinya terikat pada keyakinan bahwa ia hanyalah persembahan. Dan Nasaru pun tak pernah lelah, tak pernah puas, menjadikan tubuh budak jelita itu altar yang terlarang, sembari menyamarkan nafsu dengan doa-doa.

Hingga akhirnya, pesta agung Rawa Edin itu digelar. Gong dipukul, dupa membubung, para bangsawan bersorak, dan titah besar diumumkan: bahwa Innana Eti akan dipersunting oleh Namtar Sin. Sementara di balik hiruk pikuk pesta itu, di ruang sunyi zigurat, Lilitu dan Nasaru sekali lagi larut dalam skandalnya. Itulah pertemuan terakhir mereka sebelum gelombang takdir beralih.

***

← Kembali ke Daftar Bab