Fibozona
📖 BACA BAB

Baca Bab

Nikmati setiap bab dari karya penulis berbakat

🎉 GRATIS - Tanpa Koin

Raja Enlil Bazi

📅 01 July 2026 📚 Ketika Kota Mengutuk Cinta Kita ⏱️ 8 menit baca 📑 Bab 19

Enlil Bazi terdiam sejenak setelah mendengar luapan hati putranya. Wajahnya, yang biasanya bagai patung batu yang tak tergoyahkan, perlahan-lahan meleleh menjadi sebentuk kesedihan yang terlihat sangat tulus. Dia menghela napas panjang, sebuah suara berat yang seakan mengandung beban ribuan tahun kebijaksanaan.

“Wahai, Namtar, putraku,” suaranya terdengar lembut, jauh berbeda dengan wibawa besi yang biasanya ia pancarkan. “Bangunlah. Duduklah di sampingku.”

Dia melambaikan tangan, mengajak Namtar untuk duduk di bantal di sebelahnya, sebuah tindakan yang intim dan jarang terjadi.

“Kata-katamu…,” ujarnya, sambil menatap wajah putranya dengan mata yang berbinar bagai mengandung embun, “mengingatkanku pada diriku sendiri di masa muda. Pada waktu ketika hati masih lebih sering berbicara daripada akal. Ketika persahabatan dan kehormatan terasa lebih berharga daripada tahta dan perintah.”

Dia memandang ke kejauhan, seolah-olah melihat bayangan masa lalu.

“Lugal-Enki…,” ucapnya dengan nada rendah yang penuh rasa rindu. “Ayah Ur Enki. Ya, ia adalah sahabatku. Saudara yang lebih berharga daripada segala permata di Mesopotamia ini. Aku masih mengingat senyumnya, tawanya yang menggelegar, dan kebijaksanaannya yang mampu meredakan amarahku yang paling membara. Ketika ia pergi, tertimpa musibah di sungai yang ia cintai itu, sepotong jiwaku ikut pergi bersamanya.”

Dia menunduk, dan untuk sesaat, seolah-olah sang raja yang perkasa itu benar-benar hanyalah seorang lelaki tua yang dirundung duka.

“Melihat Ur Enki adalah seperti melihat bayangan sahabatku yang kembali hidup. Dan mendengar kegelisahanmu ini…,” ia menatap Namtar lagi, “membuat batinku teriris. Sebab aku pun, sebagai seorang ayah, menginginkan kebahagiaanmu. Bukan hanya sebuah pernikahan yang megah, tetapi sebuah pernikahan yang membuat jiwamu tenang.”

Namtar mendengarkan, hatinya mulai meleleh oleh kata-kata yang begitu memahami.

“Kau benar,” lanjut Enlil Bazi, suaranya bergetar halus. “Seorang bangsawan sejati diukur dari keadilan dan belas kasihnya. Bukan dari kekerasan hatinya. Permohonanmu untuk meninjau kembali titah ini… adalah permohonan yang mulia. Itu menunjukkan bahwa kau memiliki jiwa yang besar, jiwa yang layak memimpin Rawa Edin kelak.”

Dia berhenti, membuat jeda yang dramatis. Lalu, dia meletakkan tangannya yang berotot dan penuh cincin itu di pundak Namtar.

“Oleh karena itu, aku akan mengabulkan permintaanmu.”

Mata Namtar berbinar, hampir tidak percaya.

“Akan tetapi,” kata Enlil Bazi, menekankan dua kata itu dengan lembut namun pasti, “ada satu hal yang harus kita pastikan terlebih dahulu. Apakah penolakanmu ini benar-benar lahir dari hatimu yang belum terenggut cinta? Atau…,” ia menatap dalam, “apakah ini hanya bentuk belas kasihanmu pada sahabatmu, yang mungkin justru akan berujung pada penderitaan yang lebih besar?”

“Apa yang ayah maksud?” Namtar terlihat bingung.

“Cinta, Namtar, adalah api yang liar,” ujar Enlil Bazi dengan nada bijak. “Dan api yang membara pada diri Ur Enki dan Innana… apakah itu benar-benar cinta sejati yang akan membangun peradaban? Ataukah hanya nafsu muda yang menyala-nyala, yang akan padam oleh teriknya mentari kehidupan? Sebelum kita memutuskan sesuatu yang akan mengubah takdir banyak orang, kita harus memastikan kekuatan ikatan mereka.”

“Bagaimana caranya, Ayah?”

“Apakah kau benar-benar yakin Ur Enki mencintai Innana?”

“Dada ini, ayah,” jawab Namtar, “terlalu penuh dengan keyakinan itu…”

“Dan apakah Innana pun mencintai Ur Enki?”

“Sepertinya begitu, ayah…”

“Ucapmu tentang ‘sepertinya’ adalah kebimbangan yang berbahaya!”

“Saya akan memastikannya ayah,” jawab Namtar lagi, “saya akan menemuinya.”

“Bagus. Bagus!” seru Enlil Bazi dengan mata yang berbinar. “Kalau begitu, tak ada lagi yang perlu diragukan. Aku akan meninjau ulang titah!”

Namtar diliputi kebahagiaan batin.

Enlil Bazi melanjutkan, “Namun ingat, Namtar. Aku akan merubah titah bukan sebagai raja yang mengalah, tetapi sebagai ayah yang menghormati kebijaksanaan dan kemuliaan hati putranya. Beri ayah waktu. Biarkan ayah mencari jalan yang terbaik, yang tidak hanya memuliakan tahta kita, tetapi juga tidak mengorbankan persahabatan dan kehormatan yang kau junjung tinggi.”

Wajah Enlil Bazi terlihat sangat tulus.

“Pergilah sekarang, putraku,” ujar Enlil Bazi kemudian, “tenangkan jiwamu. Dan percayalah, ayah akan mengurus segalanya. Malam ini, tidurlah dengan damai. Ketahuilah bahwa ayahmu mendengarmu, dan bahwa keadilan yang kau idamkan akan menemukan jalannya.”

Kepada Namtar, malam itu terasa seperti kemenangan. Dia meninggalkan ruangan dengan hati yang ringan, dibuai oleh janji manis dan pengakuan yang begitu ia dambakan. Dia percaya, dengan sepenuh hatinya, bahwa ayahnya adalah pria yang bijaksana dan pengasih. Jiwa Namtar mendadak mendesaknya untuk segera memberi tahu keberkahan yang dilimpahkan ayahnya itu pada Ur Enki.

“Tunggulah, sahabatku. Aku akan menemuimu,” ujar batinnya.

***

Lilitu

Belasan tahun yang silam, Rawa Edin mengguncang bumi dengan denting pedang dan pekik perang. Dari timur, pasukan Enlil Bazi berbaris, mengenakan perunggu yang berkilau oleh cahaya matahari, membawa panji-panji naga sirrush yang berkibar laksana lidah api. Sungai Eufrat bergetar oleh suara perahu-perahu perang yang merapat, sementara kota kecil di pesisir baratnya merintih, dikepung tanpa daya.

Dalam tiga hari, tembok kota itu runtuh; dalam tujuh hari, rakyatnya ditundukkan. Pedang Rawa Edin meminum darah para prajurit, tombak-tombaknya merobek daging lelaki yang bertahan. Dan dari kota yang terkapar itu, digiringlah tawanan: lelaki yang dirantai, perempuan yang dipaksa berjalan, anak-anak yang menangis tersedu-sedu.

Di antara mereka, ada seorang anak perempuan berusia tujuh tahun—mata hitamnya menyala bagai bara, kulitnya keemasan seperti pasir pesisir, rambutnya panjang terurai laksana malam yang jatuh.

Dialah Lilitu.

Dibawa ke jantung Rawa Edin, gadis kecil itu tak lagi mengenal rumah, tak lagi mengenal ayah, ibu, atau tanah kelahirannya. Namanya dipelintir oleh lidah asing hingga menjadi Lilitu Shamhat. Ia tumbuh di bawah bayang-bayang istana Enlil Bazi, di antara batu hitam dan tembok berukir yang menjulang ke langit. Ia menjadi budak, tangan mungilnya memegang kendi, kakinya berlari-lari kecil di antara aula batu, suaranya terbungkam oleh titah para pengawas.

Tahun berganti tahun menjadikannya bunga yang mekar di dalam pagar duri. Wajahnya semakin elok: pipi halus bagai buah delima, bibir merah seperti tanah liat yang baru dibasuh hujan, tubuhnya menjulang dengan lekuk yang membuat mata lelaki terhenti. Para budak lain memandangnya dengan iri, seakan kecantikannya adalah kutukan yang menyalakan api dengki. Para bangsawan menatapnya dengan sorot mata yang sarat nafsu, seolah tubuhnya adalah persembahan yang hendak direbut.

Meski demikian, Lilitu bukan sekadar jelita tanpa jiwa. Di balik kecantikan yang membuat iri dan nafsu itu, ia adalah budak yang paling taat pada para dewa. Sejak kecil ia dibimbing untuk melayani di Zigurat Esgal-Ilu, membersihkan altar, menyalakan dupa, menyapu darah hewan persembahan. Bibirnya hafal dengan mantra-mantra, tangannya terbiasa meraba batu suci yang dingin. Ia menunduk rendah di hadapan Nasaru Balet-ili, imam tertinggi, dengan patuh yang tak bisa dicurigai.

Lilitu tumbuh menjadi bayangan yang anggun di balik tiang-tiang kuil: cantik laksana dewi, patuh sebagai budak. Ia adalah bunga yang mekar dalam kurungan emas, harum tapi tak pernah bebas, elok tapi tak berdaya, dipuja sekaligus dipenjara oleh takdir.

Meski hidupnya terpenjara di antara zigurat dan istana Enlil Bazi, budak jelita itu seperti bayangan yang selalu hadir dimana-mana. Seringkali, dan terutama, ia tampak di tengah-tengah pasar kota. Juga dilorong-lorong rumah kaum bangsawan.

Suatu malam, lorong istana menyala oleh pelita minyak yang digantung di dinding. Lilitu melangkah pelan, kendi tanah liat di tangannya, gaun tipis budak menempel pada tubuhnya. Rambut hitamnya terurai, sebagian terikat sederhana di tengkuk, namun keindahannya tidak tersembunyi.

Di tikungan lorong, tiga bangsawan muda yang baru selesai berpesta menghentikan langkahnya. Mata mereka menelusuri Lilitu dari kepala hingga kaki, bagai serigala menatap rusa elok.

Salah seorang dari mereka, wajahnya masih merah oleh anggur kurma, mendekat sambil tersenyum sinis.

“Lilitu Shamhat… kau lebih elok daripada putri mana pun malam ini. Mengapa harus membawa kendi, sementara gaun sutra lebih pantas untukmu?”

Lilitu menunduk hormat, suaranya lirih tapi jelas.

“Tuanku, hamba hanyalah budak. Gaun sutra bukanlah untuk tanganku, melainkan untuk tangan bangsawan. Hamba hanya tahu kendi, lantai, dan altar.”

Bangsawan itu tertawa, mengulurkan tangannya hendak menyentuh dagu Lilitu. Namun Lilitu bergeser setapak, tetap menunduk, dan berkata lebih tegas:

“Tangan ini hanya untuk menyalakan dupa. Bibir ini hanya untuk melafal doa. Mohon jangan cemari dengan hal-hal yang tak layak.”

Tawa para bangsawan terhenti. Salah seorang di antara mereka mendengus, tersinggung, lalu berlalu sambil melemparkan kata yang tajam:

“Budak angkuh! Lihatlah kelak, kecantikanmu hanya akan membakar dirimu sendiri.”

Lilitu tetap menunduk, diam. Ketika langkah mereka lenyap, ia menarik nafas dalam-dalam. Di kejauhan, dua budak perempuan yang tadi memperhatikan berbisik-bisik dengan nada dengki.

“Lihatlah dia,” ujar salah satu dengan mata menyipit. “Bahkan bangsawan pun tergoda olehnya.”

“Ya,” sahut yang lain, “tapi ia bertingkah seolah dirinya dewi kuil, bukan budak seperti kita. Mari kita lihat berapa lama kesuciannya bertahan.”

Lilitu mendengar bisikan itu, namun ia tetap melangkah. Dadanya tenang, wajahnya teduh. Ia tahu, kecantikan yang ia sandang bukanlah miliknya sendiri. Itu adalah ujian yang dititipkan para dewa, dan ujian itu harus ia jaga dengan ketaatan.

Malam-malam berikutnya, godaan semacam itu berulang: tangan bangsawan yang hendak meraih, bisikan yang hendak merayu, tatapan yang hendak meluluhkan. Tapi selalu Lilitu menunduk, menepis dengan kata-kata lembut, dan berlindung pada altar serta doa.

Para budak semakin iri, para bangsawan semakin penasaran. Dan Lilitu tetap berjalan di antara keduanya seperti bulan yang tenang di atas langit rawa: bercahaya, namun tak tersentuh.

***

← Kembali ke Daftar Bab