Nikmati setiap bab dari karya penulis berbakat
Mereka tergeletak di tanah rawa.
Lumpur melekat di punggung dan lengan, peluh bercampur debu menetes dari pelipis, dada mereka naik-turun bagai ombak yang dihantam badai. Tombak-tombak mereka terlempar jauh, terbenam sebagian di tanah becek, tak lagi berarti. Yang tersisa hanyalah dua tubuh muda yang kehabisan tenaga, dan dua jiwa yang sama-sama digerus oleh gelombang batin.
Hening merangkum tepi rawa.
Alang-alang hanya berbisik lirih, burung rawa melintas jauh dengan kepakan malas, seolah alam sendiri enggan mengganggu dua jiwa yang kini terbaring. Angin sempat reda, lalu kembali mengusap lembut, membawa aroma lumpur basah dan kayu kurma yang setengah terbelah.
Nafas mereka berdua terdengar jelas, terputus-putus, seakan setiap helaan adalah perjuangan. Sesekali, tangan mereka menggenggam tanah—Ur Enki meremas lumpur yang lembab, Namtar menancapkan jari-jarinya pada rerumputan, keduanya sama-sama mencari pegangan agar tidak terhanyut oleh letih. Mata mereka separuh terpejam, separuh menatap langit muram yang berawan berat.
Waktu berjalan lambat.
Tidak ada lagi benturan, tidak ada lagi serangan. Yang ada hanyalah dua anak manusia yang pernah tertawa bersama, kini berbaring dengan tubuh yang penuh peluh dan jiwa yang penuh luka.
Dalam keheningan itu, akhirnya suara lirih lahir—rapuh, namun jujur.
“Ur Enki… dengarkan aku.”
Ia terdiam sejenak, menarik udara ke dalam dadanya yang sesak.
“Aku tidak datang sebagai putra mahkota. Aku datang sebagai sahabatmu. Aku tidak ingin kau melihatku hanya dengan pedang dan pasukan. Aku ingin kau melihatku dengan mata yang dulu, mata seorang saudara.”
Ur Enki menoleh, peluh mengalir dari keningnya, mata masih menyala oleh bara. Nafasnya tersengal, namun ia tetap mendengar.
Namtar melanjutkan, suaranya lirih, nyaris seperti bisikan yang keluar dari dada yang lelah.
“Aku tahu, titah ayahku telah menghantammu. Aku tahu, nama Innana telah jadi dinding di antara kita. Tapi jangan kau sangka aku yang memilih dinding itu. Aku sendiri tercekik oleh tembok yang dibangun bukan oleh tanganku.”
Ia menutup mata sejenak, lalu berkata lagi, lebih dalam:
“Jika kau membenciku karena aku anak Enlil Bazi, bencilah. Tapi jangan pernah kau benci aku sebagai Namtar, sahabatmu. Aku masih sama — yang dulu sering duduk bersamamu, yang tertawa mendengar ceritamu, yang menganggapmu bukan hanya kawan, melainkan saudara.”
Kata-kata itu menggema di telinga Ur Enki. Ia terdiam, dadanya masih berguncang, entah oleh letih atau oleh rasa yang menyerbu hatinya. Mata yang tadinya menyala kini mulai meredup, berganti dengan kilat kerinduan yang ia coba sembunyikan.
Ur Enki menghela napas panjang, menatap langit yang muram. Bibirnya akhirnya terbuka, lirih, seperti suara anak sungai yang malu mengalir.
“Kalau kau benar sahabatku… kenapa kau tidak melawan titah itu? Kenapa kau biarkan namamu bersanding dengan namanya, sementara aku tersungkur dalam debu?”
Namtar menggeliat, berusaha bangkit, meski tubuhnya berat. Ia menoleh penuh pada Ur Enki, matanya berkaca-kaca oleh rasa yang tak sanggup ia tahan.
“Aku akan melawan, Ur Enki. Aku akan melawan dengan apa pun yang kupunya. Aku lebih memilih kehilangan cinta daripada kehilangan persahabatan, sedangkan aku tak memiliki cinta, sedangkan aku tak ingin putus persahabatan….”
Suasana terdiam. Kata-kata itu jatuh ke dalam dada Ur Enki, menghantam keras, namun juga hangat. Untuk pertama kalinya setelah badai pesta, setelah bisikan kota, setelah amarah dan pertarungan, hatinya mulai bergoyang.
Di tepi rawa itu, di atas tanah yang lembab, dua sahabat terbaring bersama. Nafas mereka berat, tubuh mereka letih, tetapi hati mereka mulai terbuka. Seperti retakan kecil pada dinding yang tinggi, cahaya perlahan menyelinap masuk.
Ur Enki menarik nafas panjang, dadanya masih bergemuruh oleh letih dan amarah yang belum reda. Ia menatap Namtar dengan sorot mata yang tidak lagi menyala penuh murka, melainkan berkedip ragu, seolah ada celah yang terkuak.
“Kau akan melawan ayahmu?” tanyanya perlahan.
“Untuk urusan ini, iya!” tegas Namtar.
Ur Enki terdiam.
Namtar menghela nafas lega, meski wajahnya tetap murung. Senyum samar menghias bibirnya, tapi lalu segera pudar, karena sesuatu yang lebih berat menekan dadanya. Ia berpaling sebentar ke arah rawa, seakan mencari keberanian di balik kabutnya.
“Ayahku… Enlil Bazi…” ucapnya dengan suara rendah, “telah mendengar desas-desus tentangmu. Tentang bisikan yang mengatakan bahwa hatimu telah condong pada ajaran lelaki di atas bukit itu—Nuh atau Ziusudra.”
Ur Enki tersentak, meski tak menjawab seketika. Ia hanya memandang jauh, ke perahu yang separuh rampung di tepi rawa, ke balok-balok kayu yang seakan menjadi saksi rahasia jiwanya.
Namtar melanjutkan, “Aku harus jujur padamu. Ayahku menaruh kecurigaan besar. Baginya, jika itu benar, maka bukan hanya sahabatku yang terancam, melainkan seluruh kota akan memandangmu sebagai duri yang harus dicabut. Kau tahu tabiat ayahku—ia tidak mengenal ampun bila menyangkut kehormatan para dewa.”
Ur Enki menatap Namtar lama sekali, seolah mencari celah dalam jiwa sahabatnya itu—celah yang masih mempercayainya, celah yang belum dipenuhi prasangka ayahnya. Lalu, dengan suara yang tenang, namun menyimpan bara yang dalam, ia berkata:
“Namtar… aku hanyalah manusia rawa, lahir dari lumpur dan kayu yang hanyut. Aku tidak punya singgasana, tidak punya altar, tidak pula titah yang menjulang ke langit. Yang kumiliki hanya hatiku, dan hati itu—seperti air di sungai—sering kali mengalir mencari kebenarannya sendiri.”
“Bila orang-orang berkata aku mendengar bisikan dari bukit,” lanjut Ur Enki, “biarlah bibir mereka penuh dengan bisikan itu. Aku tak seperti ada dalam bisikan-bisikan mereka. Aku hanya berbeda dengan semua orang…”
“Apa maksudmu?”
“Namtar—ku katakan ini di atas tali persahabatan kita, juga tali persaudaraan: Bukankah kita memiliki jiwa, dan di dalam jiwa ada suara hati yang mesti didengar? Menurut hatimu, bahkan apakah para dewa merestui seorang lelaki tua dihina dan dicaci-maki? Tempatkan dirimu sebagai seorang anak yang memandang ayahmu dihina direndahkan dan dilempari roti busuk—adakah hatimu bersuka cita?”
“Tentu aku marah!”
“Aku tidak marah,” ujar Ur Enki, “aku sedih sekaligus benci.”
“Jadi…begitu…”
“Adakah—di mata hatimu—aku mengkhianati para dewa?”
Namtar menggeleng. Hatinya sangat tenang kali ini.
Namtar meraih bahu Ur Enki, gemetar tangannya karena lelah dan jiwa yang tercabik. Ur Enki tak menolak. Akhirnya, mereka saling memeluk.
Namtar lalu menoleh ke pasukannya, memberi isyarat singkat. Para pengawal segera menyiapkan kereta kembali. Namtar naik dengan langkah berat. Roda kereta berderit, perlahan bergerak menjauh, menyisakan jejak roda di lumpur. Ur Enki berdiri tegak di tepi rawa, bertelanjang dada dengan kapak di tangannya, menatap punggung sahabatnya yang kian jauh.
***
Waktu terus merambat maju, bagai air kanal yang mengalir lamban namun tak terbendung. Siang berganti malam, malam pun berganti siang. Belum ada tanda-tanda yang terbaca di wajah kota, kapan Enlil Bazi akan menggelar pesta pernikahan bagi Namtar Sin dan Innana Eti. Bibir-bibir kota belum menyalakan obor desas-desus tentang hal itu. Bilamana tersisa tiupan kabar yang masih menggema di telinga sebagian orang, maka itu hanyalah bisik-bisik tentang Innana dan Ur Enki yang konon masih sering bertemu, bertemu diam-diam di balik rimbun gelagah, bertemu sembunyi-sembunyi di bawah senja yang merah, dan… konon memadu kasih.
Kabar lain, lebih berbahaya lagi, menyebut bahwa Ur Enki dan Namtar telah bertarung di tepi Rawa Edin. Tak ada mata yang menyaksikan dengan pasti jalannya pertempuran antara sang pangeran dan si pengrajin kayu itu. Namun, menurut kabar yang beredar luas dari mulut ke mulut: Namtar, dengan segala kegagahannya, hampir berhasil membunuh Ur Enki.
“Jika tak dicegah oleh pengawalnya sendiri,” begitu ungkapan seorang bangsawan muda di suatu pesta minum, “si pengrajin kayu anak pengrajin kayu itu pasti sudah musnah, jasadnya menjadi makanan buaya dan ular rawa.”
“Kenapa mesti dicegah?” gugat yang lain, sambil memutar-mutar cawannya. “Bukankah itu yang diinginkan? Menghabisi masalah hingga ke akarnya?”
“Iya, seharusnya tak perlu dicegah,” sela yang ketiga, wajahnya merah oleh bir dan keyakinan. “Agar kuman pengkhianat itu segera mati. Kalau aku yang menjadi Enlil Bazi, sudah sejak lama kulempar Ur Enki ke jurang paling dalam di Purattu, dengan batu diikat di kakinya.”
Namun, lidah rakyat kecil menangkap dan menceritakan kembali kabar itu dengan nada yang sama sekali berbeda.
“Harusnya Namtar Sin yang malu,” gerutu seorang tua yang sedang memperbaiki jala di tepi kanal.
“Malu? Malu apa? Malu kenapa?” tanya seorang nelayan muda yang duduk di sebelahnya.
“Pertama,” ujar si tua, jarinya menghitung di udara, “dia seorang pangeran, darah biru, seharusnya jiwa dan sikapnya lebih besar. Kedua, Ur Enki hanya tukang kayu, rakyat jelata yang tanggannya hanya terbiasa menggenggam pahat daripada pedang. Ketiga, sang pangeran mendatanginya dengan pengawalan penuh, bersenjatakan pedang dan tombak. Keempat, si tukang kayu itu hanya memiliki kapak. Kelima, antara Ur Enki dan Innana konon sudah saling mencintai sebelum titah raja keluar. Keenam, hanya karena titah ayahandanyalah, Namtar dijodohkan dengan kekasih hati si tukang kayu. Dan ketujuh—” napas si tua tertahan, matanya berbinar, “—jelaskan padaku, wahai anak muda, dalam pertimbangan yang jernih, siapakah yang seharusnya merasa malu dalam kisah ini?”
“Hahaha!” si nelayan muda tertawa geli. “Ternyata terlalu banyak hitungannya, paman. Alasan yang tak terbantahkan.”
“Kalau aku mau,” lanjut si tua, menurunkan suaranya menjadi desis berbahaya, “aku bisa menyebutkan sampai sepuluh alasan. Dan alasan kesepuluh adalah yang paling pedih: semua orang tahu, bahkan anak kecil di pasar pun berbisik, bahwa Innana mencintai Ur Enki dan sedikit pun hatinya tidak tertambat pada Namtar Sin.”
“Sssst, Paman!” si nelayan muda melirik ke sekeliling dengan takut. “Jangan keras-keras kau bicara. Apa kau mau lidahmu dipotong dan dijadikan umpan ikan oleh penjagal Enlil Bazi?”
Lidah-lidah itu memang begitu mudah berbicara, bagai daun gelagah yang gemetar ditiup angin. Entah lidah para bangsawan di balik tembok tinggi rumah bata mereka, entah lidah rakyat jelata di atas perahu reed dan di tepian kanal. Masing-masing menyusun narasinya sendiri, memperkuat prasangka, dan tanpa sadar merajut jala takdir yang semakin mengikat semua orang yang disebut-sebut namanya.
Matahari belum lagi mencapai puncak langit ketika Namtar Sin memutuskan untuk melangkah. Kaki-kakinya terasa bagai dijejali batu sungai Purattu, berat dan tertatih, menyusuri lorong-lorong istananya yang sepi. Dinding bata bitumen yang biasanya memantulkan kegagahannya, kini seolah menyempit, mengurungnya dalam sangkar warisan yang mewah dan dingin. Setiap langkahnya adalah sebuah pertempuran batin, antara darah bangsawan yang memerintahkan kepatuhan, dan suara persahabatan yang berteriak meminta pengorbanan.
Ia menemukan ayahnya, Enlil Bazi, di ruang dalam istana, sebuah ruangan yang lebih intim namun tak kalah berwibawa. Sang raja sedang duduk di atas bangku kayu cedar berukir, menatap lekat sebuah peta wilayah yang tergurat di atas kulit kambing. Cahaya dari jendela tinggi menyinari debu-debu yang menari di udara, serta kerutan di dahi ayahnya yang sedang memikirkan takhta dan tanah.
“Ayah,” suara Namtar terdengar serak, memecah kesunyian yang sakral.
Enlil Bazi mengangkat kepalanya perlahan. Matanya, yang bagai elang pengintai, langsung menangkap kegelisahan yang memancar dari seluruh tubuh putranya. Ia meletakkan peta itu.
“Namtar,” sambutnya, suaranya datar, penuh wibawa yang sudah mendarah daging. “Ada yang mengganggu jiwamu? Katakan. Seorang pewaris tak boleh keraguannya terpampang di wajah seperti kemarau yang tak menentu.”
Namtar menunduk, mengambil napas dalam-dalam. Jantungnya berdebar kencang, bagai genderang perang yang dipukul di dalam dadanya. Ia mencari kata-kata, merangkainya dari kedalaman hati yang paling jujur.
“Ayah,” mulainya lagi, suaranya bergetar halus, penuh hormat dan takdzim. “Aku datang menghadap bukan sebagai pewaris tahta. Aku datang sebagai anakmu. Dan sebagai anak, aku memohon izin untuk menyampaikan isi hatiku yang paling dalam.”
Enlil Bazi mengangguk pelan, tangannya memberi isyarat agar Namtar terus berbicara.
“Titah Ayah untuk menjodohkanku dengan Innana Eti,” lanjut Namtar, memilih setiap kata dengan hati-hati, bagai memilih permata yang paling berharga, “adalah sebuah kehormatan tertinggi yang mungkin tak sanggup kubalas. Innana adalah bunga yang merekah sempurna, permata yang tak ternilai dari keluarga Sulgi Ram.”
Ia berhenti sejenak, menelan ludah yang terasa pahit.
“Namun, Ayah… izinkan anakmu berkata jujur. Di dalam dadaku, ketika ku pandang wajahnya, yang ku dapati bukanlah cahaya seorang kekasih, melainkan bayangan seorang sahabat.”
Matanya menatap lantai, seakan malu dengan pengakuannya sendiri.
“Jiwa ini… belum mengenal debaran yang konon hadir ketika cinta menyapa. Hatiku masih bagai danau yang tenang, tak ada riak yang datang dari kehadirannya. Aku memandangnya dengan hormat, Ayah, bukan dengan rindu.”
Lalu, suaranya semakin lirih, hampir berbisik, penuh dengan beban yang selama ini dipikulnya. “Dan ada satu lagi beban yang memberatkan jiwaku. Ada seorang sahabat, Ayah. Seorang saudara yang tidak dihubungkan oleh darah, tetapi oleh ikatan masa kecil yang tulus. Ayah sudah tahu itu. Ur Enki.”
Menyebut nama itu, dadanya terasa sesak.
“Aku telah mendengar bisik-bisik yang menyakitkan. Aku telah melihat luka di matanya. Dan aku… aku merasa seolah-olah sedang merampas sesuatu yang bukan milikku. Merampas secercah cahaya yang telah lebih dulu bersinar di dalam hidupnya. Sebagai seorang sahabat, sebagai seorang saudara, hatiku teriris menyaksikan penderitaannya. Tidakkah keagungan seorang bangsawan juga diukur dari kemampuannya untuk berbelas kasih?”
Namtar akhirnya menatap langsung ke mata ayahnya, sorot matanya memancarkan keberanian yang langka, yang lahir dari keputusasaan yang paling murni.
“Dengan segala kerendahan hati, Ayah, aku memohon… sudilah kiranya Ayah meninjau kembali titah ini. Bukan karena aku menolak kehendak Ayah, tetapi karena aku ingin menjalani takdir ini dengan jiwa yang tulus, bukan dengan hati yang terbelah dan merasa telah mengkhianati persaudaraan. Berikanlah kesempatan padaku untuk menemukan jalanku sendiri, dan mungkin… berikanlah kesempatan bagi kebahagiaan yang lain untuk tetap bersinar.”
Suasana hening seketika. Hanya desis lampu minyak yang menyala di sudut ruangan yang menjadi saksi bisu dari gugatan hati seorang anak yang berani melawan takdirnya sendiri, dengan senjata yang paling halus: kejujuran dan cinta kasih.
***