Nikmati setiap bab dari karya penulis berbakat
Kereta itu akhirnya berhenti, hanya beberapa langkah dari Ur Enki. Roda perunggunya memantulkan cahaya siang, onager mendengus berat, kaki-kakinya menghentak tanah rawa yang lembek. Suasana hening menegang; hanya desis angin yang melintas di alang-alang.
Para pengawal segera membentuk barisan, tombak-tombak mereka terangkat, wajah-wajah tegang menatap ke arah pemuda rawa yang berdiri dengan dada telanjang, tangan kanan masih menggenggam kapak batu. Mereka bersiap, seakan satu aba-aba saja cukup untuk mengubah hening menjadi hujan darah.
Namtar Sin turun dari kereta. Gerakannya anggun, penuh wibawa seorang bangsawan, namun di bibirnya terbit senyum yang lembut, sebuah senyum yang berusaha memecah tebalnya kecurigaan. Langkahnya tegap saat ia mendekat, namun sorot matanya tetap melekat pada sahabatnya itu โ sorot yang tampak ingin berkata bahwa ada ketulusan yang belum padam.
Ia berhenti tepat di hadapan Ur Enki. Sejenak ia menatap tubuh sahabatnya: peluh yang menetes di dada, urat-urat yang menegang di lengan, genggaman kapak yang seolah hendak menyambutnya bukan dengan pelukan, melainkan dengan pertarungan.
Namtar menghela napas, lalu tersenyum lebih lebar. Suaranya mengalun rendah, mencoba mencairkan udara yang beku:
โSeorang sahabat menyambut sahabatnya dengan kapak?โ
Getir, tegang, dan nyaris pahit โ itulah yang membungkus kata-kata itu.
Ur Enki menatapnya lama, sorot matanya tak bergeser, seperti hendak menembus jauh ke dalam jiwa Namtar. Bibirnya bergerak, pelan, namun nadanya tajam bagai bilah.
โDan seorang sahabat datang dengan pedangโฆ dan pasukan.โ
Kata-kata itu jatuh di udara seperti batu yang dilemparkan ke permukaan air tenang โ menciptakan riak yang menyebar, menghantam telinga para pengawal, menyelusup ke dada Namtar sendiri.
Keheningan kembali menjerat mereka. Di antara kapak dan pedang, di antara senyum dan curiga, dua sahabat itu berdiri saling menatap. Angin rawa kembali bertiup, tapi kali ini terasa dingin, membawa aroma lumpur yang seakan menegaskan bahwa persahabatan pun bisa berubah menjadi medan tempur.
Angin rawa mengusap pelan rambut keduanya, namun udara di antara mereka tetap berat, padat oleh kata-kata yang belum terucap. Para pengawal masih tegak, mata mereka menyapu setiap gerak Ur Enki, seakan pemuda dengan kapak itu adalah ancaman lebih berbahaya daripada seekor singa yang lepas dari kandang.
Namtar, dengan senyum yang tak lekang, mencondongkan sedikit tubuhnya.
โAku datang bukan dengan pedang yang terhunus,โ katanya perlahan, โaku datang dengan wajah terbuka. Pasukan hanya bayangan dari darah yang kupikul, bukan niat hatiku. Kau berdiri dengan kapakmu, aku datang dengan lambang-lambangku. Bukankah kita sama, Ur Enki? Keduanya hanyalah tanda yang melekat, bukan isi jiwa.โ
Ur Enki mengangkat dagunya, menatap tajam.
โSama?โ ujarnya dengan suara rendah namun bergetar. โKau berdiri di atas roda berlapis perunggu, aku di atas tanah berlumpur. Kau menunggang onager yang dihias emas, aku hanya tahu dayung kayu dan lumpur rawa. Jika itu kau sebut sama, mungkin kita hidup di dunia yang berbeda.โ
Namtar menahan napas sejenak, sorot matanya tidak berubah, hanya senyumnya yang sedikit meredup. โDunia berbeda, mungkin. Tapi bukankah mata kita pernah memandang senja yang sama? Bukankah telinga kita pernah mendengar nyanyian angin yang sama? Apakah kini dunia itu sudah terbelah hanya karena titah yang tidak kuminta?โ
Kapak di tangan Ur Enki bergetar pelan, bukan karena lelah, melainkan karena dadanya dipenuhi bara. โTitah itu, Namtar, seperti kilat yang menyambar. Tak peduli pada tanah yang retak, tak peduli pada pohon yang terbakar. Kau bilang tidak kau minta? Tapi tidakkah kau sadar kilat itu lahir dari langit keluargamu? Dan akulah pohon yang hangus karenanya.โ
Kata-kata itu jatuh seperti pisau, tajam, memotong udara. Para pengawal saling berpandangan, gelisah, seakan mereka sedang menyaksikan bukan pertemuan dua sahabat, melainkan duel yang tak kasat mata.
Namun Namtar tidak surut. Ia mendekat setapak lagi, hingga hanya jarak genggaman tangan yang memisahkan mereka. Tatapannya tetap tulus, meski wajahnya kini tampak diliputi bayang getir. โKalau pohon itu hangus, izinkan aku menjadi hujan untuk memadamkan bara. Aku tidak datang untuk menyulut. Aku datang untuk bicara. Sahabat menyapa sahabat, meski dunia menyebut kita musuh.โ
Hati Ur Enki tak juga melunak. Sorot ย matanya tetap tajam, kapak masih tergenggam erat, tubuhnya tegang bagai busur yang siap melepaskan panah.
Namtar menarik napas dalam. Wajahnya, yang biasanya tenang, kini bergetar oleh perasaan yang bercampur: kecewa, getir, dan rindu akan kepercayaan yang hilang. Ia lalu berpaling pada pasukannya.
โBerikan padaku dua batang tombak!โ ujarnya.
Para pengawal saling pandang. Salah satu maju, menyerahkan dua tombak kayu panjang berujung perunggu yang berkilat di bawah cahaya. Namtar menerima keduanya dengan gerakan mantap. Ia memegangnya sejenak, lalu dengan tangan kuat dilemparkannya satu tombak ke arah Ur Enki.
Tombak itu jatuh di tanah, hanya sejengkal dari kaki pemuda rawa itu. Suara hentaknya terdengar nyaring, membuat burung-burung kecil beterbangan dari alang-alang rawa.
Para pengawal langsung gelisah, tapi Namtar mengangkat tangannya, memberi isyarat tegas. โJangan ikut campur. Ini urusanku dan diaโฆ.!โ
Mata Namtar kembali tertuju pada Ur Enki. Ia menggenggam tombak satunya, mengangkatnya tegap di hadapan dada. Senyum getir kembali tersungging di bibirnya.
โJika engkau tak percaya pada kata-kataku, maka percayalah pada tombakku!โ
Ur Enki menunduk sejenak, menatap tombak yang tergeletak di tanah. Tangannya, masih berlumur keringat, perlahan mengendur dari kapak yang ia genggam. Jantungnya berdetak semakin keras. Kata-kata Namtar menusuk dalam.
Dengan gerakan lambat namun tegas, Ur Enki menunduk, meraih tombak itu. Jemarinya melingkar di batang kayu yang kokoh, merasakan dinginnya logam perunggu di ujung. Ia mengangkatnya ke depan dada, tubuhnya berdiri tegak, sorot matanya kembali bertemu dengan Namtar.
Suasana tepi rawa semakin tegang. Air rawa seakan menahan riaknya, angin berhenti berembus, seolah seluruh alam menanti: apakah tombak ini akan meneteskan darah, ataukah justru menghapus bara di antara dua jiwa?
Namtar menatap Ur Enki lama, seolah hendak menembus lapisan amarah yang membungkus jiwanya. Namun setiap kata yang keluar dari bibirnya tak jua melunakkan ketegangan di mata sahabatnya itu. Sorot Ur Enki tetap tajam, kapak masih tergenggam erat, tubuhnya tegang bagai busur yang siap melepaskan panah.
Namtar menarik napas dalam. Wajahnya, yang biasanya tenang, kini bergetar oleh perasaan yang bercampur: kecewa, getir, dan rindu akan kepercayaan yang hilang. Ia lalu berpaling setengah pada pasukannya.
โBerikan padaku dua batang tombak,โ ujarnya.
Para pengawal saling pandang. Salah satu maju, menyerahkan dua tombak kayu panjang berujung perunggu yang berkilat di bawah cahaya. Namtar menerima keduanya dengan gerakan mantap. Ia memegangnya sejenak, lalu dengan tangan kuat dilemparkannya satu tombak ke arah Ur Enki.
Tombak itu jatuh di tanah, hanya sejengkal dari kaki pemuda rawa itu. Suara hentaknya terdengar nyaring, membuat burung-burung kecil beterbangan dari alang-alang.
Para pengawal langsung gelisah, tapi Namtar mengangkat tangannya, memberi isyarat tegas. โJangan ikut campur. Ini urusan aku dengan dia. Seorang sahabat dengan sahabatnya. Tak lebih.โ
Mata Namtar kembali tertuju pada Ur Enki. Ia menggenggam tombak satunya, mengangkatnya tegap di hadapan dada. Senyum getir kembali tersungging di bibirnya.
โJika engkau tak percaya pada kata-kataku, maka percayalah pada tombakku. Bukan untuk menebasmu, tapi untuk membuktikan: apakah kau masih sahabatku, ataukah kita sudah menjadi musuh?โ
Ur Enki menunduk sejenak, menatap tombak yang tergeletak di tanah. Tangannya, masih berlumur keringat, perlahan mengendur dari kapak yang ia genggam. Jantungnya berdetak semakin keras. Kata-kata Namtar menusuk dalamโtantangan yang bukan tantangan perang, melainkan ujian jiwa.
Dengan gerakan lambat namun tegas, Ur Enki menunduk, meraih tombak itu. Jemarinya melingkar di batang kayu yang kokoh, merasakan dinginnya logam perunggu di ujung. Ia mengangkatnya ke depan dada, tubuhnya berdiri tegak, sorot matanya kembali bertemu dengan Namtar.
Suasana tepi rawa semakin tegang. Air rawa seakan menahan riaknya, angin berhenti berembus, seolah seluruh alam menanti: apakah tombak ini akan meneteskan darah, ataukah justru menghapus bara di antara dua jiwa?
Tombak di tangan Ur Enki terangkat penuh, tubuhnya tegak, matanya menyala. Di hadapannya, Namtar juga bersiap: langkah kuda-kuda kakinya mantap, tombak di tangannya berkilau, tubuhnya tegap bagai singa yang hendak menerkam.
Sejenak, hening menjerat mereka.
Lalu, seperti dentum petir membelah langit, tubuh mereka bergerak serempak.
Tombak pertama Namtar menusuk cepat, menebas udara, diarahkan ke dada. Ur Enki sigap mengangkat tombaknya, menangkis, suara kayu beradu nyaring. Percikan kecil debu beterbangan dari hentakan kaki mereka di tanah rawa. Ur Enki balas menebas, gerakan kasar tapi bertenaga, menghantam ke arah bahu lawannya. Namtar memutar tubuhnya, tombaknya menahan, lalu menepis keras hingga benturan terasa ke lengan Ur Enki.
Dentum tombak bertemu tombak berulang-ulang, setiap kali berbunyi bagai genderang perang yang dipukul tanpa henti. Kedua tubuh itu bergerak cepat: menunduk, meloncat, menusuk, menangkis, menghantam. Otot-otot mereka menegang, peluh bercucuran, dada berdegup keras.
Pasukan pengawal menahan napas, sebagian ingin maju, namun tatapan keras Namtar membuat mereka tetap berdiri di tempat. Tak seorang pun berani mengganggu arena sahabat yang kini berubah jadi gelanggang pertempuran.
Ur Enki menyerang dengan tenaga liar, tombaknya berputar bagai badai. Namtar menghadapinya dengan ketangkasan seorang bangsawan yang terlatih: gerakannya lebih halus, lebih terukur, tapi sama sekali tidak kalah mematikan.
Mereka terus saling serang, saling uji. Tanah basah terhantam telapak kaki mereka, air rawa terciprat, tubuh mereka semakin berlumur debu dan keringat. Nafas mereka memburu, dada naik-turun, namun tak satu pun berhenti.
Tombak Namtar hampir menyentuh lengan Ur Enki, tapi segera ditepis keras. Tombak Ur Enki nyaris menembus pinggang Namtar, tapi diputar cepat lalu ditekan ke bawah. Gerakan demi gerakan terus berlangsung, seakan mereka memang hendak menumpahkan darah.
Waktu berjalan. Kekuatan mereka mulai menurun, tapi tak satu pun mau menyerah. Tombak beradu makin lambat, nafas mereka makin berat, tubuh mereka makin goyah. Hingga akhirnya, dalam satu benturan keras, kedua tombak terpental dari tangan.
***