Fibozona
📖 BACA BAB

Baca Bab

Nikmati setiap bab dari karya penulis berbakat

🎉 GRATIS - Tanpa Koin

Sulgi Ram dan Ninsabtu

📅 01 July 2026 📚 Ketika Kota Mengutuk Cinta Kita ⏱️ 9 menit baca 📑 Bab 16

Bisikan itu membawa cerita: tentang tatapan mata, tentang tangan yang sempat tergenggam, tentang pertemuan rahasia di bawah pohon tamarisk. Ada yang mengisahkannya dengan nada kagum, ada pula dengan nada dengki. Tetapi bagi para telinga yang haus aib, kabar itu adalah madu yang tak habis-habisnya menetes—manis, sekaligus membakar.

Dan kabar itu, seperti asap dupa yang menembus celah terkecil, akhirnya sampai pula ke dalam rumah agung milik Sulgi Ram.

Rumah itu berdiri di tengah kawasan bangsawan, dengan pilar-pilar batu yang menjulang, dinding bata yang dilapisi bitumen hitam, dan halaman luas berlapis kerikil putih yang berkilau saat tersapu cahaya bulan. Di dalamnya, ruang-ruang dipenuhi dengan karpet wol yang ditenun tangan, lampu-lampu minyak dari perunggu, dan aroma kayu cedar yang dibakar di tungku. Di ruang utama rumah itu, pada malam penuh kegelisahan ini, Sulgi Ram dan istrinya, Ninsabtu, duduk berhadap-hadapan di kursi berlapis kain ungu.

“Kau ibunya,” Sulgi Ram memulai, “dan mestinya kau tahu tentang putri kita.”

“Pengetahuanku tidak akan melebihi apa yang engkau ketahui, Tuan Sulgi, suamiku.”

“Tidakkah kau mendengar desas-desus itu?”

“Bahkan para budak pun sudah mendengarnya.”

“Jadi benar,” ucap Sulgi Ram, “Innana seperti yang mereka bisikkan?”

“Aku belum menanyainya, tuan,” jawab Ninsabtu, “Innana sekarang sering menyendiri di kamarnya. Ia tak lagi keluar seakan kamarnya hanyalah dunianya.”

“Ur Enki, hmm. Jika benar,” Suldi Ram lalu berkata, “panggil Innana sekarang juga!!”

Innana dipanggil ke ruang utama.

Ia melangkah pelan, bagai bayangan yang terhalang bulan. Gaun tidurnya yang putih dan tipis berdesir lembut, melantunkan kesedihan dalam kesunyian. Rambutnya yang biasanya terurai bagai malam, kini tergelung sederhana. Wajahnya, yang biasanya bersinar laksana mutiara, kini pucat bagai cahaya bulan yang tertangkap awan mendung. Saat matanya menatap kedua orang tuanya yang duduk bagai hakim di atas takhta, seluruh kekuatannya serasa menguap, meninggalkan getaran ketakutan yang menggigil di balik kulitnya yang halus.

“Innana,” suara Sulgi Ram bergema, memenuhi sudut ruangan. “Duduklah.”

Dengan kaki yang lemas, ia duduk di bangku rendah, menundukkan wajahnya yang telah basah oleh air mata yang belum jatuh. Jantungnya berdebar kencang, bagai burung terjebak dalam sangkar, berusaha menerobos keluar dari sangkar tulang rusuknya.

“Innana—kau tahu siapa dirimu?” Sulgi Ram mulai menindas dengan pertanyaan ini.

Innana mengangguk.

“Katakanlah, siapa dirimu?”

“Aku…aku, maafkan aku, ayah. Aku putrimu, putri Sulgi Ram dan Ninsabtu…”

“Dan siapa laki-laki itu?”

Innana tercekat, namun segera menjawab, “Dia—Ur Enki, ayah.”

“Siapa Ur Enki?”

“Dan ayah—juga ibu—pasti telah tahu siapa dia.”

“Kau sudah pandai berkata-kata, Innana. Perkataanmu mulai mengandung bara. Apakah kau ingin membakar rumah kita?”

Innana terdiam.

Sulgi Ram mengejar, “Leluhur kita mengajarkan satu hal: Kebaikan harus dibalas dengan kebaikan. Dan kejahatan harus dilawan. Bangsawan untuk bangsawan dan begitulah cara menghormati keluarga, cara mempertahankan kehormatan keluarga. Apakah kau hendak berbuat jahat, Innana?”

Innana semakin terdiam.

Innana semakin menggigil.

Ninsabtu, yang sedari tadi tak lepas-lepas memandangi wajah putrinya itu, kini mengambil alih kata, mendekati Innana dengan hati seorang ibu. Ujarnya, “Putriku. Jangan merasa ayahmu tengah menggugatmu. Ayahmu tengah mengingatkan kita tentang arti kehormatan keluarga. Kehormatan itu, mestinya harus kita pertahankan. Begitulah kehidupan ayah dan ibumu, juga kakek dan nenekmu, hingga kehidupan leluhur kita. Tolonglah jujur, Innana—adakah hatimu telah berpaut pada Ur Enki?”

Kali ini, mendengar perkataan ibunya yang lembut, sebuah kekuatan muncul dari kedalaman jiwa Innana. Ia pun mengangguk, dan menjawab, “Ibu memintaku untuk jujur, dan kejujuran juga merupakan kehormatan. Iya, aku mencintainya, Ibu.”

“Tahukan bahwa itu adalah kejahatan, Innana?” kali ini Sulgi Ram memekik seru.

Pekikan itu justru sekarang semakin menambah daya dalam jiwa Innana untuk menjawab, “Adakah cinta adalah kejahatan, ayah? Iya, mungkin Innana tak mengenal dunia. Innana tak mengenal betapa hebatnya dewa-dewa, betapa mulia dan luhurnya imam-imam kota. Mungkin pula Innana tak tahu tentang para leluhur dan ajaran-ajaran mereka. Namun, jika cinta adalah jahat, adakah benci menjadi kehormatan jiwa?”

Sulgi Ram menatap tajam wajah Innana—wajah yang saat ini tampak sudah berani untuk menantangnya. Ucapnya, “Kau memang sudah pandai berkata-kata, Innana. Sangatlah pandai. Cinta memang tak pernah jahat. Jahat tidaknya bukan ada pada cinta, namun ada pada siapa arah yang kau tuju.”

“Jadi aku, menurut ayah, salah bila mencintai Ur Enki?”

“Iya, itulah letak kesalahannya.”

“Karena Ur Enki bukan bagian dari kaum kita—bangsawan?”

“Kau mengerti…”

“Telah ku baca kisah tentang leluhur kita,” Innana terus coba mempertahankan diri, “ku baca hingga sampai awal penciptaan manusia. Leluhur kita mengisahkan bahwa ada dewa langit menikahi perempuan bumi hingga melahirkan anak setengah dewa setengah manusia. Anak itu lalu menjadi pemimpin para leluhur. Jadi menurut ayah, dewa yang menikahi manusia itu telah berbuat jahat?”

“Kita bukan dewa,” bantah Sulgi Ram, “dan kau bukan gadis yang akan dinikahi dewa. Pemuda seperti Ur Enki tetap layak untuk mencintai dan dicintai. Cinta, pada dada manusia, tak pernah jahat. Tetapi kelayakan dan kesamaan derajat, tak bisa diabaikan dan dirusak begitu saja.”

“Kau mencintai Ur Enki,” lanjut Sulgi Ram tanpa memberi kesempatan Innana untuk membantah, “itu tak salah. Aku minta maaf, Innana. Cintamu tak salah. Cinta Ur Enki—terhadapmu—pun tak keliru. Namun, Innana, cinta kalian akan banyak menyakiti yang lain. Menyakiti adat, tradisi, dan kehormatan keluarga. Cinta kalian telah membumbungkan cibiran dan hinaan bibir-bibir kota. Lebih dari itu, cinta kalian akan mengundang badai amarah Enlil Bazi.”

Tatkala nama itu disebut, jiwa Innana kembali lunglai.

Ninsabtu menarik nafas dengan berat.

Innana menunduk.

Dan Sulgi Ram melanjutkan, “Putriku. Dunia kini tahu bahwa engkau telah dijodohkan dengan Namtar Sin putra Enlil Bazi. Enlil Bazi telah membuat titah—dan titah itu adalah perintah. Aku berdusta jika aku—pun juga ibumu—tak merasa senang dan bahagia dengan titah itu: Innana akan dipersunting putra raja Rawa Edin. Demi masa depan Rawa Edin pula. Sungguh, demi kebesaran Dewa Enki, aku—ayahmu—bisa menyerah untuk merestui cintamu dengan Ur Enki. Namun, Innana, aku tak mampu melawan titah seorang raja.”

Air mata Innana menetes di pipi.

“Jika Ur Enki benar-benar mencintaimu,” ucap Sulgi Ram, “dia akan mengerti. Innana. Sungguh, dia akan mengerti.”

Innana tersedu.

Innana berdiri.

Innna lari berlari ke kamarnya kembali.

***

Kereta itu meluncur membelah jalanan Rawa Edin, rodanya berderit menekan batu bata yang mengeras oleh terik matahari. Dua ekor onager berkulit cokelat pucat menariknya dengan langkah gagah, surai mereka berkibar diterpa angin. Di atas kereta, berdiri tegap Namtar Sin, jubah biru tuanya berkilau ditimpa cahaya siang, bordir emasnya berkilat bagai sinar matahari yang dipintal menjadi benang. Di tangannya, ia menggenggam tali kendali; di wajahnya, sorot mata lurus yang tak peduli kanan-kiri.

Di sekeliling kereta, pengawal-pengawal istana berderap dalam barisan rapat, sebagian mengendarai kereta kecil, sebagian berjalan kaki dengan tombak panjang di tangan. Deru roda dan derap langkah mereka membentuk irama yang membuat kota menoleh.

Orang-orang keluar dari rumah bata, dari warung kurma, dari bengkel tembikar, bahkan dari tepian kanal. Mereka berhenti bekerja, meletakkan beban mereka, dan hanya memandang rombongan itu. Anak-anak berlarian sambil bersorak, tapi mata orang dewasa dipenuhi tanda tanya yang berat.

“Ke mana putra mahkota pergi, siang begini, dengan kereta bangsawan dan pasukan lengkap?” bisik seorang lelaki tua, bersandar pada tongkatnya di bawah pohon tamarisk.

“Lihatlah wajahnya,” sahut seorang perempuan yang memanggul kendi, “dingin, keras, seperti hendak menantang badai. Ada maksud besar di dalam langkah ini.”

Seorang pemuda menunduk, lalu berkata dengan suara rendah, “Aku mendengar… ia hendak menemui Ur Enki, anak rawa itu. Tidakkah kau tahu? Semuanya sudah beredar.”

Bisikan itu merayap cepat, berpindah dari bibir ke bibir, dari lorong pasar hingga ke kaki tangga kuil. Dan dalam sekejap, dugaan menjadi keyakinan di hati rakyat: Namtar Sin sedang menuju tepi rawa untuk menemui Ur Enki.

Langit Rawa Edin tampak muram. Awan putih menggantung rendah, seakan menahan napas. Angin berhenti, membuat terik matahari jatuh penuh, menyalakan batu-batu bata hingga berkilau bagai logam. Semesta seolah menyiapkan dirinya menjadi saksi dari peristiwa yang akan lahir.

Dan kereta itu tetap melaju, meninggalkan pusat kota yang riuh oleh bisikan, melewati jalan-jalan yang makin sempit, hingga memasuki jalur tanah yang lembab. Di kanan-kiri, pemandangan perlahan berubah: dari deretan rumah bata dan pasar yang ramai, menjadi semak belukar, tamarisk, dan lumpur yang sesekali berkilat oleh pantulan cahaya. Suara roda yang berderit kini berbaur dengan kicau burung rawa, dan tombak-tombak para pengawal seperti menoreh langit yang muram.

Di balik riuh perjalanan itu, di sisi lain rawa yang sunyi, Ur Enki berdiri tegap dengan dada telanjang, tubuhnya berkilau oleh peluh, dan tangannya mengayunkan kapak. Ketika ini, ia sedang membelah batang-batang kurma untuk dijadikan perahu.

Dari kejauhan, derit roda kereta itu terdengar, mula-mula samar, lalu semakin jelas, seperti gemuruh petir yang merayap mendekat. Burung-burung rawa yang bertengger di cabang tamarisk beterbangan, sayapnya berkelebat melintasi permukaan air yang memantulkan langit mendung.

Ur Enki, dari sisi gubuk reotnya yang berdiri di antara rumpun alang-alang dan air yang menjulur dari tepi rawa, segera menyadari. Ia berhenti sejenak, kapak kayunya terhenti di udara. Matanya menyipit, memandang ke arah debu yang membumbung. Di balik debu itu, ia tahu, ada kilau roda perunggu, ada cahaya bordir emas, ada rombongan pengawal yang rapat dengan tombak-tombak mereka yang menjulang ke langit.

Jantungnya berdetak kencang, menghantam dadanya. Pertanyaan merambati benaknya:

Apakah itu kedatangan seorang sahabat?

Ataukah kedatangan seorang putra mahkota?

Sahabat datang dengan tangan terbuka, dengan senyum yang menenangkan. Tapi putra mahkota datang dengan pasukan, dengan derap roda dan suara besi. Angin rawa bertiup pelan, membawa aroma lumpur dan kayu basah. Di tepiannya, air rawa memantulkan cahaya matahari siang yang muram. Rumput tinggi bergoyang perlahan, seakan ikut menahan napas. Seekor bangau putih melangkah pelan di air dangkal, lalu terbang pergi seolah enggan menjadi saksi.

Ur Enki berdiri di antara batang-batang kayu yang ia tumpuk, tubuhnya berlumur keringat. Dadanya telanjang, kulitnya mengilap oleh peluh yang bercampur debu kayu. Otot-ototnya tegang, berkilau di bawah sinar matahari. Tangan kekarnya menggenggam kapak batu, yang baru saja ia ayunkan ke batang kayu kurma untuk membentuk lunas perahu sederhana.

Pukulan kapaknya menggema di udara, berat dan berirama, namun kini irama itu terhenti. Suara roda dan derap pengawal lebih kuat terdengar. Ia menunduk sebentar, menatap perahu yang belum selesai. Lalu ia kembali menengadah, menatap ke arah datangnya kereta. Cahaya bordir emas jubah bangsawan berkilau di antara debu. Sorot matanya menjadi tajam, waspada, bercampur dengan ketegangan yang menusuk dada.

***

← Kembali ke Daftar Bab