Nikmati setiap bab dari karya penulis berbakat
Malam pesta telah usai, tetapi jejaknya tidak padam. Kota Rawa Edin, yang terhampar di antara kanal-kanal berkilau dan menara-menara batu bata berlapis bitumen, masih bergemuruh oleh pembicaraan. Seakan-akan udara sendiri telah menyerap gemuruh pesta dan kini mengembuskannya kembali dalam bentuk bisikan, desisan, dan desir desas-desus yang lebih tajam daripada pisau.
Di alun-alun pasar, di bawah sinar obor yang mulai redup, para pedagang kurma dan ikan kering bercakap sambil menurunkan beban. Obor-obor yang tergantung di gerbang kota berayun diterpa angin rawa yang berbisik, dan di bawah cahaya yang menari-nari itulah gosip pertama dilontarkan.
“Apakah kau dengar?” ujar seorang penjual minyak zaitun, matanya berkilat oleh kegembiraan memiliki cerita yang berharga. Suaranya serak, seperti buluh yang digosokkan. “Putri Sulgi Ram—Innana Eti—bunga yang merekah di taman kita, telah dipilih menjadi pendamping Namtar Sin! Ah, tiada yang lebih elok daripadanya. Bahkan Dewi Ishtar pun akan cemburu melihat kilau di matanya.”
“Benar,” timpal seorang pemuda penarik perahu, kulitnya gelap oleh terik matahari, “tetapi…”
“Tetapi apa?” tanya.
Ia menurunkan suaranya, membuat yang lain mendekat. Jawabnya, “Aku melihat sesuatu malam itu. Ada seorang pemuda dari tepi rawa… Ur Enki namanya. Kau tahu dia, anak Lugal-Enki, pengrajin kayu itu. Aku melihat tatapannya dan tatapan sang putri. Seakan ada petir yang menyambar di antara mereka, sebuah rahasia yang membara yang coba disembunyikan oleh kerumunan.”
Bisikan itu disambut angin malam, dibawa ke lorong-lorong sempit dan rumah-rumah anyaman gelagah tempat rakyat jelata tinggal. Di sana, perempuan-perempuan menumbuk gandum dengan lesung, dan suara beradu batu dan padi menjadi irama bagi bisikan mereka:
“Kasihan sekali Ur Enki itu… seperti anak burung yang jatuh dari sarangnya sebelum sempat belajar terbang. Hatinya pasti hancur berkeping-keping.”
“Ah, jangan sebut namanya keras-keras!” desis yang lain, matanya melirik ke sekeliling takut ada yang mendengar. “Nanti telinga imam atau mata-mata bangsawan mendengarnya. Kau ingin mulutmu disegel dengan lumpur hangus?”
“Tapi bukankah cinta memang buta pada garis darah?” sanggah perempuan pertama, dengan keyakinan yang polos. “Bukankah dewa-dewa di langit pun tak bisa menghalangi hati yang sudah terpaut? Aku melihat mereka sekali, di Gerbang Ishtar. Mereka duduk berdua, bukan seperti tuan dan hamba, tapi seperti dua anak sungai yang bertemu.”
Sementara itu, di kedai minum tua di dekat dermaga, tempat para buruh kapal dan tukang pikul menghabiskan upah harian mereka, suara-suara lebih kasar dan nyaring bergemuruh, dicampur dengan hiruk-pikuk cawan yang diangkat:
“Lihatlah! Anak raja mengambil bunga terindah di kota, seperti biasa! Seperti anzu yang menyambar lembu di padang rumput!”
“Ha! Apa yang baru dari itu? Tapi dengarkan, aku mendengar desas-desus dari bibir pelayan yang menyajikan bir… konon gadis itu, Innana, sudah jatuh hati pada pemuda miskin dari rawa. Jiwanya sudah tertambat di sana sebelum pengumuman itu.”
“Jika benar…” sela yang lain, dengan senyum getir, “maka pesta megah itu, dengan segala dupa dan nyanyian pujiannya, hanyalah sandiwara agung untuk menutup-nutupi aib bangsawan!”
Tawa keras pecah, tetapi di dalam tawa itu tersembunyi bara kemarahan. Bara yang bisa menyulut murka rakyat kecil jika desas-desus itu terus menyebar, mengobarkan perlawanan terhadap tembok tinggi ketidakadilan.
Di sisi lain, di balik dinding tinggi rumah-rumah megah bangsawan, di beranda yang dihiasi ukiran naga-sirrush, mereka pun tidak hening. Mereka meneguk bir hitam yang harum di atas cawan dari lapis lazuli, tetapi bibir mereka tidak hanya untuk menikmati rasa—melainkan juga untuk menusuk.
“Apakah Enlil Bazi sudah kehilangan akal sehatnya?” bisik seorang bangsawan muda pada temannya, matanya menyipit penuh perhitungan. “Mengikat Namtar dengan putri Sulgi Ram? Itu bukan sekadar pernikahan, itu menyatukan dua keluarga paling berkuasa di Rawa Edin. Kekuatan mereka akan menjadi gunung yang tak tergoyahkan. Lalu kita ini apa? Bukit kerikil yang akan mereka injak?”
“Lebih dari itu,” balas yang lain, suaranya lebih halus namun lebih beracun. “Aku melihat wajah Ur Enki malam itu. Kau tahu, pemuda itu dekat dengan Namtar. Sahabat karibnya. Wajahnya… seperti patung yang retak. Apakah tidak aneh, jika sahabat itu ternyata diam-diam mencintai gadis yang kini diumumkan sebagai pendamping sahabatnya sendiri? Ada apa di balik layar kemegahan ini?”
Bisikan demi bisikan, dari pasar hingga ke istana, menjelma gelombang kecil yang saling menghantam. Ada yang menyebut Namtar licik dan tahu segalanya, ada yang menganggap Ur Enki nekat dan melampaui batas, ada pula yang menyalahkan Innana, menyebutnya “bunga yang bermain dua hati.”
Nama-nama itu—Innana, Namtar, Ur Enki—bergeletar di ujung lidah, mengalir seperti air kanal yang tercemar, membawa rahasia, iri hati, dan kecurigaan ke setiap sudut gelap kota Rawa Edin. Kota itu tidak lagi hanya dibangun dari batu bata dan lumpur, tetapi juga dari anyaman rumor yang semakin kencang, menunggu saatnya untuk menjerat semua yang terlibat.
Di kuil, para imam pun mulai berunding diam-diam. Nasaru Balet-ili, imam tertinggi, mendengar kabar burung itu dengan dahi berkerut. Ia tahu betul, desas-desus adalah racun yang bisa menumbangkan singgasana lebih cepat daripada pedang.
Dan di tepi rawa, di perahu-perahu kecil tempat nelayan duduk sambil memperbaiki jala, desas-desus berubah menjadi semacam lagu lirih:
“Kasih yang direbut akan kembali. Kasih yang dipaksa akan mati. Ur Enki, anak rawa, tidakkah dewa mendengar tangismu?”
Maka Rawa Edin sejak malam itu tidak benar-benar tidur. Dari menara istana hingga gubuk kumuh, dari pasar hingga kuil, semua telinga dijejali suara yang sama: pesta agung telah menabuh gongnya, tetapi gema yang tersisa bukanlah kegembiraan, melainkan badai bisikan yang tak terhentikan.
***
Hari-hari setelah pesta itu menjelma menjadi luka yang menganga bagi Ur Enki. Bukan hanya karena titah Enlil Bazi telah merampas nama Innana Eti dari pelukan cintanya, melainkan karena seluruh kota kini bergemuruh oleh bisikan-bisikan yang menyayat. Di pasar, di pelabuhan, di lorong-lorong sempit, nama Ur Enki berkelindan dengan nama Innana. Ada yang menyebut mereka sepasang rahasia, ada yang menuduh keduanya mencoreng kesucian pesta, ada pula yang berbisik bahwa Ur Enki berani menentang titah raja.
Rawa Edin seakan menjadi ruang gema: setiap kata tumbuh menjadi desas-desus, setiap desas-desus membengkak menjadi tuduhan. Dan bagi Ur Enki, bisikan itu lebih kejam daripada pedang.
Dalam kegelisahan itu, ia akhirnya mengambil langkah yang tak bisa lagi ditahan: menemui Innana. Bukan di malam pesta, bukan di tengah sorak tawa bangsawan, melainkan di sebuah malam yang lebih sunyi, setelah badai desas-desus menguasai kota.
Ia berjalan melewati jalan setapak yang sepi, hanya diterangi bulan pucat yang memantul di permukaan rawa. Di udara masih ada bau dupa yang melekat pada dinding kuil, bercampur dengan amis air rawa yang bergelombang perlahan. Di kejauhan, zigurat masih tampak angkuh, namun kini tidak lagi dihiasi denting kecapi dan gong, melainkan hanya bayangan hitam yang menekan dada.
Di sebuah taman kecil milik keluarga Sulgi Ram, di bawah pohon tamarisk yang merunduk, Innana menunggu. Jubah lembayungnya berkilau samar oleh cahaya bulan. Wajahnya pucat, matanya sembab oleh tangis yang tak pernah reda sejak pesta. Ia tahu, malam ini akan berbahaya. Bila orang-orang mendengar bahwa ia bertemu Ur Enki, desas-desus akan berubah menjadi kutukan. Tetapi hatinya tetap memaksa: ia harus menemuinya, harus mendengar suaranya, harus memastikan bahwa cinta mereka belum benar-benar terkubur oleh titah.
Langkah Ur Enki tiba. Malam hening sejenak, seolah rawa menahan napasnya. Mereka berhadapan—dua jiwa yang dirajam oleh desas-desus dan titah, namun masih saling terikat oleh sesuatu yang lebih kuat daripada itu semua.
“Ur Enki…” suara Innana lirih, nyaris pecah. “Engkau datang juga.”
Ur Enki menatapnya lekat.
Ada api di matanya, bercampur luka dan rindu.
Suaranya serak ketika akhirnya berkata:
“Innana… aku datang bukan sekadar untuk menatapmu. Aku datang untuk bertanya: adakah engkau akan menyerah? Adakah engkau rela membiarkan dirimu dikurung titah, menyerahkan jiwa dan ragamu untuk menjadi persembahan kuasa?”
Innana terisak. Air matanya jatuh, dan ia menggeleng pelan.
“Aku tidak akan menyerah,” katanya dengan suara bergetar. “Hatiku tetap untukmu, hanya untukmu. Tetapi… aku takut, Ur Enki….”
“Apa yang kau takutkan?”
“Aku takut pada ayah dan ibuku yang tak bisa menolak titah raja. Terlebih, aku takut pada Enlil Bazi. Kehendaknya lebih keras daripada batu, lebih tajam daripada pedang.”
Jawaban itu menusuk Ur Enki. Ia lega, karena cintanya belum mati. Tetapi ia juga pedih, karena cintanya dikurung oleh belenggu ketakutan yang begitu besar.
“Innana,” katanya dengan suara gemetar, “apakah engkau rela hidup sebagai mahkota kosong, sementara hatimu dibuang jauh? Apakah engkau rela menjadi lambang kejayaan, sementara jiwamu menangis di dalam penjara emas?”
Innana menunduk, lalu menatapnya dengan mata penuh air. “Aku tidak rela… tetapi aku tak tahu harus bagaimana…”
Ur Enki maju selangkah. Ucapnya, dengan dada yang bergemuruh, “masih bolehkah aku menggenggam tanganmu…”
Innana menengadahkan wajah. Tanyanya, “Apa maksudmu?”
“Maafkan aku…”
“Apakah kamu mengira, hatiku mulai berubah?”
Ur Enki terdiam.
Tapi Innana memburu, “Hatiku yang berubah, atau engkau yang mulai ragu, Ur Enki?”
Ur Enki tak bisa berkata-kata. Maka diraihnya tangan sang kekasih. Digenggamnya erat-erat. Tangan Ur Enki terasa dingin seolah badai salju mencumbuinya.
“Kenapa tanganmu dingin sekali, wahai belahan jiwaku?” Innana bertanya.
Setelah menelan ludah, Ur Eni menjawab dengan terbata-bata, “Inilah jiwaku saat ini, Innana. Jiwa yang diambang kematian karena terlepas dari tautannya.”
Air mata Innana mengalir deras di pipi. Ucapnya dalam nada tercekat, “Kau tak akan menyerah kan? Kau tak akan meninggalkanku kan? Jangan menyerah, Ur Enki. Aku mohon….”
“Duh, Ilu…,” mendesis bibir Ur Enki, “apa yang mesti hamba-Mu lakukan?”
“Bawa aku pergi,” ucap Innana tiba-tiba.
“Apakah kau siap, Innana?”
“Adakah engkau yang tidak siap?” Innana mengembalikan tanya.
“Aku tak akan membawamu lari, Innana,” tegas Ur Enki, “itu bukan perintah Ilu kepadaku.”
“Lelaki tua itu,” ucap Innana, “Ziusudra—apakah tak bisa menolong kita?”
“Kota ini,” jawab Ur Enki, “dikuasai raja dan imam-imamnya. Dan dia—Nuh—menjadi musuh bersama. Selama ini dia dibiarkan untuk tinggal di atas bukit sana, tak dilukai, tak dibunuh—hanya dihina, direndahkan, dicibir, dilempari batu dan roti busuk—oh, mana mungkin aku menambah bebannya dengan permintaan tolong kita?”
Innana terdiam.
Dan Ur Enki melanjutkan, “Tapi, setidak-tidaknya, aku akan meminta nasihat padanya, Innana. Bersabarlah. Aku juga akan menemui Enlil Bazi…”
“Kau—benar-benar hendak melawannya?”
“Setidak-tidaknya, aku akan ingatkan dia pada persahabatan ayahku dan dia.”
Innana menelan ludah. Seraya itu, ditariknya tangan Ur Enki ke dada.
“Aku takut… tetapi aku tidak akan menyerah,” ujarnya, “jika kau masih menggenggamku, aku akan tetap hidup. Jangan lepaskan aku, Ur Enki… jangan pernah lepaskan.”
Ur Enki lalu memeluknya. Ujarnya, “Aku tidak akan pernah melepaskanmu, Innana, meski langit runtuh sekalipun.”
Dari kejauhan, tampak bayang-bayang berkelebat-kelebat. Sepasang mata Ur Enki yang tajam menyadari kelebatan bayang-bayang itu. Ia pun menarik diri dari pelukan Innana.
“Pergilah,” ucap Innana bergetar dengan suara pecah, “jangan biarkan mereka menemukanmu di sini. Aku takut… tetapi aku akan menyimpan bisikanmu ini, sekuat aku menyimpan hidupku.”
Ur Enki menunduk, mengecup jemari halus itu sekejap—sebelum segera melepasnya. Lalu, tanpa menoleh lagi, ia melangkah cepat ke arah kegelapan, menghilang di antara semak dan bayang bulan.
Innana tetap berdiri di bawah pohon tamarisk, tubuhnya gemetar, matanya tak lepas dari arah kepergian itu. Malam kembali menelan mereka berdua, meninggalkan cinta yang masih menyala, tetapi juga ketegangan bahwa ada mata-mata yang mungkin sudah menangkap rahasia itu.
***