Fibozona
📖 BACA BAB

Baca Bab

Nikmati setiap bab dari karya penulis berbakat

🎉 GRATIS - Tanpa Koin

Perasaan Gamang

📅 01 July 2026 📚 Ketika Kota Mengutuk Cinta Kita ⏱️ 7 menit baca 📑 Bab 14

Malam pun berlanjut, bulan berlayar di angkasa. Tetapi bagi Namtar Sin, malam itu bukan sekadar malam. Malam itu adalah pengadilan batin, di mana ia divonis bersalah oleh bayangan sahabatnya sendiri—meski hatinya tak pernah berniat menusuk.

Malam itu, di antara tirai yang berayun lembut, Namtar Sin duduk membisu. Namun pikirannya tidak membisu. Gelombang demi gelombang menghantam dadanya, menyeretnya jauh ke dalam pusaran yang tak bisa ia hentikan.

Ia menutup mata sejenak, dan yang terlukis di balik kelopak kali ini bukan wajah sahabatnya, melainkan sosok yang tadi duduk anggun di kursi pesta: Innana Eti. Elok rupanya tak tertandingi. Rambut hitamnya menjuntai bagai malam yang terhampar; matanya jernih, seolah menyimpan samudra rahasia; senyumnya — ah, senyum itu mampu membuat para pemuda Rawa Edin merasa dirinya seperti bulan yang mendekat ke bumi.

Diam-diam, ada bisikan yang mengetuk jiwanya, “Tak salah mengapa semua orang mengagumi kecantikan Innana.”

Namtar menelan ludah.

Mendadak terdengar bisikan-bisikan kaum muda bangsawan selama ini, ketika mereka terpesona terpikat pada kecantikan Innana Eti:

“Dia adalah purnama yang turun menyentuh bumi,” bisik seorang pemuda, matanya berkilau memandang dari kejauhan saat Innana melintas di pasar. “Cahayanya membuat bintang-bintang lain malu untuk bersinar.”

“Bukan,” bantah yang lain, suaranya bergetar penuh kekaguman. “Dia adalah mutiara dari dasar sungai lautan. Langka, murni, dan mustahil untuk dimiliki.”

Setiap langkahnya adalah sebuah syair. Setiap helaan napasnya adalah sebuah melodi. Para pemuda itu merasakan getaran aneh di dada mereka setiap kali kain linen halusnya berbisik ditiup angin, setiap kali senyumnya yang samar—seperti embun di ujung daun—menyapa tanpa sengaja.

“Kulihat dia tadi di Gerbang Ishtar,” seorang pemuda bercerita dengan napas tergesa, seolah baru menyaksikan dewa turun dari khayangan. “Dia sedang memandang ke arah kanal, dan air yang keruh pun tiba-tiba berkilau seolah menjadi kaca. Bahkan patung banteng bersayap itu seakan menunduk menghormat.”

Yang lain hanya bisa menghela napas, jari-jarinya tak sadar mengetuk-ngetuk paha, merindukan sentuhan yang mustahil. “Aku akan menaklukkan kerajaan di seberang sungai hanya untuk mempersembahkan tahtanya padanya. Atau aku akan menyelam ke dasar danau Nammu hanya untuk mencari permata yang setara dengan sorot matanya.”

Mereka bersaing dengan cara mereka sendiri.

Ada yang memamerkan kekayaan, memakai kalung lapis lazuli yang berharga selangit, berharap bisa menangkap pantulan matanya. Ada yang menunjukkan keberanian, menaklukan kuda liar di padang luas, berharap kegagahannya sampai ke telinganya. Ada yang menyusun puisi dan lagu, membayangkan namanya disebut dalam sebuah syair pujian darinya.

Namun, di balik semua kekaguman itu, terselip sebuah kepasrahan yang pahit. Sebuah pengakuan diam-diam bahwa kecantikan seperti itu adalah sesuatu yang hanya bisa dipandang, seperti memandang bintang—sangat indah, tetapi mustahil untuk disentuh.

“Dan ayahku telah mengikatnya untukku…,” mendadak kalimat ini meluncur dari bibirnya yang kering.

Namtar kembali mendesah.

Jiwanya mendadak diamuk gamang.

Adakah ia tiba-tiba merasa terjerat?

Terpikat?

Desah Namtar semakin menjadi-jadi.

Namun, bukan hanya ia yang terpikat. Hampir setiap pemuda bangsawan menaruh rindu yang tersembunyi pada gadis itu, menabuh doa diam-diam dalam hati masing-masing. Bahkan ada yang berani terang-terangan menghadap Sulgi Ram, ayahnya, dengan harapan dapat mengetuk pintu hati sang bunga kota. Dan kini, nama itu diumumkan untuk dirinya—putra Enlil Bazi.

Tidakkah itu sebuah anugerah yang lebih tinggi daripada titah dewa?

Tidakkah ia seharusnya berbahagia, karena telah terpilih untuk memiliki yang tak dimiliki siapa pun?

Namun, seperti duri yang bersembunyi di balik bunga, pikiran itu segera melukai dirinya sendiri. Sebab Namtar juga melihat dengan mata kepalanya, bagaimana Innana menatap Ur Enki di senja tadi. Bukan tatapan seorang gadis pada seorang kawan, melainkan tatapan jiwa pada tambatan hidupnya. Ia menyaksikan tangan mereka saling menggenggam, erat dan dalam.

Namtar tersentak.

Ia terperanjat dari pembaringannya.

Mengapa?

Pertanyaan itu menusuk lebih dalam daripada segala sorak sorai pesta. Mengapa dari sekian banyak pemuda bangsawan yang gagah, yang berlimpah harta dan nama, bahkan dari dirinya sendiri yang berdarah agung, Innana justru menautkan hatinya pada Ur Enki?

Pada anak sungai, seorang pengrajin kayu, seorang yatim-piatu?

Namtar berusaha mencari jawabnya. Apakah pesona wajah sahabatnya itu lebih tajam daripada keanggunan dirinya? Apakah kata-katanya lebih manis, lebih jujur, lebih mampu menusuk relung hati seorang wanita? Ataukah cinta memang tak pernah tunduk pada nalar, tak pernah peduli pada tahta dan garis keturunan?

Dadanya terasa seperti dipukul gong yang berat. Di satu sisi, ia tak bisa mengingkari keagungan Innana; hatinya pun tergetar oleh keindahan gadis itu. Tetapi di sisi lain, bayangan Ur Enki tak bisa ia hapus dari ingatan. Bayangan itu berdiri di antara dirinya dan Innana, bagai pagar yang tak dapat ditembus.

“Dewa-dewa agung,” bisiknya lirih ke langit malam, “adakah yang lebih menyakitkan daripada mencintai bunga yang telah dipetik orang?”

Namtar menekuk wajahnya ke kedua tangan, lalu terdiam panjang. Malam itu benar-benar mencabik jiwanya. Ia adalah putra seorang raja, tetapi hatinya sendiri terasa seperti budak Dewi Isthar yang dipermainkan.

***

Zigurat Esgal-Ilu masih berkilauan oleh obor, tetapi telah sunyi dari semua orang. Hanya beberapa imam kota yang masih tampak di sana, melanjutkan persembahan demi keberkahan diri mereka sendiri.

Di balik dinding rumah bangsawan Sulgi Ram, cahaya itu meredup, tinggal bayangan yang bergetar di sela tirai. Innana Eti duduk seorang diri di kamarnya. Gaun lembayung yang dikenakan malam itu masih melekat di tubuhnya, harum dupa masih tersisa di lipatan kainnya, namun semuanya kini terasa hambar. Seolah gaun itu bukan miliknya, seolah tubuhnya sendiri bukan lagi milik hatinya.

Pengumuman raja terus terngiang di telinganya—suara berat Enlil Bazi yang menggetarkan seluruh ruangan:

“Inilah gadis pilihan itu—Innana Eti, putri Sulgi Ram dan Ninsabtu! Dialah yang akan menjadi pendamping putraku, Namtar Sin…”

Kata-kata itu masih bergema, seperti lonceng kematian yang bertalu-talu di dalam jiwanya.

Ia menutup wajah dengan kedua tangan, tetapi air mata tetap lolos, mengalir deras melewati sela-sela jarinya. Ada jeritan yang ingin pecah dari dadanya, jeritan yang ingin meruntuhkan segala dinding kuil dan singgasana, namun bibirnya terkatup rapat. Hanya getar halus yang membuktikan bahwa ia masih bernafas di tengah kehancuran.

Yang terbayang hanyalah sosok itu: Ur Enki. Tatapan matanya yang tulus di tengah kerumunan, genggaman tangannya yang hangat di antara hiruk pesta. Segala yang ia impikan ada pada genggaman itu, seolah dunia telah diredam menjadi hening, menyisakan hanya mereka berdua. Dan kini—dalam sekejap gong, dalam satu titah raja—dunia itu dihancurkan, dipatahkan, dicabik-cabik.

“Ur Enki…” bisiknya lirih, hampir tak terdengar. Namanya keluar bagai doa yang tersangkut di tenggorokan. “Mengapa kita dipaksa berpisah, padahal hati kita sudah saling memilih?”

Ia ingin bangkit, ingin berlari ke arah gubuk di tepi rawa, ingin memeluk lelaki itu, ingin mengatakan bahwa cintanya tidak bisa dipaksa tunduk oleh titah. Tetapi tubuhnya seperti tertancap di kursi, dan malam telah menutup segala jalan.

Innana mengangkat wajahnya ke cermin perunggu di hadapannya. Ia menatap sosoknya sendiri: rambut yang indah, mahkota kecil di dahinya, wajah yang dipuja banyak orang. Namun yang ia lihat bukanlah kemegahan, melainkan tawanan. Seorang gadis yang dikurung dalam emas, tetapi hatinya dipenjara dalam luka.

Air matanya kembali jatuh, membasahi gaun lembayung itu. Malam terus berputar, namun bagi Innana, waktu seakan berhenti—hanya ada satu denyut: rindu yang tak tersampaikan, cinta yang dipaksa bungkam.

Malam berjalan lambat, seakan enggan meninggalkan duka seorang gadis. Di kamarnya, Innana berlutut di sisi ranjang, wajahnya tenggelam di lipatan gaun lembayung. Air matanya terus menetes, membasahi kain itu sampai warnanya yang indah ternodai basah.

Ia meratap tanpa suara—ratapan yang tidak butuh teriakan, namun keheningan justru membuat luka itu lebih nyata. Dadanya bergetar, namun jeritan tertahan di tenggorokan, seakan ada tangan tak kasatmata yang menutup mulutnya.

“Apakah aku hanya sekadar persembahan? Apakah aku hanya lambang yang digenggam untuk menegakkan nama kota?” bisiknya pada diri sendiri, suara lirih yang segera tenggelam dalam sesenggukan.

“Padahal hatiku sudah memilih, padahal jiwaku sudah terikat pada dia… Ur Enki…?”

Setiap kali ia menyebut nama itu, dadanya semakin pecah. Nama itu bagai pisau, tetapi sekaligus penghibur: melukai sekaligus menguatkan, karena hanya dengan mengingatnya ia tahu bahwa cinta itu pernah benar-benar ada, meski kini dirampas paksa.

Ia mengangkat wajahnya, menatap bulan yang mengintip dari celah jendela. Cahaya pucat itu jatuh ke wajahnya yang basah.

“Bulan, saksikanlah,” bisiknya dengan suara bergetar.

“Saksikan cinta yang hendak dipatahkan oleh titah. Saksikan hati seorang gadis yang tak pernah dimintai suaranya. Jika dunia tak berpihak, setidaknya engkau, wahai langit, simpanlah rahasia ini.”

Dan sekali lagi air mata jatuh, bagai hujan kecil di dalam kamar. Ratapan itu tak berhenti; ia mengalir panjang, menembus malam, menembus dinding-dinding batu, sampai seakan rawa dan langit pun turut mendengarnya.

Innana hanyut dalam kepedihan yang tak berujung. Dalam hatinya hanya ada satu gema: rindu yang meronta, cinta yang terpenjara, dan nama Ur Enki yang terus ia panggil-panggil dalam bisikan penuh air mata.

***

← Kembali ke Daftar Bab