Nikmati setiap bab dari karya penulis berbakat
Malam telah larut dan ia baru saja mengusap derai air matanya. Air mata yang sudah tak lagi menetes sejak kematian ibunya. Di tepi rawa yang berbau lembab, gubuk reyot miliknya berdiri bagai bayangan yang ditinggalkan. Angin melintas membawa sisa gema pesta—suara kecapi yang kian menjauh, sorak bangsawan yang memudar—tetapi di dalam gubuk itu, jiwanya sedang terbakar.
Ur Enki tergeletak di lantai tanah yang dingin, dadanya bergemuruh seakan ada ombak yang mengguncang. Matanya menatap kosong ke atap yang bocor, tetapi dalam pandangannya ia masih melihat kilauan obor pesta, masih mendengar suara gong, masih menyaksikan bibir Enlil Bazi yang mengumumkan nama Innana Eti sebagai bunga pilihan bagi Namtar Sin.
Hatinya serasa disayat pedang.
Saat itu pula, kepercayaannya pada dunia runtuh.
“Innana…,” bisiknya lirih, tetapi nama itu menyalakan bara dalam dadanya.
Gadis itu, yang tangannya sempat menggenggam tangannya, yang matanya sempat menjawab matanya, kini direbut darinya dengan satu titah. Seolah cinta hanyalah permainan, seolah hatinya hanyalah abu yang bisa ditiup hilang oleh suara raja begitu saja.
Namun yang lebih menyiksa, bukan hanya titah itu.
Yang lebih menyiksa adalah kenyataan bahwa nama yang disandingkan dengan Innana bukan nama asing, bukan nama musuh, melainkan nama seorang sahabat. Namtar Sin. Sahabatnya. Saudara yang selama ini ia percayai. Sahabat-saudara yang menghembuskan kerinduan di balik surat yang ditulisnya dulu.
Ur Enki memejamkan mata, tetapi semakin terpejam, semakin jelas wajah Namtar terbayang: berdiri gagah di tengah sorak rakyat, dengan jubah kebesaran yang berkilau, dengan sorot mata yang diterangi obor pesta. Dan di balik bayangan itu, tumbuh kecurigaan yang menggigit, tajam, menyiksa:
“Apakah ini siasatmu, Namtar? Apakah engkau sudah tahu dari awal, tetapi membiarkanku terseret dalam badai? Apakah pelukanmu di kala senja hanya sandiwara, sebuah tirai untuk menutup tajamnya pedang yang akan menikamku malam ini? Begitu kejamkah engkau, yang kusebut sahabat, yang kupandang saudara?”
Ia bangkit dari pembaringannya, berjalan maju mundur di gubuk sempit itu, bagai singa yang terluka di kandang sendiri. Nafasnya memburu, darahnya mendidih, jiwanya meronta.
“Aku dijebak! Pesta itu bukan perayaan, melainkan perangkap! Semua sudah dipersiapkan: dupa, gong, musik, dan akhirnya pengumuman itu. Semua orang bersorak, semua mata menatapku, menertawakanku—seakan aku ini pelawak istana, seakan cinta seorang miskin hanyalah bahan olok-olok. Dan kau, Namtar… kau berdiri di tengah sorak itu, seolah tak bersalah, seolah masih sahabatku!”
Tangannya mengepal keras, kukunya menancap ke telapak. Matanya merah, wajahnya basah oleh air mata yang bercampur dengan bara.
Di luar, bulan pucat bergantung, memantulkan sinar yang dingin di permukaan rawa. Tetapi di dalam gubuk itu, api lain berkobar—api kekecewaan, api pengkhianatan, api yang menyala bukan hanya karena cinta yang direbut, melainkan karena kepercayaan yang dihancurkan.
Ur Enki duduk bersandar di dinding gubuknya, dadanya bergemuruh, bibirnya bergetar lirih:
“Sahabat, saudara… ataukah seorang penjagal dalam senyum? Jika benar kau tahu, maka luka ini bukan hanya luka cinta, melainkan luka kepercayaan. Dan luka semacam ini tak akan pernah sembuh.”
Di dalam kegelapan gubuk, setelah amarah membara dan air mata mencampur darah rasa malu, sesuatu yang lain terbit di dada Ur Enki — bukan lagi bara yang menghanguskan tanpa arah, melainkan api yang ditiup menjadi obor, tertahan namun teguh, siap menerangi jalannya sendiri.
Ia menghela napas panjang, sampai napas itu menampung tekad. Tekad bukan untuk menyerah; tekad bukan pula sekadar balas dendam. Tekadnya adalah sumpah: untuk menjaga satu hati yang telah ia kenal sejak di bawah Gerbang Air Ishtar, untuk menuntun satu jiwa yang pernah menautkan tatapan dengannya, agar tidak direnggut oleh titah dan upacara yang dibuat-buat.
Sesuatu berbisik: bila cinta adalah kelemahan, biarlah kelemahan itu menjadi kekuatan. Jika kesederhanaan dianggap hina, ia akan mengangkat kehinaan itu menjadi martabat. Jika takdir dikonstruksi oleh piala dan mahkota, ia akan merancang takdirnya sendiri dengan nyali, dengan kata, dan — bila perlu — dengan perbuatan.
“Biarkan langit murka,” gumamnya pada dirinya sendiri, suara serak namun penuh tekad. “Biarkan patung-patung batu menertawakan. Bila para dewa berpihak pada singgasana, biarlah mereka memegang mahkota mereka. Aku tak akan pernah takut dengan dewa-dewa itu. Aku tak akan tertipu.”
Ur Enki kembali mendesah. Ia pun merebahkan punggungnya di atas tikar pandan. Dari kejauhan, suara musik itu masih sayup-sayur terdengar meningkahi suara katak yang berdendang di tepi rawa.
***
Gong dan pesta memang telah usai. Bulan telah semakin condong ke langit barat, bagai sebuah mutiara pucat yang tergelincir dari mahkota malam. Setelah sorak-sorai bangsawan menyusut menjadi bisik bir di antara cawan emas, Namtar Sin kembali ke kediamannya. Istana menyambutnya dengan cahaya obor yang berkelip, seolah hendak menyalakan kemenangan malam ini. Namun di dadanya, cahaya itu terasa redup, bagai pelita yang menyorot jalan menuju kegelapan batinnya yang paling sunyi.
Ia duduk di pelataran kamar, angin malam menyingkap tirai tipis, membawa aroma damar dan sisa pesta yang terasa getir di lidah. Di bawah bintang-bintang yang bergemerlap bagai taburan permata di atas permadani gelap, ia merasakan sebuah berat yang tak tertanggungkan—sebuah mahkota yang terbuat dari duri dan penyesalan. Ia membaca hatinya, dan ia mendapati hati yang terasa remuk, bagai kendi tanah liat yang indah terjatuh dari puncak zigurat.
Ia mengeja pelan apa yang baru saja terjadi, merangkainya dan menyusunnya kembali bagai seorang pujangga yang mencoba memahami puisi yang tersayat.
Wajah itu, wajah Ur Enki yang tadi senja dipenuhi cahaya bahagia yang langka, dan tangan itu, tangan Innana yang dengan penuh keyakinan menyatu dengan sahabatnya—mereka sudah lebih dahulu memiliki satu sama lain. Ia menyaksikannya dengan mata kepala sendiri, ketika senja tadi tatapan mereka saling berpaut, bagai dua anak sungai yang akhirnya bertemu dan mengalir bersama menuju lautan cinta. Ketika tangan mereka saling menggenggam—sebuah ikatan yang lebih agung, lebih jujur, dan lebih suci daripada sekadar titah seorang raja yang ditabuh seperti gong di hadapan ribuan orang.
Dan ia tahu, dengan keyakinan yang menghunjam, bahwa apa yang ia rasakan saat itu adalah kegembiraan yang murni. Kegembiraan yang tulus. Kegembiraan tanah subur yang bersuka cita menyaksikan benih yang tumbuh menjadi tunas. Jiwanya adalah langit biru yang tak iri kepada kerlap-kerlip bintang.
Namun kini, di keheningan malam, ia duduk sebagai penjahal yang telah menginjak-injak tunas itu. Ia adalah langit yang tiba-tiba menurunkan hujan batu, menghancurkan senja yang tadinya ia puji.
Ia memandang bintang-bintang, mencari jawaban. Namun yang ia dengar hanyalah bisikan angin yang menyanyikan lagu yang sama: bahwa ia telah memilih mahkota dari emas, dan kehilangan mutiara yang tak ternilai dari jiwa sahabatnya—dan dari jiwanya sendiri.
Kini ia terbaring, namun mata enggan terpejam. Bayangan wajah Ur Enki menari di langit-langit kamarnya. Bukan wajah sahabat yang biasa tertawa dan berbagi cerita, melainkan wajah yang murung, tenggelam dalam kecewa dan amarah. Ia tahu, ia dapat merasakannya—Ur Enki pasti menyalahkannya.
“Engkau mengkhianati aku,” suara itu seakan bergema dalam benaknya, meski Ur Enki tak pernah mengucapkannya dengan bibir. “Engkau tersenyum di kala senja, engkau memelukku, namun di belakangmu tersimpan siasat: ayahmu menyiapkan pengumuman, dan engkau diam.”
Namtar menunduk, dadanya berdesir pedih. Ia ingin membantah suara batin itu, ingin berkata: “Aku tidak tahu, aku pun terkejut ketika nama Innana diumumkan!”
Tetapi apa guna?
Segalanya telah terjadi.
Diamnya malam pesta, diamnya ketika gong dipukul, diamnya ketika ayahnya menebarkan kabar besar itu—semua diam itu kini menjeratnya. Seakan diamnya adalah pengakuan rasa bersalah.
Ia ingin berlari, ingin mengejar sahabatnya yang melangkah gontai meninggalkan pesta. Namun tubuhnya terpaku, seolah kaki ini terikat rantai tak kasat mata. Rantai bernama ketaatan. Rantai bernama darah raja. Rantai bernama putra Enlil Bazi.
Dua arus beradu dengan keras dalam dadanya. Yang satu mengalir dari singgasana: suara ayahnya, titah para dewa, gemuruh pesta yang mendukung pengumuman agung itu. Yang lain mengalir dari tepi rawa: tatapan Ur Enki, genggaman Innana, bisikan yang ia dengar di senja tadi—bahwa cinta sejati tak butuh mahkota.
Hatinya tercerai-berai, seakan dua batu besar menghantam satu jiwa yang rapuh. Ia merasa dirinya kini bukan lagi putra agung yang dielu-elukan, tetapi sekadar seorang pemuda yang terjebak di antara sahabat dan ayah, di antara cinta dan titah.
Namtar menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Ia bisa merasakan air hangat merembes di sela-sela jarinya.
“Ur Enki…” bisiknya, “sahabatku… adakah engkau percaya, bahwa aku pun tercabik oleh ini semua? Ataukah kau hanya akan melihatku sebagai musuhmu mulai malam ini?”
Ia terdiam, membiarkan malam menghisap suaranya. Namun jauh di lubuk jiwanya, ia tahu: apa pun jawabannya, luka itu telah tercipta. Luka yang akan membelah persahabatan, luka yang mungkin akan menyalakan api di kemudian hari.
***