Nikmati setiap bab dari karya penulis berbakat
Senja tadi begitu indah, mendahului keindahan malam persembahan dan pesta.
Di antara riuh manusia yang berdesakan, di bawah asap dupa yang berputar-putar, ia melihat sosok yang begitu dikenalnya, begitu dicintainya, begitu dirinduinya: Ur Enki. Ia juga melihat, senja tadi, di hadapan sahabatnya itu berdiri Innana Eti. Gadis yang keindahannya sering hanya ia dengar lewat bisikan para pemuda dan lirikan mata para gadis yang iri. Ia menyaksikannya dengan mata kepala sendiri: wajahnya bercahaya, rambutnya hitam bagai malam, gaun lembayungnya jatuh anggun di tubuhnya.
Lalu ia tercekat.
Bukan karena melihat kecantikan dan pesona gadis itu.
Bukan pula kemegahan gaunnya.
Bukan pula mahkota kecil di dahinya.
Ia tercekat karena melihat pemandangan yang akan mendebarkan setiap hati pemuda yang tulus: Tangan Ur Enki dan Innana saling menggenggam. Itulah cinta. Itulah perwujudannya. Itulah cahaya. Itulah dua hati yang sudah saling berpaut.
Desir aneh merambat di dadanya—campuran antara takjub, cemas, dan getir. Dalam sekejap ia tahu: malam ini bukan hanya pesta persembahan bagi para dewa, bukan pula pengumuman sang raja tentang gadis yang akan menjadi pendamping hidupnya, melainkan juga malam di mana takdir diam-diam menautkan sahabatnya dengan bunga paling elok di Rawa Edin.
“Kini aku tahu,” ucapnya tadi kala senja, “mengapa dewa menuntunmu datang. Bukan untuk dupa, bukan untuk nyanyian, bukan untuk persembahan. Melainkan untuk ini sang putri jelita, Innana…”
Demikianlah keindahan yang diberikan senja tadi pada penglihatannya, juga pada hati dan perasaannya.
Lalu, datanglah persembahan dan malam pesta.
Lalu, gong raksasa dipukul sebagai jelma titah ayahnya:
“Inilah gadis pilihan itu—Innana Eti, putri Sulgi Ram dan Ninsabtu! Dialah yang akan menjadi pendamping putraku, Namtar Sin, dan bersama-sama mereka akan meneguhkan kejayaan kota ini sampai ke anak cucu!”
Matanya terpejam. Batinnya tersentak. Gemuruh pesta itu tiba-tiba berubah menjadi gulungan ombak.
Di satu sisi, ia adalah darah dan daging Enlil Bazi. Tulang-tulangnya dibentuk dari kebanggaan dinasti, nadinya dialiri sungai kewajiban, dan jiwanya dibesarkan untuk menerima tahta tanpa syarat. Ayahnya bukan sekadar raja; ia adalah gunung yang tak tergoyahkan, angin yang menentukan arah layarnya. Menolak titahnya bukanlah pemberontakan, melainkan penghancuran diri.
Tetapi di sisi lain, di relung kalbunya yang paling jujur, ia adalah masih seorang anak laki-laki yang pernah berjanji di bawah pohon tamarisk, bersumpah bahwa persahabatan mereka akan lebih abadi daripada nama dewa mana pun. Ia masih merasakan hangatnya roti kurma yang dibagi, getar tulus dalam pelukan saat duka melanda, dan cahaya kepercayaan di mata sahabatnya yang tak pernah memandangnya sebagai ‘pangeran’, melainkan sebagai ‘Namtar’, sebagai manusia.
O, dewa-dewa yang agung.
O, Anu yang mahatinggi
O, Enlil yang maha sempurna
O, Ishtar….
Mengapa jadi seperti ini?
Dadanya serasa dihantam petir. Nama itu—Innana Eti—bergaung dari mulut ayahnya, menggema di dinding-dinding zigurat, terpantul dari obor-obor, menjelma titah langit yang tak seorang pun bisa menolak.
Namun di telinganya sendiri, suara itu terdengar bagai cambuk yang meluruhkan isi dadanya. Sebab ia tahu, nama yang dielu-elukan itu bukan sekadar nama gadis bangsawan. Itu adalah nama yang baru saja ia lihat melebur dengan nama lain—Ur Enki.
“Mengapa harus dia gadis itu? Mengapa bukan yang lain?”
Ia ingin bersorak sebagaimana rakyat bersorak, ingin tersenyum sebagaimana ayahnya tersenyum, ingin menatap bangga sebagaimana ibunya menatap bangga. Namun wajahnya justru membeku. Dalam hatinya terjadi peperangan yang tak terlihat oleh siapa pun.
Ia sempat memandangi wajah Innana. Dan ia dapati wajahnya itu adalah wajah ketakutan seorang gadis yang tengah patah hatinya. Sepasang bibirnya seperti hendak tersenyum, senyum yang dipaksakan, tetapi yang tampak justru bibir yang bergetar. Ia dapati Innana memerhatikan Ur Enki—pandangannya seakan ia meminta tolong atau hendak mengikutinya ke mana ia akan pergi.
Ia saksikan pula Ur Enki melangkah gontai, perlahan meninggalkan tempatnya, membawa luka yang seharusnya tidak pernah ada. Bahkan sedikit pun Ur Enki tak menoleh ke arahnya, tak menatapnya, meski itu tatapan marah dan mengandung bara. Ia ingin menahan sahabatnya. Ingin meraih tangannya, ingin berseru bahwa semua ini bukan kehendaknya, bahwa ia sama terjebaknya. Namun lidahnya kelu, bibirnya terkunci. Dan akhirnya, sama seperti Innana, ia hanya diam.
Dan diam itu membunuhnya.
Diam itu menelannya hidup-hidup.
Ia berdiri tegak di tengah sorak sorai, tubuhnya gagah dengan pakaian megah, wajahnya bercahaya oleh obor yang menari, tetapi di dalam jiwanya ia merasa kosong, remuk, dan tercabik.
***
Dalam beberapa saat yang lalu, penghormatan tinggi dari hampir semua orang yang ada di zigurat tertumpah kepadanya: Dimulai ketika mereka—orang-orang itu, sebagian besarnya kaum muda bangsawan—melihat bagaimana pangeran Rawa Edin membentangkan kedua tangannya untuk memeluknya, hingga mereka mendengar, dengan telinga sendiri dan melihat dengan mata kepala sendiri, bagaimana raja agung, Enlil Bazi, mengungkap bahwa ayahnya adalah sahabatnya dan ia adalah saudara bagi putranya. Ia yang yatim-piatu, yang sebelumnya mendapatkan tatapan menghina dan merendahkan dan bibir-bibir yang mencibir, tiba-tiba menjadi ia yang dihormati dengan kepala-kepala merunduk.
Lalu, gong raksasa dipukul sebagai titah Enlil Bazi: Gadisnya diambil begitu saja dari jiwanya dan dijodohkan dengan sahabatnya:
Innana Eti, putri Sulgi Ram dan Ninsabtu! Dialah yang akan menjadi pendamping putraku, Namtar Sin, dan bersama-sama mereka akan meneguhkan kejayaan kota ini sampai ke anak cucu!”
Maka tawa itu….
Tawa yang meledak dari pesta di puncak zigurat, menembus dinding-dinding bata berlapis minyak yang berkilau oleh cahaya obor. Baginya, tawa itu bukan tanda sukacita, melainkan cambuk yang memantul dari setiap batu, dari setiap tiang, dari setiap kepulan dupa.
Bisk-bisik di antara kaum muda bangsawan bagai desis ular yang merambat, merayap, dan menggigit telinga.
“Memang tidak pantas bagi Innana untuk pemuda miskin macam diam….”
“Hahaha. Tangannya paling benar saling menggenggam dengan tangan budak!”
Dalam sekejap mata, orang-orang yang tadi sama sekali tidak tahu tentang apa yang senja tadi terjadi antara Ur Enki dan Innana, kini mendadak tahu. Penghormatan dan tundukknya kepala kini berubah menjadi cibiran yang semakin menjadi-jadi baginya. Ia yang di mata orang-orang itu datang dari tempat yang kumuh, selayaknya tinggal dan tetap berada di keranjang sampah.
Ia melangkah gontai, tubuhnya terhuyung, menyibak kerumunan bangsawan yang menatapnya dengan sinis. Namun bukan hanya mata manusia yang mengejeknya. Dalam penglihatannya, bahkan patung-patung dewa yang berdiri di relung kuil ikut menundukkan wajah dengan senyum mengejek. Ukiran naga, singa bersayap, dan kerub-kerub batu tampak hidup, meludahkan suara-suara yang mencemooh cintanya.
Anu, penguasa langit, berbisik dingin dari ketinggian, “Lihatlah dia, si debu yang mengira cintanya setara dengan titah seorang raja. Langit-Ku luas, tetapi tidak ada ruang bagi mimpi hina seorang pengrajin kayu. Takhta-Ku kekal, sementara harapanmu remuk diinjak dekrit kerajaan.”
Enlil, Dewa angin dan kekuasaan, menderu lewat celah-celah istana, “Tidakkah kau dengar teriakan Enlil Bazi? Itu adalah hembusan-Ku! Aku yang menegakkan tahta raja, aku pula yang menumbangkan. Kekuatan hatimu hanyalah debu yang kuterbangkan.”
Enki, Dewa kebijaksanaan, yang ironisnya menjadi namanya, menyeringai dari balik bejana persembahan, “Kebijaksanaan? Bodoh! Bijaksana adalah tahu diri. Kau pikir cinta mampu melawan kehendak bangsawan? Aku adalah air yang mengalir mengikuti kontur, bukan batu yang dihantamkan ke dinding istana. Air matamu adalah kebodohan yang menguap.”
Inanna, Dewi cinta dan perang, yang namana adalah nama tambatan hatinya, menertawakan dengan suara gaun sutra bangsawan yang berdesir, “Cinta? Kau kira cinta itu milik hati para remaja? Tidak! Cinta adalah burung aliansi, sayap-sayap diplomasi. Aku merestui perkawinan demi tahta, bukan demi dua hati miskin yang merintih di sudut kuil.”
Begitulah para dewa seakan terus mengejeknya. Menghinanya. Mencibirnya. Dan merendahkannya.
Utu, Dewa matahari dan keadilan, menyorotkan cahaya tajam, “Di bawah terikku, keadilan adalah titah pengadilan raja. Cahaya-Ku menyinari pengumuman agung itu, bukan air matamu yang bersembunyi dalam gelap. Terimalah itu sebagai hukum tertinggi.”
Ur Enki terus melangkah dengan langkah semakin gontai. Hatinya remuk-redam sekaligus diamuk badai.
***