Fibozona
📖 BACA BAB

Baca Bab

Nikmati setiap bab dari karya penulis berbakat

🎉 GRATIS - Tanpa Koin

Titah yang Mencabik

📅 01 July 2026 📚 Ketika Kota Mengutuk Cinta Kita ⏱️ 8 menit baca 📑 Bab 11

Enlil Bazi tiba-tiba bangkit dari duduknya. Tubuhnya tegak, jubahnya berkibar disentuh angin malam, matanya memantulkan api obor. Seakan-akan seluruh zigurat tunduk pada sorotnya.

Ia segera memerintahkan para pemusik untuk menghentikan musiknya, para penari untuk menghentikan tariannya, pada biduanita untuk menghentikan nyanyiannya.

“Diamlah kalian semua!” seru Enli Bazi menggelegar.

Seketika itu pula kecapi berhenti dipetik, seruling terhenti di bibir, genderang terdiam. Penari-penari yang tengah meliuk membeku, para bangsawan menoleh, rakyat di dasar kuil mendongak. Sunyi jatuh—sunyi yang tajam, penuh tanda tanya.

Wajah Enlil Bazi berubah: dari ketegangan seorang penguasa menjadi rona cerah penuh kebanggaan. Senyum tipis menghiasi bibirnya, tetapi sorot matanya menyala bagai matahari yang hendak menyalakan seluruh kota.

“Wahai bangsawan, wahai imam, wahai rakyat Rawa Edin!” serunya lantang, setiap katanya menggema di dinding batu zigurat. “Malam ini bukan hanya malam pesta, bukan hanya malam persembahan kepada dewa-dewa. Malam ini adalah malam bagi masa depan kita!”

Kerumunan berdesis, gelombang bisik mengalir, namun segera reda ketika Enlil Bazi mengangkat tangannya.

“Telah tiba saatnya,” lanjutnya, suaranya bergema, “untuk mengumumkan sesuatu yang sangat penting, sesuatu yang akan menjaga kemegahan kota kita, dan meneguhkan kursi pewarisku. Rawa Edin tidak hanya berdiri dengan batu dan tanah, melainkan juga dengan darah dan ikatan yang suci!”

Sorot matanya berkilat. Tangannya menunjuk ke arah Namtar Sin, yang duduk gagah di sisi ibunya.

“Putraku, darahku, Namtar Sin—ia akan segera bertemu dengan pendamping hidupnya, bunga terindah yang akan mempercantik taman kota kita, cahaya yang akan menyinari rumah tangga bangsawan tertinggi Rawa Edin!”

Desis semakin keras, dada semua orang berdegup. Imam-imam menunduk, bangsawan saling berbisik, rakyat menatap bingung dari bawah.

Lalu dengan suara yang menggetarkan, menggelegar bagai petir membelah langit, Enlil Bazi mengumumkan:

“Inilah gadis pilihan itu—Innana Eti, putri Sulgi Ram dan Ninsabtu! Dialah yang akan menjadi pendamping putraku, Namtar Sin, dan bersama-sama mereka akan meneguhkan kejayaan kota ini sampai ke anak cucu!”

Hening panjang jatuh, lebih pekat daripada kesunyian persembahan sebelumnya. Mata semua orang membelalak: imam, bangsawan, rakyat—bahkan Namtar Sin, bahkan Ur Enki, bahkan Innana Eti sendiri.

Dan di balik hening itu, jiwa-jiwa mulai bergetar, sebagian diliputi takjub, sebagian dilanda getir, sebagian dirundung luka yang dalam. Malam pesta yang riang mendadak berubah menjadi malam pengumuman yang mencabik-cabik.

Zigurat terhentak. Di antara barisan meja-meja para bangsawan, wajah-wajah para gadis muda berubah pucat. Sebagian menundukkan kepala, menyembunyikan mata yang basah oleh kecewa. Sebab sejak lama mereka telah menaruh harap pada lirikan Namtar Sin—pada gagahnya tubuh, pada sorot matanya yang menundukkan banyak hati. Mereka bermimpi menjadi permaisuri, berdiri di sisi putra penguasa. Namun kini mimpi itu patah seketika. Hati mereka tercabik, bagai kain sutra yang tersayat pisau. Ada yang menggigit bibir, ada yang terisak lirih, ada pula yang menatap kosong, seakan cahaya pesta padam dalam jiwa mereka.

Tak kalah pedih, para pemuda bangsawan yang selama ini berulang kali mengetuk pintu hati Innana Eti merasakan dadanya digores bara. Mereka yang pernah menulis puisi rahasia, mereka yang pernah berjanji pada dirinya sendiri untuk memenangkan hati sang bunga Rawa Edin—semuanya runtuh malam itu. Wajah mereka tegang, sebagian menahan amarah, sebagian menutupinya dengan senyum palsu. Namun di kedalaman dada, mereka tahu: tak ada lagi jalan bagi cinta mereka. Sebab putri yang mereka damba kini telah ditetapkan menjadi milik Namtar, putra penguasa tertinggi.

Hening menekan udara, namun di meja agung itu, dua wajah justru merekah penuh kemenangan: Sulgi Ram dan Ninsabtu.

Di mata Sulgi Ram, cahaya obor menjelma cahaya kejayaan. Dadanya membusung, sorot matanya berkilau bagai orang yang baru saja memenangkan peperangan tanpa menghunus pedang. “Putriku,” batinnya bergema, “akan duduk di sisi putra penguasa, menjadi permaisuri bagi pewaris Rawa Edin. Darahku, namaku, akan terukir di dinding sejarah kota ini. Tak ada berkah yang lebih tinggi daripada ini.”

Ninsabtu, di sampingnya, menutup bibirnya dengan tangan, menahan isak bahagia. Air matanya jatuh, bukan karena pedih, melainkan karena sukacita yang meluap-luap. “Innana, buah rahimku, bunga hatiku… hari ini engkau dipilih di hadapan seluruh kota. Para dewa benar-benar mengangkat wajahmu. Kau akan hidup di menara tertinggi, kau akan dikenang sepanjang masa.”

Mereka saling berpandangan—ayah dan ibu yang hati keduanya dipenuhi kebanggaan, merasa seolah seluruh Rawa Edin kini menunduk memberi hormat kepada mereka. Dan malam itu, bagi Sulgi Ram dan Ninsabtu, pesta bukan sekadar pesta. Ia telah berubah menjadi mahkota kejayaan keluarga mereka, mahkota yang dipakaikan langsung oleh tangan raja.

***

Lonceng di hatinya berdentum, bukan lonceng kebangkitan, tetapi dentum lonceng kematian. Langit Rawa Edin memantulkan cahaya obor yang beribu, tetapi bagi Innana Eti, seluruh cahaya itu mendadak redup, bagai dipadamkan oleh tangan gaib. Dentum itu tak hanya sekali. Ia berulang-ulang, bertalu-talu, seakan-akan seluruh zigurat berubah menjadi lonceng raksasa yang memukul hatinya tanpa belas kasih.

Matanya bergetar, bibirnya mendadak kering, lidahnya kelu. Ia ingin mengucap sesuatu, ingin berteriak, tetapi mulutnya tertutup rapat, seolah dunia menekannya agar bungkam.

Bibir itu bergetar.

Seolah ada jeritan yang mendesak dari dalam, jeritan yang ingin meledak, tapi tertahan oleh tembok kehormatan, oleh tatapan ratusan mata, oleh beban nama ayah dan ibunya yang duduk bangga di sisi kanan-kirinya.

“Tidak… ini bukan yang kuinginkan… bukan ini…”

Namun kata itu tak pernah lahir. Ia terkunci di dalam dadanya, berputar-putar laksana burung yang dipenjara, menghantam dinding jiwanya sendiri. Dan di saat itulah, matanya mencari—mencari sosok yang menjadi napas rahasianya.

Ia menemukannya: Ur Enki.

Pemuda itu duduk tak jauh darinya, wajahnya kebingungan, tertunduk, sorot matanya gelap oleh luka yang baru saja ditancapkan dari langit. Ia diam, tetapi diamnya lebih menyayat daripada seribu kata. Diam yang membuat dada Innana seakan hancur berderai.

“Lihatlah aku, Ur Enki… Tatap aku… Kau tahu, hatiku bukan di sini, bukan di kursi agung ini… Hatiku ada padamu…”

Namun yang ia lihat hanyalah Ur Enki yang menunduk, diam, seakan seluruh bumi meruntuhkan bebannya di atas bahu.

Innana ingin bangkit. Ingin berdiri di tengah pesta, ingin berlari, ingin merobek tirai adat dan kebesaran, ingin melingkarkan lengannya di tubuh Ur Enki dan berseru:

Aku milikmu, bukan milik siapa pun!”

Tetapi tubuhnya… tubuhnya mendadak beku. Kakinya seakan tertancap ke tanah, membatu di kursi tempat ia duduk. Tangannya gemetar, tapi tak bisa bergerak. Ia laksana patung batu yang hanya bisa menangis dari dalam, sementara dunia di sekitarnya bersorak atas nama dirinya.

Sepasang matanya basah. Air bening merembes, bukan dengan deras yang meledak, melainkan dengan lirih yang justru lebih menyiksa: setetes, lalu setetes lagi, mengalir di pipinya yang halus, menyembunyikan diri di balik senyum tipis yang dipaksakan.

Tak ada yang melihat tangis itu kecuali dirinya sendiri—dan mungkin, hanya mungkin, lelaki yang duduk di seberangnya.

Dan benar.

Pada akhirnya, Ur Enki perlahan berdiri.

Ia berdiri dengan gerak pelan, nyaris tak terdengar. Tidak ada teriakan, tidak ada protes, tidak ada hujatan. Hanya diam yang pahit. Kepalanya menunduk dalam, seakan tak ingin seorang pun membaca wajahnya. Langkahnya gontai, berat, menyeret jiwa yang telah dipatahkan. Ia meninggalkan kursinya di meja agung, berjalan ke luar dari lingkaran pesta yang penuh cahaya.

Innana menatapnya—menatap tanpa kedip, seakan dengan tatapan itu ia ingin meraih, menahan, mengikat. Namun tatapan itu hanya bisa menjadi tatapan. Tubuhnya masih tertancap, tak bisa berlari, tak bisa memeluk.

“Ur Enki…” jeritnya dalam hati, “jangan pergi tanpa aku… jangan biarkan aku mati sendirian di kursi ini…”

Tetapi bibirnya tetap terkatup. Hanya getaran samar yang lahir, tenggelam dalam riuh tawa bangsawan, dalam suara kecapi yang kembali dipetik untuk mengiringi pengumuman agung itu.

Dan di sanalah, di tengah pesta yang riuh, lahir sebuah kesunyian paling menyayat: kesunyian yang hanya dimengerti oleh dua jiwa—jiwa Innana Eti yang menangis dalam diam, dan jiwa Ur Enki yang melangkah pergi, membawa luka yang tak seorang pun bisa sembuhkan.

Pesta yang semula penuh cahaya mendadak gelap di mata Ur Enki. Obor yang bergetar bagai nyala neraka yang mengejeknya. Kecapi yang dipetik manis berubah menjadi ratapan sendu yang mengiringi pemakamannya sendiri. Tawa para bangsawan yang bergaung di sekitar meja agung terdengar baginya bagai jerit burung nasar yang sedang berpesta di atas bangkai.

Bibirnya mendadak kering. Ia mencoba menelan ludah, namun tenggorokannya bagai dicekik. Lidahnya kelu. Mulutnya ingin terbuka, ingin berteriak, tetapi justru terkunci rapat. Getar bibirnya hanya melahirkan kata-kata bisu yang tersangkut di rongga dada. Ur Enki menjauh, berjalan semakin jauh, ditelan lautan gelombang manusia yang sorak-sorai.

Air mata Innana tak terbendung. Di kanan-kirinya, ayah dan ibunya—Sulgi Ram dan Ninsabtu—masih duduk dengan wajah penuh kebanggaan, dada mereka membusung, mata mereka basah oleh syukur.

Tatapan mata Inana yang basah tak berpaling dari Ur Enki yang kian menjauh. Ia ingin menahan pemuda itu dengan sorot matanya saja, seolah tatapan bisa menjadi tali yang mengikat langkahnya.

Innana ingin berlari padanya. Ingin menghentikan langkah itu, ingin menjerit memeluk tubuhnya. Tetapi kakinya beku. Kursinya seakan menancapkan paku-paku gaib ke telapak kakinya. Tangannya bergetar, tetapi tak sanggup meraih. Ia hanya bisa memandangi, dengan air mata yang semakin deras, Ur Enki yang kini hilang dari pandangan mata.

***

← Kembali ke Daftar Bab