Fibozona
📖 BACA BAB

Baca Bab

Nikmati setiap bab dari karya penulis berbakat

🎉 GRATIS - Tanpa Koin

Uji Kebenaran

📅 01 July 2026 📚 Ketika Kota Mengutuk Cinta Kita ⏱️ 9 menit baca 📑 Bab 10

Namun sang raja tidak bodoh. Enlil Bazi tidak akan mengungkapkan apa yang ia tangkap di tengah prosesi sakral. Sebab malam ini masih panjang, dan setelah persembahan usai, malam pesta akan dibuka—dan di sanalah ia akan menyingkap dengan halus rahasia yang tersimpan di balik kegelisahan Ur Enki.

Maka Enlil Bazi menahan diri. Ia membiarkan wajahnya tetap agung, membiarkan suaranya tetap diam, seakan tidak terjadi apa-apa. Namun di dalam pikirannya, benih rencana sudah ia tanam:

“Sebentar lagi… setelah dupa ini padam, setelah api altar mereda, setelah musik pesta berkumandang… aku akan membuka simpul yang tersembunyi di jiwamu, Ur Enki. Dan pada malam itu, kau akan berbicara, entah dengan mulutmu sendiri atau dengan mata yang tak mampu berbohong.”

Api altar perlahan mereda, meninggalkan asap tipis yang melayang bagai tirai gaib di udara malam. Doa-doa imam berakhir dengan satu teriakan serentak, lalu sunyi mendadak jatuh—sunyi yang berat, seolah seluruh kota menahan napas.

Sesaat, Rawa Edin berdiri di ambang antara bumi dan langit.

Namun, seperti riak sungai setelah batu dilemparkan, sunyi itu pecah.

Malam pesta pun bergulir, bagai sungai yang deras setelah bendungan dibuka. Genderang bertalu-talu, kecapi dipetik dengan cepat, dan biduanita melantunkan lagu-lagu yang membuat langkah kaki para bangsawan ringan menari.

Di pelataran atas Zigurat Esgal-Ilu, tempat berlapis batu yang tinggi dan dijaga ketat, kaum bangsawan duduk melingkar bersama para imam. Kain lenan tipis berwarna putih, biru, dan ungu membalut tubuh mereka, dihiasi kalung emas, gelang perak, dan mahkota kecil berlapis batu mulia. Piala perunggu dan emas berkilau di tangan mereka, penuh bir yang dituangkan silih berganti. Hidangan kurma kering, roti gandum, daging kambing panggang, dan ikan sungai beraroma bumbu tersaji di atas meja rendah dari kayu cedar. Tawa mereka bergema, berbaur dengan suara seruling dan kecapi yang tak henti.

Para imam berjalan di antara mereka, sesekali melafalkan pujian kepada para dewa, seakan hendak mengingatkan bahwa pesta ini masih milik langit, meski duniawi telah menguasai hati para penghuninya.

Sementara itu, jauh di bawah—di dasar kuil, di kaki tangga zigurat—berdesakanlah rakyat jelata. Mereka tidak punya kursi, tidak punya meja. Mereka duduk di atas tanah dingin, bersandar pada dinding bata, hanya bisa menatap ke atas, ke pelataran tinggi tempat para bangsawan berpesta.

Mata mereka berbinar bukan oleh bir atau emas, melainkan oleh harapan: harapan akan sisa roti yang terjatuh, sisa daging yang tak habis, atau setetes bir yang tertuang berlebih. Mereka menunggu seperti kawanan burung lapar di bawah meja jamuan, menanti remah yang mungkin dijatuhkan dari tangan kaum agung.

Kontras itu tajam, menyayat mata siapa pun yang peka:

Di atas—gelak tawa, cahaya obor, emas, bir, dan musik yang tak putus.

Di bawah—hening, lapar, mata yang haus menatap ke langit pelataran.

Namun pesta terus bergulir tanpa jeda, seakan dua dunia itu memang ditakdirkan terpisah: dunia atas milik bangsawan dan imam, dunia bawah milik rakyat jelata. Dan malam itu, Zigurat Esgal-Ilu bukan hanya rumah doa dan persembahan, melainkan juga panggung besar tempat ketimpangan diperlihatkan sejelas-jelasnya di bawah cahaya obor.

Pesta mencapai puncaknya. Musik berdentum riang, obor-obor bergoyang benderang, dan pelataran atas zigurat dipenuhi cahaya emas dari piala dan perhiasan bangsawan. Namun di tengah hiruk pikuk itu, ada satu meja panjang yang menjadi pusat segala pandangan—meja para agung.

Di sana duduk Enlil Bazi, tegak bagai menara yang menyangga langit. Di sampingnya Namtilla, anggun laksana permaisuri yang diciptakan dari cahaya bulan. Namtar Sin berada di sisi lain, wajahnya berseri namun matanya senantiasa awas. Tepat di hadapan mereka, Innana Eti duduk berdekatan dengan ayahandanya, Sulgi Ram, dan ibunya, Ninsabtu, keduanya berpakaian dengan kemegahan bangsawan yang tak kalah mempesona.

Dan malam itu, setelah genderang pesta diturunkan nadanya, muncullah Nasaru Balet-ili, imam tertinggi, diiringi para imam. Jubah putih panjangnya berkilau disiram cahaya obor, kepalanya yang dibalut mahkota anyaman buluh memancarkan wibawa gaib. Ia duduk, dan para imam lainnya mengelilingi meja panjang itu, menciptakan lingkaran yang sakral sekaligus anggun.

Para pelayan menuangkan bir, menambah roti dan daging di meja. Namun suara tawa mereda ketika Nasaru Balet-ili menghela napas panjang, menatap wajah Enlil Bazi.

“Raja yang agung,” ucapnya, suaranya berat dan dalam bagai suara bumi yang retak, “pesta malam ini indah, rakyat bersukacita, dan dewa-dewa telah menerima persembahan kita. Namun ada satu bayangan yang tak bisa kita usir dari benak, seperti duri yang menancap di daging.”

Enlil Bazi menatapnya balik, sorot matanya tajam namun penuh pengendalian. Tanyanya pada imam tertinggi, “Kau bicara tentang lelaki itu?”

“Ya,” jawab Nasaru Balet-ili. “Lelaki di atas bukit. Ziusudra—nama yang kini dibisikkan dengan berani oleh sebagian rakyat. Lidahnya adalah pisau, dan khutbah-khutbahnya adalah badai. Setiap kata yang keluar darinya memanggil rakyat menjauh dari dewa-dewa kita, memanggil mereka hanya kepada satu nama yang ia sebut Ilu.”

Para imam lain mengangguk, wajah mereka tegang, sebagian menahan amarah. Di antara mereka, bisik lirih terdengar:

“Ia menghujat para dewa…”

“Ia meracuni telinga rakyat…”

“Jika dibiarkan, ia akan memecah kota…”

Namun Enlil Bazi mengangkat tangannya, dan seketika suasana hening. Wajahnya teduh, tetapi sorot matanya berkilat bagai mata pedang. Ucapnya, “Aku tahu lelaki itu. Aku tahu khutbah-khutbahnya. Dan aku tahu ia bukan sekadar mulut tua yang berteriak di angin. Ia adalah ujian—ujian bagi kita semua, imam, raja, bangsawan, rakyat. Tapi dengarkan aku baik-baik, Nasaru Balet-ili: kekuatan kita tidak akan terbukti bila ia dibungkam dengan pedang. Sebab darahnya hanya akan menjadi benih, dan khutbahnya akan tumbuh lebih deras.”

Suasana meja menjadi tegang. Para imam saling pandang, dan bahkan Sulgi Ram menoleh, penasaran pada arah pembicaraan itu.

Enlil Bazi melanjutkan, suaranya dalam namun penuh wibawa:

“Tidak. Biarkan ia tetap berteriak di bukitnya. Biarkan khutbahnya mengalir ke telinga rakyat. Semakin keras ia menentang, semakin tinggi keagungan dewa-dewa kita berdiri. Sebab jika yang hina boleh bicara, dan yang agung tetap tak tergoyahkan—maka rakyat akan tahu siapa yang benar-benar berkuasa.”

Nasaru Balet-ili terdiam, merenungkan kata-kata itu. Sorot matanya masih menyala, tetapi di wajahnya tergambar pula sesuatu yang menyerupai pengakuan.

Setelah kata-kata beratnya selesai, dan para imam tenggelam dalam renung, Enlil Bazi perlahan menurunkan pialanya. Obor-obor memantulkan cahaya di wajahnya, menajamkan sorot matanya yang penuh rahasia.

Ia memandang sejenak pada Namtar Sin, lalu pada Innana Eti dan kedua orangtuanya. Setelah itu, ia mengalihkan pandangan ke arah yang lebih dekat—ke arah Ur Enki.

Anak muda itu duduk tenang di sisi meja, namun di balik ketenangan itu, ada gelisah yang tak bisa sepenuhnya tersembunyi. Wajahnya tegap, tetapi sorot matanya, yang tadi sempat liar di hadapan altar, masih menyisakan kilatan yang sulit dijinakkan.

Enlil Bazi menatapnya lama. Tatapan seorang raja, tatapan seorang ayah, dan tatapan seorang sahabat yang hendak menguji warisan darah dari sahabat lamanya, Lugal-Enki.

“Ur Enki,” ujarnya akhirnya, suaranya dalam namun mengalir, seperti air sungai yang menabrak batu, “engkau duduk di meja ini bukan sebagai rakyat jelata, melainkan sebagai anak dari sahabatku yang paling kupercaya, Lugal-Enki. Ia, meski bukan bangsawan, adalah lelaki bijak yang pernah menuntun kota ini dengan kebijaksanaan yang lebih terang daripada emas. Maka engkau pun kuanggap bukan sekadar tamu—melainkan saudara bagi putraku, Namtar.”

Ur Enki menundukkan kepalanya, dada bergetar mendengar nama ayahnya disebut dengan hormat.

Namun Enlil Bazi tidak berhenti. Sorot matanya kini menajam, bagai tombak yang mengupas jiwa.

“Tetapi, wahai putra Lugal-Enki,” katanya, “malam ini aku ingin tahu isi hatimu. Sebab aku melihat di wajahmu kegelisahan, tatkala doa-doa naik dan api persembahan menyala. Katakanlah padaku dengan jujur: apakah khutbah lelaki di atas bukit itu telah menyentuh jiwamu? Apakah engkau, Ur Enki, telah mulai mendengar suara selain suara dewa-dewa kita?”

Hening mendadak turun.

Musik pesta masih berdenting di kejauhan, tawa bangsawan masih terdengar di meja-meja lain, tetapi di lingkaran itu, waktu seakan terhenti.

Tatapan semua mata—imam, bangsawan, bahkan Innana Eti—beralih pada Ur Enki. Dan di antara tatapan itu, tatapan Enlil Bazi yang paling berat, menunggu jawaban yang bisa menentukan nasib seorang pemuda, bahkan mungkin arah kota seluruhnya.

Hening masih menggantung di atas meja panjang. Tatapan Enlil Bazi menusuk, para imam menahan napas, bangsawan menunggu dengan waspada, dan rakyat di bawah hanya bisa menebak-nebak dari jauh.

Ur Enki mengangkat wajahnya perlahan. Ada getar di dadanya, tetapi sorot matanya jernih, seakan ia baru saja mencuci jiwa di sungai kebenaran.

“Wahai Raja Agung, Enlil Bazi,” ujarnya, suaranya tenang dan merendah, “aku hanyalah putra dari seorang lelaki sederhana, Lugal-Enki, yang engkau muliakan sebagai sahabat. Aku tidak datang malam ini untuk menantang, apalagi melawan, melainkan untuk menghormati undanganmu—dan untuk duduk di sini, di sisi putramu, sahabatku, Namtar Sin.”

Ia berhenti sejenak, menarik napas, lalu melanjutkan dengan nada penuh hati-hati:

“Benar, aku mendengar kata-kata lelaki di atas bukit itu. Siapakah di antara rakyat Rawa Edin yang tidak pernah mendengarnya? Kata-katanya bagai angin: ia berhembus ke segala arah, tak mungkin ditutup telinga. Namun mendengar tidak selalu berarti mengikuti. Dan apa yang masuk ke telinga, kadang hanya singgah sebentar, lalu pergi bersama waktu.”

Para imam saling pandang, wajah mereka agak mereda.

Enlil Bazi masih menatap, tetapi ketegangannya mulai melonggar.

Ur Enki meneruskan, suaranya jernih seperti air sungai malam:

“Yang kupegang hanyalah ajaran ayahku: jangan merendahkan para dewa, hormatilah rajamu, dan jangan mencederai kota ini dengan lidah yang jahat. Aku tidak akan menjadi mulut yang menghujat, aku tidak akan menjadi tangan yang merusak. Jika hatiku gelisah, biarlah itu aku simpan sebagai urusan batin—sebab tidak semua gelisah patut dijadikan senjata.”

Ia menundukkan kepalanya sejenak, lalu menatap kembali Enlil Bazi dengan penuh ketulusan:

“Engkau bertanya apakah aku telah menjadi pengikut lelaki di atas bukit. Aku jawab: aku hanyalah pengikut kebenaran, dengan cara yang paling sederhana. Tidak untuk melawan, tidak untuk merendahkan, tidak untuk mencaci-maki. Jika ada yang menuduhku sebaliknya, maka biarlah mereka menuduh, sebab hatiku tahu aku tetap menghormati kota ini, rajanya, dan para dewanya.”

Hening kembali jatuh. Namun hening kali ini berbeda: bukan tegang, melainkan lega. Imam-imam mengangguk kecil, sebagian bangsawan menarik napas panjang, bahkan Sulgi Ram menatap Ur Enki dengan wajah yang sulit ditebak—antara heran dan kagum.

Dan Enlil Bazi sendiri, setelah lama menatap, akhirnya menghela napas berat. Tatapan matanya melunak, bukan sepenuhnya percaya, namun cukup terhibur. Ia bersandar ke sandarannya, lalu tersenyum tipis.

“Mungkin,” ujarnya perlahan, “desas-desus lebih cepat berlari daripada kebenaran. Kau menjawab dengan bijak, Ur Enki. Semoga kata-katamu benar seperti jernihnya sungai.”

Riuh kecil terdengar: desas-desus yang tadinya menguat di meja itu kini pelan-pelan padam. Dan malam pesta berdenyut kembali, kali ini dengan beban yang lebih ringan di udara.

***

← Kembali ke Daftar Bab