Fibozona
📖 BACA BAB

Baca Bab

Nikmati setiap bab dari karya penulis berbakat

🎉 GRATIS - Tanpa Koin

Malam Persembahan

📅 01 July 2026 📚 Ketika Kota Mengutuk Cinta Kita ⏱️ 6 menit baca 📑 Bab 9

Langit malam telah turun sempurna, namun rembulan belum mencapai puncaknya. Cahaya obor yang berderet di tangga Zigurat Esgal-Ilu berkilau lebih terang, karena gelap sudah menutup wajah rawa-rawa di kejauhan. Inilah saat ketika waktu terasa genting: antara berakhirnya gemuruh riuh lautan manusia, dan dimulainya kesunyian sakral persembahan.

Burung-burung malam mulai berputar rendah di atas menara, pertanda malam telah matang. Genderang dipukul lebih lambat, berat, seperti jantung kota yang bersiap menahan napas. Dari altar tertinggi, suara tabuhan logam kecil terdengar—tanda bahwa imam-imam sudah bersiap, dan imam tertinggi, Nasaru Balet-ili, akan segera memimpin persembahan agung.

Genderang berhenti seketika, meninggalkan udara dalam diam yang begitu pekat hingga desir angin pun terdengar laksana bisikan gaib. Obor-obor yang berjejer di sepanjang tangga Zigurat Esgal-Ilu bergetar dalam cahaya kuningnya, menyorot wajah ribuan manusia yang menunduk dalam khidmat.

Dari balik tabir dupa yang tebal, muncullah Nasaru Balet-ili, imam tertinggi Rawa Edin. Jubahnya putih bagai cahaya bulan, sulaman emas di tepi kainnya berkilau seperti sungai bintang. Kepalanya ditutupi mahkota buluh anyaman yang sederhana namun sakral, lambang bahwa ia bukan sekadar manusia, melainkan perantara suara para dewa.

Ia melangkah perlahan, setiap tapaknya bergema di tangga batu merah yang menjulang, seolah menandai bahwa bumi dan langit sedang dipersatukan. Kedua tangannya mengangkat sebuah wadah emas berisi biji-biji gandum, tetesan minyak, dan air suci dari kanal—tiga lambang kehidupan yang akan dipersembahkan.

Sesampainya di altar puncak, Nasaru Balet-ili berhenti. Suaranya pecah dalam doa, berat dan mendalam, bagaikan guruh yang turun dari ketinggian:

“Wahai para dewa yang menjunjung langit, wahai arwah leluhur yang menjaga dasar bumi, terimalah persembahan umatmu ini. Inilah gandum dari tangan petani, minyak dari keringat pekerja, dan air dari rahim Purattu. Semua kami kembalikan kepada-Mu, sebab hidup kami hanyalah pantulan dari hidup-Mu.”

Lalu imam-imam lain mengangkat wadah dupa, asapnya membubung tebal, menari ke udara, menciptakan tirai antara dunia fana dan dunia gaib. Genderang dipukul kembali, kali ini dengan tempo lambat, setiap dentumnya menyalakan gema di dada ribuan orang. Rakyat jelata berlutut, bangsawan merapatkan kedua tangan di dada, sementara anak-anak menatap penuh takjub, seakan menyaksikan pintu surga terbuka.

Nasaru Balet-ili kemudian menumpahkan minyak ke atas api altar, dan api itu menyala lebih besar, menjilat langit malam. Sorak kagum bercampur dengan isak doa; sebagian orang merasa roh-roh leluhur hadir, sebagian merasa dewa-dewa menunduk untuk mendengar. Dan di bawah cahaya api yang menjulang, suara imam tertinggi bergema lagi:

“Rawa Edin adalah taman-Mu, kami adalah penjaga-Mu. Lindungilah kota ini dari badai, dari kelaparan, dari bisikan yang ingin meruntuhkan dinding-dindingnya. Terimalah doa kami, wahai para dewa yang tinggi.”

Malam itu, seluruh kota seakan larut dalam satu denyut, satu napas, satu suara yang mengalun dari altar Esgal-Ilu. Persembahan telah naik ke langit, dan Rawa Edin tunduk dalam sakralnya doa.

Persembahan itu belum usai. Di puncak, Asaru Balet-ili berdiri seperti bayangan yang memerintah. Ia mengangkat tangan, dan serentak imam-imam bawahan memercikkan minyak mur ke batu persembahan. Asapnya naik seperti ular, menyentuh patung lima wajah yang dipuja dengan nama-nama ilah, namun tidak satu pun yang menyebut nama Ilu yang sejati.

Seekor kambing putih ditarik ke tengah altar, disembelih dengan pisau perunggu, darahnya ditampung dalam wadah tembaga. Imam juru dupa, Belili Shar-Ekur, menaburkan abu lazuli ke dalam api, sementara Nergal Ahi-Dumuzi mengangkat bagian hati kambing itu ke langit, seraya berseru:

“Diterimalah ini oleh para ilah yang bersemayam di langit dan tanah! Diberkatilah kota ini, dan orang-orang yang memberi bagian terbesar!”

Sorak sorai menggemuruh di pelataran bangsawan.

Di pelataran zigurat yang dibakar cahaya api altar, Ur Enki berdiri tegak di sisi para agung: Enlil Bazi dengan wibawanya, Namtilla yang anggun, dan Namtar Sin yang gagah laksana pilar kuil. Dari tempat itu, ia menyaksikan jalannya prosesi, setiap gerak imam, setiap kepulan dupa, setiap tetesan minyak yang menyulut api persembahan. Matanya menatap lekat, seolah menguliti seluruh rangkaian upacara. Kepalanya tidak menunduk, bibirnya tidak menggumam doa; hanya mata itu, yang tajam dan tak berkedip, mengikuti jalannya setiap persembahan.

Namun jauh di kedalaman hatinya, sesuatu yang lain menggema. Bukan kidung imam, bukan dentum genderang, bukan doa rakyat yang bergetar, melainkan suara lelaki tua di atas bukit—suara Nuh, Ziusudra yang pernah ia dengar di kejauhan. Suara yang penuh nasihat dan petuah kebenaran, bagaikan air yang mengetuk batu hingga lambat-laun melubanginya.

Jangan tertipu oleh asap yang hanya menutup langitmu…

Jangan larut dalam api yang hanya membakar kayu dan minyak…

Dewa sejati tak lapar gandum, tak haus minyak, tak perlu darahmu.

Yang mereka minta hanyalah keadilan di bumi dan kesetiaan hatimu…”

Suara itu mengalun di dadanya, memecah keheningan sakral yang sedang melingkupi ribuan manusia. Semakin tinggi asap dupa naik, semakin keras suara itu terdengar dalam batinnya.

“Wahai manusia, janganlah kalian tertipu oleh banyak nama yang kalian sebut dewa. Mereka hanyalah bayang-bayang yang dibuat tangan manusia, arca yang tak mampu mendengar jeritmu, tak mampu menolongmu dari lapar dan haus. Api dan asap hanyalah ilusi; gandum dan minyak hanyalah makanan bumi, bukan santapan langit. Takutlah hanya kepada Satu yang Maha Tinggi, Dia yang menciptakan langit dan bumi, air sungai dan rerumputan. Dialah yang meniupkan napas ke dalam dada manusia, Dialah yang mengangkat dan merendahkan kerajaan. Tiada Tuhan selain Dia. Segala sujud dan doa hanyalah milik-Nya. Maka celakalah bagi mereka yang menyembah bayangan, dan berbahagialah mereka yang menunduk hanya kepada Yang Esa.”

Suara itu tak terdengar oleh telinga siapa pun, namun menghantam batin Ur Enki dengan keras, menggetarkan segenap urat dan jiwanya. Lalu jiwanya gelisah. Dadanya bergetar, seakan terhimpit dua dunia: dunia luar yang penuh dengan keagungan, kemegahan, dan cahaya altar, serta dunia dalam yang penuh dengan kegelisahan, kebenaran, dan bisikan yang melawan.

Suara itu terus mengalun di dada Ur Enki, semakin lama semakin nyaring, bagai palu yang menghantam batu hingga pecah.

“Tiada Tuhan selain Dia yang Esa. Takutlah hanya kepada-Nya, bukan pada arca, bukan pada dewa yang dibuat tangan manusia. Jangan kau sujud pada bayangan, wahai anak manusia, sebab sujudmu hanyalah bagi Yang Menciptakanmu…”

Ur Enki menunduk, lalu mendongak, matanya gelisah, dadanya naik-turun seakan sedang menahan badai. Keringat dingin mulai merembes di pelipisnya meski angin malam berhembus.

Ia berusaha tenang, berusaha menjadi batu di tengah samudra manusia yang berlutut dalam doa, namun wajahnya tak kuasa menyembunyikan apa yang bergolak di dalam. Kedua alisnya mengerut, sorot matanya resah, bibirnya bergetar tanpa kata.

Dan kegelisahan itu, yang mestinya hanya milik batinnya, ternyata tidak tersembunyi. Dari sampingnya, Enlil Bazi—sang raja agung Rawa Edin—menoleh perlahan. Mata tajamnya yang berkilat seperti baja menangkap setiap retak di wajah pemuda itu. Tatapannya menusuk, dalam, penuh tanda tanya. Enlil Bazi mengangguk-angguk. Hatinya telah menyiapkan rencana.

***

← Kembali ke Daftar Bab