Nikmati setiap bab dari karya penulis berbakat
Di antara arus manusia yang bergulung bagai ombak menuju kaki zigurat, Ur Enki berjalan dengan langkah yang tak sama dengan mereka. Bukan gagah seperti para bangsawan, bukan tegap penuh wibawa seperti imam-imam kota, dan bukan pula penuh gairah seperti rakyat jelata yang haus akan perayaan. Ur Enki hadir dengan jiwa yang ganjil.
Sangat tampak bahwa ia berusaha hendak menutupi kesederhanaannya dengan segenap daya yang ia punya. Ia sengaja memilih pakaian terbaiknya—bukan untuk pesta yang tak pernah dekat di hatinya, melainkan untuk Innana Eti, gadis yang diam-diam menjadi pusat seluruh langkahnya.
Tubuhnya dibalut sehelai kain lenan kasar, dililitkan menyilang dari bahu kiri menutup dada hingga menjuntai di bawah lutut, persis seperti cara rakyat jelata kota itu mengenakan pakaian sehari-hari. Namun malam ini, ia merapikannya dengan hati-hati, memastikan lipatan kain tidak kusut, memastikan warnanya—meski sudah pudar keputihan karena sering dicuci—tetap tampak bersih di bawah cahaya obor.
Di pinggangnya, ia mengenakan ikat dari anyaman kulit tipis yang sudah lama, retak di sana-sini, namun masih cukup kuat menahan kain agar melekat rapi pada tubuhnya. Rambut hitamnya, yang biasanya dibiarkan berantakan setelah bekerja, malam ini ia sisir dengan telapak tangan yang dioles minyak nabati sederhana. Minyak itu bukan mur wangi kaum bangsawan, melainkan minyak biji wijen, tetapi setidaknya membuat rambutnya tampak hitam berkilau, tertata meski tidak anggun.
Kakinya polos, tanpa alas kaki. Namun ia membersihkannya dengan seksama sebelum berangkat, menggosok debu rawa agar tidak mempermalukan dirinya di hadapan gadis yang hendak ia temui. Tangannya—kasar oleh kerja kayu dan lumpur sungai—ia basuh berkali-kali di air kanal, hingga ketika ia genggam nanti, ia tak membuat jemari Innana terasa kotor.
Kedatangan Ur Enki segera ditandai oleh mata-mata yang jeli. Ia bukan imam dengan jubah putih bersepuh emas, bukan bangsawan dengan lenan halus berwarna gading, bukan pula pedagang kaya dengan gelang perunggu berkilau. Ia hanya seorang pemuda miskin, yatim-piatu, dengan pakaian terbaik yang bisa ia rapikan malam itu.
Tatapan pertama datang dari sekelompok bangsawan muda yang berdiri di sisi jalan. Mereka mendongakkan kepala, memandanginya dari atas ke bawah. Salah seorang dari mereka berbisik sambil menahan tawa:
“Lihat, ia bahkan tak punya sandal.”
“Ah, mungkin ia kira kain kasar itu akan tampak indah di bawah obor.”
Mereka menutup mulut, tertawa kecil, lalu kembali menegakkan kepala, seakan kehadiran Ur Enki tak pantas mencuri udara yang sama dengan mereka.
Namun di sisi lain, rakyat jelata justru memandanginya dengan cara berbeda. Seorang ibu tua berbisik pada anak perempuannya:
“Itu… itu putra Lugal Enki, bukan? Aku mengenali sorot matanya.”
“Ya… meski miskin, ayahnya dulu pernah jadi sahabat raja.”
Anak perempuan itu menatap kagum, matanya berbinar. “Lihatlah, ia bahkan lebih tampan dari para bangsawan, meski bajunya sederhana.”
Kerumunan bergemuruh oleh bisik-bisik yang bertabrakan: sebagian meremehkan, sebagian mengagumi, sebagian mengingat masa lalu ayahnya yang pernah dihormati kota.
Dan di tengah semua itu, para imam hanya melirik sekilas. Mata mereka yang diliputi dupa seakan tak peduli siapa yang datang, selama manusia-manusia itu ikut meramaikan upacara. Namun bisikan samar tetap terdengar di antara mereka:
“Itu dia pemuda yang sering disebut-sebut… katanya hatinya mulai condong pada ajaran lelaki di atas bukit.”
“Ah, kalau benar begitu, malam ini akan teruji. Mari kita lihat, apakah ia menunduk pada altar atau berpaling darinya.”
Ur Enki mendengar sebagian bisikan, melihat sebagian tatapan. Tetapi ia melangkah terus, dadanya kencang berdegup. Ia tahu, malam ini ia bukan datang untuk bangsawan, imam, atau rakyat. Ia datang hanya untuk satu wajah.
Dan arus manusia terus mendaki tangga-tangga bata merah menuju kaki Zigurat Esgal-Ilu. Genderang ditabuh, seruling ditiup, kecapi dipetik, dan imam-imam melantunkan doa panjang yang berputar bagai pusaran angin malam. Dupa mengepul dari wadah emas, mengirimkan wangi mur dan damar ke langit yang penuh bintang.
Ur Enki berjalan dengan hati yang bergejolak. Setiap wajah yang ia lihat hanyalah bayang-bayang lewat; setiap kain lenan, setiap perhiasan, hanyalah kerlip samar yang tak menggetarkan hatinya. Matanya mencari satu cahaya, satu sosok, satu wujud yang telah lama terukir di dadanya.
Langkahnya pelan, tapi matanya tajam, menyapu kerumunan dari tepi ke tepi. Ia melihat bangsawan-bangsawan muda dengan senyum angkuh; ia melihat rakyat jelata menunduk khidmat; ia melihat imam-imam berjalan bagai bayangan dewa. Namun hatinya tetap berbisik: “Dimana engkau, Innana?”
Lalu, seperti rembulan yang tiba-tiba muncul di balik kabut, ia melihatnya.
Ia melihat gadisnya: Innana Eti.
Gadis itu berdiri di antara rombongan bangsawan, gaunnya dari lenan tipis berwarna lembayung jatuh anggun hingga mata kaki. Sebuah sabuk emas melingkari pinggangnya, dan di dahinya bertengger mahkota kecil berhias lapis lazuli yang memantulkan nyala obor. Rambut hitamnya terurai bagai malam yang sedang berkilau oleh bintang.
Namun bukan itu yang menawan Ur Enki. Bukan gaun, bukan mahkota, bukan perhiasan. Yang membuat jantungnya berhenti sejenak adalah sorot mata itu—mata yang seakan menembus ribuan wajah dan langsung menemuinya, di tengah hiruk-pikuk yang penuh cahaya dan suara.
Tatapan itu berbalas.
Mula-mula samar, seolah ragu apakah benar mata mereka bertemu di antara ribuan. Namun dalam sekejap, keraguan itu sirna. Tatapan Innana menyala lembut, dan Ur Enki merasakan dadanya diguncang oleh sesuatu yang lebih dahsyat dari bunyi seribu genderang.
Dunia seolah terhenti. Obor tetap bergoyang, dupa tetap mengepul, imam tetap bersenandung—tetapi semua itu lenyap dari kesadarannya. Yang tersisa hanya sepasang mata yang saling mengikat dalam hening yang mendebarkan.
Tatapan mereka kian dalam, kian rapat, hingga kerumunan yang bergemuruh itu terasa lenyap. Hanya ada dua jiwa yang saling meneguk cahaya dari mata masing-masing. Dan perlahan, langkah-langkah kecil mendekatkan mereka di tengah arus manusia yang sibuk dengan dirinya sendiri.
Jemari Ur Enki—kasar oleh kerja kayu dan lumpur—meraih ke depan, ragu-ragu bagai embun yang takut pecah. Jemari Innana Eti—halus, harum oleh minyak mur—menyambut tanpa suara, tanpa kata. Dan akhirnya, kedua tangan itu bersua, saling menggenggam.
“Kerinduan ini,” ujar batin Innana yang terbahasakan melalui sepasang bola matanya, “hampir menguburku hidup-hidup, Ur Enki.”
Berbalas suarasa yang sama anggunnya, “Aku tahu—sebab itu pula yang juga hendak menguburku.”
Sejenak waktu berhenti. Genderang kuil masih berdentum, kecapi masih dipetik, dupa masih mengepul, tapi semuanya terdengar jauh, seakan dari dunia lain. Yang nyata hanyalah genggaman itu, rahasia paling jujur yang lahir di bawah cahaya obor.
Namun dunia tak benar-benar buta.
Tatapan-tatapan manusia di sekitar mereka menangkap peristiwa itu, dan seketika udara malam dipenuhi gema yang tak terdengar namun terasa. Ada mata yang tajam memandang—mata bangsawan muda yang menganggap Ur Enki telah lancang menyentuh bunga terindah kota.
Ada mata yang marah, melihat kesucian pesta ternodai oleh cinta dua anak manusia. Ada mata yang kecewa, menyadari bahwa gadis yang didamba sejak lama telah menautkan dirinya pada orang lain. Ada mata yang benci, menolak kenyataan bahwa seorang yatim miskin berani meraih tangan putri bangsawan. Namun ada pula mata yang kagum, terpesona oleh keberanian cinta yang tumbuh di tengah dinding-dinding kuasa.
Bisik-bisik pun berdesir di udara, bagai ular yang menyelinap di sela-sela dupa:
“Berani benar ia menyentuh Innana Eti…”
“Lihatlah wajah mereka—tak bisa disangkal, itu cinta yang tulus…”
“Runtuhlah aturan, bila seorang miskin bisa menggenggam putri Sulgi Ram…”
Namun Ur Enki dan Innana tidak mendengar, tidak peduli. Mereka hanya saling memandang, seakan seluruh dunia boleh menatap dengan tajam, marah, kecewa, benci, atau kagum—tetapi dunia tak akan mampu memutus genggaman itu.
***
Di sisi lain pelataran, Namtar Sin berdiri tegak di antara para bangsawan. Tubuhnya dibalut kain lenan halus berwarna putih gading, dililit rapi dari bahu hingga lutut, dipertegas dengan ikat pinggang emas yang berkilau di bawah obor. Lehernya dihiasi kalung lapis lazuli, sementara rambut hitamnya yang tebal diikat sederhana dengan pita perak. Di lengannya melingkar gelang perunggu, dan di kakinya terpasang sandal kulit yang dijahit halus—semua menandai dirinya sebagai putra bangsawan tertinggi Enlil Bazi.
Gagahnya tubuh, tegaknya bahu, dan sorot matanya yang tegas membuat banyak gadis yang berdiri di bawah tangga zigurat tak sanggup menahan diri. Dari balik kerudung tipis, dari celah-celah jendela istana kecil, dari kerumunan rakyat jelata—mata para gadis berhamburan bagai bintang yang jatuh ke arahnya.
“Itu dia… Namtar Sin…”
“Betapa tampannya ia malam ini, bagai dewa yang turun dari langit…”
“Oh Dewi Ishtar—andai saja lirikan matanya jatuh kepadaku…”
Desir kagum mengisi udara, setiap geraknya diserap mata yang rindu. Namun Namtar tidak terhanyut dalam hujan lirikan itu. Bibirnya hanya menyunggingkan senyum tipis—senyum yang tak pernah benar-benar berpaut pada satu tatapan pun. Karena sesungguhnya, di balik gagahnya pakaian dan pesona yang membungkus dirinya, hatinya sibuk mencari-cari sesuatu yang lain. Sejak awal senja, matanya berulang kali menyapu kerumunan, menelisik wajah demi wajah, mencari sosok yang paling ingin ia temui malam itu, Ur Enki, sahabatnya.
“Adakah ia tak datang malam ini?” batinnya bertanya, berulang-ulang. “Apakah ia menolak undanganku, ataukah ia terikat pada keraguannya sendiri? Apakah lelaki tua di atas bukit itu memang telah menahannya?”
Dadanya berdesir, bukan oleh tatapan para gadis yang menggebu-gebu, tetapi oleh pertanyaan yang menggema. Dan semakin lama ia menunggu, semakin besar kegelisahan itu menekan, seakan kehadiran sahabatnya lebih penting daripada segala pujian yang ia terima dari ratusan mata malam itu.
Namtar Sin semakin gelisah.
Lalu, seketika pandangannya tertumbuk pada sesuatu.
Di antara riuh manusia yang berdesakan, di bawah asap dupa yang berputar-putar, ia melihat sosok yang begitu dikenalnya itu. Tubuhnya sederhana, pakaiannya jauh dari keanggunan para bangsawan, tetapi sorot matanya… sorot itu tak mungkin salah. Itu adalah sorot sahabat yang ia rindukan.
Dan di hadapan sahabatnya itu berdiri Innana Eti. Gadis yang keindahannya sering hanya ia dengar lewat bisikan para pemuda dan lirikan mata para gadis yang iri. Malam ini ia menyaksikannya dengan mata kepala sendiri: wajahnya bercahaya, rambutnya hitam bagai malam, gaun lembayungnya jatuh anggun di tubuhnya.
Namtar Sin tercekat. Bukan karena melihat kecantikan dan pesona gadis itu, bukan pula kemegahan gaunnya, bukan pula mahkota kecil di dahinya melainkan genggaman tangan mereka berdua. Jemari Ur Enki yang kasar oleh kerja menyatu erat dengan jemari Innana Eti yang halus beraroma mur.
Waktu seakan berhenti.
Namtar terdiam.
Tubuhnya kaku di tengah puja-puji para gadis yang masih menghamburkan tatapan ke arahnya. Ia menyaksikan dengan mata yang tak bisa berpaling: sahabat yang ia cari dengan rindu, dan gadis yang namanya telah lama bergema di kalangan bangsawan, kini saling menggenggam seolah dunia ini hanya milik mereka berdua.
Desir aneh merambat di dadanya—campuran antara takjub, cemas, dan getir. Dalam sekejap ia tahu: malam ini bukan hanya pesta persembahan bagi para dewa, bukan pula pegumuman sang raja tentang gadis yang akan menjadi pendamping hidupnya, melainkan juga malam di mana takdir diam-diam menautkan sahabatnya dengan bunga paling elok di Rawa Edin.
Dan Namtar berdiri terpaku, menyadari bahwa ia baru saja menyaksikan sesuatu yang akan mengubah seluruh jalan hidup mereka.
Langkah Namtar Sin maju, tegap, dan berwibawa. Pakaian kebangsawanannya berkilau di bawah cahaya obor, setiap gerakannya menarik mata yang sebelumnya sibuk menghujani Ur Enki dengan tatapan sinis, marah, kecewa, bahkan benci. Kerumunan yang berdesis seketika menahan napas, ketika putra Enlil Bazi—darah tertinggi Rawa Edin—berjalan lurus menuju sahabat miskinnya.
Ur Enki sempat goyah, genggamannya pada tangan Innana Eti mengeras, seolah bersiap kehilangan. Innana menundukkan wajahnya, takut pada hujan kata dan murka yang mungkin turun dari bibir bangsawan muda itu. Lalu, genggaman tangan keduanya pun terlepas.
“Ur Enki, sahabatku!” pekik Namtar. Suaranya keras seperti palu yang memecah dada semua orang yang menatap adegan itu.
Namtar Sin merentangkan kedua tangannya, lalu memeluk Ur Enki.
Pelukan itu erat, dalam, penuh kerinduan yang melelehkan jarak.
Dan seketika, udara pesta berubah. Tatapan-tatapan yang tajam melembut, tatapan yang marah mereda, tatapan yang kecewa luruh, bahkan tatapan yang benci pun terdiam—karena mereka melihat sahabat yang dirindukan itu dipeluk dengan hangat oleh putra tertinggi kota.
Bisik-bisik berubah:
“Mengapa ia memeluknya…?”
“Bukankah itu sahabatnya sejak kecil…?”
“Kalau Namtar Sin merestui, siapa berani menghujat?”
Ur Enki terpaku, dadanya bergetar. “Namtar… aku tak menyangka engkau akan…”
Namtar melepaskan pelukan, namun masih menepuk bahu sahabatnya dengan penuh kasih. Tatapannya jernih, bukan tatapan bangsawan kepada rakyat, melainkan tatapan saudara pada saudara.
“Ur Enki,” katanya lembut, suaranya bagai air sungai yang menenangkan, “aku mencarimu sejak senja. Kupikir engkau tak datang memenuhi undanganku.”
Ur Enki menunduk. “Aku ragu… pesta ini bukan milikku. Tetapi hatiku menuntun langkahku… hingga aku berdiri di sini.”
Namtar tersenyum samar, lalu matanya beralih pada Innana Eti. Bibirnya menyunggingkan senyum. Namun, yang ditatap menunduk. Bulan merena merah di pipinya karena malu. Innana membungkukkan badan sedikit, memberi hormat yang takdzim pada putra raja.
“Iya, kini aku tahu,” ucap Namtar seraya tak melepaskan tatapannya pada Innana, “mengapa dewa menuntunmu datang. Bukan untuk dupa, bukan untuk nyanyian, bukan untuk persembahan. Melainkan untuk ini sang putri jelita, Innana…”
Innana mengangkat wajahnya, terperanjat oleh kata-kata itu.
“Ah, Ur Enki,” lanjut Namtar, “mengapa kau tak pernah bercerita. Bahkan bayanganmu pun lenyap dari pandangan benakku.”
“Maafkan aku, Namtar,” ucap Ur Enki lirih, namun cukup terdengar keras pada telinga para pemuda bangsawan. Para pemuda itu, yang sedari tadi bercikap sinis dan merendahkan, kini mereka bungkam tak bersuara seperti bitumen yang melekatkan bibir-bibir mereka.
Ur Enki melanjutkan, atau lebih tepatnya mengalihkan pembicaraan, “Aku datang, Namtar. Aku datang memenuhi undanganmu.”
“Ayah kita,” ucap Namtar yang semakin menampar telinga semua orang yang mendengarnya, “Enlil Bazi yang agung, selalu bertanya-tanya tentangmu. Ayo kuajak engkau segera menemuinya.”
Lalu kepada Innana, “Putri, dapatkan aku mengajak permata hatimu sebentar saja…?”
Pipi Innana yang halus laksana tanah liat sungai setelah disiram hujan, semakin bersemu merah. Warna itu menjalar perlahan, bagai fajar yang menyelinap ke langit malam. Ia menundukkan wajah, takut sorot matanya mengkhianati gejolak hatinya, namun tak kuasa menyembunyikan cahaya yang kini berpendar di wajahnya.
“Itu kehendakmu, pangeran,” jawab Innana dengan halus. “Aku tak kuasa menolak.”
Dan kerumunan semakin hening. Malam persembahan mendadak memiliki makna lain. Dan di dada Namtar sendiri, berdesir halus sebuah rasa: pahit dan manis, getir sekaligus indah—menyaksikan cinta sahabatnya, dan entah bagaimana, ikut berbahagia karenanya. Namtar pun melangkah menggandeng Ur Enki, berjalan di antara kepala orang-orang yang menunduk. Kepada Enlil Bazi, Ur Enki hendak dipertemukan.
Innana seperti masih tak percaya. Ia masih berdiri di tempatnya. Namun kini, hatinya merekah seperti sekuntum bunga yang disinari fajar pertama. Orang-orang masih menatapnya dengan segala perasaan yang campur-aduk. Innana tak memedulikannya, dan kini dengan sedikit berlari kecil segera menuju ke tempat ayah dan ibunya.
***