Nikmati setiap bab dari karya penulis berbakat
Senja semakin merambat, membakar awan dengan bara keemasan. Bayang singgasana batu hitam makin panjang, menutupi lantai aula seperti naga yang merayap dari dasar bumi. Enlil Bazi bersandar, sorot matanya yang tajam kini melunak, namun tetap menyimpan kuasa.
“Putraku,” ujarnya, suaranya seperti desir angin yang menyelinap di antara menara. “Kau berjalan di jalan-jalan kota ini dengan dada terangkat, dan setiap mata perempuan jatuh berhamburan seperti bintang yang tak sabar menemuimu. Tidakkah satu pun dari tatapan itu singgah di dadamu? Tidakkah satu lirikan saja membuat jiwamu bergetar?”
Namtar terdiam. Ia menunduk, seakan mencari jawabannya di lantai batu. “Ayah… banyak mata memang menatap, banyak lirikan memang tertuju. Tapi… hatiku belum memilih. Semuanya hanya terasa seperti angin yang lewat.”
Enlil Bazi tertawa kecil, namun tawanya bukan tawa ringan—melainkan tawa yang menyimpan sindiran. “Kau terlalu angkuh, Namtar. Atau barangkali kau terlalu sibuk mengagumi dirimu sendiri, hingga lupa bahwa keindahan tidak hanya ada di cermin, tapi juga di mata yang menatapmu.”
Namtar menggertakkan giginya, tapi tetap bungkam.
Enlil lalu berdiri, langkahnya mengitari ruang, bayangan tubuhnya menutupi putranya. “Dengar baik-baik. Malam pesta persembahan akan tiba. Lampu minyak akan menyala, dupa akan mengepul, nyanyian imam akan mengguncang langit. Dan di antara cahaya itu, akan hadir seorang gadis. Gadis yang tidak hanya cantik, tapi juga akan membuat kota ini semakin agung dengan kehadirannya. Gadis yang layak untukmu, layak pula untuk nama besar Rawa Edin.”
Ia berhenti, menatap dalam ke arah Namtar. Lalu melanjutkan, “Siapakah dia? Kau tidak perlu tahu sekarang. Biarlah malam pesta itu yang membuka tabir. Yang jelas, aku tidak akan salah memilih. Para dewa pun akan tersenyum ketika melihat putraku berdiri di sisinya.”
Namtar mengangkat wajahnya, sorot matanya diliputi gelisah yang tak dapat ia sembunyikan.
“Ayah… apakah aku tidak berhak memilih sendiri?” Namtar seakan menantang.
Enlil Bazi tersenyum, tetapi senyumnya dingin. “Kau adalah putra seorang raja, bukan penggembala yang bisa jatuh cinta pada gadis mana pun di pasar…”
“Maafkan hamba, ayah.” Namtar seperti masih ingin membela diri. “bukan maksud saya begitu—cinta pada lirikan di tengah pasar…”
“Kau tidak mempercayai pilihan ayahmu?”
“Maafkan saya…”
“Bahkan,” ucap Enlil Bazi, “tak perlu menjadi raja untuk menjadi seorang ayah bagi kebahagiaan putranya. Pilihanku terhadap gadis itu—kau harus sadari—seperti pilihan kakekmu terhadap ibumu. Kau bisa membayangkan gadis yang paling cantik di Rawa Edin dengan jiwamu, tetapi sebelum bayangan itu muncul, ayahmu telah mengetahui rahasianya. Pilihanku akan menjadi kebahagiaanmu, Namtar.”
Namtar benar-benar tak berkutik.
“Pilihanku adalah pilihan kota ini. Pilihanku adalah kemegahan kita.Enlil Bazi adalah tangan para dewa yang akan menunjukkan jalan.”
Hening sejenak. Hanya angin senja yang menyusup dari celah jendela, membawa aroma damar dan pasir hangat. Di dada Namtar, pertanyaan tak bersuara menggema: siapa gerangan gadis itu? Apakah dia tatapan yang selama ini berusaha ia abaikan? Atau justru sosok yang diam-diam bersemayam dalam hatinya, tanpa pernah ia akui?
Enlil Bazi berdiri kembali, langkahnya berat namun penuh wibawa, seakan setiap pijakan mampu mengguncang lantai batu hitam di bawahnya. Namtar Sin menunduk, jantungnya berdegup lebih cepat. Ia tahu, bila ayahnya sudah berbicara dengan nada demikian, itu berarti bukan sekadar peringatan—melainkan titah yang harus ia jaga dengan nyawa.
“Kau keberatan?” tantang Enlil Bazi.
“Tidak, tidak, ayah,” Namtar segera menjawab. “Saya siap menjalankan titah.”
Enlil Bazi kembali tersenyum. Lalu ucapnya, “Putraku, ada satu nama yang kerap hadir kembali di benakku: Ur Enki….”
Namtar mengangkat kepalanya. “Sahabatku? Mengapa ayah tiba-tiba menyebutnya?”
“Ah, sudah lama aku tak melihatnya. Kapan terakhir kau menyambanginya?”
Namtar diam sejenak, lalu menjawab, “Saya juga sudah lama tak bersua dengannya. Sejak kematian Ninlitu—ibunya—Ur Enki seperti selalu menghindar….”
“Bukankah dia sahabatmu?”
“Tentu saja, ayah.”
“Pastikan dia tetap menjadi saudaramu!”
Namtar mengangguk.
Enlil Bazi menarik napas panjang, suaranya meluruh seperti riak Purattu yang mengingatkan masa lampau. Ucapnya kemudian, “Lugal Enki, ayahnya—kau mungkin tak banyak mengingatnya—dulu adalah sahabatku. Sahabat terbaik. Memang dia bukan bangsawan, bukan imam, hanya seorang rakyat biasa. Namun dari lisannya, sering lahir kebijaksanaan yang lebih terang daripada seribu obor kuil. Kami sering berbicara di tepi rawa, tentang kota, tentang manusia, tentang bagaimana menahan badai tanpa harus memanggil dewa. Ia bukan sekadar teman, ia adalah saudara yang dititipkan bumi kepadaku….”
Namtar menunduk, hatinya terenyuh oleh nada ayahnya yang jarang terdengar selembut itu.
Enlil Bazi melanjutkan, kini dengan tatapan yang lebih tajam. “Dia sahabat terbaik. Namanya harum di telinga para dewa. Sayang, tragedi itu telah memisahkanku dan dia. Perahu besar itu, yang ayah pesan untuk dibuatkannya, justru mengakhiri hidupnya sendiri. Aku, aku merasa bersalah. Para dewa rupa-rupanya memisahkanku dan dia dengan cara seperti ini.”
Nada suara Enlil makin mengecil seolah terjepit ingatan kelam masa lalu. Lalu, dengan nada yang kini lebih keras, Enlil Bazi berkata lagi, “Undanglah Ur Enki. Bawa dia kembali ke istana. Dengan mataku sendiri, aku ingin memastikan dia baik-baik saja. Dia tak seperti desas-desus yang dibawa angin hingga memanaskan telinga.”
Namtar menatap ayahnya dengan tatapan heran. Namun lidahnya tetap bungkam.
Enlin melanjutkan, “Iya, aku mendengar desas-desus itu. Bahwa putra sahabatku telah berubah. Bahwa khutbah-khutbah lelaki tua di bukit itu telah menyusup ke dalam jiwanya. Benarkah, Namtar? Apakah sahabatmu kini lebih suka mendengar bisikan langit daripada suara kota?”
Namtar tercekat, lidahnya kelu. “Saya… saya belum berani memastikan, Ayah. Tapi saya tahu Ur Enki sering menyendiri. Ia berbeda dari pemuda lain. Ada kedalaman di matanya, seperti air rawa yang tak bisa dijangkau galah.”
Enlil Bazi menyipitkan mata, seolah sedang menimbang antara kerinduan dan kewaspadaan. “Itulah sebabnya aku ingin engkau mengundangnya. Malam pesta persembahan nanti bukan hanya tentang dupa, musik, dan gadis pilihan. Malam itu juga akan membuktikan: apakah sahabatmu masih putra dari sahabatku yang bijak, ataukah ia telah terseret arus lelaki gila di atas bukit itu. Aku ingin melihatnya dengan mata kepalaku sendiri.”
Namtar terdiam lama, dadanya bergetar oleh beban titah itu.
“Undanglah dia,” ujar Enlil Bazi tegas. “Biarkan malam itu menjadi saksi. Jika Ur Enki tetap teguh sebagai sahabatmu, maka kau akan menemukan kembali saudara. Jika tidak…,” ia berhenti, suaranya merendah, “…maka kau harus bersiap kehilangan lebih dari sekadar seorang kawan.”
Senja pun luruh sepenuhnya, menyisakan langit yang basah oleh ungu malam. Dan dalam hati Namtar, gema ayahnya itu bergema: malam pesta akan menjadi panggung ujian, bukan hanya bagi dirinya, tetapi juga bagi sahabat yang diam-diam paling ia rindukan.
***
Akhirnya datang juga malam itu. Malam yang tak hanya berbungkus lautan cahaya, tetapi juga lautan manusia. Malam suci persembahan. Malam pesta. Obor-obor damar dipasang di sepanjang jalan bata merah yang mengular menuju Zigurat Esgal-Ilu, menjadikannya seakan sungai api yang memandu setiap langkah manusia. Angin lembut membawa aroma mur, gaharu, dan damar dari wadah-wadah dupa, bercampur dengan desir ilalang yang berbisik di tepian kanal.
Orang-orang berdatangan dari segala penjuru kota. Kaum bangsawan, berbalut linen tipis berwarna putih gading, ikat pinggang mereka berkilau emas dan lapis lazuli. Wajah mereka tampak angkuh, seolah bayang menara kuil pun tunduk pada langkah mereka. Di belakang mereka, derap sandal budak-budak muda terdengar pelan, memanggul kendi bir dan nampan buah kurma, sebagai tanda kemewahan yang tak pernah lekang.
Para imam kota tampil laksana bayang dewa-dewa. Jubah panjang mereka menjuntai, kainnya putih bersepuh benang emas, di kepala terselip mahkota kecil dari anyaman buluh yang dibakar harum kemenyan. Di tangan mereka, dupa terus mengepul, menciptakan tirai asap tipis yang membuat wajah-wajah mereka tampak remang, seakan bukan lagi manusia, melainkan arwah yang keluar dari altar. Suara doa yang mereka lantunkan bergetar, berat dan mendalam, seolah hendak menggetarkan tulang-tulang bata ziggurat yang menjulang.
Rakyat jelata pun berduyun-duyun: nelayan dengan kaki masih basah lumpur, petani membawa sesisir gandum, perempuan-perempuan sederhana dengan kendi tanah liat di tangan. Mereka berjalan dalam langkah teratur, seakan mengikuti irama yang tak terdengar. Meski pakaian mereka lusuh, wajah mereka berseri oleh keyakinan bahwa malam ini mereka akan turut hadir dalam kebesaran, meski hanya dari tangga terendah ziggurat.
Lautan manusia itu tertegun. Berdirilah ia, di hadapan mereka, Zigurat Ešgal-Ilū, bagaikan gigi raksasa yang tumbuh dari gusi bumi. Merah bata warnanya, berkilau oleh minyak wijen yang mengalir di sela-sela bata seperti darah beku di urat purba. Malam itu, bulan Sin menyelinap di antara awan-awan tipis, dan sinarnya menimpa undakan demi undakan, membuat setiap sudutnya tampak seperti tangga langit yang lupa jalan pulang.
Undakan pertama—tanah bagi mereka yang bernapas dengan napas lumpur—penuh oleh kaki-kaki telanjang yang membawa kendi arak, keranjang kurma, dan daging kambing yang masih hangat darahnya. Asap damar mengambang di dada malam, mengikat bau peluh dan lumut rawa menjadi satu sulur yang menyesak paru-paru.
Di undakan kedua, yang dijaga oleh para prajurit dengan dada perunggu, bangsawan-bangsawan beraroma mur menapak dengan langkah yang berat oleh gelang emas dan jubah sutra buluh. Seruling panjang melagukan nada yang lamban, dan kecapi berdenting seperti gigil perunggu di bawah jari-jari para pemainnya.
Puncak ketiga adalah mahkota, mahligai bagi keangkuhan manusia yang mengira dapat memegang langit dengan ujung jarinya. Di sanalah Asaru Balet-ili, Imam Agung, berdiri dengan tangan terangkat, wajahnya pucat oleh asap mur dan pancaran obor damar yang menyala seperti mata binatang lapar. Di belakangnya berdiri patung perunggu: wajah lima dewa bercampur satu, mata batu lazuli, mulut tembaga, dan dahi yang diukir dengan mantra kuno.
Saluran minyak mur menetes ke wadah tembaga, mewangi getir seperti doa yang telah diganti isinya. Bendera buluh bergambar burung Anzu dan ular bersayap berkibar di hembusan angin rawa, mengisyaratkan kepada langit bahwa malam persembahan telah dibuka. Dari kejauhan, bayangan bukit utara tampak gelap dan tak bersuara—di sanalah, seorang lelaki yang disebut Ziusudra oleh bibir-bibir kota, memaku papan demi papan dengan kesabaran seorang yang tak dihitung dalam jamuan ini.
Ya, Zigurat Esgal-Ilu berdiri bagai gunung suci yang dijulangkan oleh tangan dewa. Bata-bata merahnya memantulkan cahaya obor, berkilauan seperti bara yang membeku. Tangga-tangganya menjulur ke langit, seperti jalan menuju takhta para dewa. Di puncaknya, altar persembahan menunggu—diselimuti tabir dupa, siap menerima sesajen yang akan mengikat kota pada keagungan dewa Anu, Enlil, dan Enki.
Di kaki menara, suara kecapi, seruling, dan tabuh genderang berpadu. Udara malam bergetar oleh bunyi-bunyian, doa, dan riuh manusia. Anak-anak berlari kecil di sela kerumunan, mata mereka berbinar menyaksikan kemegahan yang jarang terlihat. Orang-orang tua menunduk khidmat, bibir mereka bergumam doa-doa lama yang diwariskan dari leluhur.
Lalu, bersama arus manusia yang terus mengalir, malam itu Rawa Edin seolah hanya memiliki satu jantung: berdegup kencang di tubuh ziggurat, di pusat Esgal-Ilu. Semua jiwa, dari yang paling agung hingga yang paling hina, ditarik dalam pusaran cahaya, suara, dan harum dupa yang mendaki langit.
***