Fibozona
📖 BACA BAB

Baca Bab

Nikmati setiap bab dari karya penulis berbakat

🎉 GRATIS - Tanpa Koin

Namtar Sin

📅 01 July 2026 📚 Ketika Kota Mengutuk Cinta Kita ⏱️ 10 menit baca 📑 Bab 6

Waktu itu, memang sudah beberapa minggu Ur Enki dan Innana tak bertemu lagi. Sejak malam terakhir di Menara Penjaga Angin—ketika angin menyingkapkan rahasia hati keduanya—Ur Enki dan Innana tak lagi bersua. Seakan semesta sendiri menutup tabir perjumpaan mereka, menggantinya dengan jarak yang perih, jarak yang dipelihara oleh tatapan-tatapan manusia Rawa Edin yang penuh prasangka.

Tatapan itu seperti anak panah, melesat dari mata-mata pemuda yang selama ini mendamba Innana. Setiap kali gadis itu melintas di pasar, setiap kali ia menunduk melewati Gerbang Air Ishtar, dada-dada muda bergemuruh, seolah hendak meledak oleh iri yang tak terucap. Dan ketika desas-desus tentang pandangan rahasia Innana kepada Ur Enki mulai merayap di bibir kota, api kecemburuan itu menjalar lebih cepat daripada angin yang berembus di sepanjang Purattu.

Hingga datanglah surat dari Innana itu. Dan Ur Enki pun lalu membalasnya. Ur Enki menulis pada sebongkah tanah liat basah yang ia ratakan dengan telapak tangannya sendiri. Bukan perkamen emas yang digunakan para bangsawan, bukan pula papirus yang dibawa pedagang dari negeri jauh. Hanya tanah liat sederhana, hasil dari lumpur yang sama dengan lumpur yang melekat di telapak kakinya setiap hari.

Tangannya bergetar ketika ia menggenggam sebatang buluh—stilus sederhana yang ujungnya telah ia runcingkan dengan pisau kecil. Dengan itu, ia mulai menekan permukaan tanah liat, meninggalkan jejak-jejak paku yang kaku, namun sesungguhnya menyimpan bara dalam dada.

Setiap guratan adalah tarikan napas yang tertahan. Setiap tanda adalah denyut kerinduan yang tak bisa ia ucapkan di hadapan siapa pun. Ia tahu, kata-kata di tanah liat ini bukan sekadar pesan; ia adalah darah dan jiwanya yang ditumpahkan dalam bentuk cuneiform, agar sampai kepada gadis yang telah mencuri hatinya.

Setelah kering dan mencium guratan-guratan itu sekali lagi, lalu menutupnya dengan gulungan sederhana, Ur Enki mencari Nin Edin, dan pada perempuan tua yang telah mengabdi di sepanjang hidupnya, ia meminta untuk mengantarkan balasan suratnya itu kepada Innana.

Roda waktu kembali berderit. Sementara Innana seolah tengah mendapatkan berkah yang turun dari langit tersebab menerima balasan surat dari kekasih hatinya, di jantung kota, nadi kehidupan lain pun tetap berdenyut.

Kediaman Enlil Bazi, ayah Namtar Sin, memang pantas disebut istana ketimbang rumah. Orang-orang menyebutnya E-Gal Edin, “Rumah Agung di Tengah Rawa”, karena di situlah segala keputusan yang mengguncang kota sering bermula.

Dinding luarnya dibangun dari bata lumpur yang dibakar dua kali, dilapis glasir berwarna oker-krem dengan motif buluh rawa yang menjulang. Pilar-pilarnya diukir dengan bentuk naga-sirrush yang seolah menggeliat menuju langit. Gerbang utama—hanya dibuka untuk upacara dan perjamuan—dijaga dua patung banteng bersayap, keduanya bertanduk emas muda yang berkilat kala senja.

Di dalam, lorong-lorong panjang berpenerang obor damar menuntun ke halaman tengah yang luas, di mana kolam teratai berdiam air tenang yang memantulkan langit Edin. Dari kolam itu, kanal-kanal kecil mengalir menuju taman-taman pribadi, mengairi kurma, delima, dan pohon-pohon poplar yang menjadi tempat burung kuntul beristirahat.

Para pelayan mengangkat kendi-kendi, menyirami bunga-bunga ditaman, memasak dan menghidangkan makanan-makanan lezatnya. Para pengawal dan penjaga sigap menjalankan tugasnya seakan seribu pasukan selalu mengintai tiap hari di sudut-sudut istana. Para imam agung tampak sering keluar masuk istana, berbincang dengan Enlil Bazi, meminum arak sebelum kembali ke tempat tinggalnya masing-masing.

Pada kediaman yang didambakan oleh semua gadis kota itu, putra satu-satunya Enlil Bazi, Namtar Sin bernafas dengan nafas bangsawan. Ia adalah gambaran yang sering diciptakan oleh kota-kota yang makmur: lelaki yang tubuhnya dibesarkan oleh kemewahan dan wibawa, namun langkahnya tetap menggetarkan tanah yang dipijak. Tingginya melebihi rata-rata pemuda Rawa Edin, bahunya lebar seperti gerbang batu kuil Eanna, dan kulitnya berwarna tembaga muda yang mengilap karena matahari Mesopotamia yang murah senyum padanya.

Rambutnya hitam pekat, ditata dengan minyak wangi dari resin pohon cedar, jatuh rapi hingga menyentuh kerah lenan yang selalu bersih dan harum. Matanya berwarna gelap, tajam namun lembut ketika ia tersenyum—mata yang diwarisinya dari Enlil Bazi.

Bibirnya tipis, terlatih untuk mengucapkan kata-kata manis di pasar, namun juga cukup kuat untuk mengeluarkan perintah yang tak seorang pun berani bantah. Giginya putih seperti gading gajah yang didatangkan dari jauh. Ia sering mengenakan jubah lenan berlapis sulaman emas tipis, sabuknya dari kulit sapi muda yang disepuh dengan tembaga, dan di pinggangnya sering terselip pisau upacara bertangkai perak.

Kegagahan Namtar Sin juga lahir dari caranya berjalan di pasar Edin: tegak, percaya diri, namun cukup ramah untuk menundukkan kepala pada para tetua dan mencolek kepala anak-anak kecil yang bermain lumpur. Para gadis Rawa Edin, bahkan yang sudah menikah, sering berpura-pura menjatuhkan kendi hanya agar bisa mendapat satu lirikan matanya. Jika ia melirik, jantung sang gadis seakan lepas dari tempatnya.

Meski ketampanan wajahnya sanggup meledakkan dada patung Ishtar karena malu, tetap tersembunyi rahasia yang jarang diketahui: jiwanya rapuh, lemah, dan mudah gentar—terutama di hadapan ayahnya, Enlil Bazi. Sang ayah yang kata-katanya laksana hukum, memiliki suara yang lebih berat daripada lonceng kuil, dan tatapannya lebih tajam dari pisau pemburu.

Setiap kali Namtar berdiri di hadapan ayahnya, keperkasaannya seolah runtuh. Ia bisa menunduk, menahan napas, dan menjawab dengan suara kecil. Enlil Bazi, bangsawan agung Rawa Edin, adalah lelaki yang kekuasaannya tak hanya bergema di balai pertemuan, tetapi juga di kuil-kuil tempat imam-imam bersujud. Ketika ia melangkah, para pengawal menunduk; ketika ia berbicara, para pedagang menghentikan tawar-menawar; bahkan para imam yang biasanya bersandar pada nama dewa-dewa pun tak kuasa menatap wajahnya terlalu lama. Mereka percaya, suara Enlil Bazi lebih menggetarkan daripada bunyi genderang pemujaan, dan perintahnya kerap terdengar lebih mutlak dibanding sabda yang disuarakan altar-altar pemujaan.

Di hadapan lelaki seperti itu, Namtar Sin—yang di mata warga tampak sebagai lambang ketangkasan dan keberanian—berubah seketika menjadi seorang anak kecil. Matanya menunduk, bahunya merunduk, dan suaranya lirih, seolah takut satu kata saja bisa menyinggung hati sang ayah. Setiap keputusan besar hidupnya bukan lahir dari keberanian hatinya, melainkan dari titah Enlil Bazi yang tak pernah bisa diganggu gugat, meski itu menyangkut pula tentang masa depannya. Tentang hatinya. Tentang cintanya. Tak ada kebenaran yang menancap di jantung Namtar Sin kecuali kebenaran yang meluncur dari lisan-lisan ayahnya.

***

Namtar Sin bukannya tak menyadari. Pasangan-pasangan mata itu, laksana bintang yang berjatuhan setiap kali ia melangkah keluar dari istana, senantiasa mencuri pandang ke arahnya. Ada yang malu-malu dari balik tirai jendela, ada yang terang-terangan membiarkan matanya berlama-lama singgah di wajahnya. Ia tahu, setiap lirikan adalah bisikan rahasia; setiap tatapan adalah doa yang diselipkan di antara denyut jantung para gadis Rawa Edin.

Dan Namtar—dengan segala kegagahan yang sudah menjadi miliknya sejak lahir—menyadari hal itu sepenuhnya. Ia bahkan menyenanginya. Ada semacam kepuasan batin yang membungkus dirinya, seolah semesta pun mengakui betapa ia adalah putra Enlil Bazi yang pantas diagungkan. Namun, di balik senyum tipisnya, hatinya belum benar-benar bergetar. Ia tidak pernah membalas pandangan dengan pandangan, tidak pernah mengikat lirikan dengan lirikan. Seakan-akan matanya terlalu angkuh untuk sekadar menaut pada mata gadis-gadis yang merindu. Atau ia masih ingin menikmati setiap tatapan dan lirikan para gadis yang terasa sangat mengasyikkan pada jiwanya, tanpa ingin terburu-buru membalas salah-satu lirikan atau tatapan untuk memetik buahnya.

Pada saat yang sama, ada sesuatu yang menahannya: bayang perkasa ayahnya, Enlil Bazi, yang menjadikan setiap langkahnya lebih sebagai kewajiban daripada kebebasan. Maka, meski hatinya belum tergerak untuk menjawab bisikan mata para gadis, ia membiarkan semuanya bergulir—seperti bunga yang mekar di tepi jalan, indah dipandang, tetapi tak pernah dipetik.

Dua minggu sebelum malam persembahan dan pesta, senja menitikkan warna keemasan pada taman istananya. Angin berhembus lembut, namun bagi Namtar Sin, udara terasa sedikit berat. Enlil Bazi, sang ayah, bangsawan yang agung, tiba-tiba memanggil dirinya. Dan jika ayahnya memanggil di jam-jam teduh seperti ini, pastilah ada sesuatu yang serius.

Enlil Bazi duduk di singgasana kecil dari batu hitam yang dipahat dengan ukiran naga-sirrush. Sosoknya tegak, dadanya membusung seakan ia sendiri adalah menara yang menyangga langit. Matanya—tajam, berkilat, dan berat—mampu membuat imam-imam tertunduk, bahkan mampu membungkam dewa-dewa di altar jika saja mereka hadir.

“Putraku, Namtar Sin,” suara Enlil Bazi mengalir, dalam dan penuh wibawa.

“Saya, ayah,” Namtar Sin menjawab dengan sepenuh takdzim.

“Tidakkah kau merasakan, senja ini tampak begitu indah?”

“Saya, ayah. Iya, saya merasakannya…”

Enlil Bazi tersenyum. Ujarnya kemudian setelah mendenguskan desah, “Namun setiap waktu adalah keindahan. Keindahan langit yang terbentang di atas Rawa Edin kita. Para dewa telah melukis kota ini sebagai lukisan yang tintanya tak akan mampu dihapus sejarah. Leluhur kita membangun kota ini hingga menjadi begitu megah. Tugas ayahmu adalah mempertahankan kemegahan itu, menjulangkan lebih tinggi lagi menara-menaranya, tapi sekaligus menjaganya dari setiap upaya yang hendak merendahkannya. Apakah kau mengerti apa maksudku?”

Setelah diam sejenak, memikirkan dan merenungkan apa yang dikatakan Enlil Bazi, seraya mengangguk Namtar Sin menjawab, “Apakah yang ayah maksud adalah Ziusudra?”

“Tepat!” seru Enlil Bazi, “kau tahu apa yang kumaksud. Ah, lelaki tua itu—kau, tidak, kita harus tetap waspada. Sebab apa yang ia lakukan di atas bukit itu bukan sekadar pekerjaan seorang tua yang gila. Ia sedang menanam benih keraguan di hati rakyat. Jika benih itu tumbuh, ia bisa merobohkan menara yang susah payah kita dirikan. Itulah bahaya yang lebih besar dari seribu tombak musuh.”

“Apakah ayah hendak memberi titah pada saya untuk menghancurkan Ziusudra?” tanya Namtar Sin dengan dada membusung. “Jika ayah menghendaki, saat ini juga saya akan datangi bukit itu. Tak perlu pedang dan tombak para pasukan untuk menghadapinya—satu kali pukulan tangan ini sudah lebih dari cukup untuk meregangkan nyawanya!”

“Hahahaha,” Enlil Bazi terkekeh. “Tidak begitu caranya, wahai putraku.” Enlil Bazi menggeleng-gelengkan kepala.

“Lalu…?” Namtar bertanya.

“Itu perkara mudah. Kalau aku mau, sudah dari dulu aku bisa memecahkan batok kepalanya dengan tanganku. Namtar, itu bukan cara yang bijaksana. Para dewa tak menghendaki kekerasan untuk menghentikan mulutnya.”

“Saya tak mengerti ayah….”

“Hahaha—kau memang tidak mengerti. Persis dengan hatimu yang sulit mengerti terhadap setiap tatapan dan lirikan para gadis Rawa Edin itu.”

Namtar menunduk. Rupa-rupanya ayahnya mengetahui itu. Pipi Namtar bersemu merah.

“Putraku…” suara Enlil Bazi terdengar lebih dalam, berat, dan dingin seperti batu hitam singgasana tempat ia duduk. “Jangan sekali-kali engkau membayangkan menghadapi lelaki tua di atas bukit itu dengan tombak atau pedang.”

“Tapi, ayah, bukankah khutbah-khutbahnya semakin berani? Kata-katanya bagai badai yang merobek layar perahu. Aku khawatir rakyat akan terbawa arusnya.”

Enlil Bazi tersenyum samar, senyuman yang lebih mirip kilat sebelum hujan mengguyur. Ujarnya, “Justru karena itulah, putraku. Kekerasan hanya akan menggores nama para dewa. Bila lidahnya dibungkam dengan darah, maka rakyat akan mengingatnya bukan sebagai orang gila, melainkan sebagai arwah agung yang dipuja ingatan. Kemegahan para dewa akan pudar, karena kebenaran yang kita jaga akan tampak rapuh di mata rakyat. Jangan alirkan darahnya sebab itu akan menjadikannya sebagai pahlawan arwah. Dan itulah yang paling berbahaya bagi para dewa—sebab nama yang mati dalam darah akan hidup lebih lama daripada nama yang hidup dalam pujian.”

Enlil Bazi mencondongkan tubuh, tatapannya menembus mata putranya. Ia melanjutkan, “Dengarkanlah, Namtar. Dewa-dewa tidak memerlukan pedang kita untuk membela mereka. Keagungan mereka justru terjaga ketika penghinaan terus dilontarkan, khutbah-khutbah itu terus berkumandang, dan rakyat terus mendengarnya. Sebab semakin sering lidah lelaki tua itu menistakan para dewa, semakin tinggi para dewa menjulang. Seperti gunung yang dihina oleh angin: angin itu lewat, gunung itu tetap.”

Namtar menggenggam tangannya, berusaha menahan gelora darah mudanya.

“Jadi… kita membiarkan ia berbicara sesukanya?” kembali ia bertanya.

“Bukan membiarkan,” jawab Enlil Bazi, suaranya seperti gemuruh jauh di langit. “Melainkan mengatur. Biarlah khutbahnya menggema, biarlah suaranya menyalakan api kecil di dada rakyat. Sebab api kecil itu tak akan membakar, ia hanya akan menjadi cermin bagi rakyat bahwa para dewa tetap agung walau dihina. Dan semakin lama mereka mendengar, semakin lidah lelaki tua itu terdengar seperti angin busuk yang melelahkan telinga.”

Namtar menghela napas. “Saya mengerti, ayah. Iya, saya sekarang mengerti. Lelaki tua itu harus tetap ada—agar setiap ejekan yang keluar dari mulutnya justru menjadi peneguh keagungan para dewa.”

Enlil Bazi menepuk bahunya, berat namun penuh arti. “Tepat, putraku. Ingatlah, kemegahan tidak dijaga dengan darah, melainkan dengan kesabaran yang menjelma wibawa. Biarlah lidahnya berbusa. Biarlah khutbahnya memenuhi udara. Selama rakyat terus mendengar, maka mereka akan tahu: para dewa kita terlalu tinggi untuk bisa disentuh oleh hinaan seorang tua renta di atas bukit.”

Senja pun merayap masuk, memantulkan warna keemasan di dinding hitam singgasana. Dan di dada Namtar Sin, bergemuruh pemahaman baru: bahwa kadang, membiarkan suara lawan berkumandang adalah cara paling halus untuk memuliakan nama sendiri.

***

← Kembali ke Daftar Bab