Fibozona
📖 BACA BAB

Baca Bab

Nikmati setiap bab dari karya penulis berbakat

🎉 GRATIS - Tanpa Koin

Menara Penjaga Angin

📅 29 June 2026 📚 Ketika Kota Mengutuk Cinta Kita ⏱️ 8 menit baca 📑 Bab 5

Pertemuan itu tak terduga, sedang tak-keterdugaan seringkali membuka jalan bagi datangnya pertemuan-pertemuan yang tak disangka-sangka.

Senja kedua setelah pertemuan mereka di Gerbang Air Ishtar, Rawa Edin masih dilingkupi aroma asin dari Pelabuhan Lagash. Angin dari Purattu membawa dengung seruling para pemuda di tepi kanal, namun bagi Ur Enki, semua itu bagai gema yang tak menyentuh hati. Ia kembali duduk di bawah bayang gerbang biru, seolah tempat itu kini menyimpan sesuatu yang tak lagi sekadar persinggahan perahu.

Dari kejauhan, langkah Innana terdengar ringan seperti bisik pasir. Kain linennya kali ini berwarna lembayung, melayang ditiup angin yang setengah lelah. Ia membawa kendi kecil berisi air mawar, mengelabui mata-mata kota seakan ia hendak menyucikan patung Ishtar.

“Aku tahu kau masih akan ada di sini,” ucapnya kemudian pada Ur Enki. “Apakah perahu bangsawan itu sudah mengarungi Purattu?”

“Sudah,” jawab Ur Enki, “namun aku tak mengantarnya. Aku hanya pembuat, bukan pengawal.”

Sesungging senyum meluncur dari sepasang bibir indah Innana.

“Kadang aku iri pada perahu… ia bebas mengikuti arus. Sementara kita? Kita sering terikat oleh mata-mata dan lidah-lidah yang suka menyayat.”

Ur Enki menatapnya sejenak. Tatapan itu bukan tatapan lelaki pada seorang gadis, melainkan tatapan seseorang yang telah lama menahan kebenaran di dadanya.

“Lidah orang kota tak hanya menyayat, Innana. Ia menyalakan api di bawah kaki Ziusudra. Kau melihatnya sendiri, bukan? Bagaimana mereka tertawa ketika roti busuk dilemparkan ke wajahnya?”

“Ya, aku melihat. Dan aku membenci diriku sendiri karena tak bisa menghentikan mereka.”

“Kebencian itu berarti jiwa yang belum mati. Di kota ini, semua jiwa sudah mati, meski tubuh masih berdiri.”

“Apakah kau tak membenci mereka?”

“Aku muak, tapi tak membenci,” jawab Ur Enki, “kebencian itu racun dalam cawan jiwa mereka, dan aku memilih untuk tak meminumnya.”

Diam sejenak. Hanya riak air yang berbicara. Innana meraih sepotong batu bata biru yang retak di sudut gerbang, menggenggamnya erat seolah menggenggam dadanya sendiri.

“Kalau aku berdiri di sisimu, apa yang akan terjadi?”

“Kau akan menjadi asing di rumahmu sendiri.”

“Jika aku memilih tetap di sana, apakah aku akan tenang?”

“Itulah yang membuatmu berbeda, Innana. Kau masih bertanya, sementara yang lain sudah berhenti.”

Mata mereka bertemu. Senja telah menjadi ungu tua, dan di pelabuhan, obor mulai dinyalakan. Bayang-bayang naga-sirrush di atas mereka tampak seperti dua penjaga rahasia yang enggan berpihak.

“Ur Enki… aku takut. Tapi jika aku tidak berbicara denganmu, aku lebih takut lagi…”

“Aku juga takut, Innana….”

“Takut pada mereka?”

“Tidak.”

“Lalu?”

“Takut terhadap rasa yang mulai ada.”

Keduanya lalu berpisah. Dalam detak jantung masing-masing. Detak mana seakan berdetak untuk saling berpaut.

Malam pun menyepuh langit Rawa Edin. Ur Enki gelisah di atas tikar pandan alas tidurnya. Dan Innana tersenyum-senyum sendiri di atas pembaringannya.

Hari pun berganti di ujung dermaga utara. Di sana berdiri Ziqurru Anu, menara penjaga angin—sebuah menara bata merah yang pucuknya seakan mencium bulan sabit. Dari sana, para penjaga arah angin biasa menyalakan obor, memberi tanda kepada perahu-perahu yang hendak masuk pelabuhan, atau membacakan mantera kepada Anu agar badai tak menggulung dagangannya.

Batu-batanya retak, diselimuti lumut hijau yang lembap, namun di puncaknya tertanam patung kecil Enlil, dewa udara dan badai, yang wajahnya telah aus oleh angin ratusan tahun. Angin malam menderu lewat celah-celah sempit menara itu, melagukan nada yang hanya bisa didengar oleh mereka yang sedang resah.

Ur Enki naik satu per satu tangga spiralnya. Tangannya masih berbau getah damar, kakinya berdebu oleh tanah pelabuhan. Di puncak, ia duduk bersandar pada tiang kayu tua, menatap jauh ke arah kanal yang diselimuti cahaya bulan. Matanya setengah terpejam, seperti hendak mendengar suara yang lebih tua dari riuh manusia: suara angin yang berdesir.

Dari bawah terdengar langkah ringan. Suara sandal yang menyentuh bata dengan irama ragu. Innana Eti muncul dari balik bayang, rambutnya dililit kain biru muda, wajahnya diterangi obor yang ia bawa sendiri. Ia mendongak, melihat sosok yang ia cari, lalu menaiki tangga dengan langkah hati-hati.

“Demi ke sini,” ucap Innana dengan nafas sedikit terengah, “aku hampir tertangkap mata-mata ibuku.”

“Namun engkau selamat dari mereka…”

“Karena aku membawa dupa untuk mengelabui mereka.”

Innana tersenyum.

Dibalas senyum pula oleh Ur Enki.

Lalu, terjadi lagi percakapan keduanya. Tentang orang-orang kota. Tentang suara ejekan dan hinaan serta cacian yang semakin lama semakin menjadi-jadi. Juga tentang keangkuhan-keangkuhan seolah semua orang berlomba agar yang lain merunduk.

“Ur Enki,” lanjut Innana kemudian, “dapatkah engkau mengantarku untuk bertemu dengan Zisudra?”

Ur tak langsung menjawab. Ia mendesah, dan suaranya berat.

“Aku makin merasa tak tenang, Ur,” ujar Innana setelah Ur Enki tetap diam. “setiap kali ia—Lelaki di atas bukit—mengucapkan peringatannya, seakan hari itu kian dekat. Dan, seakan nyata adanya. Ia ingin semua orang bertaubat. Oh, Ur Enki. Apa makna taubat itu? Sedangkan sudah sejak dulu kala nenek moyang kita telah menyembah dan membakar dupa untuk para dewa?”

Ur Enki masih terdiam.

“Kenapa engkau diam?” Innana mendesak.

Ur Enki menggeleng.

“Kenapa engkau menggeleng?” Innana semakin mendesak. “Tolonglah aku. Ungkap rahasia itu mesti sedikit, agar jiwaku tenang.”

Akhirnya Ur Enki berkata, “Akupun sesungguhnya belum tahu, Innana. Dia—aku lebih bahagia memanggilnya Nuh ketimbang Ziusudra—mengenalkan pada kita tentang Ilu Yang Tunggal. Ilu Yang Satu….”

“Kenapa bukan Anu?” tanya Innana, “bukan Enlil? Bukan Nanna? Bukan Nabu? Bukan Utu? Atau, seperti juga namaku—bukan Innana? Kenapa Ilu? Kenapa satu? Bukankah banyak lebih baik daripada satu? Bahkan kota ini masih butuh banyak dewa karena dewa-dewa yang ada diam membantu. Kenapa satu? Kenapa engkau diam, Ur Enki? Kenapa kau menatapku begitu. Ah, Ur Enki? Kenapa kau tersenyum? Kau ingin menggodaku?”

Desir bahagia meluncur deras di jiwa Ur Enki mendengar pertanyaan-pertanyaan yang terlontar dari sepasang bibir Innana. Suatu desiran antara cahaya suci dan beningnya perasaan cinta.

Iya, hati Ur Enki sudah terpaut.

“Ur Enki….,” ucap Innana sedikit terbata.

“Innana…” ucap Ur Enki.

“Iya….”

“Aku akan mengajakmu untuk menemui lelaki di atas bukit itu. Sudah lama pula aku tak menemuinya. Namun, kita harus sembunyi dari semua mata. Aku tak memedulikan tatapan mata siapa pun bila aku pergi sendiri. Namun mengajakmu…,”

“Aku juga tak peduli.”

“Dan apa engkau juga tak peduli, jika…jika hatiku mulai berpaut…padamu?”

Jiwa Innana berguncang. Sepasang bibirnya bergetar.

“Oh, maafkan aku,” mendadak Ur Enki menarik perkataannya, “aku bukan pangeran itu. Maafkan aku, tuan putri Innana…”

“Sekali lagi kau sebut aku tuan putri,” ucap Innana sedikit ketus, “ku berjanji pada Ilu Yang Satu itu—bahwa aku tak akan menemuimu lagi!”

Innana lalu mundur. Surut. Melangkah kembali menuruni anak-anak tangga.

Ur Enki berdiri tegak bagai bongkahan batu, memandangi punggung Innana.

Sebelum Innana hilang di anak tangga terakhir, terdengar ia berseru dengan ucapan yang menggetarkan, “Kau telah ambil hatiku. Dan aku, luluh.”

Senyum menghias di bibir Ur Enki.

***

Surat Ur Enki kepada Innana

Innana yang selalu kusebut dalam diam,

Sejak langkah kakimu menuruni anak-anak tangga di Menara Penjaga Angin, waktu menjadi serupa ular yang menggeliat di balik reruntuhan bata—ia ada, namun tak menampakkan tubuhnya. Hari-hari Rawa Edin tetap berjalan: perahu tetap singgah, dupa tetap dibakar, gong kuil tetap dipukul pada pergantian senja, tetapi di sela-sela itu, ada satu ruang hampa yang tak diisi oleh siapa pun: kehadiranmu.

Adakah hari yang telah berubah minggu dan menyorong bulan yang telah sama-sama kita lalui, terbersit di dadamu keinginan agar kita bisa kembali bertemu? Demi Dia yang tak bisa disebut nama-Nya, gubukku selalu terbuka bagi kehadiran siapa pun. Namun, siapa dia adanya yang mau mengunjungi gubuk seorang miskin pengrajin kayu?

Bahkan bayanganmu tak sanggup kulukis dalam benakku—bayangan yang akan berjalan di atas jembatan kayu licin, semata-mata untuk menemuiku.

Tidak, Innana.

Aku tahu diri.

Aku sadar sepenuh jiwaku.

Bahkan seandainya engkau melukis mimpi untuk mengunjungi gubukku, aku rela menghapus lukisan itu semata demi menjaga kehormatanmu dari celaan dan hinaan licik mata-mata kota Rawa Edin. Aku tidak takut dengan setiap pandangan menghina dan merendahkan diriku, namun aku tak sanggup membayangkan engkau akan terpeleset ke dalamnya dan jatuh bersamaku dalam hinaan dan perendahan itu.

Aku sengaja menyamarkan jejak, seperti nelayan yang mengangkat jala sebelum mata kota sempat menebak isi perahunya. Aku berjalan di jalan-jalan sempit, memalingkan wajah ketika nama kita berbisik-bisik di pasar, dan menyibukkan tangan dengan damar dan kayu, seolah dengan itu aku bisa menahan hasrat mata ini untuk mencari bayanganmu.

Tapi, bukankah angin selalu menemukan celah, sekalipun pintu-pintu dikunci? Maka demikianlah rinduku: ia masuk melalui celah-celah yang tak kuketahui, menumbuhkan gema dalam dada, bukan ledakan, melainkan denyut yang tak mau padam.

Iya, Namtar mengundangku ke dalam pestanya. Dia pangeran bagi kota ini dengan segenap kedudukan dan kehormatannya, namun jiwanya merendah dari kecil, sebab antara aku dan dia pernah berbagi cawan bersama. Dia sahabatku. Dialah yang memeluk dan menghiburku saat ibuku tiada. Namun, sejak meninggalnya ibu, aku dan dia tak lagi bertemu. Barangkali dia terlalu sibuk dengan ketangkasannya bermain pedang, atau menunggang kuda untuk berburu, sehingga seakan tali persahabaan ini putus begitu saja. Hingga datang surat undangannya itu.

Ternyata dia masih mengingatku.

Ya, aku akan datang, Innana. Aku akan datang ke pesta itu. Meski aku tidak menyukai pesta, tetapi jika di sana aku bisa sekilas melihat wajahmu lagi, mendengar sepotong suaramu yang dulu seperti menghalau seluruh badai dari dadaku, maka langkahku akan ke sana, sekalipun lidah-lidah menjelma belati.

Jangan kau khawatir jika kita hanya dapat bertemu di balik bayang tiang atau di sela tirai musik dan arak—rindu tidak membutuhkan terang untuk menyala. Ia hanya butuh satu isyarat kecil dari matamu untuk tahu bahwa aku tidak berjalan sendirian di antara orang-orang yang membakar dupa palsu.

Simpan namaku dalam doamu, jika kau masih punya doa untuk sesuatu yang belum tentu diizinkan kota ini.

Dari yang tertikam rindu

Ur Enki

***

← Kembali ke Daftar Bab