Fibozona
📖 BACA BAB

Baca Bab

Nikmati setiap bab dari karya penulis berbakat

🎉 GRATIS - Tanpa Koin

Innana Eti

📅 29 June 2026 📚 Ketika Kota Mengutuk Cinta Kita ⏱️ 11 menit baca 📑 Bab 4

Rawa Edin harus merunduk sebab dari rahimnya lahir seorang gadis bernama Innana Eti. Tak sekadar ia lahir dari keluarga terhormat Rawa Edin—ia seolah bayang pertama yang dihembuskan para dewa ketika fajar masih malu menyentuh bumi. Wajahnya memantulkan keheningan purba: kulitnya sehalus tanah liat sungai yang baru tersiram hujan musim semi, memantulkan kilau tembaga pucat saat senja menunduk di atas kanal.

Mata Innana seperti dua sumur yang menyimpan rahasia langit sebelum bintang-bintang diciptakan—dalam, teduh, namun menjerat siapa pun yang berani menatapnya lebih lama dari sekadar sopan santun. Alisnya melengkung seperti busur Utu, rapi namun tidak sombong; bibirnya merah seperti biji delima yang retak karena panas padang.

Rambutnya—oh, rambut itu seperti serat obsidian yang ditenun malam hari, hitam, berat, dan menyimpan aroma minyak mur dari kuil Eanna. Setiap helainya memerangkap desir angin, setiap ayunannya seakan mampu membuat para pemuda Rawa Edin lupa cara menyebut nama sendiri.

Tapi kecantikan Innana bukan semata kulit, bukan pula hiasan emas di telinganya, bukan lekuk pinggang yang diikat sabuk sutra. Ia memiliki sesuatu yang langka: cara ia berjalan seperti doa, cara ia menunduk seperti zikir, cara ia memandang seperti janji yang belum diucapkan langit. Ketika ia tertawa, pasar Edin seolah berhenti menimbang daging dan kurma; ketika ia berdiam, bahkan patung-patung batu dewa di kuil pun seakan memalingkan wajah untuk mencuri waktu mengaguminya.

Kecantikannya adalah semacam kelahiran ulang Rawa Edin itu sendiri—pada dirinya, Rawa Edin seperti menemukan alasan untuk tetap angkuh sekaligus alasan untuk terus berharap. Innana adalah gema yang menyusuri kanal, gaung yang membuat para pemuda menghentikan dayung, membuat penjual kurma menahan timbangan di udara. Setiap kali ia lewat di jalan bata yang basah oleh embun pagi, suara pasar meredup, dan angin dari Sungai Purattu seakan berbelok, hanya untuk menyentuh ujung rambutnya.

Para pemuda—putra bangsawan yang berbalut linen tipis dari kuil Eanna, hingga anak nelayan dengan tangan kapalan dan kaki berlumur tanah liat—berubah menjadi penabuh pesona. Mereka mengatur napas agar lebih berat, menyeka keringat dengan kain bersulam nama-nama dewa, menyisir rambut dengan minyak mur yang dibeli mahal di pelabuhan Lagash.

Ada yang memanggul kendi air lebih besar dari tubuhnya sekadar memamerkan pundaknya yang liat laksana batang tamarisk; ada yang dengan sengaja melintas di alun-alun menunggang kuda berpelana perak, berharap mata Innana singgah meski hanya sekejap di lengkung pipinya.

Para bangsawan muda memamerkan cincin lapis lazuli dan ikat pinggang dari kulit onager; rakyat jelata memamerkan tenaga yang menumbuhkan gandum di rawa. Setiap senyum Innana adalah sebuah rembulan kecil, dan mereka adalah riak-riak air yang berlomba menangkapnya.

Namun, yang lebih mereka dambakan dari senyumnya adalah kerling air matanya itu. Pernah sekali Innana berdiri di pasar, air matanya jatuh ketika melihat seorang yatim kehilangan ibunya. Sejak hari itu, para pemuda meramu segala siasat untuk memanggil kembali tetes itu: ada yang berpura-pura menyelamatkan burung yang sayapnya patah, ada yang mendeklamasikan doa kesedihan kota di pelataran kuil, ada pula yang mengaku kehilangan sesuatu yang sebenarnya tak pernah ia miliki.

Yang tak dimengerti, tak disadari, dan seakan tersembunyi dari setiap kesombongan yang dipamerkan orang, ialah rahasia dan misteri hati Innana. Di antara semua sorot mata yang dilemparkan kepadanya, Innana Eti menyimpan rahasia yang tak seorang pun sanggup membacanya dengan benar. Mereka sibuk memamerkan gigi putih, membentangkan dada, mengalungkan kalung batu-batu asing, tapi tak seorang pun memahami cara tatapan Innana berlayar: ia tidak mencari permukaan, ia mencari kedalaman.

Dan kedalaman itu justru ia temukan pada seorang pemuda yang tak pernah benar-benar berdiri di lingkaran pemujaannya. Pemuda itu jarang bicara, lebih sering duduk di tepi kanal atau di bawah bayang kuil, menatap patung-patung dewa dengan sorot mata yang sulit ditafsirkan: kecewa, marah, namun sekaligus iba.

Ur Enki—nama yang kelak di kemudian hari akan ia kenali dengan gemetar di dada—bukanlah sosok yang mencuri perhatian dengan seruling, petikan kecapi, atau ringkikan kuda, melainkan dengan ketidakpeduliannya yang jujur. Ketika orang-orang berebut mempersembahkan bir di hadapan Innana hanya agar ia berpaling, pemuda itu justru berlalu, membawa sekeranjang gandum untuk para janda tua di ujung rawa. Ketika tawa para pemuda lain meledak menghina Lelaki di Bukit, Ur Enki hanya menunduk, bibirnya terkatup rapat, seolah menahan hujan di dalam dadanya sendiri, lalu mengucur deras air mata di pipinya.

Di situlah jantung Innana pertama kali bergetar—bukan karena dipuja, tapi karena tatapannya yang mengandung badai. Bukan karena disanjung dengan syair dan hadiah, tetapi karena merasa dirinya diperhatikan sebagai manusia, bukan sebagai piala.

Innana tahu, rasa itu amat berbahaya. Sebab pemuda itu miskin. Sebab pemuda itu bukan bagian dari pesta-pesta kuil. Sebab pemuda itu—sebagaimana Lelaki Tua di Bukit—berada di jalur yang perlahan-lahan sedang dibakar oleh murka kota.

Namun, justru di sanalah hatinya singgah.

***

Gerbang Air Ishtar

Di Rawa Edin, ada sebuah tempat yang disebut Gerbang Air Ishtar, gerbang batu bata berlapis glasir biru yang menghadap ke kanal utama, tempat para nelayan menambatkan perahu mereka. Gerbang itu berdiri laksana rahim kota Rawa Edin—menyambut dan melepas segala yang hidup dan fana melalui nadi air yang menghubungkannya dengan Pelabuhan Lagash. Batu-batanya biru gelap, diselimuti glasir yang memantulkan matahari siang seperti sisik ikan purba, dan bila senja tiba, ia menjadi dinding raksasa yang menyimpan sisa-sisa api dari dewa Utu.

Di atas gerbang itu, ukiran banteng bersayap dan naga-sirrush saling mengapit relief Dewi Ishtar, dewi cinta dan peperangan, yang diyakini meniupkan hasrat ke dada para pelaut, dan sekaligus menyimpan kutuk bagi yang berkhianat. Aroma garam dari Pelabuhan Lagash berbaur dengan harum damar yang dibakar para penjaga gerbang, membentuk udara yang membakar dada bagi mereka yang baru pertama kali melangkah ke jantung kota.

Pada siang hari, gerbang ini adalah pasar: pedagang lapis lazuli menawar harga dengan nelayan, budak membawa kendi air dari Purattu, imam kuil Utu lewat dengan dupa yang masih berasap. Pada malam hari, ia menjadi tempat berdoa bagi para perantau yang tak mampu masuk kota sebelum fajar, tempat mereka menunduk di hadapan patung-patung perunggu, memohon agar Ishtar memberi angin baik, dan tidak mengirim badai ke rumah mereka yang jauh.

Di sini pula muda-mudi Rawa Edin sering bertemu, seolah gerbang itu adalah saksi bisu bagi janji yang diucap lirih, janji yang tak pernah dicatat dalam pahatan batu.

Para pemuda datang dengan rambut yang masih berbau minyak cedar, tubuh mereka masih hangat oleh latihan perang atau kerja pelabuhan; para gadis membawa harum balsam dari kamar ibunya, mengenakan kain linen tipis yang berkibar ditiup semilir. Mereka saling beradu pandang, menakar takdir di balik tatap mata yang singkat, seperti bintang yang baru saja menyala sebelum diselimuti malam.

Di balik tiang-tiang gerbang yang remang, mereka bertukar kata: ada yang berjanji akan membawa batu lapis lazuli dari hulu Purattu, ada yang bersumpah akan kembali sebelum musim panen gandum datang. Dan bila malam tiba, ketika obor-obor kuil mulai menyala dan cahaya mereka memanjat patung banteng bersayap, tangan-tangan yang gemetar saling menggenggam. Bukan untuk menantang dewa, melainkan untuk meminta restu diam-diam dari Ishtar: dewi yang mereka yakini mampu meniupkan cinta ke dada yang paling beku sekalipun.

“Jika musim panen datang,” ucap seorang muda, “aku akan kembali. Aku akan membawa lapis lazuli biru seperti langit ini.”

Sang gadis menggenggam ujung kain linen-nya, khawatir namun tak kuasa menahan senyum yang gugup. Balasnya, “Dan jika kau tak kembali? Apakah gerbang ini akan tetap mengingat kita, ataukah ia hanya mengingat langkah-langkah para pedagang yang lalu-lalang?”

“Batu bisa melupakan, angin bisa berkhianat, sungai bisa berubah arah. Tapi sumpah ini,” sang muda menekan genggaman mereka di dada sendiri, “sumpah ini akan kuikat di bawah Ishtar sendiri. Jika aku tak kembali, biarlah dewi cinta itu mencabut nafasku di tengah laut.”

Gerbang itu menyimpan gema ratusan janji: ada yang bertahan sampai rambut mereka memutih, ada pula yang hanyut seperti daun pisang liar terbawa arus Purattu. Tetapi bagi mereka yang pernah berdiri di sana, setiap desir angin dari arah pelabuhan selalu mengingatkan bahwa cinta di Rawa Edin sering kali lahir dari tepi air, dari senja yang basah, dari satu sudut gerbang yang seolah tahu siapa yang akan tinggal, dan siapa yang akan pergi.

Dan di sini pula, di salah satu sudutnya, di bawah bayang banteng bersayap, Innana dan Ur Enki pertama kali saling bertatap dan saling mengucap nama. Ketika itu senja tengah mengiris hari, angin membawa aroma lumpur basah dan teratai yang layu; air memantulkan cahaya keemasan matahari yang hampir tenggelam. Bebatuan biru keunguan memantulkan sinar yang telah kehilangan panasnya, menyisakan cahaya yang tak lagi seperti api melainkan liukan doa. Aroma asin dari Pelabuhan Lagash menyeruak perlahan, bercampur dengan harum damar yang mengepul dari mangkuk-mangkuk dupa.

Ur Enki duduk seorang diri.   Tak ada siapa pun. Tangan kasarnya yang masih berbau kayu dan damar menyingkap keringat di pelipisnya. Ia baru saja merampungkan sebuah perahu pesanan seorang bangsawan, perahu yang akan mengapung di atas air Purattu esok pagi. Rambutnya sedikit tergerai, dibelai angin yang bertiup malas

Dari arah jalan tanah berlapis kerikil, Innana Eti muncul. Langkahnya bagai petikan kecapi yang meliuk-liuk. Gaun linen tipisnya tersapu debu senja. Antara ragu dan irama detak jantung yang tak menentu, ia mendekati Ur Enki.

“A-adakah aku menganggu?” sapa Innana pelan. Suaranya mengandung getar yang sanggup mengguncang dada patung Dewi Isthar.

Ur Enki menoleh.

Ur Enki tercekat.

Ur Enki terdiam.

Innana tersenyum. Bahkan sebelum ia meminta ijin untuk duduk di samping Ur Enki, ia sibakkan kainnya, lalu duduk begitu saja memandangi Ur Eki dengan tatapan seekor kijang.

“Engkau….,” akhirnya bibir Ur Enki terbuka juga. “Bukankah engkau gadis itu…?”

Innana mengangguk. Ujarnya, “Gadis yang dibicarakan semua orang, tetapi tidak denganmu.”

Kata-kata Innana tajam, berbau menusuk.

Dan Ur Enki tertusuk. Ia Tarik pandangannya dari sepasang bola mata Innana yang anggun dan teduh.  Ia masih diam, tak menanggapi sindiran lidah Innana yang menusuk.

“Mengapa?” Innana mengejar, “mengapa engkau begitu?”

“Bahkan aku tak tahu namamu,” ujar Ur Enki.

“Tetapi aku tahu,” balas Inana, “kau adalah Ur Enki.”

“Rupa-rupanya angin Rawa Edin masih meniupkan nama yang tak pernah disebut bahkan oleh bibir kota…”

Innana senang dengan perkataan Ur Enki. Lanjutnya kemudian, “Dan bahkan aku tahu tentang kau dan Ziusudra…”

Ur Enki kembali menoleh dan menatap wajah Innana.  Kali ini, tatapannya lama. Dan dalam. Mendadak ia berubah sikap, dari yang tadi tampak beku seperti patung Isthar, kini jiwanya sedikit menyala seumpama Gibil, sang dewa api.

“Kau terkejur, Ur Enki,” ujar Innana kemudian seraya menyorongkan tangannya, mengajak Ur Enki untuk menjabatnya. “Aku Innana. Innana Eti…”

Ur Enki mengipas-kipaskan tangannya seolah hendak meluruhkan semua debu yang menempel di telapak kasar tangannya. Ia menerima uluran tangan gadis itu.

“Jadi aku gadis ke berapa yang telah bersalaman denganmu?”

“Apa maksudmu, tuan putri?”

“Engkau…,” Innana sedikit tercekat ketika mendengar Ur Enki menyebutnya demikian.

Seakan tak memedulikan keheranan gadis itu, Ur Enki lantas berkata, “Tiap rumah bata merah di kota ini, tak bisa menyembunyikan rahasianya untuk selalu menyebut-nyebut namamu. Jantung Rawa Edin berdetak kencang sebab terpesona denganmu. Aku tahu betapa banyak kaumku saling berbisik untuk menggenggam tanganmu. Wajahmu, juga gaun yang kau kenakan ini, serta mahkota yang melingkar di keningmu—sebutan apalagi yang paling layak dibanding kenyataan kau adalah tuan putri Innana Eti?”

“Jadi kau seperti mereka juga?” Innana kali ini mendesak, “dengan panggilan seperti itu—padaku?”

“Tak pernah ada,” jawab Ur Enki membela diri, “siapa pun perempuan, kecuali ibuku dan Nin Edin, yang pernah menyentuh kasarnya telapak tanganku!”

Innana memejamkan mata.

Ur Enki lalu berpaling dari kata-katanya, lalu berkata, “Tadi kau berkata tentang Lelaki di atas bukit itu. Ziusudra. Sedangkan dia mengenalkan dirinya sebagai Nuh pada jiwaku. Kau tahu darimana?”

Seperti masih merasa kurang senang dengan panggilan Ur Enki yang tadi menyebutnya tuan putri, Innana berkata, “Semua orang melihatku. Semua laki-laki menatapku. Semuanya ingin menusuk jantung hatiku. Semua menggelikanku. Kalau boleh memilih Anu tak mentakdirkan ibuku melahirkanku, menjadi Innana yang lepas dari semua tatapan mata, itu lebih baik bagiku.”

“Anu?”

“Iya…”

“Jadi engkau sama saja dengan semua orang di kota ini: Mengangkat piala dan melakukan persembahan untuknya?”

“Aku tak pernah melakukannya!”

“Mengapa?”

“Sebab engkau pun—aku tahu—tak melakukannya,” jawab Ur Enki.

Dan kali ini, Ur Enki menelan ludah.

Dan untuk pertama kali sejak kedatangan Innana yang duduk di sampingnya, Ur Enki kini menatap lekat sepasang bola mata indah dan teduh gadis itu.

Innana menunduk. Ia lantas berkata, “Telah lama aku memendam keinginan untuk melihat atau setidaknya mendengar sepatah kata saja seseorang yang tak berkata buruk tentang Ziusudra. Namun, aku tak menemukan itu. Hingga, beberapa waktu lalu, tanpa sengaja aku melihatmu terjerembab dengan air mata yang mengalir di pipimu ketika orang-orang tua dan anak-anak kecil memukuli Ziusudra dengan ejekan, hinaan, dan kata-kata yang buruk. Demi Dia yang tak bisa kusebut nama-Nya, hatiku robek mendengar orag-orang tua dan anak-anak kecil itu. Bahkan seandainya apa yang dikatakan Lelaki tua di atas bukit itu keliru, tak semestinya ia dihujat, dicaci-maki, dihinakan, dan dilempari roti busuk.”

“Innana….,” Ur Enki akhirnya berkata.

“Kau tak memanggilku tuan putri?”

Ur Enki menggeleng. Tersenyum. “Apakah jiwamu seperti jiwaku—tentangnya? Tentang Dia?”

Innana tersenyum, lantas menjawab, “Karena itu, aku menemuimu…”

***

← Kembali ke Daftar Bab