Nikmati setiap bab dari karya penulis berbakat
Tahun 3990-an SM.
Di timur Rawa Edin, jauh dari kilau kuil bertangga dan riuh pasar yang mengepung pusat kota, berdiri gubuk sederhana milik Ur Enki. Gubuk itu bertumpu pada tiang-tiang kayu kurma, menopang tubuhnya di atas permukaan air yang selalu beriak lirih—seolah rumah itu sengaja menjaga jarak dari degup jantung kota, memilih berdiam di tepi sunyi. Setiap pagi, ia terbangun bukan oleh teriak pedagang, melainkan oleh nyanyian burung rawa dan suara air yang mencumbu dinding kayu, membawa aroma lumpur, lumut basah, dan samar-samar wangi cedar dari hulu.
Ketika bangun, sebelum ia melangkah ke air, dan duduk di tepian tikar gelagah kering yang menjadi alas tidurnya, ia akan berucap:
Segala puji bagi-Nya.
Yang telah membangunkan
Setelah menidurkan
Ur Enki, sama sekali tak tahu siapa “Nya” yang ia sebut. Yang ia tahu bahwa Dia bukanlah dewa-dewa di dalam kuil-kuil kotanya. Bukan para imam yang berjubah pula. Bukan patung-patung diam yang membeku. Baginya, Dia adalah Dia, itu saja. Dia adalah Dia yang sering dilisankan Lelaki tua di atas bukit itu, meski Ur Enki sama sekali belum mengerti sepenuhnya akan hal itu. Kepada-Nya, dia selalu bersyukur.
Seperti ayahnya yang telah tiada, ia adalah seorang pengrajin kayu. Tangannya keras namun peka; dari kayu ia melahirkan perahu-perahu kecil, dayung yang lentur, hingga patung-patung sederhana. Ia membuat patung-patung itu, bukan menyenanginya, melainkan karena ia bisa menjualnya. Hidupnya tidak berlebih, tetapi juga tak dirundung kekurangan: ia memiliki rawa sebagai sahabat, langit sebagai atap, dan kayu sebagai bahasa yang mengisi kesunyiannya.
Tak jarang, orang-orang datang untuk memesan panah, dayung, dan berbagai seni kerajinan yang lahir dari tangannya. Utusan-utusan orang kaya atau pejabat kota, tak jarang pula datang untuk memesan perahu. Selebihnya, ia tak banyak dikenali—kecuali di arena pasar dimana ia terkadang menawarkan dagangannya atau membantu orang-orang rapuh mengangkat gandum. Memang, banyak mata sering menatapnya lama, bukan hendak mengagumi perawakannya yang kekar dan sorot matanya yang teduh, namun seperti hendak mencuri rahasia di kedalaman hatinya.
Sementara itu, Rawa Edin—kota yang menjadi nadi tanah ini—berdenyut oleh dua anak sungai besar, Idigna (Tigris) dan Buranun (Eufrat). Kanal-kanalnya menjulur seperti urat nadi yang menyalurkan barang dagangan, doa, juga tipu muslihat. Perahu-perahu papirus melintas di atas Sungai Purattu dengan santun, membawa ikan asin, biji-bijian, dan para imam yang berkain putih bersepuh emas menuju kuil. Rumah-rumah bata lumpur berdiri di tepian, atapnya datar, sering dijadikan tempat menjemur gandum di siang hari dan menyulam rahasia di malamnya.
Di sisi selatan Rawa Edin, tersembunyi sebuah lekuk air yang oleh orang-orang tua disebu Danau Nammu yang dipercaya sebagai rahim pertama kehidupan. Danau itu tak luas, namun tak seorang pun berani menyebutnya kecil, sebab di balik permukaannya yang tenang, konon tersimpan kedalaman yang tak terukur. Orang-orang kota mengatakan: “Dasarnya meminum matahari, memuntahkan bulan, dan menyimpan rahasia arwah yang tak mau kembali.”
Airnya gelap kehijauan, memantulkan langit dengan kejujuran yang ganjil: biru tampak menjadi kelabu, merah senja menjadi luka. Di tepiannya, tumbuh pohon-pohon tamarsikh yang bengkok ke arah air, seperti tulang jemari raksasa yang hendak meraih sesuatu yang tenggelam di dasar. Kabut tipis kerap bergelayut di atasnya, terutama ketika fajar dan malam bersentuhan; di saat itu, orang-orang percaya roh-roh purba berkeliaran di permukaan danau, mencari bibir manusia untuk membisikkan rahasia yang tak boleh disebutkan.
Di pusat kota, Zigurat Ešgal-Ilū menjulang—kuil Ekur bagi Anu, dewa langit tertinggi, Enlil, sang dewa angin dan badai, Ishtar, dewi cinta, dan Utu, dewa matahari. Asap dupa terus mengepul dari puncaknya, mengirim bau damar yang menembus kabut pagi. Di bawahnya, pasar Edin riuh: pedagang kurma, penjual tembikar, kain lenan dari jauh, perhiasan lapis lazuli yang meniru kilau bintang. Kota itu kaya, tetapi kekayaannya seperti air pasang: menyapu sebagian, meninggalkan sebagian, dan tak pernah membasahi semua. Bila ada yang merata, maka itulah kepiawaian warganya berkata-kata yang melapisi kebohongan dengan senyum ramah.
Menjelang fajar, kabut masih menggantung di atas rawa—tipis, pucat, bagai kain lenan yang dijemur terlalu lama. Airnya dangkal, namun menyimpan kedalaman yang tidak diukur oleh mata, melainkan oleh hati. Dari dua sungai besar itu, air membawa lumpur subur dan kisah musim, lalu berhenti di dataran yang disebut orang sebagai Edin: sebuah padang yang ditenggelamkan bukan oleh murka, tetapi oleh ingatan bumi yang terlalu tua untuk diadili.
Gelagah dan reed menjulang, lebih tinggi dari pundak lelaki dewasa, saling bergesekan ketika angin utara lewat—bunyi seretnya seperti gigi tua yang malas mengunyah pagi. Burung-burung rawa—pelikan, heron, dan Basra reed-warbler—menyelinap di sela daun, sementara lili rawa menutup kelopaknya, menunggu sentuhan matahari. Di tepi utara, pohon tamarisk tumbuh; garamnya dipercaya mengusir roh jahat. Poplar sungai menunduk, kulitnya pucat kekuningan, seperti tulang yang lupa dikuburkan.
Di permukaan air mengambang perahu-perahu reed berlapis bitumen, berbau minyak namun tahan musim, membawa ikan kering, kurma, wol, dan kendi bir yang dihirup dengan sedotan. Rumah panjang anyaman reed, disebut mudhif, berdiri di atas tiang kayu kurma: dindingnya tipis, hangat oleh asap, di dalamnya bau gandum rebus bercampur jelaga. Anak-anak berlarian di lantai lumpur yang dipadatkan; orang tua duduk di ambang pintu, mengunyah kurma, mengamati matahari yang turun perlahan seperti penanggalan tua mereka.
Musim membuat rawa ini hidup dan menderita sekaligus: musim semi membawa ikan dan lumpur hitam yang subur; musim panas menyusutkan air, menyisakan tanah retak seperti kulit ular yang baru berganti sisik. Pada malam bulan separuh, rawa menjadi cermin yang tidak jujur: memantulkan bintang, tetapi menelan bayangan.
Orang-orang tua berkata, di sinilah roh pertama bumi pernah bercermin sebelum mengenal nama. Di sini, langit terasa rendah; suara katak terdengar seperti doa yang tak selesai; kunang-kunang terbang di atas permukaan air, meminjamkan sekejap keindahan bagi mereka yang tak mampu membeli lampu minyak.
Namun keindahan selalu menyimpan ancaman: ular rawa sebesar lengan pria berdiam di bawah lili, nyamuk demam mengintai senja, dan lumpur yang tampak jinak bisa menyeret kaki hingga tak kembali. Ninlitu, ibunda Ur Enki, meninggal karena nyamuk itu. Angin selatan yang salah waktu dapat mengubah rawa menjadi lautan busuk yang menelan rumah, perahu, dan cita-cita.
***
Kabut masih menggantung tipis di atas Rawa Edin, menyisakan embun pada ujung-ujung daun gelagah. Ur Enki duduk di beranda gubuknya, pisau raut di tangannya menari pelan di atas sebatang kayu kurma muda—dayung baru yang hendak ia selesaikan sebelum matahari naik terlalu tinggi. Bau serat kayu yang baru terbuka bercampur dengan udara lembab rawa, menciptakan aroma yang hanya bisa dipahami oleh orang-orang yang akrab dengan air dan lumpur.
Dari kejauhan, di atas jembatan kayu yang licin oleh embun pagi, tampak langkah terhuyung seorang tua. Nin Edin—pelayan setia yang dulu sering membopongnya di masa kanak—kini tubuhnya hanya tinggal bayang dari masa lalu: kurus, punggung bungkuk, dan tangannya gemetar membawa dua tablet tanah liat yang dibungkus amplop tanah liat tipis, segelnya masih utuh dengan gulingan cap silinder.
“Pagi, Tuan Ur Enki…” suaranya serak, bagaikan buluh tua yang diterpa angin, namun tetap membawa aroma sopan santun yang tak lapuk dimakan usia.
Ur Enki mengangkat wajahnya dari sisa kerja kayu yang belum kering. Jawabnya, “Bibiku… selamat pagi.”
“Semoga aku tak mengganggumu,” ucap Nin Edin.
“Tidak, Bi. Dari mana engkau berjalan sepagi ini? Dan apa yang kau bawa itu?”
Pelayan tua itu menatap tablet di tangannya, lalu mengulurkannya dengan hati-hati. Segel merah tanah bata yang satu memantulkan sinar mentari pagi, sedangkan yang lain hanya ditutup dengan simpul rami seadanya, seperti pesan yang tak ingin banyak tangan menyentuhnya.
“Yang bersegel… dibawa oleh seorang prajurit. Dari rumah bangsawan, barangkali,” katanya seraya menyodorkannya. “Sedang yang satu lagi… disampaikan seorang perempuan renta, seusia denganku. Ia hanya berpesan: ‘sampaikan sebelum matahari mencapai puncak langit.’”
Ur Enki menerima kedua tablet itu. Jemarinya yang keras oleh kayu dan damar menyusuri cap silinder pada segel tanah itu—seolah-olah guratan kecil di permukaan bisa ia baca seperti bisikan masa lalu. Angin rawa berembus, mengibaskan sudut atap dan membawa aroma ilalang basah dari kanal Idigna.
“Terima kasih, Bi,” katanya lirih. Tatapannya menyimpan masa kanak, masa ketika Nin Edin sering memandikannya di tepian Purattu, membacakan doa di sela gemericik air.
Nin Edin mengangguk pelan, lalu berucap lirih, “Berhati-hatilah, Tuan Ur… karena aku sayang kamu.”
Ur Enki mengernyit. “Apa maksud Bibi?”
Pelayan tua itu menunduk, matanya sayu, bibirnya seperti hendak mengucapkan sesuatu yang dilarang. “Dia…, dia tidak gila, Tuan. Demi jiwa yang akarnya tertambat pada Ilu, sungguh dia tidak gila. Badai akan benar-benar datang. Dan engkau, tuan, akan tertikam!”
Sejenak, sepasang bibir Ur Enki terkatup rapat. Sepasang bola matanya memandang punggung Nin Edin yang kembali menyusuri jembatan licin. Sesungging senyum terlempar dari bibir Ur Nki, lalu ia menggeleng-geleng.
Ia lantas membuka tablet bersegel terlebih dahulu. Cap silinder berwarna merah bata itu memantulkan cahaya pagi—warna yang sama seperti dinding-dinding rumah bangsawan di pusat Rawa Edin. Guratan tulisan paku mulai mengalir di matanya, dan seketika aroma masa lalu menyeruak: bau tanah kering tepi Eufrat, tawa masa kanak-kanak, dan janji persahabatan yang dulu diucapkan ringan, namun ternyata masih mengendap dalam tanah waktu.
“Namtar… sahabatku,” gumam Ur Enki. Senyum tipis nyaris lahir, namun segera terperangkap oleh getir yang tak sempat runtuh sebagai air mata. Dalam tablet itu, kata-kata Namtar terasa seperti suara lama: mulia, penuh gengsi darah bangsawan, namun tetap mengandung kehangatan seorang saudara yang dulu sering berbagi roti kurma di tepian kanal.
Bayang masa kecil pun menyeruak: Mereka berdua pernah berlari di tepian Idigna, saling melempar batu ke air, menghitung riak yang tercipta. Namtar, dengan tawa besarnya, sering membagi roti kurma yang dicuri diam-diam dari dapur ayahnya; sementara ia—Ur Enki—lebih banyak mendengar, mengingat, dan diam-diam mengagumi keberanian Namtar melawan arus deras ketika bermain di kanal. Mereka sering berlatih pedang bersama, meski pedang itu terbuat dari kayu, pernah pula duduk berdua di bawah rindang pohon poplar, berikrar diatas akar-akar pohon tamarisk bahwa persahabatan mereka tak akan goyah meski dewa-dewa memindahkan alur sungai sekalipun.
“Aku bersaksi pada jiwaku,” ucap Namtar kala itu, “engkau, selamanya, adalah saudaraku.”
Surat itu seolah membuka kembali gerbang yang telah lama berkarat. Ur Enki merasakan kerinduan yang hangat, tetapi juga getir, karena waktu telah memisahkan mereka. Ia teringat saat-saat pemakaman ibunya—Namtar ada di sana, memegang pundaknya, namun setelah itu mereka jarang bersua lagi.
Ur Enki menaruh tablet itu di sisi kanan. Matanya beralih ke tablet kedua—yang sederhana, tak bersegel. Tanah liatnya tipis, masih menyimpan aroma minyak mur samar, aroma yang hanya ia kenal dari satu sosok: gadis yang pernah melewati pasar Edin dengan langkah lirih, namun diam-diam menyisakan degup panjang di dadanya.
Ia membaca perlahan, baris demi baris, setiap kata seperti bisik yang ia ingin ulangi dua kali dalam hatinya. Surat itu singkat, tetapi hangat: Innana Eti menanyakan kabarnya, menyapanya dengan cara yang lembut dan tulus, menyinggung sepi yang sama-sama mereka pahami—sepi di tengah keramaian kota yang makin pongah terhadap lelaki tua di bukit. Tak ada janji, tak ada rayuan, hanya kalimat-kalimat yang membuat udara di beranda gubuknya seolah lebih ringan untuk dihirup. Namun, yang menyunggingkan senyum bahagia, ada bahasa rindu dalam surat itu.
Ur Enki menciumi surat sederhana itu.
Ur Enki menatap kedua surat itu bergantian.
“Ya, aku akan datang,” gumamnya, jemari kasar menyentuh kedua gulungan itu. “Aku akan datang bukan hanya karena Namtar mengundangku—tapi karena aku juga akan mengenalkan Innana Eti kepada sahabatku itu. Jika semua orang du bumi ini menertawakanku dengannya, maka hanyalah Namtar yang akan menunjukkan bahwa mereka semua salah telah memtertawakanku.”
Dalam pikirannya, bayangan Innana Eti muncul seperti rembulan di atas air tenang: wajahnya teduh, tatapannya jernih, langkahnya seolah tak menyisakan jejak lumpur. Kenangan pertemuan demi pertemuan dengan Innana pun menyeruak di benaknya kembali.
***